
“Ten malam ini kita ngapain?”
“Ya layaknya suami istri lah Man, mosok mau main catur…. Kamu maunya ngapain lho?”
“Nggak tau Ten.. aku masih bingung, semakin aku suka sama kamu semakin aku bingung siapa aku sebenarnya Ten”
“Kamu itu suamiku Man, coba seandainya anak-anak Sutopo tau kalau kita menikah, pasti mereka akan heran hehehe”
“Iya Ten, aku sebenarnya juga kepingin ketemu dengan mereka, aku kepingin minta maaf atas apa yang aku lakukan selama ini”
“Istilahnya aku sudah bertobat lah Ten… Eh tapi mereka sekarang ada di mana ya Ten, apa sudah kembali ke masa depan, bisa juga mereka ada di masa ini”
“Waktu itu sih mereka sudah dikirim oleh Mak Nyat Mani, hanya saja dikirim kemana itu yang saya ndak tau Man”
“Gimana kalau kita cari mereka Ten..?”
“Gendeng kamu ini Man, mau cari anak-anak Sutopo dimana, mereka bisa dimana saja”
“Iya Ten… sebenarnya aku kepingin sekali bisa main sama Novi, asal kamu tau Ten, kuntila Novi itu bagaikan belalai gajah.. Panjang dan besar”
“Sayangnya dulu aku ini hanya setan Ten, coba kalau dulu aku manusia dan tidak bermusuhan dengan mereka, pasti aku akan emud dan aku masukan ke lubang taiku kuntila Novi yang enak dan nyoi itu”
“Hmm kumat maneh kamu Man, baru juga semalam kita enyak enyak, sekarang kamu sudah kumat lagi hehehe”
“Eh Ten, kamu biasakan diri jangan menggunakan kata saya dong, gunakan kata selain saya dong Ten, kita kan sekarang sudah jadi suami istri Ten”
“Apalho Man. masak kita harus manggil mama dan papa, nggilani tau nggak Man”
“Ya gak gitu juga Ten, eh pakek kata-kata yang melambangkan rasa sayang gitu lho Ten, gimana kalau aku panggil kamu huny aja Ten”
“Hahaha nggilani Man!”
“Gak papa… wis pokoknya mulai hari ini kamu aku panggil Huny aja Ten hehehe”
“Trs kalau kamu manggil saya Huny, kamu aku panggil apa Man?”
“Kamu panggil aku sayang aja Ten hihihihi”
“Wah emoh ah..nggilani Man.. wis talah panggilan Man dan Ten itu sudah pas Man”
Kupeluk Ginten yang tadinya duduk di sebelahku, aku ciumi lehernya hingga gelung rambutnya terlepas.. Tapi aku hanya bisa mencium tanpa merasakan hasrat apapun, aku tidak bisa merasakan adanya nafsu yang timbul.
Gintem membalas ciuman ku dengan mulai beringas.
“Hehehe kamu kok berani mencium leher Man…. “
“Cuma sekedar cium aja Ten, gak ada rasa apa-apa kok “
“Hihihihi, sini biar istrimu yang bikin kamu merasa apa-apa sayangku hihihihi”
*****
__ADS_1
Pagi yang cerah, setelah semalam aku diperkhosa Ginten, yang awalnya aku gak merasa apa-apa semalam alah aku yang paling gila dibanding Ginten.
Tapi ndak papa, yang penting aku bisa menikmati empalnya Ginten yang ternyata lebih enak dari pada yang kata Ginten lubang jalan keluarnya tai.
Tadi pagi-pagi sekali setelah terdengar adzan subuh, aku dan Ginten pulang ke desa sebelah, karena aku ingin ketemu dengan Suharto.
“Mas…mas Rochman, eh adik bikinin teh hangat dong hihihi”
“WASYUUUUU!... nah sip itu Ten… kamu panggil aku mas, dan kamu aku panggil huny aja ya heheheh”
“Ya Huuun, cebentar ya, mas Man bikini teh buat kamu dulu hihihihi”
Aku merasa bahagia bisa dipanggil mas oleh Ginten, iya… baru kali ini aku merasa sebagai seorang laki-laki yang sempurna, karena mempunyai istri yang cantik dan aku sudah mulai menyukai empal brewoknya Ginten.
Tapi apa biss aku punya anak dari Ginten…. Semoga saja bisa lah, yah itung itung untun melanjutkan keturunan.
“Mas… kalok seumpama jadi.. Nanti anak kita dikasih nama siapa Mas?”
“Nama yang kearab araban aja Hun….”
“Kok malah ke arab araban gitu sih Mas, bukanya kamu gak suka punya agama”
“Heheheh kan kearab araban itu gak mesti menganut sebuah agama Hun, aku sudah kepikiran nama kearab araban Hun…”
“ARABPIK”
“Ih kok Arabpik sih mas… yang bener itu A Rafiq, bukan Arabpik”
Kami berdua sedang ada di ruang tamu rumah sambil membayangkan nama apa yang akan aku dan Gnten berikan kepada anak kami nanti, apabila Ginten memang hamil hehehe.
Aku dan Ginten sengaja tidak kemana-mana, kami memang sedang menunggu kedatangan anak Marwoto yang bernama Suharto itu.
Aku tidak yakin kalau Suharto akan berani datang kesini, tapi kita tunggu saja dia datang.
“Assalamualaikum….” teriak orang yang ada di luar
“Mas itu Suharto.. Ayo jawab salam dia mas”
“Emoh ah Hun.. kamu aja yang jawab salam yang pakek bahasa arab itu”
“Lho bukanya Mas Man kepingin punya anak yang ke arab araban, jadi paling tidak belajar jawab pakek bahasa arab dong mas”
“Nggak ah Hun… takutnya aku nanti auto masuk islam!”
“Nggak mas.. Kalau masuk islam itu ucapkan kalimat apa gitu lho… sik kalau tidak salah kalimat syahadat Mas”
“Jadi aman ya kalau aku jawab ucapan salam itu?”
“Amanlah mas, kan bukan kalimat syahadat mas hehehe”
”Waalaikumsalam… “ teriaku menjawab ucapan salam yang ada di depan itu
__ADS_1
“Siapa yaaaa?” teriak Ginten
“Saya Suharto bu…”
“Oh Suharto anak Marwoto ya?” jawab Ginten sambil cekikikan di dalam rumah
“Iya bu…”
“Ya sebentaaaar, suami saya masih telanjang, dia mau pakai baju dulu mas”
*****
“Wah, ternyata kamu bernyali juga mau datang ke rumah kami To….”
“Dibanding bapakmu yang sudah kami selamatkan, ternyata malah gak karu karuan”
“Asal kamu tau… ini cerita bolah kamu percaya atau tidak, tapi kebenaranya bisa kamu tanyakan nenek kamu yang bernama mbok Paihan dan Yu Jipah…mereka tau sejarahnya bapak dan ibumu”
“Bahkan almarhum nenekmu itu kenal dengan kami berdua”
“Kami tidak berharap Marwoto dan Suparmi seperti itu, suka pelihara demit, mengkaryakan demit, jual beli demit, tukar tambah demit, jual demit second, mengirim santet dan pokoknya yang berbau kesetan setanan”
Aku tau Suharto sangat tidak percaya dengan omonganku, tetapi paling tidak aku sudah berkata sesuatu yang pasti akan menjadi beban pikiran.
Dia pasti berpikir bagaimana aku dan Ginten bisa kenal dengan kedua nenek Suharto.
Suharto hanya menunduk saja ketika aku mulai menghina orang tuanya
“Gini mas To, saya hanya ingin mas To membantu saya, ini juga apabila mas To menginginkan bapak sampean sadar apa yang dilakukan ini salah”
“Saya hanya ingin tau apa yang sedang dia lakukan, kenpa dia memelihara begitu banyak demit-demit kuburan di rumahmu, untuk apa sebegitu banyak demit yang dia kumpulkan”
“Oh iya selain saya kepingin tau kenapa dia pelihara demit, kenapa dia ingin sekali memiliki rumah Ginten yang ada di desa sebelah”
“Seperti kemarin malam, kenapa dia kok suruh kamu ke sana untuk mencuri surat tanah rumah itu, apa tujuanya?”
“Saya tidak tau pak, kemarin sore bapak saya memanggil saya, dia bilang nanti malam saya harus mencari surat tanah rumah itu, katanya rumah itu harus bisa menjadi milik bapak saya, karena ada sesuatu di rumah itu yang sangat berharga””
“Hmmm apa yang sangat berharga di rumah itu mas Suharto enak jamanku, apakah ada hartanya?”
“Maaf saya tidak tau pak….”
“Sampeyan boleh percaya atau tidak, tapi yang pasti saya dan istri saya ada di pihak yang benar, dan suatu saat mas To akan saya ajak ke makam nenekmu yang bernama mbok Painah itu”
“Asal kamu tau mas To, nenekmu yang bernama mbok painah itu sedih dengan kelakuan bapakmu”
“Iya pak Rochman, saya percaya sama sampean pak”
“Hussshh jangan panggil saya Rochman, panggil saya Totok saja, Rochman itu panggilan hanya untuk istriku saja, orang lain tidak boleh panggil saya Rochman”
“Ya sudah, besok saya tunggu kamu disini, dan saya harap kamu sudah tau tujuan bapakmu apa dengan yang tadi kita bicoro eh bicarakan itu”
__ADS_1