Rochman Dan Ginten

Rochman Dan Ginten
26. Suparmi yang kemaki


__ADS_3

“Berarti siang ini kita gak bisa ke rumahku ya Man? Kita harus ke depot rawon itu?”


“Iya Ten… sebenarnya aku nggak suka ke depot rawon itu, aku merasa ada yang aneh disana”


“Tapi permintaan pak Peno kita disuruh ketemu dengan yang mengurus KTP disana, trs kita harus apa Ten?”


“Kita turuti dulu aja Man… atau pagi ini kita ke rumah aku dulu, sekalian aku mau ambil beberapa perhiasan.. mau tak jual buat nambahi biaya bikin KTP”


“Sekalian kita lewat rumah Marwoto Ten… kita harus sering lewat sana, seolah olah kita ini sedang mengawasi tindak tanduk Marwoto hihihihi”


“Kita sekalian bertamu ke sana juga Man heheheh”


“Ya sudah… ayo sana cepat mandi Ten… biar agak lama kita di rumahmu dan rumah Marwoto”


“Oh Iya Ten,.... jangan kamu taruh beha dan syempakmu di kamar mandi… aku tau kamu sengaja taruh di gantungan pakaian agar aku terangsyang kan?... agar aku ciumin aroma tubuhmu yang kecut itu toooo!”


“Hihihi aku tau isi otakmu Ten… aku tetep gak doyaaan hahahaha”


“Ealah Man…. kok kamu tau bauknya kecut Man, apa sudah kamu ciumin dan kamu buat bahan untuk nghocok? Heheheheh”


“Yancok… gak doyan aku Ten… mending aku ciumin syempakku dewe chok hahahah”


Yah  gitu itu Ginten.. dia tetap berusaha merubahku agar mau dan doyan sama yang namanya perempuan, sebenarnya baik juga usaha Ginten itu, tapi aku tidak doyan sama sekali .


Humu itu gak bisa dirubah, meskipun bisapun dan akhirnya menikah dengan perempuan pun, nanti akhirnya juga balik suka sesama jenis juga.


Hehehe dipikir Ginten aku bisa berubah dengan dia menaruh beha dan syempaknya di kamar mandi hehehe


Pagi ini aku ada rencana untuk main ke rumah Marwoto, sekalian aku penasaran kepingin ngobrol sama Suparmi yang dulu diselamatkan anak-anak Sutopo.


Sayangnya anak-anak Sutopo gak jelas ada dimana, seandainya mereka ada disini dan tau tentang Marwoto dan Suparmi, pasti mereka akan merasa bersalah sudah menyelamatkan Suparmi dan Marwoto.


*****


Pagi ini aku dan Ginten sudah ada di gapura desa sebelah, aku kayuh sepeda pak Peno agak cepat dari pada sebelumnya.


Pagi ini di desa Marwoto suasananya cukup ramai, desa yang makmur, dengan rumah penduduk yang rata-rata sudah permanen, sangat berbeda dengan desa sebelah yang masih ada rumah gedek nya.


“Kita langsung ke rumah Marwoto sana Man, saya kepingin lihat wajah Suparmi… apakah berbeda dengan jaman dulu atau tidak”


“Jelas beda Ten, yang sekarang pasti jauh lebih tua dari pada yang dulu”


“Bukan masalah tua atau mudanya Man, tapi aura wajahnya kan keliatan, saya penasaran karena dulu kami mati-matian melindungi mereka dari kamu dan Dimas.


“Sebenarnya yang jahat itu bukan Dimas Ten… Dimas itu hanya ingin bereksperimen saja, dia tidak akan jahat apabila tidak ada yang mengusik”


“Dimas itu cuma ingin berkreasi sendiri, tanpa ada yang mengganggunya, tapi karena ada yang berusaha mengusik dia jadinya gak karu-karuan”


“Ndasmu Man… jelas jelas jahat lah!”


“Dia hanya seorang peneliti saja Ten.. coba kalau tidak ada yang iseng menyatukan dua wilayah yang sebenarnya tidak apa-apa itu.. Pasti tidak akan terjadi hal yang aneh-aneh”


“Kalau tidak ada sebab tidak akan ada akibat Ten… nanti kamu akan paham sendiri kok Ten”


“Yang jahat itu aku Ten… aku suka menodai laki-laki, yang normal jadi humu.. Kalau sudah humu ya aku ent*d  fantatnya hihihih”


“Wis gak usah banyak omong Man… yang lalu sudah lah jangan dipikir dan diungkit, dicari cari siapa yang salah atau apalah. Sekarang kita ada di jaman modern yang butuh bantuan”


“Dijaman ini jelas-jelas ada penguasa yang gak bener.. Dan harus dibenarkan agar alam semesta ini tidak marah… setuju gak Man?”


“Setuju sekali Ten.. pokoknya aku padamu lah Ten”


“Eh kamu suka sama aku ya Man?”


“Gak blaaass .. jijik tau kalok suka sama perempuan”


“Lha tadi kamu bilang kalok kamu padaku gitu Man”


“Iya aku padamu… maksudnya aku pokoknya kepingin nyodok syilitmu Ten hihihihi”


“Matamu Man!


Memang setelah aku pikir-pikir… sebenarnya Dimas itu tidak bersalah .. semua karena ada sebab dan akibat.


Kalau seandainya tidak ada istilah menyatukan wilayah seperti yang dilakukan Mak Nyat Mani dan Soebroto mungkin Dimas tidak akan seperti itu


Sayangnya waktu kejadian kejadian itu aku masih ada di dalam bunker  bawah tanah sebagai syalala yang suka menyodok setan laki-laki yang  tersesat di daerahku hihihi.

__ADS_1


Tapi ah sudahlah .. jaman sudah berubah, kini aku sebagai manusia seutuhnya yang punya misi baik, sebuah misi  untuk menyelamatkan desa ini dan juga mengembalikan Marwoto jadi normal lagi.


“Man… seumpama nanti kita sudah ada di rumah Marwoto… apa yang akan kamu lakukan Man?”


“Ya silaturahmi saja Ten.. kita bertamu..masuk ke dalam rumahnya dan ngobrol sama Suparmi dan Marwoto”


“Pokoknya tidak kelihatan kalau kita sedang ada masalah gitu aja Ten”


“Nah itu yang memang akan aku lakukan Man… kesana itu untuk silaturahmi saja. Dan jangan bikin perkara, kecuali dia duluan yang menyerang kita heheheh”


“Ok Setuju Ten… nah  kita sudah ada di depan rumahnya… ada baiknya kamu saja yang memanggil, cari aja Suparmi nya”


Ginten turun dari boncengan sepeda, aku yakin akan kejadian seperti waktu aku terakhir bertamu kesini itu, gak ada yang membukakan pintu, dan aku harus berdiri cukup lama dan kepanasan.


“Permisiiiii… kulonuwuuunnn… ibu Suparmiiiii” teriak Ginten dengan suaranya yang keras sekali


“Man.. gak ada yang keluar sama sekali, gimana kalau aku pakek suara turbo aja Man?”


“Maksudnya suara turbo itu apa Ten…”


“Udah.. kamu siap siap saja ..pokoknya aku bikin semua tetangga akan keluar dan berisik dengan suaraku”


Heheheh gila juga Ginten ini, sangat beda dengan Ginten yang sebelumnya ku kenal ketika ada rumah putih itu.


Katanya dia punya suara turbo… penasaran juga dengan apa yang akan dilakukan oleh Ginten.


“PERMISIIIIIIIII… KULONUWUUUUUN. IBU SUPARMIIIIIIIII”


“Yancooookk suaramu ngeriii Ten.. asyuuuu.. Sampek perih telingaku Ten!”


“Tadi saya kan udah bilang sama kamu Man… siap-siap saja, dah lah tutup telingamu.. Saya akan teriak sampai yang punya rumah dan tetangga disini keluar semua”


“PERMISIIIIIIIII… KULONUWUUUUUN. IBU SUPARMIIIIIIIII”


“PERMISIIIIIIIII… KULONUWUUUUUN. IBU SUPARMIIIIIIIII”


“PERMISIIIIIIIII… KULONUWUUUUUN. IBU SUPARMIIIIIIIII”


“Aaaaahh cukup telingaku bisa rusaaaak”


Tapi ginten tidak menyudahi teriakan mengerikan itu…


Satu persatu hingga ada sekitar lima ibu-ibu yang ada di depan rumah..


“Tolong hentikan teriakan itu mbak… anak saya nangis” kata ibu-ibu yang paling gemuk


“Iya mbaaaak… bapak saya sampai terbangun mbak… beliau ketakutan mendengar suara itu jeng!” kata yang pakai daster kebalik


“Aduuuh tolong hentikan mbaaaak… saya takut mayat suami saya  bangun dari kuburnya” kata yang paling tua


“Maaf buibu.. Tapi Suparmi sampai sekarang belum keluar rumah buibu.. saya kan memanggil sampai Suparmi keluar dari rumahnya dan menemui saya buibu”


“Mbak ini sebenarnya siapa, dan apa mbaknya gak tau kebiasaan Suparmi dan suaminya yang tidak akan pernah keluar apabila ada tamu yang datang?” kata ibu-ibu yang hanya memakai handuk di tubuhnya dan sedang memegang sebuah diildoo”


“Saya dan suami saya dari desa sebelah.. kami ingin silaturahmi dengan anak dari Yu Jipah dan mbok Painah”


“Yu Jipah sudah meninggal mbak… begitu juga dengan ibu Marwoto … juga sudah meninggal” kata ibuibu yang memakai daster terbalik itu


“Ya sudah buibu.. Saya akan teiak dan memanggil Suparmi lagi hingga dia keluar dari rumahnya sekarang juga” kata Ginten dengan wajah makin beringas


“PERMISIIIIIIIII… KULONUWUUUUUN. IBU SUPARMIIIIIIIII”


“PERMISIIIIIIIII… KULONUWUUUUUN. IBU SUPARMIIIIIIIII”


“PERMISIIIIIIIII… KULONUWUUUUUN. IBU SUPARMIIIIIIIII”


Ternyata teriakan Ginten diikuti oleh ibu-ibu yang merasa terganggu dengan teriakan Ginten hihihihi, aku hanya bisa melihat ibu-ibu yang sedang memanggil Suparmi sambil menghitung berapa menit orang yang ada di dalam rumah itu akan keluar hihihih


Ketika ibu-ibu itu bersama sama memanggil Suparmi. Mendadak dari dalam muncul ibu-ibu berumur yang dulu sempat adu mulut denganku.


“DIAM KALIAN SEMUA… KALIAN MENGGANGGU SARAPAN SUAMIKU!”  teriak perempuan yang bernama  Suparmi itu’


“Heh bu Suparmi…. kalau ada orang yang memanggil itu mbok ya cepat keluar! kamu itu jangan sombong.. jangan bikin susah tetanggamu” kata buibu yang hanya memakai handuk sambil mengacung acungkan diildoo yang dipegangnya


“Ayo kita bubar buibui….orangnya sudah keluar, kita bisa teruskan pekerjaan rumah kita buibu” kata yang memakai daster terbalik


“KAMU SIAPA DAN ADA PERLU DENGAN SIAPA” bentak Suparmi kepada Ginten

__ADS_1


Wajah Ginten mendadak merah padam setelah dibentak oleh Suparmi yang sekarang benar-benar berbeda dengan ketika membutuhkan pertolongan anak-anak Sutopo


Ginten maju selangkah mendekati pagar kayu rumah Suparmi..


“DASAR PEREMPUAN TIDAK TAU TERIMA KASIH…. SAYA GINTEN YANG MENYELAMATKAN KAMU DAN MARWOTO!... SAYA KENAL YU JIPAH DAN MBOK PAINAH!”  teriak Ginten yang makin emosi


“AAAH AKU TIDAK KENAL KAMU… DAN JANGAN BAWA-BAWA NAMA IBU IBU KAMI YANG SUDAH MATI!”


“PEREMPUAN TIDAK TAU ADAB…. ORANG TUA SENDIRI KAMU KATAIN MATI…. KASAR SEKALI KAMU SUPARMI.. HARUSNYA PAKAI KATA YANG LEBIH SOPAN … MENINGGAL.. KAN LEBIH SOPAN”  jawab Ginten tidak kalah keras.


“KAMU MAU APA KE RUMAH INI”  teriak Suparmi


Wah wah dua perempuan itu makin emosi, sudah waktunya aku turun tangan, takutnya mereka berdua makin gak terkontrol.


Tapi memang Suparmi ini kebangetan kok, seolah dia ini orang penting di desa, dan sama sekali tidak menghargai orang lain.


“Sudah…sudah….”


“Ten..ayok kita pergi dari sini saja, biarkan orang yang tidak tau terima kasih itu akan mendapatkan kesialan karena mengidahkan orang yang telah menyelamatkan hidupnya”


“EEE KAMU NGANCAM!... SIAPA KAMU BERANI BERANINYA NGANCAM SAYA… KAMU YANG AKAN SIAL.. AKAN SAYA LAPORKAN KE SUAMI SAYA”


Tiba-tiba Suparmi masuk ke dalam rumah sambil memaggil suaminya beberapa kali.


Aku nggak dengar apa yang sedang dia katakan kepada suaminya,m yang aku dengar hanya teriakan di luar ada orang sedang menatang.


Perasaanku sih sebentar lagi Marwoto akan keluar dari dalam rumahnya hihihi, tapi kan semalam dia sudah aku kalahkan, mana berani dia melawan aku pagi ini.


“Man.. dia wadul (lapor) ke Marwoto”


“Hahaha biarkan saja Ten…kita tunggu sampai mereka keluar dari rumahnya saja, baru aku akan ajak dia bicara baik baik hihihi”


Dari dalam  rumah aku bisa dengar suara langkah kaki dua orang yang menuju ke arah luar.


Aku yakin Parmi akan mengadu aku dan Marwoto, sekarang tinggal Marwoto sajam, apakah dia berani melawan aku atau tidak.


“ITU PAK.. YANG TADI NGANCAM IBU” teriak Parmi sambil menunjuk ke arahku, tapi sayangnya Marwoto hanya diam saja…


“PAK..KOK DIAM SAJA.. AYO LAWAN ORANG ITU… MEREKA SUDAH MEMPERMALUKAN KELUARGA KITA PAK” Suparmi berkata-kata sambil mendorong agar Marwoto keluar dan melawanku.


“Sudah bu….untuk saat ini bapak tidak mau melawan dia…lebih baik kita masuk dan meneruskan sarapan kita saja  bu” kata Marwoto kepada istrinya yang masih melotot ke arah aku dan Ginten


“Heh Marwoto, kami ini mau bertamu… ayo ajak kami masuk ke rumahmu.. Atau penjaga rumahmu yang bernama JOE KOWIyono itu akan aku ludahi hingga binasa dan masuk syurga


“Man… kamu salah… seharusnya masuk neraka” bisik GInten.


“Kamu yang salah Ten.. dia itu setan yang asalnya dari neraka, kalau kamu masukan ke neraka dia akan bahagia, lebih baik kita doakan dia masuk syurga saja”


“Apa maumu.. Apa kamu kurang puas sudah mempermalukan kami?” tanya Marwoto dari teras rumahnya


“Aku mempermalukan kamu soal apa To!... istrimu Suparmi itu yang mempermalukan dirinya sendiri, ayo cepat ajak kami masuk…. Atau rumahmu akan saya gempur dengan semua pasukanku hihihi”


“Heh Man… kamu kan gak punya pasukan” bisik Ginten sekali lagi di dekat telingaku.


“Dah ah Ten.. kamu diam dulu ae” bisik ku ke telinga Ginten sambil kugigit daun telinganya


“Auughh kamu kok nakal sih Man.. udah ngatjeng ya?” seru Ginten tiba-tiba


“Hehehe kenapa memangnya Ten… kan aku gak nafsu sama kamu  Ten hihihi”


“Heh…kalian ini maunya apa, mau memamerkan kemesraan kalian di hadapan kami!” tanya Marwoto


“Sediakan kamar untuk kami berdua… saya akan puaskan suami saya dulu hihihih” kata Ginten kepada Marwoto


“Dasar kalian gila…. KALIAN INI MAUNYA APA KE RUMAH SAYA” teriak Marwoto


“Sudahlah, ajak kami masuk dan bertamu, kami hanya ingin silaturahmi setelah belasan tahun tidak ketemu kamu To hehehe”


“Jangan masukan mereka ke dalam pak” bisik istrinya Marwoto


“Kenapa..kenapa kami tidak boleh masuk, kamu apa sudah lupa dengan kami berdua?” tanya Ginten tiba-tiba


“Ingat…ibumu mbok Painah yang sudah meninggal saja tidak lupa dengan kami berdua, kenapa kalian yang masih hidup begini bisa melupakan orang yang sudah menolong kalian?” lanjut Ginten


Tidak ada jawaban dari mulut dua orang yang sedang  berdiri di teras rumahnya, aku nggak tau apa yang sedang mereka pikirkan, yang aku tau mulut Marwoto seperti sedang merapalkan sesuatu.


Mulut tua Marwoto itu sepertinya sedang berbicara atau sedang memanggil sesuatu, tapi aku sih gak ngurusi, karena kami ke sini dengan niat baik, dan tentunya raja setan akan memberkati kami.

__ADS_1


“Marwoto..gak usah merapalkan doa atau sesuatu untuk memanggil pengawalmu… gak ada gunanya To.  kamu yang akan aku sakiti kalau kamu tidak mempersilahkan kami berdua masuk ke dalam rumahmu


__ADS_2