
“Memangnya mbok Painah tau dimana benda itu berada?”
“Saya tidak tau… yang tau hanya anak-anak Sutopo dan pak Tembol…. Mungkin Juriah juga tau dimana benda itu berada”
“Waduh.. Saudara saya itu menghilang mbok… sampai sekarang saya belum tau dimana dia berada… tapi yang pasti dia tidak akan jauh jauh dari desa ini juga mbok”
“Lebih baik tidak usah kalian cari…. Saya tidak masalah dengan mereka yang akan mengorbankan cucu saya apabila saya tidak mengatakan dimana benda itu berada”
“Karena memang saya tidak tau… tapi seandainya mereka ingin melakukan sesuatu terhadap desa sebelah, tentu saja saya akan tidak terima”
“Tenang saja mbok… desa sebelah untuk saat ini aman.. Karena koleksi demit anak sampeyan sudah kami berdua bakar… sudah tidak ada di rumah Marwoto”
“Sekarang yang harus kami lakukan adalah melindungi cucu sampean mbok… saya dan Istri saya yang akan melindungi cucu sampean”
“Tapi urusan dengan Mak Nyat Mani bukan urusan kami.. Kami tidak mau ribut lagi dengan dia mbok… kami sudah menikah dan sudah mulai hidup bahagia”
“Saya tau Rochman… dan benar kalian.. Sudah saatnya kalian hidup bahagia, nanti akan coba bicara dengan Mak Nyat Mani, meskipun saya sebenarnya lebih dekat dengan Soebroto”
“Ginten…. Bagaimana dengan kamu.. Apa kamu bahagia bisa menikah dengan Rochman?”
“Tentu saja… saya juga berhasil merubah mas Rochman menjadi normal lagi mbok, saya sebenarnya tidak mau lagi berurusan dengan Mak Nyat Mani, tetapi apabila kasusnya demikian , saya rasa ya harus berurusan juga mbok”
“Nggak Hun… tidak perlu berurusan dengan demit itu lagi, pokoknya kalau kamu mau keuarga kita ini langgeng, jangan lagi kita berurusan dengan Mak Nyat Mani lagi”
“Kita cukup berurusan dengan yang dibawahnya saja.. Untuk level atas saya sudah tidak mau ikut campur lagi”
“Iya mas…. Saya berusaha untuk mempertahankan keluarga ini kok….”
“Nah itu kan kita memang sudah tidak bisa lagi dipisahkan mbok, jadi tolonglah mbok Painah, jangan hubungkan kami dengan Mak Nyat Mani lagi”
“Iya… saya mengerti, kalian tolong bantu cucu saya saja, dan untuk urusan Mak Nyat Mani akan saya selesaikan sendiri”
*****
“Untung semalam kita cepat pulang Hun… hehehe untung kita tidak kepergok orang yang patroli di depan makam itu”
“Iya mas…. Dah sekarang sarapan dulu, saya mau siapkan pakaian bekas yang akan kita jual nanti malam”
“Mas… nanti malam seumpama kita bawa lebih banyak pakaian gimana? Agar persediaan kita cepat habis, dan menunjukan ke mbak Dany bahwa kita mampu berjualan di pasar itu”
“Ya terserah kamu Hun… pokoknya jangan sampai kita kesulitan bawa barang jualan kita”
“Ya Mas…. . eh mas.. Saya kok penasaran ya, kenapa sampai Mak Nyat Mani begitu kepinginya mendapatkan harta itu, bukanya Mak Nyat Mani sudah hidup selamanya dan mempunyai daerah kekuasaan yang besar?”
“Itu tergantung sih Hun… sama kayak kamu kan Hun, tiap malam dagangan kita selalu 90% terjual, tetapi kamu tetap kepingin menambah jumlah barang yang akan kita jual nanti kan hihihi”
“Ih mas ini… saya kan kepingin jualan sampai kita bisa sukses mas, apalagi mbak Dany selalu akan ada di pasar sana mas”
__ADS_1
“Iya Hun… aku tau.. Yah terserah kamu aja Hun… kamu atur aja sesuai dengan apa yang kamu maui, pokoknya aku sebagai suami nurut apa katamu aja Hun hihihi”
Pagi ini tidak ada kegiatan lain selain mempersiapkan barang dagangan untuk nanti malam…
Tentang Suharto, untuk saat ini aku gak ngurus dulu, aku sudah capek ngurusi perselisihan mulai jaman Dimas hingga sekarang.
Pagi ini istriku nampak bersemangat sekali menata pakaian yang akan kami bawa nanti malam… biasanya jam segini dia selalu menggodaku dengan berbagai cara agar aku mau menyetubuhinya hihihih.
Tapi untuk pagi ini nggak… dia malah fokus ke pakaian yang akan kita jual nanti malam, dia memisahkan beberapa pakaian yang nampak tua dan yang up to date.
Pintu depan rumah memang sengaja kami buka,agar udara sejuk bisa masuk ke dalam rumah.. Lagian di depan tidak ada siapa-siapa..
“Mas… saya baru ingat, bukanya kita harus pindah dari rumah ini secepatnya?”
“Lalu kapan kita bersih-bersih rumah yang ada di desa sebelah mas?”
“Iya Hun… aku tau kita memang harus pindah, tetapi kasus ini sekarang bukan di desa sebelah, tetapi disini, lalu bagaimana kita bisa cepat bertindak apabila terjadi sesuatu disini?”
“Gini aja mas.. Kalau kita ada dana, kita suruh orang desa sebelah untuk bersihkan rumah kita dan rumah Saudara saya Juriah.. Karena dua rumah itu yang bikin desa sebelah jelek”
“Setuju Hun.. sekarang saja kita kesana, selesaikan dulu packing pakaian untuk kita jual nanti sore… setelah itu kita ke sana”
*****
Aku sudah panggil beberapa orang desa yang tidak bekerja untuk membersihkan rumah Ginten dulu. Pokoknya rumah Ginten harus sudah bersih sore ini, karena rencananya aku dan Ginten nanti malam akan pulang ke sini.
Tapi beberapa pemuda itu agak takut ketika melihat boneka Ginten yang ada di dalam rumah… boneka yang selalu melihat ke arah luar melalui jendela rumah.
“Pak Totok… boneka itu apa gak disingkirkan saja… banyak penduduk sini yang takut sama boneka itu pak” ujar salah satu orang yang bersih-bersih rumah
“Heheh biarkan saja mas… boneka itu aman kok, nanti akan saya dan istri saya bersihkan agar tidak nampak mengerikan apabila dari luar”
“Tapi banyak penduduk disini yang takut pak.. Terutama ibu-ibu dan anak anak”
“Hmm gitu ya.. Nanti coba tak bicarakan dulu sama istriku.. Biar boneka itu dipindah ke tempat lain saja”
“Hihihihi jangan dipindah pak Tok.. Kasihkan Marwoto saja.. Dia lho doyan masturbasi di boneka itu hihihi” kata salah satu orang yang sedang mencabuti rumput
“Ah mosok se.. Memangnya ada yang pernah lihat Marwoto masuk ke sini?”
“Beberapa warga sering lihat Marwoto sukanya masuk ke rumah ini pak Tok… sepertinya dia sedang mencari sesuatu, tapi kemudian dia masturbasi juga dengan boneka itu hehehe” kata orang itu lagi
“Berarti Istri saya cukup menggairahkan bagi Marwoto dong mas hehehe, wah kalau gitu saya jaganya saja istri saya hihihi”
“Waduhh kalau soal itu saya gak komen pak Tok….oh iya pak Tok.. rumah kosong yang mengerikan yang konon kata ibu saya milik saudara bu Ginten apa tidak dibersihkan juga?”
“Oh rumah Juriah yang ada dipojokan itu mas… sik, aku tanya ke istriku dulu mas… yang penting fokus ke rumah ini dulu saja mas”
__ADS_1
Warga disini mulai menyukaiku semenjak aku bisa mengusir Marwoto dan demit demitnya… penduduk disini senang apabila aku dan Ginten ada di desa mereka.
Tadi aku juga sempat bicara dengan Fhuwan Mahabraniwati… gerandong yang pernah jadi kaki tangan Marwoto.. Dia aku beri penjelasan bahwa Marwoto berencana jelek dengan desa ini.
Aku juga katakan bahwa aku sudah membakar seluruh demit kroco yang ada di rumah Marwoto, jadi tugas Fhuwan lebih mudah.
Tentu saja Fhuwan senang mendengar apa yang aku katakan, dia tidak merasa sendirian menjaga desa ini.
*****
Sore hari di pasar seperti biasanya…
Sore ini agak berbeda dari pada biasanya…. ketika aku dan Ginten datang, di tempat kami akan membuka lapak sudah ada beberapa orang laki dan perempuan yang menunggu.
Dan tentu saja dari kejauhan ada mbak Dany yang dari kemarin melihat cara kami berdagang.
Ketika lapak pakaian bekas sudah kami gelar, orang-orang berdatangan untuk membeli pakaian bekas yang aku dan Ginten jual.
Sehingga belum juga pukul delapan malam. Tinggal tersisa enam potong pakaian yang belum terjual.
Ketika keadaan sepi.. Mbak Dany yang dari tadi dengan sabar melihat kami berjualan mendatangi kami..
Pada saat ini kami sedang merapikan terpal, karena pakaian yang terjual tinggal sisa enam potong dari tiga lusin pakain campur yang tadi dibawa oleh Ginten..
“Wah luar biasa sekali ya kalian bu dan pak Totok. Hari ini bisa menjual berapa?”
“Hari ini tiga lusin mbak… tapi sisa enam potong, kalau kemarin satu lusin setengah dan sisa beberapa potong saja” jawab Ginten
“Berarti di rumah tinggal beberapa potong pakaian saja bu Totok?”
“Hehehe iya mbak.. Kalau bisa besok pagi dikirim satu karung lagi ya hehehe”
“Kalian ini suami istri yang hebat.. Dalam dua hari bisa menjual hampir satu karung pakaian bekas” kata Dany sambil tertawa.
*****
Perjalanan pulang kami cukup bahagia, karena berhasil menjual pakaian dalam jumlah banyak…dan besok pagi mbak Dany akan mengirim satu karung pakaian lagi lagi..
Apabila dalam satu bulan bisa menjual minimal lima karung, maka mbak Dany berani kontrak ruko yang ada di pasar untuk kami berjualan pakaian bekas..
“Hun.. udah punya gambaran nama toko kita nggak kalau seumpama mbak Dany jadi sewakan kita toko?”
“Gak ada mas.. Kalau mas ada ide apa?”
“Toko itu nanti akan aku namai dengan ciri khas istriku yang sangat menggemaskan, pokoknya apa yang ada pada istriku ini yang akan aku bikin untuk nama toko”
“Ih mas ini ada ada aja sih… trs nama apa yang menurut mas cocok seumpama mbak Dany nanti akan menyewakan kita toko
__ADS_1
“Aku akan aku kasih nama toko GEMEZZZ”