
Raffa kecil adalah anak lelaki imut berkulit pucat dengan pipi yang gembul menggemaskan. Makhluk kecil itu selalu bermain sendiri dengan bola kesayangannya.
Tepat di hari itu, makhluk kecil itu masih bermain sendirian di pekarangan rumahnya. Bola bercorak hitam dan putih itu dipantul berkali-kali dengan keras. Pria kecil itu tampak sedang kesal akan sesuatu, hingga kesekian kalinya bola malang itu justru terlempar keluar masuk pekarangan rumah tetangga.
Raffa kecil sontak berlari dan mengintip lewat celah pagar pembatas. Tangan mungilnya kemudian mencoba meraih benda bulat itu yang sayangnya tak terjangkau olehnya. Raffa kecil menggerutu sambil tetap berusaha.
Sepasang sepatu merah muda yang terbalur sedikit lumpur kemudian muncul tepat di dekat bola milik pria kecil itu. Raffa tercenung memandang si pemilik sepatu tanpa kata.
Gadis kecil si pemilik sepatu merah muda tersebut berjongkok meraih bola dan membawanya ke dalam pelukannya. Gadis kecil itu berjalan mendekat lalu melempar kuat benda bulat itu sambil meloncat. Alhasil, bola itu kembali ke pekarangan pemiliknya. Raffa kecil masih diam memandang pergerakan pantulan bola lalu memandang gadis kecil yang ternyata tengah tersenyum lebar dengan dua gigi depan yang ompong. Gadis kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan.
Setelahnya, gadis kecil itu beranjak pergi memungut sebuah selang air dan mengarahkannya pada bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan rumahnya.
Sejak itu, Raffa kecil selalu mencoba menemui gadis kecil itu lagi dengan mengintip lewat celah dinding ataupun pagar rumah. Entah bagaimana, pria kecil itu merasa senang jika ia bisa melihat sosok gadis mungil itu. Hingga Raffa kecil duduk di bangku kelas 3 SD, ia mendapat kabar bahwa gadis kecil itu mendaftar masuk ke sekolahnya.
Sangat lucu melihat bagaimana tingkah Raffa kecil yang selalu berusaha mendekati dan mengawasi gadis mungil lucu itu namun tak pernah berhasil. Hingga 2 tahun berlalu mereka dipasangkan sebagai pasangan putra-putri yang mewakili sekolah tingkat SD untuk bermain dalam ajang olaharaga tahunan pada cabang permainan catur.
Gadis kecil yang sudah lama Raffa ketahui bernama Reananda Putri itu akhirnya berteman baik dengannya. Tak ayal, Raffa bahkan hampir setiap hari berkunjung ke rumah gadis kecil itu untuk bermain bersama khususnya bermain catur.
Hari-haripun berlalu dengan cepat. Hingga di malam itu, Raffa remaja terbangun dari tidurnya karena tangisan keras seorang gadis yang ia kenal. Raffa berlari menuju jendela kamar dan menyaksikan gadis manis itu tengah terduduk di pasar sambil menangisi sebuah mobil sedan yang mulai bergerak menjauh.
Hati kecil Raffa serasa tersayat-sayat mendengar tangisan pilu gadis itu. Sebab sepanjang ia mengenal gadis itu tak pernah sekalipun ia melihatnya menitikkan air mata sedih.
Pria yang berada di pertengahan usia abad kemudian berlari menghampiri gadis itu lalu memeluk dan mencoba menenangkan Rea yang malang. Pria yang Raffa ketahui sebagai ayah dari gadis bernama Rea itu kemudian mengajak gadis itu kembali ke rumah setelah tangisannya mereda.
Namun, setelah malam itu gadis bernama Rea itu berubah drastis 180 derajat. Tawa dan senyuman sangat jarang menghiasi wajah cantiknya. Kata-kata pun tak lagi banyak terucap dari bibir mungilnya. Bunga-bunga yang ia rawat dengan rajin sejak kecil pun tak lagi ia hiraukan.
Kabarnya, ibu dari gadis itu ternyata pergi meninggalkannya dan lebih memilih bersama dengan pria selingkuhannya.
Untungnya, Rea tetap Rea yang tak mengabaikan orang yang menyayangi dan dekat dengannya. Gadis itu terlihat jelas sangat menyayangi ayahnya. Dan persabatannya dengan Raffa pun masih terjalin baik hingga mereka beranjak memasuki masa putih abu-abu.
...****************...
__ADS_1
"Ini untukmu."
Sebungkus cokelat menggiurkan dengan pita merah mendarat manis di meja seorang gadis yang tengah asyik membaca sebuah novel romansa remaja dengan earphone yang terpasang manis di kedua telinganya.
Merespon, gadis itu lantas menutup novel dan menatap cowok tampan yang kini sudah duduk nyaman disisinya.
"Dari siapa lagi kali ini?" Gadis itu meraih cokelat, membuka bungkusannya dan melahapnya dengan tenang.
"Ini enak." Komentarnya sambil kembali melanjutkan bacaan novelnya.
Cowok tampan di sebelahnya tersenyum penuh arti.
"Coba tebak, Re!" Cowok itu menjauhkan novel milik gadis itu dan menatapnya lekat dengan seringaian yang menjengkelkan menurut Rea.
Alih-alih menjawab, gadis itu justru mengedik acuh dan memasukkan cokelat ke mulutnya lagi.
"LARAS." Cowok berparas tampan itu berucap pelan penuh penekanan pada setiap suku kata kalimatnya.
"LARASATI AMELIA." cowok itu memperjelas kalimatnya dengan satu sudut bibir yang meninggi dan mata yang berkilat menyebalkan.
Kening Rea berkerut-kerut. Gigitan cokelat yang sudah lumer di lidahnya pun tak lagi ia cerna.
"Kamu serius?!" Rea berseru tak percaya.
Sedang cowok bertubuh jangkung itu mengangguk menanggapi dengan seringai kemenangan yang masih menghiasi wajah tampannya. Rea bersumpah, dia sangat membenci seringai yang mulai muncul sejak mereka tumbuh remaja. Gadis itu akui kalau cowok itu memang tampan, tapi tipikal cowok bad boy dan playboy itu yang sangat mengganggu Rea.
"Laras siswi juara satu umum di sekolah kita?" Rea bertanya masih tak percaya.
"Hu-um." Angguk cowok itu seraya membunyikan jari tengah dan jempolnya. Senyum kebanggaannya pun lantas mengahiasi wajahnya.
Rea menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Kenapa, Re? Nggak nyangka, kan?"
"Iya." Gadis itu diam sesaat.
"Tapi kok mereka bisa suka sih sama cowok kayak kamu?" Gumamnya pelan yang masih terdengar oleh cowok itu. Fix! Rea benar-benar tahu cara menyentil harga dirinya.
Cowok itu kilat menarik kedua bahu gadis itu mengahadapnya.
"Aku cowok kayak apa maksud kamu?" Tuntut cowok itu dengan suara pelan yang membuat Rea merasa was-was. Belum lagi tatapan cowok itu kini berubah tajam menakutkan.
"Raff..."
"Aku cowok kayak apa maksud kamu?" Ulangnya lebih tajam dan penuh penekanan.
"Ih, Raffa, lepas!" Gadis itu akhirnya mendorong tubuh kokoh cowok itu menjauh dan mendelik kesal. "Apaan, sih!" Sungutnya dan memilih untuk kembali membaca novelnya.
Raffa menangkup wajah dengan sebelah tangan. Bibirnya sedikit mengerucut sebal menatap Rea yang kini hanyut dalam bacaan novelnya.
"Dasar perempuan jadi-jadian." Ejeknya dan melarikan diri dalam sepersekian detik ketika mata nyalang gadis itu menyorotnya tajam tak terima.
"Raffa!!!" Pekiknya ke arah pintu kelas dimana sosok cowok itu menghilang.
Butuh beberapa saat untuk meredakan emosi gadis itu. Namun belum sampai situ, sosok itu muncul lagi dengan menjulurkan lidahnya mengejek.
"Perempuan alien." Cemohnya lagi sambil berlari menjauh dengan tawa berderai.
"Raffa!!!" Pekik gadis itu lagi hendak mengejar sosok itu yang bergerak lebih cepat.
"Dasar sialan!"
...****************...
__ADS_1