RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?

RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?
BAB 12: Putus


__ADS_3

Rea mematung. Lidahnya kelu, kedua kakinya bahkan melemas begitu saja. Pikirannya pun buntu seketika tanpa alasan yang jelas.


"R-Raf..."


Lelaki itu menggapai sebelah tangannya dan menggenggamnya lembut. Sorot matanya begitu teduh menatap gadis di hadapannya dengan senyum yang terukir indah di wajah tampannya.


"Sebenarnya aku..."


Rea tak bisa mendengarnya, seakan ia berada di tempat yang asing. Raffa, lelaki itu pun mulai berbicara mengungkapkan semua hal yang membuatnya menyadari bahwa Rea-lah gadis yang selama ini ada di hatinya.


Tidak. Rea tak bisa mendengar apa-apa.


"Re, kamu mau, kan?"


"Hah?" Rea merasa tertarik kembali dari lamunannya ketika Raffa menyebutkan namanya. Rea menatap bingung dengan dahi yang berkerut-kerut.


Raffa tersenyum lagi, "jadi pacar aku."


Gemuruh sorak-sorai dari siswa-siswi lainnya pun seketika mengisi seluruh area sekolah.


"Terima! Terima! Terima!"


Rea melihat sekeliling dengan perasaan kalut. Semuanya bertambah membingungkan ketika ia kembali pada sosok Raffa yang masih setia berlutut di hadapannya.


Apa yang harus dia lakukan?


Ada jeda waktu yang cukup lama, bahkan Rea menarik sebelah tangannya yang digenggam lembut oleh lelaki itu. Bingung antara menolak ataupun menerima perasaan sahabatnya itu. Disisi lain, ia tak ingin mempermalukan Raffa di depan banyak orang seperti saat ini. Namun, di sisi lain ia juga tak ingin membohongi perasaannya.


Gadis itu menghela nafas pelan sambil menatap ke arah lain.


"Y-ya."


Seketika gemuruh sorak riuh bergema memenuhi bangunan SMA Bakti Nusantara tersebut.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa ribut-ribut? Bubar sekarang juga!" Seorang guru lelaki keluar dari ruang guru dengan tergopoh-gopoh dan memarahi seluruh siswa/i yang ditanggapi dengan kesal oleh mereka.


Lain halnya dengan Raffa yang justru tersenyum begitu lebar. Ia mengambil sebelah tangan Rea yang bersiap untuk kembali ke kelas dan menaruh bunga yang ia pegang di genggaman gadis itu. Rea mematung.


"Ayo," ajaknya menarik tangan gadis itu yang lain berniat mengantarkannya ke kelasnya.


Rea seakan kehilangan dirinya beberapa saat. Tiba-tiba, ia menarik tangannya yang dipegang oleh Raffa. Langkah keduanya pun otomatis terhenti. Raffa menoleh ke arahnya dengan sebelah alis terangkat seakan bertanya 'ada apa?'

__ADS_1


Rea beralih mengambil tangan Raffa yang menggenggamnya dan mengembalikan bunga yang ia pegang. Lelaki itu tampak terkejut tak menyangka.


"Re-"


"Putusin aku dalam waktu dekat, Raff."


"Re!"


"Aku nggak bisa nerima perasaan kamu, Raff. Aku... maksudku, kamu yakin sama perasaan kamu itu?"


"Aku yakin, Re."


"Gimana sama Laras?"


Alis lelaki itu tampak meninggi, "kamu nggak dengerin aku tadi, Re?"


Rea terdiam. Ada raut kekecewaan tercetak jelas di wajah Raffa yang tirus.


"Raff, putusin aja aku dalam waktu dekat. Kalau orang nanya, bilang aja aku nggak cocok sama kamu," Rea bersuara setelah hening beberapa saat.


Lelaki itu bergerak mendekat dengan raut wajah tak terbaca. Rea melangkah mundur beriringan dengan langkah lelaki itu yang mendekat. Entah mengapa, tiba-tiba saja Rea merasa takut dengan sosok Raffa yang ada di hadapannya saat ini. Pikirannya bahkan terasa buntu untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan. Rea hanya terus melangkah hingga punggungnya menabrak dinding ruangan sekolah yang tak terpakai. Keadaan di lorong dimana mereka berada saat inipun entah mengapa kebetulan sepi, Rea jadi semakin takut dengan situasi yang ia hadapi saat ini.


Raffa terus melangkah hingga tubuhnya berada terlalu dekat dengan gadis itu. Lelaki itu bahkan menundukkan wajahnya untuk mensejajarkannya dengan wajah Rea yang berada di bawahnya.


"Aku nggak akan pernah ngelakuin itu, Re. Kita nggak akan pernah putus."


Rea bungkam.


"Jadi," Rea memberanikan diri menatap ke dalam manik hitam milik lelaki itu, "apa aku yang harus mutusin kamu?"


Terlihat rahang lelaki itu mengeras. Jelas, iapun tak ingin Rea melakukan itu.


"Re-"


"Aku juga nggak bisa lakuin itu, Raff. Aku nggak mungkin bikin kamu semalu itu."


Perlahan tapi pasti, otot-otot yang mengeras di wajah lelaki itu mengendur. Keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Sama-sama tidak tahu harus apa dan bagaimana.


"Apa yang harus kita lakuin, Raff?"


"Coba buka hati kamu untuk-"

__ADS_1


"Aku suka Jordan, Raff."


Jawaban Rea yang cepat dan telak seakan menampar Raffa secara tidak langsung. Lelaki itu kembali mengeraskan otot rahangnya dengan tangan terkepal.


Rea pikir Raffa akan marah ataupun melakukan sesuatu padanya untuk melampiaskan kemarahannya. Tapi tidak, lelaki itu justru melangkah pergi ke arah berlawanan.


Tidak. Ini belum selesai.


"Raff!"


Tanpa diduga, Raffa menghentikan langkahnya. Pria itu menoleh sedikit ke arah Rea dan mengucapkan sesuatu sebelum benar-benar melangkah pergi.


"Aku nggak akan lepasin kamu, Re."


...****************...


Mungkin memang benar, tidak ada persahabatan antara pria dan wanita. Salah satu diantara mereka pasti ada yang terlibat perasaan.


Namun, ketika hal itu memuncak. Ketika perasaan itu diutarakan dan tidak berbalas, persahabatan itupun akan berakhir sampai di titik itu.


Rea membuang pandangan ke luar jendela kelasnya dengan perasaan yang berkecamuk. Apanya yang tidak dilepaskan? Raffa justru seakan menjauh dan menghindarinya. Begitupun dengan Jordan, lelaki yang ia taksir.


Rea tak merasa bergairah lagi untuk bersekolah. Pikirannya pun seakan buntu ketika ia melakukan hobinya untuk mensketsa desain pakaian. Belum lagi, ketiga temannya yang biasanya selalu heboh mengganggunya kini justru seakan mengabaikannya. Apa manusia bisa berubah secepat itu? Atau dia yang terlalu berharap lebih?


Rea membuang nafas kasar dan mengumpulkan peralatan gambarnya. Ia akan mencari udara segar sembari melakukan hobinya di taman belakang sekolah. Kalau beruntung, mungkin ia akan bertemu Jordan di sana. Memikirkannya, Rea tersenyum miris. Bertemu apanya, lelaki itu bahkan terlihat kentara menghindarinya dimanapun seakan Rea adalah makhluk aneh. Padahal, Rea ingin sekali memberitahu seseorang tentang semuanya. Dan Jordan, dia ingin Jordan yang menjadi orang itu.


Helaan nafas kasar kembali terdengar dari mulut Rea. Kenapa pikirannya begitu buntu? Kenapa semua hal yang ia alami harus terus berputar di kepalanya?


Rea menghempaskan tubuhnya berbaring di kursi panjang taman tepat di bawah pohon. Ia akan tidur sebentar menghilangkan kejenuhannya. Lagipula, jam pelajaran selanjutnya tidak akan berjalan seperti biasanya karena guru yang mengajar berhalangan hadir.


...****************...


"Laras, kamu gimana sama Raffa?"


Gadis itu tampak tersenyum walau terlihat jelas ada sepercik kesedihan di mata indahnya, "Raffa beneran suka sama kamu, Re. Aku bisa apa?" ucapnya dan pergi begitu saja tanpa memedulikan Rea yang merasa tak puas dengan reaksi gadis cantik itu.


...****************...


"Raff, sampai kapan kita begini? Lakuin sesuatu, Raff!" ucap Rea setengah berteriak pada lelaki yang tiba-tiba saja bersikap dingin padanya. Apa sebenarnya yang salah? Benaknya tak henti berteriak bingung mempertanyakan situasinya.


"Aku akan buat kamu sadar sama perasaan kamu, Re."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2