
Rea menyodorkan sebuah kotak yang lumayan besar ke hadapan teman-temannya; Leni, Cici dan Sheila. Ketiganya sontak memandang bingung pada gadis itu.
"Ini apa, Re?" Cici bersuara.
Rea ikut duduk bergabung dengan mereka dan menghembuskan nafas pelan.
"Baju sama sepatu yang kalian pinjamin sama akulah. Masa nggak dibalikin." Jawabnya lalu membuka novel yang dibawanya serta membacanya dengan tenang.
Ketiga gadis lainnya justru menggeleng dramatis. Sheila mendorong kotak itu ke hadapan Rea hingga membuat fokus gadis itu berpindah dari novelnya.
"Kenapa-"
"Nggak usah dibalikin, Re. Anggap aja hadiah dari kami bertiga." Ucap Sheila dengan senyum khasnya yang begitu manis.
"Tapi-"
"Lagian kamunya terus-terusan pakai jeans sama kaos. Bosan tahu lihatnya." Kini Leni buka suara sambil merengut imut.
"Hu-um. Nggak ada feminin-femininnya gitu." Cici ikut nimbrung.
"Iya, tapi-"
"Ambil kalau nggak, kita nggak temenan lagi." Ancam Cici yang berhasil membuat Rea kehabisan kata.
Rea menghembuskan nafas pelan seraya tersenyum geli.
"Ya udah deh, kalau maksa. Lumayan juga buat aku."
Rea akhirnya kembali mengambil kotak itu dan menyimpannya dalam tas ranselnya.
"Re, kamu punya rencana nggak hari ini?" Tanya Leni seraya menyikut lengan gadis itu.
"Nggak ada yang penting, sih. Kenapa emangnya?"
Alih-alih menjawab, ketiga temannya justru tersenyum misterius.
...****************...
Seperti biasanya, hari ini Raffa berniat mengunjungi rumah Rea untuk memainkan permainan kesukaan mereka berdua. Permainan catur.
Baru saja cowok itu akan mengetuk pintu ketika seorang gadis dengan rok pendek di atas lutut tiba-tiba keluar sambil memakai sebelah sepatu kets putihnya nampak terburu-buru.
Raffa menahan nafas.
"Eh, Raffa. Sorry, aku nggak bisa main catur hari ini. Leni, Cici sama Sheila ngajak aku hang-out bareng hari ini." Sapa gadis itu seraya membetulkan ikatan rambutnya.
Gadis itu hendak melangkah pergi ketika sebelah tangan Raffa menahan lengannya.
"Apa harus pakai rok sependek itu?"
__ADS_1
"Oh, ini." Rea tersenyum tak nyaman. "Terpaksa. Harus pakai rok begini kata Leni."
"Kemana?"
"Hah?"
"Kemana emangnya kalian mau hang-out?"
Gadis itu tampak berpikir sebentar.
"Nggak tahu. Mereka cuma bilang harus pakai baju kayak gini."
"Ya udah, aku antar kalau gitu."
"Eh, nggak usah. Aku dijemput mereka, kok. Tuh, mereka udah datang." Tolak Rea sambil melambai pada ketiga cewek yang berada dalam mobil sedan hitam yang sama ketika mereka pergi ke pesta perayaan keberhasilan Jordan.
"Aku pergi dulu." Pamit gadis itu sambil berlari meninggalkan Raffa yang mematung melihat kepergian sahabat baiknya itu.
Cowok bertubuh tinggi itu menghela nafas pelan. Sepertinya ia lebih baik ikut bertanding dalam permainan bola basket yang tadi ditawarkan oleh teman sekelasnya. Bukan pertandingan serius, hanya untuk bersenang-senang sekalian berolahraga. Begitu ucap Fadly, ketua kelasnya.
...****************...
Rea menatap nanar sekelilingnya dan penampilannya saat ini.
"Kenapa nggak bilang kita bakal kesini, sih?" Lirihnya pada ketiga makhluk centil bersamanya yang sekarang sedang sibuk membetulkan dandanan dan riasan di wajah mereka.
"Apa yang salah sih, Re?" Ujar Cici acuh sekadar menanggapi.
"Kita seheboh ini cuma untuk acara biasa kayak gini." Ucap gadis itu dengan jeritan tertahan yang tak ditanggapi oleh teman-temannya. Mereka justru memutar bola mata malas dan kembali merapikan riasan.
"Kita mencolok banget, tahu!" Ucap gadis itu lagi tak percaya.
"Eh, Jordan!" Sheila berseru sambil melambai pada seseorang dibalik tubuh Rea.
"Jo-Jordan?" Rea berucap setengah berbisik kemudian melebarkan matanya.
Ketika sebuah sosok terasa jelas berada di balik tubuhnya, Rea bisa merasakan bulu kuduknya meremang tanpa alasan yang jelas.
"Senang kalian datang." Sapa suara berat khas cowok itu yang ditanggapi dengan senyuman centil ketiga makhluk di hadapan Rea.
"Kalian punya anggota baru?" Tanya cowok itu melihat satu sosok gadis berpenampilan sama dengan ketiga gadis lainnya dan masih berdiri membelakanginya.
"Dia Rea loh, Jo." Leni menyahut.
"Rea?" Ulang Jordan tak percaya.
Rea membalik tubuh.
"Hai." Sapanya canggung menatap cowok itu yang entah mengapa terlihat sangat bersinar di matanya.
__ADS_1
Jordan berkacak pinggang menatap takjub ke arah Rea.
"Wah, aku nggak nyangka bisa lihat kamu disini."
"I-iya, nggak nyangka ya." Ujar Rea sambil menggaruk lehernya yang jelas-jelas tak gatal.
"Jo, semangat ya. Kami disini mau dukung tim kamu biar jadi pemenang." Cici buka suara penuh semangat yang langsung diangguki oleh Leni dan Sheila.
Ketiga perempuan itu bahkan mengeluarkan pom-pom cheerleader dari dalam mobil yang baru dilihat oleh Rea. Gadis itu kembali melebarkan mata. Apa-apaan!
Jordan tampak tersenyum.
"Kalau Rea ikut nyemangatin gimana nggak makin semangat, sih." Ucap cowok itu yang seketika menarik perhatian Rea kembali padanya dengan pandangan tak percaya.
Tangan Jordan menjulur dan bergerak mengacak pelan rambut depan Rea sambil tersenyum.
"Makasih, ya." Ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan Rea yang mematung bersama ketiga temannya yang tampak tersenyum senang.
Tangan Rea menyentuh bagian kepalanya yang tadi disentuh oleh Jordan.
"Cie~"
Rea terkesiap seketika menatap temannya yang balas menatapnya dengan senyum menggoda.
"Ayo siap-siap, Re. Pertandingannya udah mau mulai." Sheila bersuara seraya melemparkan sepasang pom-pom kepadanya.
"Tunggu-tunggu!" Interupsi Rea menahan pergelangannya yang ditarik oleh Sheila dan berlari ke arah mobil dan mengambil sesuatu disana.
"Jaket?"
"Kamu kedinginan?"
Tak berniat menjawab, Rea justru tersenyum dan melilitkan jaket putihnya di pinggangnya. Begini tidak akan terlalu seksi, pikirnya.
Keempat gadis remaja itupun berjalan bersama ke arah lapangan dan mengambil tempat duduk paling depan. Tak tanggung-tanggung Leni, Cici, dan Sheila langsung melompat berdiri dan bersorak meneriakkan nama Jordan dan timnya seraya menari.
Sial. Rea merasa sangat malu. Semua orang di lapangan memandang ke arah mereka dengan pandangan berbeda-beda. Ada yang menertawai mereka juga. Sialan!
Rea menutup wajahnya dengan pom-pom di tangannya.
"Re, ayo ikutan!" Cici menarik Rea berdiri sadar gadis itu tak mengikuti aksi mereka.
Alih-alih mengikuti, Rea justru bergerak sebisa mungkin menyembunyikan wajah bahkan kalau bisa dirinya juga.
Beberapa saat setelahnya, semua orang terutama para gadis-gadis bersorak histeris melihat kedatangan salah satu tim pemain yang dikepalai oleh Jordan dan disusul oleh tim pemain lain yang tak kalah menarik perhatian heboh orang-orang disana.
Mendengar nama Jordan, Rea sontak mencari keberadaan sosok itu dan tersenyum penuh kagum melihat sosok cowok tampan itu tengah tersenyum sambil melambai pada orang banyak.
Satu detik saja. Ketika pandangan mereka bertemu, Rea merasa waktu seakan berhenti dan hanya menyisakan mereka berdua.
__ADS_1
Jordan tersenyum manis padanya. Benar-benar tersenyum begitu manis.
...****************...