RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?

RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?
BAB 9: What Happened to Raffa?


__ADS_3

Kini Raffa merasa bahwa perubahan Rea yang sebelumnya tomboy sekarang lebih feminin berkat pengaruh ketiga teman perempuannya jadi berbahaya. Pasalnya, anak lelaki itu tak lagi bisa merasa leluasa untuk bersikap di hadapan Rea. Bahkan, Raffa merasa bahwa gadis itu telah berubah menjadi sosok lain di mata Raffa yang berhasil mencampur-adukkan perasaan cowok itu. Atau mungkin, Raffa yang mulai jadi aneh belakangan ini?


"Raff, kamu dengar nggak, sih?"


"Hah?"


Di hadapannya, kini Raffa sedang melihat anak gadis itu sedang bersidekap di depan dada sembari menatapnya kesal. Sejak tadi, Rea berceloteh tentang teman dan kegiatan di sekoalah dengan sangat antusias dan lelaki itu ternyata hanya melamun menatapnya sambil kadang tersenyum sendiri.


"Kamu nggak dengerin ceritaku sama sekali, kan?"


Raffa menggaruk leher, "Yah, sorry. Aku nggak konsen. Hehe", jawabnya seraya tertawa nyengir.


Rea merotasikan bola matanya.


"Oh, iya!" Rea tiba-tiba berseru antusias kembali.


"Kenapa?"


Raffa mulai merasa was-was, Rea lagi-lagi mendekatkan wajahnya ke hadapan lelaki itu. Sepertinya, gadis itu punya kebiasaan baru ketika berbicara dengannya. Mendekatkan wajah mereka.


Rea tersenyum, "Jordan ngajak aku keluar minggu ini. Menurut kamu gimana?" ucap gadis itu sambil tersipu-sipu.


Tiba-tiba Raffa merasa kesal tanpa alasan. Apa sih yang dilihat Rea dari cowok si tukang tebar pesona semacam Jordan. Belum lagi, cowok itu punya catatan tebal mengenai daftar nama-nama gadis yang pernah menjalin hubungan dengannya. Lelaki seperti Jordan tak bisa dipercaya sama sekali.


"Jangan pergi. Jangan mau-in." Ketus cowok itu yang seketika dapat perhatian penuh dari Rea. Gadis itu terkejut juga kesal.


"Apa sih, Raff. Teman kamu lagi senang padahal. Ini juga baru pertama kalinya-"


"Jordan nggak sebaik yang kamu kira, Re."


Rea kembali merotasikan bola mata.

__ADS_1


"Iya, Raff. Semua orang nggak bisa kita tahu jati diri sebenarnya, termasuk Jordan. Tapi, aku bukan anak kecil Raff, aku pasti bisa jaga hati dan diri aku, kok."


Kini Raffa yang gantian merotasikan bola mata.


"Terserah. Tapi, kalau kamu beneran pergi, aku anggap kamu nggak anggap aku sebagai sahabat kamu sama sekali cuma karena cowok buaya itu." Ucap lelaki itu seraya bangkit berdiri dan pergi begitu saja dari rumah gadis itu meninggalkannya.


"Raff! Kamu kenapa, sih? Raff!"


Raffa mendengar sahutan kesal Rea sampai di ambang pintu keluar-masuk. Sesudahnya, hilang begitu saja. Hari ini niatnya berkunjung ingin bermain permainan kesukaan mereka berdua, tapi Rea justru merusak semuanya.


Raffa menoleh ke belakang ke arah pintu dimana Rea bahkan sama sekali tak mengejarnya. Dengan penuh kekesalan, anak lelaki itu menendang kuat sebuah batu di dekat kakinya.


"Sialan!"


...****************...


"Raff, kamu nggak apa-apa?"


Raffa menoleh ke asal suara. Disana ada Laras yang sedang menatapnya khawatir. Ya, tadi ketika baru saja dari rumah Rea, Raffa tiba-tiba mendapat pesan dari Laras untuk bertemu di sebuah cafe tempat mereka sering bertemu. Raffa pikir dengan bertemu Laras, setidaknya suasana hatinya akan lebih membaik. Tapi, tetap saja pikirannya tertuju pada seorang gadis yang bahkan sepertinya sama sekali tak berniat untuk memikirkannya.


"Nggak apa-apa. Nggak usah dipikirin." ucapnya dan tersenyum menenangkan. Senyum itu menular pada gadis yang sedang duduk di hadapannya sekarang ini.


Tidak berapa lama, Laras nampak gelisah. Ia menunduk dan memainkan jari-jemarinya di bawah meja.


Raffa yang menyaksikannya tertawa lucu, "kayaknya kamu deh yang kenapa-kenapa."


Laras kemudian menatapnya dengan pipi semerah kepiting rebus. Gadis itu kenapa, sih. Tidak biasanya.


"Raff." panggilnya yang disahut dengan deheman singkat oleh lelaki itu.


"Kita sering banget jalan bareng, ju-juga berduaan."

__ADS_1


Raffa memicingkan mata, mulai tahu kemana arah pembicaraan gadis itu.


"A-aku cu-cuma pengin kejelasan tentang hubungan kita. Ya, mungkin kecepatan. Ta-tapi-"


"Laras."


"Aku suka kamu, Raff."


Raffa terdiam. Dia tak pernah menyangka situasi mereka bisa jadi se-creepy ini. Dia bahkan tak mengerti apa yang dirasakannya sekarang.


"Mungkin aku. Nggak, aku juga udah jatuh cinta sama kamu. Aku selama ini nunggu kamu mulai duluan, Raff. Tapi, kamu sama sekali nggak pernah nunjukkin hal itu. Aku cuma pengin kejelasan. Aku benar-benar suka sama kamu. Bisa nggak, kamu kasih aku jawaban untuk itu."


Raffa speechless. Serius, dia kehilangan semua kata bahkan bingung harus apa. Ia sebelumnya sudah tahu hal seperti ini mungkin akan terjadi di kemudian hari. Tapi, ia sama sekali tak menyangka kenapa perasaannya tidak semenggebu-gebu ketika pertama kali dekat dengan Laras. Apa Laras terlalu berterus terang? Atau mungkinkah sekarang perasaannya sudah berubah?


Di siang yang agak mendung itu, dengan hati-hati Raffa memberikan alasan untuk pulang dan memikirkannya di rumah. Dan selama dalam perjalanannya, pikiran Raffa tak henti-hentinya mencoba menelaah apa yang dirasakannya.


Bukan, dia begini bukan karena keterus-terangan Laras. Karena beberapa kali, Raffa sudah sering menangkap sinyal bawa Laras ingin memperjelas hubungan di antara mereka berdua. Raffa hanya mengabaikan dan berusaha sebaik mungkin mengalihkan ataupun menghindarinya.


Lalu, jika penyebabnya adalah perasaannya yang kini telah berubah. Raffa ingin tahu alasannya apa? Kenapa? Dan bagaimana bisa?


Raffa menghentikan langkah saat sudah memasuki kawasan komplek perumahannya, matanya tak sengaja menangkap dua sosok keluar dari dalam rumah Rea, sahabat gadisnya. Sosok itu adalah Rea yang sedang mengantar Jordan keluar rumah.


Raffa mengepal melihat kedua sosok itu saling tersenyum, apalagi senyuman di wajah Rea. Gadis itu bahkan melambai dan berkata pada Jordan untuk berhati-hati dalam perjalanannya menggunakan motor besarnya.


Raffa masih berdiri diam di tempatnya, hingga secara tak sengaja Rea menyadari kehadirannya. Lelaki itu tak habis pikir, kenapa Rea juga tersenyum padanya seolah tidak mengerti bahwa dia sama sekali tak menyukai keberadaan Jordan di antara mereka atau dimanapun.


"Raff, kamu darimana? Tahu, nggak? Barusan Jordan datang ngasih-"


Tanpa mengucapkan apa-apa, Raffa berjalan begitu saja melewati Rea dan masuk ke rumahnya dengan perasaan yang benar-benar kacau. Lelaki itu memutuskan langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. Ia menghempas tubuh ke kasurnya yang empuk dan menutup matanya dengan sebelah lengannya. Raffa ingin tidur saja dan berharap nantinya ketika bangun ia akan merasa lebih baik.


Sementara di tempat lain, Rea masih berdiri di pinggiran jalan komplek sembari menatap kosong ke arah dimana kamar Raffa berada. Ini pertama kalinya Raffa bersikap mengabaikannya. Padahal, tadinya ia sangat ingin mengejutkan Raffa dengan memberikan berkas formulir juga buku list beasiswa yang selama ini disebut-sebut oleh Raffa. Mungkin Raffa akan kesal, tapi Rea juga tidak menyangka kenapa Jordan tiba-tiba saja datang dan memberi berkas-berkas itu. Padahal, Rea cuma asal saja pernah menceritakannya pada Jordan ketika mereka bertemu dan berbincang di taman belakang sekolah.

__ADS_1


Dengan perasaan bingung juga sedih, gadis itu pun berjalan memasuki rumahnya di sore hari dimana langit kala itu bersiap-siap meneteskan bulir-bulir air hujan ke bumi.


...****************...


__ADS_2