
"Turun, Re."
"Hah?" hanya kebingungan yang tampil diraut wajah Rea mendengar ucapan Raffa di seberang sana.
Sekilas, gadis itu bisa mendengar helaan nafas lelaki yang sedang meneleponnya saat ini.
"Lihat ke belakang!"
Mulai mengerti maksud lelaki itu, manik hitam Rea jatuh pada kaca spion yang benar saja menampilkan sesosok lelaki berseragam putih-abu mengendarai motor besarnya mengikuti mobil milik Jordan.
Lelaki itu melambaikan sebelah tangannya yang memegang ponsel. Ia juga tersenyum pada Rea yang masih melihatnya dari kaca spion. Senyum itu, Rea sangat merindukannya. Senyum itu bahkan menular padanya.
Rea menutup panggilan dan hendak menolehkan kepalanya langsung pada objek yang menarik perhatiannya saat ini. Namun, tiba-tiba saja mobil yang dikendarai Jordan bergerak begitu cepat hingga membuat tubuh Rea terpental hampir menabrak dasbor mobil jika saja ia tak memakai sabuk pengaman.
"Aduh, Jo! Aku hampir jatuh, brengsek!" Leni terdengar mengumpat dari bilik kursi penumpang. "Pelan-pelan, Jo!" teriak gadis itu lagi karena Jordan tidak menurunkan kecepatan laju mobil.
Rea menatap sosok lelaki di sebelahnya itu. Jordan tampak diam dengan raut tak terbaca. Namun, rahang lelaki itu terlihat mengeras. Ada apa dengannya?
Tanpa sepatah kata, secara naluriah Rea menyentuh lembut sebelah lengan lelaki itu yang sepertinya mampu menyadarkannya. Mobilpun kembali melaju dengan kecepatan semula.
"Kak, aku berhenti-" belum sempat Rea menyelesaikan kalimatnya, tanpa disangka Jordan bergerak menghentikan mobil ke bahu jalan seakan tahu maksud gadis itu.
"Disini, kan?"
Rea mengangguk menjawab pertanyaan lelaki itu yang nampak enggan menatap dirinya.
__ADS_1
"Re, kamu mau kemana?" suara Leni menginterupsi pergerakan Rea yang hendak membuka pintu.
Gadis itu berpaling pada Leni yang menatapnya dengan tatapan bertanya, jangan lupakan rambut berantakan dan wajah kucel gadis itu yang bahkan masih membuatnya terlihat cantik.
"Aku sama Raffa," ujar Rea bertepatan dengan motor Raffa yang ikut berhenti di sisi mobil. Lenipun ikut menoleh pada sosok Raffa yang nampak tak ada niatan menyapanya maupun Jordan.
"Kalau gitu, sampai ketemu di rumah pak Kepsek, ya," ucap Rea sebelum mobil sedan hitam itu melaju kembali membelah jalanan kota.
Gadis itupun kemudian bergerak mendekati Raffa yang masih duduk menunggangi motor besarnya. Entah bagaimana, kedua manusia itu kembali saling melempar senyum ketika manik mata mereka bertemu. Rea pun ikut menaiki motor milik lelaki itu dan duduk di jok penumpang sembari kedua tangannya memegang kedua sisi pinggang liat Raffa.
"Pegangan yang kencang!" seruan lelaki itu terdengar sebelum akhirnya motor besar miliknya melaju kencang di jalanan kota Yogyakarta yang hari itu tampak lengang.
Selama dalam perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi antara Raffa dan Rea. Keduanya tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanya saja, sesekali Raffa akan menarik kedua tangan Rea untuk mengeratkan pelukan gadis itu di pinggangnya yang berkali-kali mengendur akibat ulah sengaja gadis itu yang belum terbiasa.
"Awas nanti kamu kalau udah cinta sama aku, ya," begitu ledek lelaki itu seraya tersenyum menyeringai menatap Rea dari kaca spion.
Rea menyandarkan kepalanya ke punggung lebar milik lelaki itu pelan. Tanpa sadar, gadis itu bahkan mengeratkan pelukannya sendiri tanpa aba-aba dari Raffa. Hal itu membuat seulas senyum terbit di wajah tampan Raffa.
Berbeda dari Raffa, Rea justru tiba-tiba merasa takut kehilangan entah pada apa. Satu hal yang ia tahu, salah satunya ia tidak ingin kehilangan rasa hangat yang ia temukan pada diri Raffa. Rea menghembuskan nafas.
Mengapa perjalanan ini terasa sangat panjang?
...****************...
Sudah sebulan berlalu sejak insiden Rea merasa begitu galau untuk pertama kalinya. Belum lagi perasaan mengganggu itu muncul tanpa alasan yang jelas. Perasaan itu bahkan masih menyelimuti hati gadis itu sampai saat ini. Padahal, hari-hari berlalu begitu normal bahkan lebih baik dengan kehangatan dan sikap manis Raffa yang semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Rea bahkan akan selalu tersenyum jika mengingat apa yang dilakukan lelaki itu ketika kunjungan ke rumah Kepsek yang saat itu tengah mengadakan pesta tunangan anak pertamanya. Saat itu, Raffa dengan percaya diri maju ke altar dan tampak membisikkan sesuatu pada anak sulung Kepsek tersebut.
Si lelaki anak sulung Kepsek itupun tampak mengangguk menyetujui ucapan Raffa. Kemudian, lelaki itu berdiri menginterupsi semua tamu undangan, baik kerabat maupun siswa/i SMA yang saat itu hadir dalam acara itu. Lelaki itu kemudian menjelaskan bahwa seseorang akan menyanyikan sebuah lagu untuk mereka.
Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah Raffa sendiri. Dengan diiringi tepuk tangan dan pandangan antusias, Raffa berdiri dengan sebuah gitar yang ia pinjam dari salah seorang pemusik yang diundang pada saat itu.
Alunan melodi yang lembut nan harmonis pun mengalun lewat petikan jari-jemari milik lelaki itu pada senar gitar. Tak menampik perasaan kagum, Rea ikut tertegun menyaksikan pesona yang keluar dari dalam diri Raffa.
Lelaki itu kemudian mengalunkan sebuah lagu yang sangat dikenali Rea. Lagu itu...
Flashback on
"Lagunya ganti dong, Re. Masa itu melulu," Raffa mengeluh tanpa memindahkan atensinya pada layar ponsel miliknya. Lelaki itu sedang fokus bermain game sambil berselonjoran di sofa ruang tamu rumah Rea. Lelaki itu merasa jengah karena Rea terus-terusan mengulang lagu yang sama dengan speaker bluetooth-nya.
Sementara Rea, gadis itu tampak tidak peduli dengan keluhan lelaki itu. Dia sangat menyukai lagu yang saat ini ia dengar. Walau lagunya sudah termasuk sangat lama, tapi bagi Rea lagu itu benar-benar menyentuh hatinya begitu dalam.
"Re, ganti lagu!"
Bantal sofa terlempar pada tubuh Rea yang tengah hanyut menghayati setiap lirik lagu kesukaannya sembari menggambar sketsa seorang lelaki yang sedang bermain basket dengan nomor punggung 4. Jordan.
Rea menatap tajam pada sosok Raffa yang kini balas menatapnya namun dengan ekspresi memelas. Gadis itu kemudian bangkit berdiri mendekati tubuh Raffa yang masih setia berselonjoran di sofa.
Rea menarik Raffa bangkit dan membawa lelaki itu ke arah pintu. Sesampainya di pintu, tiba-tiba Rea mendorong lelaki itu keluar dan menutup serta mengunci pintu dengan cepat. Raffa yang terdorong hampir terjatuh sontak saja menggedor-gedor minta dibukakan pintu.
"Pulang sana! Ganggu ketenangan aja," begitu teriakan Rea dari dalam rumah mengusir pergi sahabatnya itu.
__ADS_1
Flashback off