RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?

RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?
BAB 16: Love You, Dad


__ADS_3

"Kamu dari mana aja? Betah banget sendirian lama-lama di taman belakang," ocehan Raffa yang tiba-tiba muncul di lobi kelas Rea. Gadis itu kaget tentu saja. Rasanya bahkan seakan umurnya berkurang 10 tahun.


"Ya..." Rea tak tahu ingin menjawab apa dan hanya menggantungkan ucapannya sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Tep!


Sebuah helm membungkus kepala Rea seketika saat ia masih berusaha mencari alasan untuk menjawab pertanyaan lelaki bertubuh jangkung itu. Rea terdiam. Raffa bahkan memakaikan pengaitnya untuk Rea.


"Sudah. Ayo pulang," ucap lelaki itu dengan sebuah senyum manis terukir di wajahnya yang tirus dan tampan.


"Ta-tasku-" ucapan Rea terhenti ketika Raffa mengangkat sebuah tas berwarna biru muda di sebelah tangannya dengan senyum miring yang menyebalkan namun menggemaskan di mata Rea.


"Ayo." ajak lelaki itu sekali lagi yang diangguki oleh Rea dengan senyuman.


Tidak disangka, Raffa meraih sebelah tangan gadis itu dan mengaitkan jari-jemari mereka dengan santainya. Barbanding terbalik dengan Rea yang kini membeku. Dan merasakan kembali debaran aneh yang begitu menghangatkan hatinya jika bersama Raffa akhir-akhir ini.


Setiap siswa-siswi yang berlewatan melihat mereka dan meledek mereka berdua dengan siulan-siulan yang membuat Rea tiba-tiba merasa malu setengah mati. Sedangkan, Raffa tetap santai dan menanggapi beberapa dari mereka dengan senyum kebanggaannya.


Ketika tiba di parkiran yang tumben-tumbennya sepi siang hari itu, Rea secara naluriah menatap jari-jemarinya yang tadi digenggam oleh pria itu. Kini matanya menatap nanar punggung Raffa yang tengah sibuk mengeluarkan motor besar miliknya sambil mengoceh beberapa hal yang tidak lagi dapat didengar gadis itu.


"Raff, aku nggak ngerti perasaanku."


...****************...


Bunyi ketukan pada papan catur kayu yang bergantian memenuhi seisi ruang tamu sebuah rumah minimalis yang lumayan sederhana namun rapi. Tampak dua insan sedang duduk berhadapan di lantai keramik beralaskan karpet bulu yang nyaman.


Hening menyergap ketika permainan sudah mulai memanas. Raffa tampak berpikir keras dengan beberapa kerutan tercipta di dahi lebarnya. Lama berpikir, akhirnya lelaki tampan itu menggerakkan sebuah ikon catur yang disebut mentri. Raffa berniat menyusun jalan untuk mengepung buah catur raja milik Rea. Raut ragu namun sedikit yakin tercetak jelas di wajah tirus lelaki itu yang mulai ditumbuhi cambang-cambang tipis namun terlihat seksi.


"Hmm."


Lelaki itu mendongak menatap gadis di hadapannya yang kedapatan sedang tersenyum menatap papan catur lalu mengarah padanya. Walau sudah terlalu sering mengalaminya, rasa berdebar itu masih selalu muncul jika melihat Rea melakukan hal itu padanya.

__ADS_1


Tangan lentik gadis itu memegang buah caturnya yang disebut kuda. Belum sempat ia melangkahkannya, seluruh bidak maupun pion-pion sudah berserakan di atas papan catur yang terbuat dari kayu jati.


Rea mendelik menatap kesal pada sosok lelaki jangkung yang melakukan semua hal menyebalkan itu. Selalu saja begitu, jika satu langkah lagi Rea akan mengalahkannya.


"Kamu curang banget. Nggak berubah-berubah!" sungut Rea manyun seraya melipat tangan di depan dada.


"Yaudah, sih. Main lagi ayo," timpal Raffa enteng sembari menyusun kembali bidak-bidak catur pada tempatnya untuk memulai permainan baru lagi.


"Malas." Rea tampak meniup-niup poni depannya acuh. Nanti juga lelaki itu akan kalah dan mengacaukan semuanya lagi, sekalipun ia membuat janji tidak akan melakukannya.


"Kali ini nggak bakal aku serakin, kok."


Kan?


"Cih! Kayak pernah bener aja."


"Udah malam, kalian nggak bosan atau ngantuk?" suara berat seorang pria paruh baya menimpali pembicaraan di antara keduanya.


"Yaelah, om. Ini kan malam minggu."


"Trus, kalau malam minggu?" tanya Bagas cuek membalas celetukkan anak laki-laki bernama lengkap Raffael Aditya tersebut. Kepalang ngantuk menguasai tubuh lelaki paruh baya itu.


"Ini malam spesial untuk orang pacaranlah, om." jawab anak remaja laki-laki itu dengan ekspresi sesantai mungkin yang berbanding terbalik dengan Bagas maupun Rea yang kini memelototinya begitu lebar, seakan bola mata mereka akan keluar dari tempat peradabannya.


Hilang sudah kantuk yang tadi menghinggapi tubuh lelaki paruh baya itu. Dan putrinya kini sudah membeku dengan warna merah yang mulai menjalari kedua pipinya.


"Om masa nggak tahu, sih? Aku sama Rea udah pacaran sebulan lebih. Rea nggak ada cerita ya, om?" celetuk lelaki tanggung itu seraya menatap Bagas dan Rea secara bergantian dengan wajah tanpa dosa.


Ada jeda hening yang cukup lama hingga terdengar suara deheman dari Bagas yang seketika memecah kesunyian. Lelaki paruh baya itu kembali menetralkan ekspresinya sebagaimana biasanya.


"Kalian nggak boleh pacaran!"

__ADS_1


Baik Raffa maupun Rea sekarang ganti tercengang dengan pernyataan pria matang yang menginjak usia pertengahan 40 itu.


"Yah, om. Kok nggak direstui, sih? Saya nggak main-main sama putri om, kok. Raffa beneran serius sama Rea" kalimat protes keluar dari mulut Raffa yang Rea akui kali ini benar-benar cerewet untuk ukuran seorang laki-laki. Rasanya Rea benar-benar ingin menghilang kali ini dari antara dua laki-laki tersebut.


Sempat terjadi kontak mata yang tampak sengit antara Raffa dan ayah Rea yang membuat Rea benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Belum lagi, detak jantungnya yang masih menggebu di dalam sana membuatnya lumpuh dan buntu karena Raffa.


"Re, beresin caturnya trus buatin kopi untuk ayah sama Raffa."


"A-apa?"


"Ayah mau ngomong sama Raffa," terang lelaki yang paling dicintai Rea itu dengan lembut namun tetap terdengar tegas.


Manggut-manggut, Rea menurut dan melakukan sesuai dengan perintah ayahnya. Pria paruh baya itu kemudian duduk di kursi bersama Raffa berhadapan. Mereka tampak berbincang serius hingga rasa ingin tahu Rea terpancing begitu saja.


Gadis itu mencoba menguping dari balik dapur tapi tidak berhasil. Alhasil, ketika mengantarkan kopi, gadis itu sengaja melambatkan gerak-geriknya ketika menghidangkan kopi bagi kedua makhluk adam di hadapannya. Tapi, baik sang ayah maupun Raffa sama-sama menghentikan percakapan ketika menyambut kehadiran Rea.


Sialnya, Rea bahkan merasa sangat kesal ketika sang ayah bersikap mengusirnya seakan mengetahui maksud terselubung yang menguasai putri kesayangannya itu.


Merasa tak bisa berbuat apa-apa, Rea akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamarnya sambil mencak-mencak penuh kekesalan. Gadis itupun memilih berbaring di ranjangnya seraya membaca sebuah novel dengan earphone yang melekat manis di kedua telinganya mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.


Lama waktu berjalan ketika Rea akan jatuh terlelap sepenuhnya, samar-samar sosok ayahnya muncul dari balik pintu menghampirinya dengan senyum hangat. Sosok itu membenarkan selimut Rea serta-merta memindahkan buku novel dan melepas earphone yang masih tersangkut di kedua telinga Rea.


Bagas lalu mencium kening putri semata wayangnya itu dengan sangat sayang seraya berucap, "tidur nyenyak, putri kesayangan ayah."


Pria paruh baya itupun beranjak pergi mematikan lampu penerangan lebih dulu lalu menutup pintu.


Tanpa sadar, Rea tersenyum manis dalam tidurnya.


'Rea juga sayang sama ayah.'


...****************...

__ADS_1


__ADS_2