RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?

RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?
BAB 10: Hujan Minggu Itu


__ADS_3

"Tok-tok-tok!"


"Siang, om." suara bariton seorang anak lelaki muncul disusul oleh sosoknya. Sosok itu tak lain adalah Raffa yang hari ini kembali berkunjung ke rumah sahabat gadisnya.


Sebenarnya dia masih marah dengan gadis itu yang tetap mengakrabkan dirinya dengan Jordan, padahal Raffa tidak suka. Tetapi, Raffa lebih tidak suka jika ia membiarkan Rea dan Jordan berdekatan begitu saja. Enak saja, lelaki itu! Rea terlalu baik untuk lelaki semacam Jordan. Raffa merasa tidak akan tenang ataupun rela.


Bagas -ayah Rea- menurunkan koran yang ia baca demi melihat dan menyambut sosok Raffa. Lelaki paruh baya itu lantas tersenyum dan mengedikkan kepala ke arah kamar anak gadis semata wayangnya, "Rea ada di kamar. Lagi belajar kayaknya."


Raffa mengangguk dan segera menuju kamar gadis itu. Ia mengetuk dan memanggil nama gadis itu yang langsung dijawab oleh deheman singkat dari dalam. Raffa pun membuka pintu dan masuk dengan membiarkan pintu kamar tetap terbuka. Yah, walaupun sudah bersahabat sejak kecil, baik Raffa maupun Rea sudah terbiasa dan menganggap itu hal yang pantas dan perlu diperhatikan.


Lelaki bertubuh tinggi itu menghampiri Rea yang tampak sibuk dengan pensil dan buku sketsanya. Tampak tak terusik sedikitpun oleh kehadiran orang lain. Jadi seputar informasi, gadis itu mulai menekuni hobinya menggambar desain baju yang menurut Raffa umm... kurang jelas dan aneh, mungkin. Raffa hanya meringis jika melihat gambar gadis itu. Tetapi, ia tidak akan pernah mau berkomentar karena takut menyinggung gadis itu. Selain itu, ia bahkan lebih buruk lagi dalam hal menggambar.


"Gimana, Raff?" Rea akhirnya bersuara setelah menyelesaikan gambar desainnya. Ia mengangkat buku sketsa dan menampilkannya ke hadapan lelaki itu.


Seperti biasa Raffa berusaha tersenyum tulus dan mengatakan beberapa kalimat pujian seperti, "ya, bagus."


Dan yah, lucunya gadis itu selalu tersenyum tanpa merasa curiga.


"Apa rencana hari ini?" Raffa mencari topik lain.


Rea menggeleng, "nggak ada."


Kerutan muncul di dahi anak lelaki remaja itu, "ini hari minggu loh, Re. Weekend." ucapnya hati-hati mencoba memastikan apa gadis itu ingat atau tidak dengan ajakan Jordan.


Gadis itu mengedik, "mungkin aku bakal di kamar aja gambar, baca terus tidur." Rea nyengir lebar setelah mengatakannya.


Hal itu terlihat menggemaskan di mata Raffa. Tangan lelaki itu pun terulur mengacak pucuk kepala gadis itu dengan sayang. Rea sempat mematung sesaat.


"Kita keluar, yuk."


...****************...

__ADS_1


Ajakan Raffa yang spontan siang itu ternyata cukup membuat Rea merasa sangat senang. Mereka pergi ke beberapa tempat-tempat wisata terdekat di daerah mereka. Khususnya, taman wahana permainan. Rea dan Raffa bahkan membeli beberapa pernak-pernik yang lucu dan mengambil foto kenang-kenangan pada banyak moment.


Kini, mereka berakhir dalam ruang bioskop dan sedang menonton salah satu film action terbaru yang dibintangi oleh aktor favorit mereka, Jackie Chan. Rea beberapa kali tertawa dengan adegan-adegan lucu yang disuguhkan dalam film. Gadis itu tampak hanyut menikmati film sambil menikmati popcorn dan minumannya.


Sedang Raffa, lelaki itu tampaknya punya objek fokus yang sama sepanjang hari ini, yaitu Rea. Anak lelaki remaja itu seakan tidak ada bosan-bosannya memandangi gadis berambut sebahu itu.


Raffa bergerak mendekat dan berbicara di telinga gadis itu ketika mereka berjalan keluar dari pintu teater, "gimana sama ajakan Jordan?"


Seketika Rea memandang Raffa sengit, "jangan bahas itu." ucapnya singkat dan berjalan terus menuju pintu keluar gedung bioskop. Mereka akan pulang sekarang. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Raffa mengekor sambil tersenyum. Aneh sekali, kenapa dia bisa begitu senang karena Rea justru bersamanya.


"Jadi, kamu nolak Jordan, kan?" Raffa berdiri di hadapan gadis itu menghalangi jalannya secara tiba-tiba.


Rea tampak kesal, namun langsung mengambil jalan lain yang lagi-lagi dihalangi oleh tubuh tinggi lelaki itu dengan pertanyaan yang sama. Gadis itupun mendongak menatap Raffa kesal. Bisa-bisanya laki-laki itu merasa senang di atas kesedihannya. Lihatlah, betapa menyebalkannya senyum dan kerlingan mata di wajahnya yang tirus.


Rea menyorot tajam, "gara-gara kamu." ucapnya dan menggeser kuat tubuh liat milik Raffa dan berjalan keluar.


"Yahh, hujan." Rea mencebik seraya mengulurkan tangan menampung tetesan air hujan.


Raffa melakukan hal yang sama, "gimana, nih?"


Rea mengedik pasrah, "kita tunggu aja, deh."


Raffa menggeleng, "nggak. Hujannya lebat gini, pasti lama berhentinya."


"Jadi, gimana dong?"


Raffa tersenyum misterius sebelum menarik tangan gadis itu berlari bersamanya melewati derasnya rintik-rintik hujan malam itu. Rea yang tak sempat menolak pun akhirnya menarik tangannya susah payah dan berteduh di satu pohon yang tumbuh di pinggiran jalan sambil memeluk tubuh kedinginan.


"Kamu gila, ya?" ucapnya membentak Raffa yang merasa terkejut lalu menghampirinya.

__ADS_1


"Kamu kedinginan?" tanyanya yang tak dijawab oleh gadis itu.


"Ayo, naik angkot." ucap Rea bertepatan saat sebuah angkot akan melewati mereka.


Belum sampai Rea menghentikan angkot itu, tubuhnya serasa melayang di udara. Raffa menggendongnya dan berlari diantara derasnya air hujan. Lelaki itu sudah tidak waras.


"Aku pengen banget main hujan kali ini." ucap lelaki itu sebelum Rea sempat melayangkan kata makian ataupun menendang perut berotot miliknya. Raffa bahkan tersenyum dan menatap dalam ke manik mata gadis itu sesaat mengatakan keinginannya itu.


Rea tertegun melihat betapa bahagianya Raffa bermain diantara hujan sambil menggendongnya ala bridal. Lelaki itu bahkan terlalu bersemangat sampai Rea harus mengalungkan tangannya ke leher jenjang sahabatnya itu.


Sadar sesuatu, Rea memanggil lelaki itu.


"Kalau gitu turunin aku, Raff."


"Nggak berat apa? Lagian kayak orang gila tahu." sambungnya karena Raffa justru bergeming sesaat, mungkin pengaruh suara air hujan jadi suaranya kurang terdengar jelas di pendengaran lelaki itu.


Lelaki itu pun kemudian tertawa nyengir sembari menurunkan tubuh mungil Rea, "iya, berat juga sih. Hehe."


Melihat keberadaan dan kondisi mereka sekarang Rea menggeleng dramatis ke arah anak lelaki itu.


"Bener-bener deh, kamu. Rumah masih lumayan jauh padahal." ucap Rea dengan mengeraskan suaranya demi mengalahkan derasnya suara air hujan.


Raffa hanya kembali menyengir lebar, "waktu kecil kan kita sering jalan jauh kayak gini. Hujan justru kesenangan kita kan." ucapnya dengan mudahnya membuat Rea menarik nafas dalam-dalam menyabarkan diri menghadapi tingkah Raffa yang kadang kekanakan.


"Ya udah, ayo." putus Rea menyudahi dan berjalan lebih dulu sembari memeluk tubuhnya yang mulai merasa sangat dingin.


Tiba-tiba, sebuah jaket tersampir ke tubuhnya. Raffa melepaskan jaket denim miliknya dan memakaikannya pada tubuh mungil sahabatnya itu. Rea terdiam mencium aroma maskulin yang menguar dari jaket yang terasa hangat membalutnya.


Rea menoleh pada sosok anak lelaki yang tersenyum padanya saat ini. Rea tak tahu, tapi ia entah mengapa merasa aneh.


Raffa kemudian menggenggam jemarinya yang terasa dingin dan membawanya berlari diantara hujan, "ayo, buruan. Kita harus cepat sebelum jadi beku."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2