
Suasana hati Rea sangat mudah berubah. Setelah sampai tujuan dan melihat keindahan Pantai Parangtritis yang kala itu ramai anak muda juga anak-anak kecil yang siap merayakan pesta kembang api di hari Valentine membuat Rea seketika melupakan kekesalannya pada Raffa.
Ketika mobil yang ia tumpangi berhenti di parkiran, Rea langsung menghambur keluar dan merentangkan tangannya senang merasakan hembusan angin pantai yang sejuk menerpa setiap inci kulitnya. Di belakang, Raffa menyusul sambil terkekeh menyaksikan tingkah Rea yang seperti anak kecil namun begitu lucu menurutnya.
Reflek, ia mengusap puncak kepala gadis itu gemas sambil tersenyum. Senang rasanya melihat Rea bahagia bersama dengannya.
Rea mematung. Perlakuan kecil Raffa seperti saat ini entah mengapa begitu berdampak melumpuhkan setiap sistem syaraf di tubuhnya. Ia menjadi lumpuh seketika melihat lelaki itu tersenyum manis padanya. Rea kah yang baru menyadarinya? Raffa sangat tampan dan mempesona.
Masih berkutat dengan pikirannya yang tidak menentu sambil menatap wajah Raffa sambil bengong, Rea merasakan jari-jemari Raffa menelusup masuk ke sela-sela jarinya dan menggenggamnya erat.
"Kita duduk di sana, yuk," ajak lelaki tampan bertubuh jangkung itu seraya menunjuk salah satu meja dengan dua buah kursi yang ditata khusus untuk pasangan.
Rea melihatnya, namun masih terhilang. Ia mengikuti langkah sang kekasih sekaligus sahabatnya dalam diam. Ia tidak terbiasa dengan hal seperti ini, bahkan dalam hal yang paling sederhana seperti jemari lelaki itu yang menggenggam tangannya begitu hangat saat ini. Rea tertegun memandangi tautan jemari mereka. Kehangatan tangan Raffa seolah menjalar ke hati dan ke seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya terasa menghangat dan semakin lama menjadi semakin panas.
Raffa melepaskan tautan itu demi menarik kursi untuk gadis yang telah membuatnya begitu bahagia karena telah membalas perasaannya. Rea sempat merasa kehilangan dan tidak rela untuk sesaat karena Raffa melepas kehangatan itu, namun ia cepat tersadar dan segera duduk seraya tersenyum dan berterima kasih pada sahabat lelakinya itu.
Kekasihnya,
Rea menggigit kedua pipinya. Ia merasa sangat lucu, gugup, heran, semuanya bercampur menghadapi semua ini. Ia tidak bisa lagi memandang Raffa hanya sebatas cowok SMA tengil yang menyebalkan. Semuanya jadi berbeda, terutama dirinya. Inikah yang dinamakan jatuh cinta?
Jatuh cinta?
Rea seketika mengangkat pandangan. Menatap Raffa yang tengah tersenyum menikmati alunan lagu yang dinyanyikan sebuah band di panggung yang sengaja dipasang untuk menghibur pengunjung pantai kala itu.
Rea menelan ludah tanpa sadar. Perasaannya bergejolak dalam sepersekian detik. Hatinya terasa berdebar semakin kencang. Ia merasakan rasa panas kembali menjalari kedua pipinya. Ia memerah. Persis seperti seorang gadis yang sedang menatap pria yang ia cintai dalam drama percintaan yang pernah iseng ia tonton.
Gadis itu cepat-cepat memalingkan pandangan ke arah panggung sesaat Raffa ingin menoleh. Tingkah bodoh seorang gadis yang sedang jatuh cinta yang dulu selalu ia ejek ketika melihatnya dalam drama, persis ia lakukan saat ini. Rea merasa menjadi sangat bodoh.
__ADS_1
Ia bahkan tidak berani menatap Raffa yang jelas-jelas ingin mengajaknya berbicara. Ia tetap menatap panggung dengan tatapan yang sebenarnya tidak fokus ke arah sana sama sekali. Ia mengabaikan lelaki yang menatapnya sejak beberapa saat tadi tanda ia ingin mengucapkan sesuatu. Rea mengabaikannya.
Tidak! Rea tidak bermaksud begitu sedikitpun.
Bodoh sekali! Ia sangat tidak tahu harus bagaimana.
"Aku ambil minum dulu ya. Kamu mau apa?" tanya Raffa lembut dan berdiri dari duduknya.
"Ah!" Rea agak terkejut, padahal ia tahu lelaki itu memang akan mengatakan sesuatu. "A-apa aja. Eh, sa-samain aja," ucapnya terbata karena gugup.
Raffa terlihat sempat menaikkan alis heran menyadari keanehan sikap Rea. Namun sedetik kemudian, ia mengangguk dan berlalu pergi.
Rea mengikuti pergerakan lelaki itu dari ekor matanya sampai menghilang. Setelah Raffa menghilang, bahunya langsung melemas, tertunduk sangat dalam. Ia pasti kelihatan sangat bodoh dan aneh.
Bodohnya. Rea sangat malu.
Sedetik kemudian, ia segera duduk tegap menyadari dirinya yang tetap bertingkah aneh. Ia persis sekali seperti gadis bodoh yang ia ejek di drama.
Rea menggigit bibir sedih dan kembali tertunduk seolah tak bertulang.
Dia menyadari dirinya aneh tetapi tidak bisa berbuat apa-apa akan hal itu.
Ketika Raffa kembali, Rea lagi-lagi menjadi tegang dan gugup. Ia sangat ingin menangis. Ada apa dengan dirinya?
Beberapa jam ia harus dalam kondisi seperti itu. Bahkan ketika mereka makan, Rea diam-diam menyuapkan suapan besar ke mulutnya saat Raffa tidak melihatnya. Saat Raffa masih melihatnya, dia hanya berani menyuapkan sedikit itupun dengan agak sungkan.
Terserahlah! Rea frustasi di dalam hati. Dia sama sekali tidak bisa menghentikan semua tingkah anehnya yang baru kali itu.
__ADS_1
Untungnya, tidak lama setelah mereka selesai makan, seluruh pengunjung pantai beramai-ramai berkerumun di pinggiran pantai. Pesta kembang api akan segera dimulai.
Seketika, Rea bisa melupakan segalanya. Dengan sangat antusias ia berlari ke dalam kerumunan seperti seorang anak kecil. Raffa tersenyum melihatnya. Ia tersenyum melihat senyum lebar penuh kepolosan gadis itu yang tampak begitu manis.
Hari ini ia terlalu banyak tersenyum karena Rea. Sebelum berangkat pun, ia hampir sepanjang hari tersenyum bahagia membayangkan dirinya dan Rea yang akan berkencan. Ia bahkan seperti anak remaja labil tiap kali membayangkan Rea yang menyetujui ajakannya untuk berkencan di beberapa hari yang lalu.
Melihat kegugupan Rea hari ini bersamanya pun membuat Raffa begitu bahagia dan tak hentinya mengembangkan senyum. Rea bertingkah persis seperti seorang gadis yang sedang gugup karena bersama pria yang ia sukai. Raffa bahkan tahu ketika gadis polos itu diam-diam berani menyuapkan suapan besar ke dalam mulutnya saat ia tak melihat dan hanya makan sedikit jika Raffa melihatnya. Raffa tahu itu, ia hanya berpura-pura tidak melihat tadi. Ia menyaksikan semuanya dari ekor matanya dan diam-diam mencoba sebisanya menahan senyuman.
Melihat tingkah Rea di mobil tadi, membuat Raffa tahu hal ini akan terjadi. Ia sudah dekat dengan banyak gadis. Di kencan awal dan pertama kalinya, para gadis yang menyukai teman kencannya pada dasarnya selalu menjaga cara makan mereka.
Mengingat kenakalannya yang sudah banyak mengencani gadis-gadis hanya untuk bersenang-senang, membuat Raffa merasa cukup bersalah dan menyesal ketika melihat senyuman polos Rea yang begitu bahagia melihat kilauan cahaya api yang berwarna-warni. Berpendar menghiasi wajah langit malam yang semarak penuh keceriaan orang-orang yang merayakannya.
Dalam kerumunan orang-orang, Rea tampak bersinar di mata Raffa. Tersenyum bahagia seolah telah terlahir kembali menjadi seorang peri yang cantik. Di hati Raffa timbul keinginan baru yang sangat. Ia ingin terus melihat senyum dan tawa bahagia itu terukir indah di wajah Rea. Raffa ingin melindungi gadis polos yang sesungguhnya rapuh itu.
Tanpa dikomando, Raffa membelah kerumunan menyusul Rea yang masih asyik mengagumi keindahan pancaran cahaya kembang api di langit sambil sesekali bertepuk tangan dengan gembira.
Gadis itu melihat kedatangan Raffa dan ingin mengucapkan sesuatu tentang kembang api tetapi bungkam seribu bahasa dengan tubuh mematung mencerna perbuatan lelaki itu yang tidak ia duga.
Raffa memeluknya. Sangat erat. Seolah tidak ingin kehilangan gadis itu.
Rea tampak tidak mengerti, tapi tidak tahu harus apa. Ia hanya mematung bahkan saat Raffa telah mengurai pelukan dan menatap ke dalam matanya.
"I love you, Re."
To be continued...
Hi, teman-teman! Mohon dukungan dan masukannya yah😊
__ADS_1
Sampai jumpa di eps selanjutnyaaa💕