
Hari-hari mulai berjalan begitu cepat. Rea yang awalnya benar-benar tertutup mencoba lebih terbuka berusaha untuk mendapatkan seorang dua orang pribadi yang dapat menggantikan sosok Raffa sebagai teman dekatnya.
Untungnya, ada tiga gadis yang dengan mudahnya sudah berteman dengan Rea. Tiga gadis itu bernama Leni Arsita, Cici Syaputri, dan Sheila Kuntari. Ketiganya sejak menginjakkan kaki di tingkat SMA, selalu nampak bersama. Bisa dibilang tanpa sadar mereka sudah menciptakan satu geng yang terdiri dari mereka bertiga.
Sebenarnya, Rea kurang nyaman karena kefemininan ketiga gadis itu, hingga nyaris lebih cocok dibilang centil. Tahu sendiri Rea adalah sosok gadis yang tomboi. Tetapi, mau bagaimana. Justru ketiga gadis itu yang selalu mau mendekat dan memperhatikan Rea.
"Re, kamu nggak punya dress, gitu?" Ucap Leni menilai penampilan Rea yang sudah siap untuk berangkat ke sebuah party yang mereka rencanakan.
"Kenapa? Nggak ada yang salah, kan?" Ujar gadis itu ikut memperhatikan penampilannya. Jacket hoodie putih berpadu jeans biru, dan sepatu kets putihnya. Ia merasa puas dengan ini.
Ketiga gadis bernama Leni, Cici dan Sheila itu serempak berdecak sambil menggeleng dramatis.
"Nggak bisa dibiarin." Sheila membuka suara.
Ketiga gadis itu kemudian nampak mendiskusikan sesuatu dengan suara bisik-bisik. Rea jadi merasa sangat bingung karenanya.
Ketiganya kembali pada Rea dengan senyum misterius yang membuat kedua alis Rea menukik tajam.
"Waktunya berubah, Re!" Seru mereka bersamaan lalu menarik paksa Rea masuk mobil milik orang tua Sheila. Singkatnya, Sheila sudah izin memakai mobil itu untuk mereka gunakan ke pesta ulang tahun salah satu siswa terbaik dan most wanted di sekolah mereka.
Rea ingin berteriak dan melarikan diri dari ketiga makhluk centil namun cantik yang menahannya sejak tadi. Bagaimana tidak, ia merasa sangat tidak nyaman ketika ketiganya begitu berusaha mengubah penampilannya. Menata rambutnya menjadi ikal, merias wajahnya dengan make up yang Rea tak tahu apa saja nama jenis produk kecantikan itu. Bahkan, memaksanya mengenakan gaun berwarna peach selutut dan sepatu high heels merah berpita. Dan semuanya murni milik ketiga temannya itu.
Rea tercengang menatap dirinya di pantulan cermin. Dia tampak cantik. Tapi, ini juga terasa bukan dirinya. Sementara Leni, Cici dan Sheila tersenyum bangga, puas dengan hasil pekerjaan mereka.
"I-ini bukan aku." Ucap gadis itu menyuarakan isi hatinya.
"Tidak ada komentar lagi, Re. Kita hampir terlambat. Jadi, ayo cepetan." Tukas Cici menggeret gadis itu dalam rangkulannya dan keempatnya pun memasuki mobil sedan hitam dengan seorang supir dari keluarga Sheila yang bertugas menyupiri mereka ke pesta.
...****************...
Sesampainya mereka di sebuah mansion besar tempat pesta ulang tahun teman mereka diselenggarakan, hampir semua mata melirik takjub sekaligus tak percaya ke arah Rea.
__ADS_1
Rea tak biasa jadi pusat perhatian. Alhasil, gadis itu hanya menunduk menghindari tatapan teman-teman satu sekolahnya. Berbeda dengan Rea, Leni, Cici dan Sheila justru tampak percaya diri berjalan di depan seluruh teman mereka dengan anggun dan dagu yang sedikit teracung tinggi.
Mereka berjalan menuju seorang cowok yang jadi alasan diadakannya party besar ini. Mereka menyalami dan menyelamatinya sekaligus memberikan kado yang mereka bawa masing-masing.
"Selamat ulang tahun, Jo." Giliran Rea menyelamati cowok itu.
"Makasih, Re." Ucap cowok bernama Jordan itu sambil menatapnya intens dan tersenyum penuh arti.
"Mau berdansa?" Tawar cowok itu yang seketika disoraki oleh ketiga teman centil Rea.
Rea melebarkan pupil matanya tak percaya. Jordan pasti bercanda.
"A-aku nggak-" Ucapan Rea terpotong ketika lampu tiba-tiba dimatikan dan hanya menyisakan lampu sorot yang tepat menyorotnya dan cowok itu. Lagu lembut pun sudah mengalun memenuhi seisi ruangan.
Cowok itu mengulurkan tangan, membuat semakin banyak yang menyoraki mereka dengan cara yang begitu heboh.
Terlanjur begini, Rea menyambut tangan Jordan yang besar dan hangat itu dengan sedikit enggan. Cowok itu menarik Rea lebih mendekat. Meletakkan sebelah tangan Rea di pundaknya, dan tangannya sendiri ia letakkan di pinggang gadis itu.
Sesuatu didalam Rea sudah begitu gila berdetak dengan cara yang begitu kencang. Rea merasa tak nyaman, apalagi Jordan menatapnya tepat di kedua matanya. Berkali-kali Rea berusaha melarikan matanya selain ke arah cowok yang juga cukup populer di sekolahnya itu.
Jordan Bagaskara. Biar, Rea ceritakan tentangnya sedikit.Cowok itu tergolong tampan dengan kulit sawo matang yang sangat cocok dengannya. Rea cukup mengagumi cowok itu karena tidak hanya karena ketampanannya, Jordan juga populer karena kepintarannya. Cowok itu bahkan sudah menjuarai olimpiade kimia tingkat provinsi. Sekarang, beritanya cowok itu dalam persiapan olimpiade kimia tingkat Nasional.
Dahi Rea sedikit mengerut. Entah mengapa cowok itu harus menariknya pada situasi canggung seperti saat ini. Pasalnya, mereka bahkan tak pernah berpapasan sebelumnya. Hanya sekedar saling mengenal nama.
Rea merasakan usapan lembut di dahinya. Jordan pelakunya.
Sial!
Rea membenci degupan yang timbul karenanya.
Jordan masih tersenyum menatapnya dengan intens.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka kamulah cewek cuek dan nggak pernah dandan yang biasa duduk sendiri di taman belakang sekolah." Ucap cowok itu sambil tertawa pelan tak percaya.
Pupil mata gadis itu kembali melebar. Kenapa cowok itu tahu tentangnya? Jordan tidak mungkin memperhatikan atau bahkan mematainya, kan? Pasalnya, Rea sebisa mungkin berusaha menghindari perhatian siapapun. Selama ini, ia merasa nyaman dengan kesendiriannya.
"Kamu tahu?" Hanya kalimat itu yang disuarakan oleh Rea.
Jordan menipiskan senyum.
"Tiap hari aku lewat dari situ kalau mau ngantin. Kan kelasku dekat banget sama taman belakang sekolah." Jelas cowok itu yang disahut Rea baru menyadarinya.
"Kamu jadi lebih terbuka, ya. Ada apa, nih?" Kepo Jordan dengan senyuman yang menulari Rea.
Gadis itu tampaknya mulai nyaman dengan sosok Jordan. Tak sungkan-sungkan lagi keduanya justru berbagi senyum dan menikmati dansa mereka yang diitari oleh pasangan siswa/i lain yang ikut berdansa dengan mereka.
...****************...
"Ciee... Dandan dikit udah dapet mangsa lezat, ya." Goda ketiga teman cewek Rea yang juga habis berdansa.
"Apa, sih. Enggaklah." Elak Rea dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan. Sejujurnya, ia merasa senang bisa lebih dekat dan mengenal Jordan si cowok yang tidak hanya tampan tapi juga pintar.
Sepertinya, perasaan tertarik di hati seorang remaja yang baru beranjak dewasa kini baru ia rasakan. Mungkin tipe yang selama ini ia idam-idamkan kurang-lebih mirip Jordan. Persis seperti ayahnya.
"Iya juga nggak apa-apa, Re. Malah bagus, tuh." Timpal Leni menyikut pelan lengan gadis itu.
"Apa sih, Len. Udah, deh kalian." Ucap Rea tak tahan mendapatkan tatapan menggoda dari teman-temannya.
Ketiga temannya dengan mudahnya berhenti seketika. Namun, pandangan mereka beralih ke arah lain di dekat Rea. Mereka menatapnya penuh kagum. Rea menaikkan alis dan menoleh. Gadis itu sedikit kaget mendapati seorang cowok yang membuatnya sedikit merasakan rindu beberapa hari terakhir.
Rea tersenyum menyapa Raffa yang menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.
...****************...
__ADS_1