
"Gue keluar."
Raffa pergi begitu saja meninggalkan area lapangan yang mendadak hening karena keputusan yang ia buat dengan tiba-tiba.
"Raff, lo mau kemana?"
"Raff, woi!"
"Lo kenapa?!"
"Pertandingan belum selesai, bro!"
Semua anggota satu timnya bergantian meneriaki cowok itu yang sama sekali tak menanggapi dan berjalan terus hingga tubuhnya mulai menghilang dari pandangan.
Beberapa penonton akhirnya bersorak kecewa dengan apa yang terjadi. Untungnya, salah seorang panitia yang terlibat dalam acara mengajukan diri untuk mengisi posisi yang sudah ditinggalkan oleh Raffa. Namun, hal itu tak terlalu memuaskan para penonton yang sudah terpikat dengan kelihaian Raffa dalam bermain.
Rea tercenung. Ada apa dengan Raffa? Apa yang harus dia lakukan sekarang? Rea menjadi tidak fokus. Disatu sisi dia ingin melihat Jordan lebih lama. Tapi di sisi lain, ia juga mengkhawatirkan Raffa sebagai seorang sahabat.
"Sorry, aku ada urusan sebentar." Ucap Rea memutuskan untuk menyusul Raffa dan melihat keadaan cowok itu.
Gadis itu berlari keluar meninggalkan lapangan, yang tanpa disadari berhasil menarik perhatian Jordan yang sedang bermain.
Rea berhenti berlari dan membungkukkan badan mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan akibat berlari-lari mencari keberadaan Raffa. Tidak ketemu.
Dasar bodoh. Entah mengapa dia lambat sekali dalam mengambil keputusan. Mungkin sekarang Raffa sudah pergi jauh meninggalkan tempat ini.
Rea mengambil ponsel dan segera mengirimkan pesan Whatsapp pada Raffa.
Rea
Raff, kamu dimana?
Tidak ada balasan. Hanya ada tanda centang dua belum dibaca. Rea menghela nafas lesu. Baru saja gadis itu akan kembali ke arena pertandingan ketika ponselnya bergetar menandakan adanya pesan masuk.
Raffa
Rumah.
Rea terdiam. Apa ia harus melihat keadaan Raffa sekarang? Tapi, kan itu berarti dia harus pulang dan meninggalkan acara pertandingan dimana ada Jordan disana.
Ah, masa bodoh!
Rea berlari ke arah jalan besar dan menghentikan sebuah mobil angkutan umum lalu menaikinya. Gadis itu lebih mengkhawatirkan Raffa.
...****************...
"Raff, kamu kenap-akkkhhh!!!" Rea berteriak menutup wajah dan langsung saja kembali keluar terburu-buru menutup pintu kamar Raffa.
Sial. Matanya ternodai dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Seumur hidup dan baru pertama kalinya. Rea menggeleng-gelengkan kepala.
Tidak. Dia harus menyingkirkan ingatan ini.
"Sorry, aku nggak tahu. Aku balik nanti aja."
"Udah, masuk aja." Cowok itu bersuara dari dalam.
__ADS_1
"Nggak, aku-"
Pintu kamar tiba-tiba dibuka.
"Masuk aja."
Rea menggigit bibir. Bagaimana bisa ia menghadapi Raffa setelah kejadian yang baru saja terjadi. Haishh!
Gadis itu bergerak pelan memasuki kamar Raffa yang seketika saja menguarkan bau maskulin cowok itu. Rea merendahkan pandangan. Ia tak berani menatap sosok sahabatnya itu. Sebagai seorang gadis? Rea rasa tidak. Ini justru soal sopan santun dan tata krama, kawan.
Raffa tampak sedang menata rambut cepaknya di depan cermin dengan sisir kecil hitam. Cowok berusia tanggung itu terlihat fokus menata penampilan wajah dan rambutnya. Tampak tak terganggu dengan kejadian tadi. Padahal Rea, sudah setengah mati kesusahan mengatur nafas dan menelan ludahnya payah beberapa kali.
"Mau bilang apa, Re?"
Hah?
Rea baru tersadar setelah mendengar Raffa bersuara. Dia bahkan sudah melupakan tujuannya datang kemari.
"I-itu... Itu..." Rea makin gugup ketika Raffa berbalik ke arahnya, sepenuhnya menaruh atensi padanya.
"Itu..."
Raffa menautkan alis lebatnya. Rea menjerit dalam hati. Apa yang mau dia katakan?
"Kamu... kenapa nggak ikut tanding?"
Akhirnya.
Cowok itu tersenyum sambil melipat tangan di depan dada. Tampak intens menatap setiap raut di wajah Rea.
"I-iya... maksudnya... kenapa langsung pergi tadi?"
Alih-alih menjawab, Raffa justru hanya mengedikkan bahu dan dengan santainya melepas kaus yang ia kenakan dan menggantinya dengan kaus lain berwarna biru muda di depan mata Rea. Iya, di depan mata gadis itu.
"Raff!'
Gadis itu seketika melotot dan membuang pandangan. Apa-apaan sih, cowok tiang listrik itu!
"Hahaha..." Suara tawa renyah berderai dari mulut sosok cowok tanggung itu.
Beberapa saat setelahnya, cowok itu dalam diam bergerak ke hadapan Rea dan menatap gadis itu lamat-lamat. Rea jadi merasa sangat tidak nyaman. Apa lagi kali ini.
"Re." Panggilnya pada gadis yang terlihat enggan membalas tatapannya.
"Wajahmu kok merah gini sih, Re." Raffa mencubit kedua pipi Rea dan menggoyang-goyangkannya gemas sambil tertawa.
"Raffa, lepas~" Ucap gadis itu kesusahan. Selain itu, cubitan cowok itu di kedua pipinya pun terasa menyakitkan.
"U.. Cup-cup-cup~"
Cup!
Keduanya terdiam. Rea melebarkan bola mata. Sontak saja Rea menjauhkan diri dari cowok itu. Punggung tangannya bergerak menutup mulut.
"Kamu apa-apaan sih, Raf!"
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat itu, Rea langsung saja pergi keluar meninggalkan Raffa yang seketika bergeming.
Apa yang dia lakukan?
Disisi lain, Rea tampak terburu-buru menuruni tangga rumah kediaman Raffa dan cepat-cepat keluar menuju rumahnya.
"Re-" Syntia -ibu Raffa-, tak sempat menyelesaikan kalimatnya memanggil Rea karena gadis itu sudah lebih dulu menghilang dari balik pintu.
Syntia mengernyit. Ada apa dengan gadis itu? Tak biasanya. Wanita paruh baya itu teralihkan dengan sosok putra semata wayangnya yang kini berdiri di ujung tangga menatap ke arah pintu dimana Rea tadinya menghilang. Anak lelaki tanggung itu menatap diam dengan tatapan tak terbaca.
"Raff, Rea kenapa?" Tanya Syntia pada anak lelakinya.
Raffa tak menjawab. Lelaki tanggung itu justru kembali ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata.
Kernyitan dalam kembali menghiasi kening Syntia. Anak lelakinya pun tak seperti biasanya.
...****************...
Hufftt..
Rea menghembuskan nafas berat untuk yang kesekian kalinya. Kenapa kejadian tadi siang tak kunjung hilang dari pikirannya. Ah, benar-benar sial!
Rea mengetuk-ngetukkan keningnya berkali-kali. Dia kian merasa tak pernah bijak dalam mengambil keputusan. Benar-benar gadis yang bodoh!
Tapi, hal apa yang sedang dia rasakan sekarang? Rea merasa sangat bingung. Ia bahkan tak tahu bagaimana menjelaskannya. Ia marah, kesal, gugup, dan... memanas?
Hell, No!
Tok-tok-tok!
Suara ketukan di pintu mengalihkan gadis itu.
"Rea, ini ada temanmu datang." Itu suara Bagas, ayah Rea.
"Kamu langsung saja, ya. Rea baru masuk kamar, jadi pasti belum tidur." Suara lelaki paruh baya itu terdengar sedang berbincang dengan seseorang.
"Iya. Terima kasih, om." Suara berat khas cowok yang memenuhi kepala Rea hari ini berujar membuat Rea seketika melotot.
Tok-tok-tok!
"Re, kamu masih bangun kan?"
Tidak!
"Re, aku masuk ya."
Jangan!
Tidak ada jawaban. Rea bahkan menahan nafasnya tak ingin menimbulkan suara apapun. Kedua tangannya memegang dadanya kuat karena degupan yang begitu kencang.
"Re, kamu tidur?"
Hening. Masih tak ada jawaban. Rea deg-degan menunggu cowok itu untuk menyerah dan pergi. Entahlah, rasanya ia belum siap untuk bertatap muka dengan lelaki itu. Bagaimana tidak, cowok itu telah mengambil ciuman pertamanya.
...****************...
__ADS_1