
"Raf, semangat dikit, kek!" Adnan, salah satu teman sekaligus anggota satu tim Raffa menepuk sebelah pundak anak lelaki itu menyadari Raffa tak bersemangat seperti biasanya.
"Iya. Lo ada masalah sama cewek lo, ya?" Marco si cowok tinggi dan agak gempal ikut menimpali seraya memakai kausnya.
Raffa merengut sebal, "cewek apaan!" Gerutunya lalu memeriksa notifikasi di ponselnya.
Tidak ada satupun notifikasi ataupun pesan dari sahabatnya, Rea. Gadis itu benar-benar sudah melupakan dirinya. Raffa menghela nafas.
"Lo jujur kali ini napa, Raf. Rea cewek lo, kan?" Anak lelaki lain berkulit hitam bernama Rudi tahu-tahu sudah berada di sampingnya mengintip Raffa yang sedang membuka obrolan percakapannya dengan Rea.
"Apasih, lo!" Seru Raffa mulai kesal dengan kekepoan teman-temannya. "Kayak anak cewek aja lo semua." Cibirnya dan menyimpan ponselnya ke dalam tas ranselnya.
"Halah, Raf. Iya juga nggak apa-apa, kok."
Raffa memutar bola mata malas. Dia benar-benar kehabisan kata kalau teman-temannya sudah mulai kumat penyakit keponya.
"Setidaknya kan Rea ternyata punya tubuh bagus sama wajah yang bisa dibilang cantik ya, nggak?" Adnan berkomentar dengan senyum miring khas seorang cowok player. Raffa yang melihatnya langsung saja menatap cowok itu tajam, yakin cowok itu sedang memikirkan hal-hal mesum di kepalanya menyangkut Rea.
"Iya, gue nggak nyangka banget di pesta kemarin itu benar-benar Rea. Asli cantik sumpah!" Marco menjerit menimpali.
"Lo semua ribut banget." Raffa tiba-tiba merasa moodnya memburuk karena kehebohan teman-temannya.
"Beneran Rea bukan pacar lo?" Adnan kini menatap Raffa dengan wajah serius.
"Ya, enggaklah. Wong Raffa sukanya sama Laras, kok." Sahut Fadly yang seketika mendapat perhatian seluruh anggota tim dengan wajah tak menyangka juga takjub. Kecuali Raffa. Cowok itu justru menatap Fadly dengan tatapan membunuh. Reflek Fadly menutup mulut. Sadar dia sudah keceplosan. Raffa pasti marah besar kalau masalah pribadinya diumbar-umbar.
Adnan mengulas senyum sok cool-nya dan melipat tangan di dada.
"Kalau gitu, Rea sekarang jadi punya gue."
Semua beralih memandang Adnan sekarang, termasuk Raffa.
"Jangan main-main, lo!" Ucap Raffa memperingati dengan tatapan tajamnya.
Adnan mengangkat bahu acuh. Tak peduli dengan ancaman Raffa.
"Gila. Gue jadi tertarik gitu sama cewek kuyu itu." Ucapnya dan tertawa tak percaya.
"Lo bisa diem nggak, Nan?"
"Padahal selama ini gue beneran nggak pernah merhatiin tuh cewek. Gue kira dia itu cewek yang bakal ngebosenin banget."
"Adnan."
"Ternyata ada yang bisa dilihat juga dari cewek kayak dia."
"Sialan lo!"
Buggh!!
__ADS_1
Satu bogeman melayang telak meninju sudut bibir cowok berparas melayu-chinese itu. Adnan memegang sudut bibirnya yang ternyata robek dan berdarah.
Sontak sekumpulan cowok lainnya dengan sigap memegang dan memisahkan kedua cowok yang mungkin akan menimbulkan keributan.
"Lo kenapa sih, Raf?!" Stevan yang sejak tadi hanya diam kini membuka suara membentak Raffa.
"Lo." Raffa menunjuk tepat ke wajah Adnan yang tetap terlihat santai dengan seringaian khasnya. Berbanding terbalik dengan cowok itu yang justru menatapnya dengan wajah merah padam penuh amarah. "Jangan berani lo main-main sama Rea."
Melihat keseriusan di setiap ucapan dan ekspresi Raffa, semua anggota cowok yang tengah berada di ruang ganti khusus untuk tim mereka terdiam tak percaya. Raffa sebelumnya belum pernah marah apalagi mengamuk. Benar katanya, orang yang jarang marah adalah orang yang paling menakutkan jika sampai ia merasakan amarah.
"Hahaha..." Adnan tiba-tiba tertawa begitu renyah membuat yang lainnya memandang bingung.
"Lo serius banget, Raff. Nggak kayak biasanya." Ucapnya masih dengan tawa khasnya.
Anak cowok berkulit putih pucat itu kemudian bergerak melepaskan diri dari teman-temannya yang memeganginya. Ia berjalan keluar dari ruangan dengan menyimpan kedua tangan di dalam saku celana.
"Lo nggak usah khawatir. Cewek kayak Rea bukan tipe gue banget." Ucapnya ketika melewati Raffa.
Semua cowok yang tersisa dalam ruang ganti itu sama-sama masih terdiam membisu karena suasana yang mendadak saja berubah 180 derajat.
"Hey, pertandingan udah mau mulai. Cepetan kek!" Seruan Adnan dari luar menginterupsi semua cowok di dalam ruang ganti, termasuk Raffa.
"Ayo, buruan semuanya!" Rudi membuka suara dan menyemangati timnya.
Cowok berkulit hitam dengan tubuh kekar itu kemudian mendekati Raffa. "Lo juga. Jangan terlalu sensitif, Raf. Adnan kayaknya cuma becanda." Ucapnya sambil mengulas senyum tipis di wajah sangarnya.
Raffa menghela nafas.
Ah, benar. Adnan mungkin cuma bercanda saja.
Cowok itu kemudian memakai sepatunya dan menyusul timnya yang sudah berada di lapangan basket dan mendapat sorakan riuh dari para siswa/i yang datang terutama para murid siswi.
Raffa memutar bola mata malas melihat semua temannya sedang tebar pesona bahkan menggoda para murid cewek dengan mengedipkan sebelah mata mereka. Apalagi Adnan si cowok player. Raffa jadi merasa mual.
Raffa lebih tertarik untuk melihat tim lawan mereka. Sial! Raffa benar-benar membenci hari ini. Disana, tidak jauh dari tempatnya dan timnya berkumpul ia bisa melihat tim lain dengan seorang lelaki bernama Jordan diantaranya. Raffa berdecak dan menggeleng dramatis. Jordan juga tidak lebih dari tipe cowok yang suka tebar pesona.
Raffa terus memperhatikan cowok yang tergolong most wanted di sekolahnya itu dan mengernyit melihat Jordan tiba-tiba beralih pada satu sosok gadis diantara sekumpulan cewek berpakaian mencolok di kursi terdepan dan tersenyum dengan senyuman sok manisnya ke arah gadis itu.
Apa sih?
Rasa ingin tahu tiba-tiba menyerang Raffa. Cowok bertubuh tinggi jangkung itu menjulurkan kepala ingin melihat lebih.
Entah itu keputusan yang salah ataupun benar. Raffa melebarkan tatapan tak percaya melihat seorang gadis yang membuat mood-nya tidak jelas dan amburadul hari ini.
Belum lagi kedua makhluk itu sama-sama tersenyum seakan dunia hanya menyisakan mereka berdua.
"Gue mau pul-"
"Masing-masing tim diharap bersiap-siap pada posisi. Pertandingan akan kita mulai sekarang." Suara seorang cowok yang bertugas sebagai wasit berseru memberikan arahan.
__ADS_1
"Ayo-ayo. Kita tunjukkin kemampuan kita." Fadly menginterupsi dan menyemangati anggotanya.
Mau tak mau, Raffa yang kiannya berniat untuk pergi saja justru mengambil posisi bersiap memainkan pertandingan.
Prittt!!
Seorang wasit melempar bola ke udara. Dan pertandingan pun dimulai.
Jordan si cowok sok keren menurut Raffa berhasil mendapatkan bola dan men-dribble serta mengoper bola tersebut dengan cekatan. Anggota tim Raffa kuwalahan menghadapi Jordan yang ternyata sangat mahir dalam menguasai permainan. Entah mengapa, Raffa semakin membencinya. Apalagi, Rea sejak tadi hanya memandangi cowok itu takjub tanpa menyadari kehadiran dirinya.
Prak!
Pritt!!
Suara peluit wasit menandakan keberhasilan Jordan mencetak skor untuk tim mereka. Cowok itu berhasil memasukkan bola ke dalam jaring dengan gaya sok kerennya menurut Raffa.
Semua penonton terkhusus para cewek sontak bersorak riuh pada lelaki menyebalkan itu, tak terkecuali Rea. Raffa berdecak kesal. Sialan!
Permainan berlanjut dengan suasana yang kian menegangkan. Raffa dan kawan-kawannya tidak boleh menyepelekan permainan ini. Bagi kaum adam, pertandingan juga menyangkut harga diri mereka.
Raffa membenci Jordan. Segalanya tentang lelaki itu. Kali ini dia akan memberikan pelajaran pada cowok sok itu.
Tap!
Raffa berhasil merebut bola dari Jordan. Senyuman miring terukir di wajahnya melihat cowok itu kehilangan bolanya. Tapi sialan! Kenapa Rea masih tak melihatnya juga?!
Lagi-lagi entah mengapa emosi tanpa alasan yang jelas mulai menguasai Raffa. Cowok itu bermain dengan emosinya. Tapi, tidak ada yang menyangkal kemampuan cowok itu yang kini menguasai permainan. Teriakan riuh para gadis-gadis di kursi penonton kini lebih mendominasi meneriakkan namanya.
Tapi, Rea masih tak melihat dirinya.
Raffa semakin membenci sosok Jordan yang kini mengejar dan mencoba merebut bola darinya.
Ckiittt...
Raffa memutar tubuh menghindar dari Jordan. Dan...
Buggh!
Jordan terjatuh begitu keras di lantai lapangan hingga menimbulkan suara gaduh yang seketika membuat keadaan lapangan berubah hening sebentar. Jordan terjatuh karena kesalahannya sendiri.
Prak!
Raffa berhasil menembakkan bola ke dalam net lawan.
Semua orang kini menyoraki Raffa. Raffa tersenyum dan melihat sosok gadis di seberang sana berharap gadis itu juga menyorakkan namanya dengan kekaguman.
Tidak. Dia salah. Rea justru memandangnya dengan raut terkejut tak terbaca.
...****************...
__ADS_1