
"Hatchii!!" Rea bersin cukup keras. Gadis itu langsung saja mengambil tisu di atas nakas tempat tidurnya dan membuang ingusnya.
Sudah tiga hari Rea tidak bersekolah karena terserang flu yang cukup parah. Gadis itu bahkan terkena demam tinggi yang membuatnya uring-uringan dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kadang-kadang, ia menangis tak tahan merasakan sakit di tubuhnya.
Sialan Raffa yang membuatnya begini. Ingat kejadian lelaki itu yang nekat mengajaknya pulang di bawah derasnya guyuran air hujan minggu malam kemarin? Nah, karena itulah Rea jadi berakhir menyedihkan seperti ini.
"Tok-tok-tok!"
"Re."
Rea menoleh malas ke arah pintu dimana sosok Raffa sudah muncul dengan menyembulkan kepalanya dari balik pintu bercat biru kamar Rea. Ya, sejak hari pertama ia sakit, Raffa memang kerap mengunjungi bahkan juga ikut merawatnya serta menghiburnya dengan menceritakan beberapa cerita lucu dan cerita mengenai hal-hal yang sedang terjadi di sekolah mereka. Bahkan, lelaki itu selalu saja lebih dulu pergi ke rumah Rea sepulang sekolah dengan masih menggunakan seragam putih-abunya.
Tersenyum tipis Rea menyambut kedatangan Raffa yang berjalan mendekat ke arahnya dan seperti biasa ia akan meletakkan telapak tangannya ke dahi gadis itu mengecek suhu tubuhnya.
"Belum sembuh-sembuh juga, ya," ucapnya seraya mengambil kain kompresan, membasahinya lalu meremasnya dan kemudian ia letakkan di dahi gadis itu.
Rea mendengus, "makanya, lain kali jangan seenaknya aja ngajak main hujan kayak kemarin. Aku orangnya jarang sakit, tapi sekali sakit sembuhnya lamaaa banget," ujar gadis itu dengan suara paraunya dan cepat-cepat mengambil tisu karena ingusnya kembali meleleh keluar.
"Pffft!" Punggung Raffa bergetar menahan tawa.
"Plak!"
"Jangan ketawa, bodoh! Ini semua karena kamu," Rea menjitak bagian depan kepala lelaki itu dengan ganas.
"Dasar genderuwo!" umpat lelaki itu sambil mengelus kepalanya yang terasa panas dan ngilu. Pukulan gadis itu sejak dulu tidak pernah main-main sakitnya.
"Bilang sekali lagi," Rea menarik dasi seragam Raffa yang bertengger manis di leher lelaki itu kuat dan menunjukkan jemarinya yang siap menyentil keras dahi lelaki itu di depan wajahnya. Rea memang sensitif jika Raffa memanggilnya dengan sebutan itu sejak kecil. Teganya ia menyamakan Rea dengan makhluk astral nan jelek bernama genderuwo hanya karena mereka pernah berkelahi waktu kecil dan Rea berhasil memukul Raffa hingga anak lelaki malang itu berakhir di rumah sakit selama 2 hari.
Bukannya merasa takut, Raffa justru tersenyum miring. Benar-benar menyebalkan.
Sepersekian detik tanpa disangka, lelaki tengil itu menangkap pergelangan tangan Rea yang bersiap menyentil dahinya juga tangan yang mencengkeram dasinya. Raffa menjulurkan lidah mengejek. Gadis itu harus tahu kalau Raffa bukan lagi bocah lelaki yang lemah.
Tak mau kalah, Rea justru menatap Raffa sengit dan mencoba melepaskan tangannya yang, "Arggh!" Sial, cengkeraman tangan Raffa terasa sangat kencang.
"Lepas!" Rea memutar-mutar pergelangan tangannya. Hal itu bahkan tak berhasil, justru ia menyakiti tangannya sendiri dengan cara itu.
"Lepas, Raff!"
__ADS_1
"Bilang maaf dulu," Raffa menarik kedua tangan Rea lebih dekat hingga wajah mereka berjarak begitu dekat.
Rea menatap tajam, "kamu duluan yang salah!"
"Ya udah, nggak bakal kulepasin," putus lelaki itu dengan senyum smirk yang cukup membuat Rea merasa asing dan gentar.
Kebisuan berhasil menguasai keduanya untuk beberapa saat.
Tanpa sadar, Rea merasa matanya mulai berkaca-kaca tanpa sebab yang jelas.
"Maaf," ucapnya akhirnya. Raffa tersenyum.
Cup!
Lelaki itu tiba-tiba mencium puncak hidung mancung Rea gemas dan melepaskan tangan mereka.
Rea menatap horor sikap Raffa yang kelihatan santai setelah apa yang telah dilakukannya. Gadis itu pun seketika meraih satu bantal tidurnya dan memukulkannya pada tubuh kokoh lelaki itu.
"Ih, Raffa jorok. Aku kan ingusan."
Sudah hari ke-4, kini Rea sudah benar-benar sembuh dan siap untuk berangkat ke sekolah. Gadis itu bersiap cukup lama mematut dirinya di depan cermin. Dia sungguh tidak sabar untuk kembali melihat sosok Jordan. Ah, sial! Memikirkannya saja sudah membuat jantung Rea berdegup lebih kencang.
Rea menyalim Bagas, ayahnya ketika akan berangkat. Dan pria paruh baya itu pun dengan senyuman hangat mengantar putri semata wayangnya itu sampai ke depan rumah. Bertepatan dengan keluarnya mereka, seorang anak lelaki muncul lengkap dengan helm dan sepeda motor besarnya di depan rumah mereka.
Baik Rea maupun Bagas sama-sama mengernyit tidak tahu-menahu siapa gerangan pemuda itu, hingga akhirnya pemuda berseragam putih-abu itu melepaskan helm dan menyapa mereka.
"Hai. Pagi, om."
Rea terpelongo sementara Bagas membalas sapaan pemuda itu dengan senyuman khasnya yang berwibawa.
"Raff, kamu-"
"Udah, ayo naik. Nanti bisa telat," ujar lelaki itu sembari mengedik ke arah jok penumpang.
"Tapi, kapan-"
"Ih, buruan naik aja loh, Re." Raffa menarik tegas tangan gadis itu untuk segera naik ke motornya.
__ADS_1
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Rea menurut dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya seperti orang linglung.
"Kami berangkat ya, om!" Raffa pamit pada Bagas setelah memakai helm dan menyalakan mesin motornya. Pria paruh baya tersebut hanya kembali tersenyum membalas.
"Pegangan, Re!"
Rea sedikit tersentak dan reflek memeluk pinggang Raffa karena terkejut dengan pergerakan motor yang menurutnya tiba-tiba.
"Kok nggak cerita sih, kamu udah punya motor?" akhirnya Rea menyuarakan rasa ingin tahunya seraya melepaskan peganganannya dari pinggang lelaki itu. Entah mengapa hal itu terasa aneh bagi Rea.
Bukannya menjawab, Rea justru mendengar suara lelaki itu yang tersenyum. Di detik berikutnya, Raffa mengambil kedua tangan Rea dengan sebelah tangannya dan melingkarkannya kembali di pinggangnya yang liat. Rea mengernyit dan akan melepasnya ketika Raffa tiba-tiba mengerem motornya lebih kencang. Terpaksa ia jadi memeluk lelaki itu karena takut terjatuh.
Sesampainya di sekolah, Rea segera turun dan memperbaiki rambutnya yang jadi kusut karena aksi gila Raffa. Untuk apa coba ngebut kalau masih ada banyak waktu? Situasi di jalanan pun masih lenggang di bawah jam 7 pagi. Gadis itu terus saja mencebik sambil memperbaiki rambutnya. Sia-sia sudah usahanya berdandan pagi ini agar terlihat feminin di hadapan Jordan.
Belum jauh ia meninggalkan Raffa yang sedang memarkirkan motornya di parkiran sekolah, ia merasakan sebuah tangan besar yang hangat menggenggam sebelah tangannya. Rea menoleh dan mendapati sosok Raffa yang tengah tersenyum padanya. Rea sama sekali tidak merasa terpukau, ia masih kesal dengan ulah lelaki itu yang kebut-kebutan seperti orang gila pagi ini.
Gadis itu hendak melepaskan tangannya, tetapi Raffa malah semakin mempererat genggamannya. Rea menyipit padanya.
"Ayo kuantar ke kelas."
Begitulah. Raffa entah mengapa jadi sangat baik pada Rea. Aneh sekali. Sahabat sejak masa kecilnya itupun sangat perhatian pada Rea akhir-akhir ini sejak saat ia jatuh sakit. Lelaki berandalan itu bahkan sangat memperhatikan hal sepele, seperti jam makan Rea. Dan Rea pun tak pernah lagi melihat sosok Raffa yang pemarah maupun menjahilinya. Kini lelaki itu sepertinya hanya punya satu ekspresi di wajahnya, yaitu tersenyum.
Sampai akhirnya, semua peristiwa aneh itu mengantarkan Rea pada kejadian yang tak pernah terbayangkan olehnya sekalipun.
Hari itu, hari sabtu pagi. Cuaca sangat cerah dan matahari terasa hangat. Seluruh siswa di SMA pun dibiarkan bebas belajar sendiri karena guru-guru sedang mengadakan rapat mengenai sistem pendidikan yang baru.
Rea sedang tertidur karena ngantuk kebosanan. Tiba-tiba, teman sebangkunya -Rani- membangunkannya dan memberi sepucuk surat yang menyuruhnya untuk pergi ke lapangan. Sangat aneh, setiap siswa dan teman-temannya bahkan tersenyum-senyum ke arahnya.
Dan saat gadis itu tiba di lapangan, ia melihat seluruh siswa berkerumun namun lantas membuka jalan setelah melihat kehadirannya. Rea berjalan selangkah demi selangkah dan akhirnya berhadapan dengan sosok lelaki yang sedang berdiri dan tersenyum begitu lebar padanya.
Sepersekian detik ia berlutut seraya menyodorkan seikat bunga mawar ke hadapan Rea yang mematung.
"Re, jadi pacarku ya?"
Raffa... menembaknya?
To be continued...
__ADS_1