RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?

RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?
BAB 2: Nasihat Raffa


__ADS_3

Suasana ketika jam pulang sekolah tentulah sangat ricuh. Para siswa/i biasanya akan berlomba pulang lebih dulu. Tak jauh berbeda dengan suasana di SMA Bakti Nusantara, Yogyakarta. Para siswa/i berdesak-desakkan ingin keluar dari pintu gerbang. Bunyi sorak-sorai yang memekakkan telinga pun mewarnai suasana SMA tersebut.


Seorang gadis berambut sebahu keluar dengan wajah sebal. Ia sangat benci keramaian yang harus ia hadapi hampir setiap harinya. Belum lagi hari ini sosok sahabatnya pergi membolos lagi tanpa sepengetahuannya.


Dengan kesal gadis itu berjalan meninggalkan area sekolahnya yang masih sangat ramai. Ketika gadis itu hendak berbelok ke sebuah gang menuju rumahnya, sebuah sepeda beserta pemiliknya berhenti tepat di depan menghalangi jalannya.


Gadis itu menatap kesal pada pemilik sepeda itu yang ternyata adalah seorang cowok yang ia kenal. Gadis itu bertambah kesal berkali lipat karenanya. Sedang cowok itu tersenyum lebar padanya hingga kedua matanya seperti ikut tersenyum. Jika saja situasinya berbeda, senyum itu pasti akan terlihat begitu manis bagi gadis itu.


"Ayo, naik." Ajak cowok itu mengedik ke bagian belakang sepedanya.


Alih-alih menjawab, gadis itu justru melanjutkan langkah meninggalkan cowok itu tanpa suara. Sangat kentara bahwa ia sedang marah sekarang.


Cowok itu menggowes sepedanya lagi mengiring langkah si gadis yang bersikap tak mau menatapnya.


"Re, ayo naik." Bujuk pria itu sekali lagi.


Sayangnya, gadis bernama Rea itu sama sekali tak menggubrisnya. Ia tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan seakan tak ada siapapun di jalan itu selain dirinya.


"Re, jangan marah, dong." Rayu pria itu dengan nada memelas masih mengiringi langkah gadis itu dengan sabar.


'Jangan marah, ndasmu!' Umpat gadis itu dalam hati. Pasalnya, entah sudah berapa kali ia menasihati bahkan meminta dengan sopan pada cowok itu agar tidak bersikap urak-urakan. Mereka tidak lama lagi akan lulus, seharusnya cowok itu mulai memikirkan masa depannya.


Dengan tatapan nyalang, Rea akhirnya menatap cowok itu yang tetap nampak kalem.


"Kamu bolos lagi, kan?"


Cowok itu nyengir mengiyakan membuat Rea semakin gemas.


Rea menghela nafas pelan.


"Aku pulang sendiri aja hari ini." Ucapnya lagi mengakhiri. Jika diteruskan, ia pasti tak akan bisa menahan diri untuk memukul ataupun mencakar cowok itu melampiaskan amarahnya. Tapi, sejujurnya entah mengapa Rea pun tak ingin pria itu meninggalkan dirinya seperti biasanya.


Sayangnya, tanpa berkata lagi cowok itu benar-benar menggowes sepedanya menjauh dan hilang di sebuah tikungan yang tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Rea menggigit bibir. Cowok itu....


Sial! Rea menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja.


Gadis itu melanjutkan langkahnya dengan sedikit menunduk. Jujur, ia merasa sedih untuk hal yang bisa dibilang sepele. Tetapi, justru karena hal sepele itu sudah menjadi hal besar baginya. Cowok itu satu-satunya sosok terdekat yang ia punya selain ayahnya.


Cowok itu selalu mengerti dan sehati dengannya. Tapi, entah mengapa cowok itu tak pernah mendengarkannya jika menyangkut masalah tentang belajar dengan giat. Padahal dibandingkan dirinya, dia yakin cowok itu lebih mungkin untuk sukses darinya. Dan Rea berharap banyak untuk itu, salah satu dari mereka harus benar-benar sukses suatu hari nanti.


'Raffa sialan!'


Rea kembali menghapus air matanya dengan gemas. Kenapa ia jadi secengeng ini?


"Katanya mau sendiri, tapi malah nangis. Dasar cengeng." Suara serak seseorang yang sedang ia pikirkan menyapanya ketika berbelok ke tikungan yang cowok itu lewati lebih dulu tadi.


Rea berdiri kaku menatap cowok itu dengan wajah yang agak sembab. Cowok itupun menggowes sepedanya tepat ke depan gadis itu.


"Nggak ada penolakan. Ayo naik, atau benar-benar aku tinggal." Ucap cowok itu yang dituruti oleh Rea.


Gadis itu bergerak menaiki boncengan dan memegang pundak liat cowok itu. Raffa pun meluncurkan sepedanya dengan kecepatan sedang. Terpaan angin di hari yang mulai sore itu menerpa tubuh keduanya dengan lembut dan sejuk.


"Re."


"Hmm." Sahut Rea masih menutup mata.


"Kamu masih nggak ada niat pacaran?" Tanya cowok itu yang seketika mendapat respon dari gadis di balik tubuhnya.


Rea terdengar mencebik.


"Kenapa? Kamu bosan aku buntutin terus?" Galak gadis itu. Raffa benar-benar tahu cara mengubah suasana hatinya.


Punggung pria itu tampak bergetar. Rea bisa tahu bahwa cowok itu sedang tertawa. Atau menertawainya?


"Kamu ketawain aku?" Tanya Rea tidak terima.

__ADS_1


Cowok itu menghela nafas.


"Kamu sensi banget, sih. Ya, enggak juga, sih. Cuma kan nggak enak aja orang-orang pada mikir kita pacaran. Padahal aku sukanya sama Laras. Untung Laras bisa ngerti." Jelas cowok itu yang membuat Rea bertambah-tambah kesal.


Jadi, dirinya selama ini justru jadi pengganggu untuk cowok itu. Tapi, perkataan cowok itu juga ada benarnya. Rea tak seharusnya selalu berada di sekitaran Raffa dan jadi bergantung padanya.


"Re, kamu jangan tertutup gitu terus. Kamu harus lebih terbuka. Banyak loh yang mau berteman sama kamu. Kamu ngerasa puas nggak sih kalau realitanya kamu cuma temenan sama aku."


"Menurut aku itu udah cukup, Raff."


Pria itu menghela nafas lagi.


"Tapi, lihat diri kamu, Re. Kamu jadi nggak seperti anak cewek pada umumnya. Iyalah, kamu aja cuma punya aku sama ayah kamu. Harusnya kamu bergaul sama anak-anak cewek seusia kamu. Di sekolah kan banyak." Ucap cowok itu yang walau berat hati, Rea akui cowok itu benar.


Rea egois dengan menganggap bahwa sahabat itu harus selalu ada. Padahal kenyataannya, setiap orang punya ruang tersendiri yang tak sepantasnya diganggu. Seperti dirinya yang tak pernah mau bahkan marah jika Raffa membahas tentang keluarganya. Sama sepertinya, Raffa pun punya dunia yang tak seharusnya selalu ada dirinya di dalamnya.


Satu hal yang dia tahu, Raffa tetap menjadi sahabat yang mengerti bagaimana harus bersikap dan mengatasi perasaannya.


Keheningan menguasai keduanya cukup lama. Keduanya tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri hingga rumah mereka sudah mulai tampak dari kejauhan.


"Raff, kamu benar." Ucap Rea membuka suara ketika sepeda itu berhenti tepat di depan rumahnya. Gadis itu pun meloncat turun dan menepuk-nepuk roknya pelan.


Gadis itu tersenyum menatap Raffa.


"Tapi, lihat ya. Nanti kamu bakal terkejut kalau aku punya banyak teman atau bahkan dapet cowok keren." Ucapnya masih dengan senyuman manisnya.


"Itu hal yang bagus." Balas Raffa ikut tersenyum dan mengacak pelan rambut gadis itu.


"Aku masuk dulu." Pamit Rea yang diangguki cowok itu.


Begitu Rea berjalan membuka gerbang rumahnya, Raffa menggowes sepedanya memasuki pekarangan rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Rea.


Rea masih mengamati cowok itu yang memarkirkan sepedanya dan berseru mengatakan bahwa ia sudah pulang sambil memasuki rumah bercat ungu tempatnya tinggal.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum samar lalu juga bergerak memasuki rumah tempat ia dibesarkan hingga diusianya yang ke-17 saat ini.


...****************...


__ADS_2