
...Oh...
...It's been a long and winding journey- but I'm finally here tonight...
...Picking up the pieces – and walking back into the light...
...Into the sunset of your glory – where my heart and future lies...
...There's nothing like that feeling – when I look into your eyes...
...My dreams came true – when I found you...
...I found you – my miracle...
...If you - could see – what I see...
...You're the answer to my prayer...
...If you - could feel – the tenderness I feel...
...You would know – it would be clear...
...That angels brought me here...
...Standing here before you – like I'd been born again...
...Every breath is your love – every heart beat speaks your name...
...My dreams came true – when I found you...
...I found you – my miracle...
...If you - could see – what I see...
...You're the answer to my prayer...
__ADS_1
...If you - could feel – the tenderness I feel...
...You would know – it would be clear...
...That angels brought me here...
Rea tersenyum membayangkan sosok Raffa ketika menyanyikan lagu indah yang menjadi favoritnya itu. Gadis itu sangat ingat bagaimana cara Raffa tersenyum dan menatapnya saat tengah menyanyikan lagu romantis itu.
Saat itu, hanya ada debaran aneh yang seketika membuat Rea tak bisa berpaling dari sosok Raffa. Rea terdiam. Sebelah tangannya bergerak menyentuh dadanya. Degupan intens itu kembali. Bahkan, hanya dengan membayangkan wajah lelaki itu.
Tiba-tiba, dua tangan besar nan hangat menutup pandangan Rea. Gadis itu tertawa. Raffa benar-benar kekanakan.
"Nggak lucu tahu. Kamu-" Rea terdiam melihat siapa sosok yang tadi menutup matanya.
"Kak Jo."
Lelaki itu tersenyum begitu lebar. Seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya di antara mereka berdua.
"Kamu suka sekali sendirian di sini," ucapnya seraya ikut duduk di sebelah Rea di bawah sebuah pohon besar yang rindang.
"Ah, ini," gadis itu sedikit mengangkat buku berukuran kecil dengan tangannya, "novel. Aku suka baca novel soalnya," jelas Rea sambil tersenyum dengan perasaan yang kikuk berada berdua dengan lelaki itu.
"Berarti selama ini kamu baca novel kesini ya," sahut Jordan seakan ingin tahu tentang Rea.
Rea tersenyum, "iya, tapi baru-baru ini aku juga gambar sketsa disini.
"Oh, ya? Hebat banget. Boleh lihat sketsanya?" sahut lelaki itu antusias menatap Rea sepenuhnya.
Rea terpaku. Rasanya ia benar-benar tak sanggup berhadapan dengan Jordan yang berada sedekat ini dengannya. Apalagi, jika mata indah lelaki itu sepenuhnya menaruh atensi pada dirinya. Rea merasa lupa seketika dengan segalanya.
Untungnya, sedikit kesadaran membuat dirinya bergerak perlahan meraih buku sketsa miliknya di sebelah pahanya.
"I-ini, kak," ucap Rea dengan gugup menyodorkan buku sketsanya.
Jordan tampak tersenyum senang menerima buku sketsa, lalu sibuk melihat-lihat sketsa buatan Rea yang sebagian besar didominasi dengan sketsa pakaian. Sementara itu, Rea menghadap samping dan membuang nafas susah payah seraya berusaha menetralkan degupan jantungnya yang tiba-tiba berpacu kencang.
__ADS_1
"Ini hebat, Re," ucap lelaki itu berkomentar setelah beberapa saat berlalu dengan hening. "Kamu berbakat buat jadi desainer," komentarnya lagi yang menarik perhatian gadis itu untuk kembali menatap ke arahnya.
Rea balas tersenyum mendengar pujian kakak kelas yang disukainya itu. Pujian lelaki itu terdengar tulus di pendengaran Rea.
Namun, beberapa saat kemudian raut wajah Rea berubah panik mengamati gerak-gerik Jordan yang masih terus tertarik untuk melihat semua sketsanya dengan membolak-balik lembar-perlembar halaman kertas.
"Kak, aku tiba-tiba mau gambar sesuatu," timpalnya tiba-tiba merebut buku sketsanya. Semoga Jordan belum melihat sketsa dirinya yang pernah iseng digambar oleh Rea dengan sepenuh hati.
Lelaki itu tampak bingung, curiga dan tidak terima di waktu yang bersamaan, sehingga situasi jadi terasa agak canggung untuk beberapa saat. Sambil berusaha tersenyum senetral mungkin, Rea meraih pensilnya dan membuka lembaran kosong untuk digambar sesuatu. Apapun itu, untuk menghindari Jordan dan tatapannya yang mengganggu konsentrasi Rea.
"Mau gambar apa, sih?" kepo Jordan menjulurkan kepalanya membawa tubuhnya lebih dekat dengan gadis itu. Detak jantung Rea makin blingsatan, pasalnya aroma maskulin yang menguar dari tubuh lelaki itu seketika memenuhi indera penciumannya. Kalau begini, Rea bisa kena serangan jantung jika berada dekat dengan Jordan terus.
Rea mencoba melihat ke arah lain seolah sedang berpikir, "nggak tahu, pengen gambar aja. Hehehe..." ucapnya lalu tertawa nyengir.
Bukannya ikut tertawa, Jordan justru menipiskan bibirnya dan menatap tepat ke mata gadis itu. Rea membeku dengan otak yang ikutan buntu.
Sepersekian detik, tak disangka lelaki itu secepat kilat mengubah postur tubuhnya berbaring di tempat dudukan dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Rea.
"Kak Jo-"
"Bangunin aku kalau udah bel pulang, ya," lelaki itu berkata cepat sebelum Rea menyampaikan protesnya seraya menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.
Rea ingin protes, pasalnya bel pulang akan berbunyi sekitar kurang-lebih 30 menit lagi. Apalagi, hari ini memang sedang tidak ada aktivitas belajar-mengajar karena ada rapat penting bagi para guru di sekolah mereka. Tapi melihat betapa damainya wajah tampan itu tertidur di pangkuannya, membuat Rea mengurungkan niatnya. Di satu sisi, ada rasa senang yang memenuhi hatinya berada bersama dengan lelaki itu pada momen langka dan pertama kalinya seperti saat ini.
Rea mengangkat buku sketsa lebih tinggi menutupi wajahnya. Perlahan, ia menghembuskan nafas panjang yang menumpuk di paru-parunya karena ulah lelaki itu yang berkali-kali membuatnya sulit bernafas dengan benar.
Selesai membenahi kegugupannya, Rea menatap wajah damai lelaki itu yang sangat menarik di matanya. Ingin sekali ia menyentuh wajah lelaki tampan itu yang terpahat sempurna. Matanya, hidung mancungnya yang tajam, alisnya yang lebat, rahang pipi dan dagunya yang kokoh nan tegas, serta bibir penuh dengan warna kemerahan yang cukup menyita perhatian Rea lebih banyak. Rea tersenyum. Tangannya ia angkat, karena hampir saja ia melakukannya tanpa sadar. Nyatanya, ia tak seberani itu.
Sekarang, ia menemukan hal yang ingin ia gambar di lembar sketsanya yang baru. Wajah damai Jordan.
Detik demi detik berlalu dengan senyuman yang tak henti menghiasi wajah manis Rea. Goresan-goresan pensilnya bahkan terdengar sangat merdu di pendengarannya menciptakan tiap garis yang membentuk wajah seorang lelaki yang tengah tertidur damai.
Waktu itu, hanya ada kesunyian dan deru angin lembut yang terdengar romantis. Hanya ada dedaunan pohon yang jatuh tenang. Serta bunga-bunga yang tengah memekar indah menyaksikan dua insan yang sedang bersama di satu waktu yang seakan melambat mempersatukan mereka.
...****************...
__ADS_1