RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?

RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?
BAB 13: Hari yang Canggung


__ADS_3

Seorang gadis tampak kesusahan menggapai sebuah buku yang ingin ia baca di rak buku perpustakaan. Tubuhnya yang tergolong mungil membuatnya mengomel beberapa kali dan mencoba melompat sesekali. Semuanya tak membuahkan hasil. Ia mengedar pandangan ke sekeliling, barangkali ada seseorang yang bisa ia minta tolong. Namun, nihil. Perpustakaan hari ini seperti tempat angker saja, tidak ada seorangpun kecuali gadis itu sendiri.


Lucunya, gadis itu tidak juga menyerah. Ia terus saja melompat mencoba meraih buku itu lalu mengumpat jika tak berhasil.


"Baiklah." Gadis itu berbicara sendiri sambil memicingkan matanya. Ia melemaskan otot-otot tangan dan lehernya juga kedua kakinya yang mungil.


Hap!


Brukk!


"Awhh!"


Tidak berhasil. Gadis itu justru terjatuh dengan pantat yang mendarat manis di lantai perpustakaan yang dingin. Ia mencebik. Apalagi yang harus ia lakukan? Hanya hal ini yang saat ini rasa-rasanya dapat menghibur dirinya dari masalah-masalah sepele yang cukup mengganggunya.


Gadis itu terdiam beberapa saat lalu secara tak sengaja matanya menatap ke arah sebuah kursi.


"Dasar bodoh!" Rutuknya dalam hati sambil tertawa kecil. Kenapa ia tak terpikir sejak tadi?


Ia lantas berdiri dan membawa sebuah kursi tepat di hadapan rak buku novel yang hendak ia baca. Gadis itu tersenyum sangat lebar ketika buku itu sudah ada dalam genggamannya. Ia pun segera turun dari kursi dengan cara melompat.


"Akhh!" Ia terkejut setengah mati. Tiba-tiba saja seseorang sudah ada di hadapannya. Kenapa ia sama sekali tak menyadarinya?


"Jo, kau mengejutkanku," alih-alih mengomel. Rea justru berbicara dengan nada rendah seraya memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup begitu kencang.


"Pak Hardi nyariin kamu," lelaki itu membuka suara dan melangkah hendak pergi begitu saja.


Rea menghentikan langkah lelaki itu dengan menyentuh lengannya yang tergolong kokoh. Jordan menoleh tanpa ekspresi berarti.


"Lama nggak jumpa sih sama kamu. Kamu kenapa nggak pernah lagi main ke taman belakang?" Rea bingung harus mulai darimana. Saat ini, ia hanya terpikir untuk menanyakan kabar lelaki itu yang entah mengapa membuatnya rindu. Bolehkah Rea mengatakan bahwa Jordan memang telah mencuri hatinya? Tidak peduli apapun, tidak apakan dia masuk dalam daftar gadis-gadis yang menginginkan lelaki itu? Apalagi sempat ada kedekatan diantara mereka.


Tidak disangka, Jordan bergerak melepaskan tangan Rea dari lengannya, "aku sibuk." Ucapnya dan melangkah pergi.


"Aku nggak pacaran sama Raffa."


Kata-kata Rea yang spontan itu tanpa disangka mampu menahan langkah Jordan yang hendak menghilang di ambang pintu perpustakaan.

__ADS_1


"Kupikir kamu perlu tahu itu." ucapnya lagi seraya mendekap kuat novel di dadanya karena detakan jantungnya di dalam sana semakin menjadi.


Namun, tidak ada reaksi atau respon apapun yang lelaki itu berikan, barang menoleh pada Rea yang berharap setengah mati untuk bisa lagi melihat wajah Jordan yang menyambutnya hangat dengan senyuman manisnya seperti dulu. Lelaki itu pergi meninggalkan Rea yang menatap kepergiannya dengan perasaan gamang.


...****************...


"Rea semenjak pacaran jadi lebih sering menghilang, ya?" salah seorang gadis sekelasnya yang bernama Linda menyambut kedatangan Rea sambil tersenyum menggoda.


Rea hanya tersenyum paksa menanggapi.


"Selamat siang semua, ayo kita mulai pelajaran hari ini mengenai diskusi kita minggu lalu," untungnya Pak Jono -guru seni- datang di waktu yang tepat sebelum Rea semakin mati kutu menanggapi ocehan teman sekelasnya.


Rea mengambil buku dan peralatan tulisnya dari dalam tas dan meletakkannya ke atas meja dengan sedikit lesu.


Gadis itu sejenak membuang nafas pelan.


Sampai kapan dia harus dalam posisi seperti ini?


Tatapannya kemudian mengarah keluar kaca jendela kelasnya, terpaut pada sekumpulan anak kelas XII yang sedang dalam jam olahraga. Jordan ada disana. Bermain basket dengan beberapa anak remaja laki-laki lainnya. Tanpa sadar, Rea telah hanyut menyaksikan setiap ekspresi dan gerak-gerik lelaki itu. Seakan, saat ini yang tersisa hanya dirinya dan sosok Jordan yang berada disana.


"Ada apa, Nanda?" suara pak Jono berhasil menarik Rea kembali pada dunianya sekarang. Ia memandang bingung pada pria berumur 50-an yang biasa memanggilnya dengan sebutan 'Nanda' itu.


"A-ah..." gadis itu tergagu sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah jendela. Otomatis, perhatian Pak Jono dan seluruh teman sekelasnya berpindah ke arah yang ditunjuk Rea.


"Kamu-" Pak Jono nampak meragu, "lihat hantu?"


Seluruh siswa/i kelas X IPS 3 itu sontak berseru ngeri. Berbeda dengan Rea yang segera dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali pada jendela sampingnya. Tidak ada apapun dan siapapun disana.


"Kamu bisa pindah tempat duduk kalau merasa tidak nyaman," begitu ucap Pak Jono pada Rea sebelum pria tua itu kembali mengajak anak-anak kembali fokus pada pelajaran.


Rea hanya mengangguk sekali dan terdiam beberapa saat. Kepala gadis itupun kembali tertoleh ingin melihat sosok lelaki yang menarik perhatiannya di lapangan basket. Sayang, kumpulan anak kelas XII unggulan itu sudah tidak berada di lapangan lagi.


...****************...


Mengamati pemandangan di hadapannya sambil terdiam adalah kebiasaan Rea ketika menunggu. Ia sedang menunggu Leni. Tahukan salah satu gadis dari tiga gadis yang mencuri perhatian dari kelasnya? Rea juga tidak tahu mengapa hubungannya dengan ketiga gadis itu mulai merenggang. Apa kalian tahu rasanya suatu hubungan yang tampak normal saja tapi sebenarnya terasa begitu asing? Itulah yang ia rasakan sekarang dengan ketiga temannya yang cukup membawa perubahan besar pada dirinya.

__ADS_1


Rea sering bertanya-tanya mengapa jadi begitu asing. Tapi, sekeras apapun dia memikirkannya, ia sama sekali tak menemukan jawabannya.


"Sorry ya, agak lama," suara Leni muncul bersamaan sosoknya yang tampak sibuk merapikan catatannya ke dalam tas ransel kuningnya. Iya, Rea lupa memberi tahu kalau Leni adalah anggota OSIS. Dan tadi ia menunggu gadis itu karena salah satu organisasi kepengurusan sekolah itu mengadakan rapat penting mengenai perpisahan anak kelas XII tahun ini dan pagelaran pentas seni yang akan diadakan.


Rea menampilkan senyum, "nggak apa-apa."


Tidak lama sebuah mobil sedan berwarna hitam muncul dan berhenti di bagian bahu jalan tepat di depan mereka. Bodoh, jika Rea tak tahu mobil siapa gerangan itu.


"Ayo," ajak Leni seraya menggandeng tangan gadis itu.


Tak disangka, Rea menahan tangannya yang otomatis membuat Leni menoleh.


"Kita sama Jordan aja ya. Tadi dia yang nawarin sehabis rapat," begitu ungkap Leni seakan mengetahui isi kepala Rea.


Bukannya tidak senang, Rea hanya merasa sungkan terhadap lelaki itu sekarang. Diacuhkan secara terang-terangan seperti tadi pagi membuat Rea berpikir sekarang bukan waktu yang tepat untuk berada di sekitar lelaki itu.


Namun, alih-alih menolak dengan berdalih menggunakan alasan-alasan bagus yang muncul di kepalanya, Rea justru menurut mengikuti langkah Leni ke arah mobil itu. Tetapi, saat Rea akan ikut duduk di bangku penumpang bersama Leni, gadis itu menginterupsi seraya menatap agak kesal pada Rea.


"Depan, Re. Samping Jordan. Aku mau bebas di belakang."


"Tapi-"


"Swear, aku pengen tiduran. Capek banget."


Rea mengalah. Gadis itu kemudian beralih ke pintu depan, membukanya lalu duduk di samping lelaki tampan yang membuat jantungnya jumpalitan di dalam sana.


Mobil itupun kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Hening, tidak ada percakapan yang terjadi dalam mobil. Leni yang benar-benar tiduran di kursi penumpang dan sudah menutup matanya dengan tenang, Jordan yang fokus mengemudi dan Rea yang tidak tahu harus membicarakan topik apa.


Tiba-tiba, ponsel disaku gadis itu berdering tanda adanya panggilan masuk. Rea segera meraihnya dan melihat layar yang menampilkan nama Raffa. Gadis itu menggeser tombol hijau dan meletakkan benda pipih itu ke dekat telinganya.


"Halo, Raff-"


"Turun, Re."


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2