
Seorang gadis mematut dirinya berkali-kali di depan cermin besar di kamarnya. Setelah berpose dari arah yang berbeda-beda, juga berputar, gadis itu menipiskan bibir seraya menghembuskan nafas lelah.
"Kok aneh semua ya? Capek banget," keluhnya sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang tidurnya.
Dalam diam memandangi langit-langit kamarnya, Rea masih juga memikirkan pakaian apa yang harus ia pakai untuk sore ini. Kedua pipi Rea seketika memerah hangat seperti tomat matang.
Ia akan berkencan.
Tidak. Rea sangat ingin berteriak kencang. Paru-parunya serasa ingin meledak membayangkan Raffa yang memintanya untuk berkencan hari ini.
"Akhhhh...." jeritannya tertahan agar tidak ada yang mendengar. Ia sangat senang, tapi entah mengapa air matanya ikutan keluar. Rea tertawa. Dia memang aneh sekali.
Melihat jam di dinding kamarnya, Rea kembali bangkit. Ia baru saja mendapat ide akan mengenakan pakaian apa.
...****************...
Ketika sang ayah mengatakan bahwa Raffa telah datang untuk menjemputnya, Rea segera keluar dari dalam kamarnya. Gadis itu sudah selesai manata diri sejak hampir setengah jam yang lalu. Bukannya tepat waktu, Rea justru adalah tipe orang yang terlalu awal dalam segala hal.
Sejak tadi, ia hanya duduk menunggu di dalam kamar sambil berkali-kali melihat jam dengan perasaan berdebar juga tidak sabar. Saat tahu Raffa telah datang, Rea sebenarnya sempat berlari dengan spontan. Untungnya, ia segera tersadar dan seketika memelankan langkahnya. Namun, bukannya menjadi terlihat anggun, gadis itu justru lebih mirip seperti maling yang sedang mengendap-endap hendak mencuri ataupun melangkah hati-hati seakan lantai yang ia pijak akan segera runtuh.
Bagas yang sedang duduk di ruang tamu bersama Raffa seketika menatap putrinya dengan alis bertaut menyaksikan cara berjalan gadis itu. Menyadari atensi pria paruh baya itu telah berpindah, Raffa mengikuti arah pandang pria itu dan mendapati Rea yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka dengan penampilan yang sangat cantik bagi Raffa.
Raffa tertegun. Terpana memandangi Rea yang terlihat bersinar memancarkan sisi feminin yang tidak pernah lelaki itu lihat sejak mereka kecil.
"Raff, Ayah," panggil Rea pada kedua makhluk adam yang nampak diam memandang kehadirannya.
Tanpa sadar, Rea memegang erat tali tas selempangnya ragu. Apa penampilannya sangat aneh? Norak? Atau tidak cocok sama sekali? Padahal, tadi ia sangat yakin dengan dirinya. Ia memang tidak pernah terlihat mengenakan gaun berenda selutut dengan gradiasi warna biru dan merah muda yang ia kenakan saat ini. Ia hanya iseng membelinya tahun lalu, namun terlalu malu untuk mengenakannya hingga saat ini. Belum lagi, ia bahkan mengaplikasikan riasan di wajahnya sekarang. Padahal hanya riasan tipis, tapi tiba-tiba saja ia kehilangan semua rasa percaya dirinya melihat kebungkaman ayahnya dan Raffa.
Rea memandangi Bagas dan Raffa khawatir.
"Yah,"
"Apa kakimu sakit?"
"Hah?"
__ADS_1
"Tidak usah pergi kalau sedang sakit," ucap Bagas mengusulkan tapi terdengar seakan tidak bisa dibantah. Pria itu kemudian berdeham cukup keras menyadarkan lelaki muda di hadapannya yang masih setia memandangi putri kesayangannya.
Raffa tersadar dan segera berdeham membasahi tenggorokannya yang mengering.
"Aku nggak sakit, Ayah," jelas Rea mantap mengenai kondisinya. Ia sendiri sama sekali tidak menyadari bahwa cara berjalannya tadi sangatlah aneh bagi siapapun yang akan melihatnya.
"Kalau gitu, saya dan Rea pamit pergi dulu ya, Om," Raffa berucap ramah lalu menyalim Bagas yang hanya berdeham sekali menyetujui dengan tampang datarnya.
Rea menyusul ikut menyalim lelaki yang adalah ayahnya itu dengan tulus. Bagas mengusap kepalanya dengan sayang, "hati-hati."
Rea tersenyum dan mengangguk, "Ayah juga jangan telat makan," ucap gadis itu mengingatkan.
Bagas hanya mengangguk dan mengantar kedua pemuda/i itu sampai ke depan pintu rumah. Ia tersenyum melihat sang putri yang melambaikan tangan sesaat mobil akan melaju.
"Jangan pulang kemalaman!"
"Pasti, om!" seru Raffa sementara Rea hanya mengangguk lagi dengan senyum meyakinkan sang ayah.
Bagas pun kembali masuk ke rumah sesaat mobil yang ditumpangi Raffa dan Rea melaju meninggalkan kawasan tempat tinggal mereka. Siapapun tidak tahu apa yang dipikirkan oleh pria pendiam itu. Sesaat yang lalu ia masih bersikap tenang dan tegas. Namun saat ini, ketika tidak ada siapapun, wajahnya berubah khawatir bercampur sedih.
Ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit serta nyeri. Segera ia merogoh sesuatu di dalam kantung celananya. Sebuah kotak kecil berisi beberapa butir pil berwarna putih. Pria itu mengeluarkan satu dan buru-buru menelannya hingga beberapa saat kemudian ia merasa lebih baik.
...****************...
Rea berkali-kali menelan ludahnya secara diam-diam. Sepanjang perjalanan ia hanya diam sambil memandangi jalanan yang mereka lalui. Ia merasa akan menjadi gila dengan kegugupan yang terjadi padanya. Gadis itu bahkan seakan terbunuh hening yang terjadi antara dirinya dan Raffa.
Kenapa mendadak bisa begini? Bukankah ia sudah terbiasa berada bersama dengan Raffa? Raffa memang tipikal orang yang jarang berbicara ketika sedang fokus menyetir, tetapi biasanya Rea selalu bisa menemukan apa saja untuk ia katakan. Ia biasanya sangat berisik. Tetapi, melihat Raffa yang tidak mengatakan apapun tentangnya sejak tadi membuatnya merasa sangat khawatir. Ia menggigit bibir tanpa sadar. Ia mulai menyesali dirinya yang terlalu sibuk mempersiapkan diri bahkan sampai berdandan. Apakah penampilannya sangat-sangat berlebihan?
Ia rasanya ingin menangis. Kenapa juga dia ingin membuat Raffa terpesona padanya? Kenapa dia ingin terlihat cantik kali ini? Apakah sekarang dia berubah menjadi gadis yang ganjen seperti yang pernah lelaki itu ucapkan?
Rea menjerit frustasi di dalam hati. Ia kembali menggigit bibir namun kali ini lebih kuat. Gadis itu juga reflek meremas roknya cukup kuat. Dari awal, kencannya benar-benar sudah hancur. Sangat memalukan!
"Kamu cantik banget, Re."
Rea menoleh seketika. Menatap Raffa yang tampak tersenyum sambil tetap fokus mengemudi.
__ADS_1
Tersenyum? Lelaki itu menertawakannya?
"Kamu ngejek aku?" tuduhnya merasa kesal.
Raffa mengerutkan kening. Tidak mengerti kenapa gadis itu tiba-tiba marah. Apa dia ada salah kata? Tak lama, tepatnya di perhentian lampu merah, Raffa menghentikan mobil dan memindahkan atensinya pada Rea yang kini tampak mengambek sambil menatap ke arah samping mobil. Ia merasa bersalah juga merasa lucu di saat yang bersamaan. Kenapa gadis itu benar-benar menjadi seorang gadis kali ini.
"Kamu kok marah, Re? Aku salah ngomong ya?"
Rea masih diam.
"Nanti cantiknya luntur loh," godanya yang seketika berhasil menarik perhatian gadis itu. Namun, gadis itu malah tampak lebih marah.
Mampus!
"Tuh kan, kamu ngejek lagi," tuduh Rea lagi sambil merengut.
Raffa sempat terdiam beberapa saat mencerna sikap dan perkataan Rea padanya. Tidak lama kemudian, ia tertawa kecil dan kembali mengemudikan mobilnya karena lampu lalu lintas sudah berganti hijau.
"Ha, bener kan kamu ngejek aku. Raff, kamu keterlaluan banget. Raffa!" sungut gadis itu makin menggebu karena Raffa tak kunjung mengehentikan tawanya. Malah semakin menjadi.
"Hahaha," Raffa masih tertawa dan sesekali mencoba menahannya.
"Raffa, ih!" keluh Rea seperti anak kecil menyuruh lelaki itu untuk berhenti tertawa.
Rea membuang wajah menghadap samping dengan bibir mengerucut. Menyerah meminta lelaki itu untuk tidak menertawakannya. Sialan! Ini semua salahnya. Benar-benar keputusan buruk telah berdandan di depan lelaki kurang ajar itu.
Raffa mulai berhenti tertawa, tetapi tetap tersenyum karena gadis di sampingnya. Senyumnya semakin lebar setiap kali ia melirik gadis itu.
Raffa merasa sangat bahagia.
Rea telah jatuh cinta padanya.
To be continued...
Heyyo, teman-teman!
__ADS_1
Plis dukung dan beri saran untuk perbaikin karya yang lebih baik ya😁
Thank youuu😘