RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?

RR (RaffaRea) Sekian Lama Masihkah Cinta?
BAB 17: Rea Rindu


__ADS_3

Hari minggu seperti biasanya hari dimana umat Kristiani akan pergi beribadah ke gereja. Rea turun dari boncengan ayahnya menggunakan motor tua yang sudah menemani ayah dan anak itu sejak lama. Mereka baru pulang dari ibadah setelah agak sore karena ada kunjungan keluarga jemaat yang mereka ikuti tadi setelah ibadah.


Bagas mematikan mesin motor lalu menuntun motor tua itu ke dalam rumah. Anak gadisnya tertinggal sedang duduk di teras melepas sepatu heels-nya yang berwarna merah terang.


Lamat-lamat gadis itu beralih menatap lantai dua rumah tetangganya, rumah keluarga Raffa dan lantai dimana kamar lelaki itu terletak.


Baru saja gadis itu bangkit hendak masuk ke rumahnya, suara siulan merdu terdengar di pendengarannya seakan memanggilnya. Reflek, Rea menoleh ke arah dari mana suara siulan itu berasal. Mendapati pelakunya adalah pria tampan di lantai dua yang tak lain dan tak bukan adalah Raffa, Rea mengembangkan senyum yang seketika ia tahan sebisa mungkin.


Lelaki itu melambaikan sebelah tangannya seraya tersenyum begitu lebar menatap dirinya. Rea tidak tahu apa yang membuat pipinya dan perasaannya menghangat seketika. Apalagi di pemandangannya saat ini, Raffa terlihat begitu tampan dengan kemeja kotak-kotak biru dan celana jeans berwarna cream. Jelas sekali lelaki itu belum mengganti pakaian sehabis ibadah. Pasalnya, Raffa bukanlah tipikal orang yang suka memakai celana panjang apalagi ketat terutama jika dipadukan dengan pakaian kemeja. Itulah kemungkinan alasan yang membuat pria itu tampak sangat tampan jika sudah mengenakan pakaian formal seperti saat ini.


Rambut pria itu terlihat acak-acakan namun justru menambah tingkat pesonanya.


"Kamu lama banget pulangnya. Aku sampe ketiduran nungguin kamu pulang," ujar pria itu yang terdengar seperti sebuah bentuk protes mirip anak kecil.


"Iya, tadi ada kunjungan," jawab Rea sambil tersenyum. Aneh sekali, kenapa mendadak dia jadi sepemalu ini.


Raffa kembali tersenyum menyaksikan gadis lugu itu menyelipkan anak rambutnya ke sebelah telinga dengan cara yang sangat menggemaskan.


"Kamu cantik, Re." Raffa berbicara sendiri dengan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


Menangkap gelagat lelaki itu yang terlihat aneh, Rea otomatis mengerutkan kening.


"Kenapa, Raff? Kamu bilang sesuatu?"


Bukannya menjawab, Raffa justru berjalan menepi pada pagar balkon sembari menangkup wajahnya dengan sebelah tangan menatap Rea dengan pandangan yang membuat gadis itu gugup dan merasakan degupan yang mengencang di dalam sana.


"Ti amerĂ² per sempre," ucap Raffa dengan wajah serius seraya mengulas senyum mempesonanya.


Rea bisa merasakan ada makna mendalam dibalik kata-kata asing itu dengan melihat tatapan mata Raffa yang seolah menembus dirinya dan mencengkeramnya utuh. Tanpa bisa dikomando, rasa panas mulai menjalari kedua pipi gadis itu. Beribu kupu-kupu bahkan seolah mengepak dan beterbangan di dalam perutnya.


Rea mematung. Perasaan apa yang membuatnya se-tak berdaya ini?


Untungnya, Bagas -sang ayah- menyadarkan gadis itu disaat yang tepat sebelum ia mati pingsan karena tatapan teduh Raffa.

__ADS_1


"Masuk, Re. Sudah mulai gelap," Bagas tiba-tiba muncul dari balik daun pintu dengan nada khasnya yang tenang namun berwibawa.


"Sore, om," sahut Raffa menyapa lelaki paruh baya itu dengan senyum hangatnya yang bersahabat dan sopan. Rea baru sadar, Raffa benar-benar sudah berubah menjadi seorang lelaki dewasa yang gentle dan tahu cara berbicara dengan orang berbeda.


Bukannya menyambut seperti biasanya, Bagas justru hanya menjawab dengan deheman singkat yang terkesan datar dan acuh. Rea heran melihatnya. Dan lebih anehnya, Raffa kelihatan tidak keberatan dengan hal itu sama sekali.


Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Rea menurut masuk mengikuti ayahnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada sosok lelaki yang tak jua melepaskan pandangannya darinya. Sebelum menghilang, gadis itu hanya sempat menoleh melihatnya yang kian mengembangkan senyum mendapati Rea menatapnya.


Rea bergegas ke kamarnya, menutup pintu dan bersandar di baliknya memegang dadanya yang berdetak tak karuan. Entah untuk apa, dia sangat ingin berteriak melampiaskan perasaannya yang campur aduk tak tertahankan. Alhasil, gadis itu hanya menjerit tertahan seraya membekap mulutnya.


Hari itu, Rea tahu perasaan yang dialami lelaki itu kini bukanlah perasaan yang sama seperti dulu. Bukan berarti perasaan yang dulu menghilang, tetapi ada perubahan yang membuat tingkatan perasaan tersebut meningkat dan bertambah. Ini sulit dijelaskan. Yang Rea tahu, perasaan Raffa padanya kini semakin dalam dan sampai pada tahap yang cukup serius. Dan entah bagaimana, ada space yang lumayan besar dimana Rea tak lagi punya niatan untuk menolak perasaan lelaki itu terhadapnya.


...****************...


Rea uring-uringan di atas tempat tidur. Merasa kesal, bosan, marah, hampa dan apalah yang mirip dengan semua hal semacam itu. Berbagai perasaan itu seolah mendesak dan mengacaukan hati serta-merta dengan pikirannya.


Sudah seminggu lebih ia tidak diperbolehkan ayahnya keluar rumah sembarangan tanpa alasan yang kuat, apalagi jika ia mengatakan ingin menemui Raffa, pacarnya.


Rea memukul kepalanya pelan sembari menahan tawa. Lama-lama ia bisa gila jika begini terus. Ada apa dengannya sebenarnya?


Tidak! Lebih tepatnya, ada apa dengan ayahnya sebenarnya? Bagas mulai begitu protektif padanya. Mengantar dan menjemputnya dari sekolah atau dari mana saja tepat pada waktu yang ditentukan. Padahal, biasanya ayahnya itu membiarkannya saja pergi bersama dengan Raffa. Bagas bahkan melarang lelaki itu berkunjung dan bermain dengan Rea lagi berkali-kali setiap harinya. Entah apa kesalahan Raffa?


...****************...


Rea bermalas-malasan menyandarkan kepalanya ke atas meja menatap jendela kelasnya.


Di sekolah pun, ia jarang bisa bertemu dengan Raffa. Itupun hanya sekedar bertukar sapa ketika tidak sengaja bertemu ataupun jika lebih hanya sekilas jika lelaki itu punya waktu luang. Lelaki itu kelihatan selalu punya kesibukan. Sungguh sial! Seakan semua hal sedang berkonspirasi untuk menjauhkannya dari pria yang telah mengacaukan hatinya itu.


Anak kelas XII kini memang tengah sibuk untuk mempersiapkan ujian nasional mereka. Raffa si berandalan sekolah tidak lagi pernah berkeliaran, apalagi Jordan si murid teladan.


Rea menghembuskan nafas berat. Ia beralih menatap teman-teman sekelasnya yang semuanya sibuk dengan diri ataupun kelompok kesenangan mereka. Akhir-akhir ini ia merasa sendiri. Leni, Cici dan Sheila bahkan sudah tak bisa lagi Rea berharap akan hubungan yang seperti dulu. Leni memang sesekali mau berbicara padanya, tapi itupun cuma ketika S heila atau Cici sedang tidak ada di antara mereka.


Merasa jenuh, Rea beranjak pergi dari kelasnya menuju tempat favoritnya, taman belakang sekolah. Tidak ada mood untuk melakukan hobinya, ia memutuskan melakukan hobinya yang baru akhir-akhir ini ketika hatinya kacau. Tidur.

__ADS_1


"Hei!" sebuah suara terdengar mengusik Rea, memanggilnya dari gelap yang terasa baru sekejap menyelimutinya.


"Bangun, Re!" suara itu memanggilnya sembari menggoyang-goyangkan tubuh Rea.


Rea membuka mata agak malas. Samar-samar mendapati wajah seorang pria di hadapannya.


Raffa.


Rea segera bangun sambil mengucek-ucek matanya yang mungkin masih berhalusinasi membayangkan sosok pemuda yang terus-terusan memenuhi pikirannya. Bukannya menghilang, sosok itu tetap ada bahkan semakin nyata. Rea menyentuh ujung hidung mancung lelaki itu dengan jari telunjuknya. Tidak puas kedua tangannya menangkup wajah pria itu tidak percaya sekaligus senang yang disambut dengan kekehan geli oleh si empunya.


Sosok itu benaran Raffa.


Sadar dengan kelakuannya yang bisa dibilang aneh dan baru kali ini, Rea segera mencoba mencari pelarian dengan mengusap wajah pemuda itu kasar.


"Wajahmu jelek sekali," dalihnya seketika mengubah ekspresinya seolah kesal Raffa telah mengganggu tidurnya yang damai.


Raffa mendengus tidak suka. "Bilang saja rindu," tembaknya tepat sasaran. Lelaki bertubuh jangkung itu pun kemudian bergerak duduk di sebelah gadis itu yang mendadak kaku.


Rea berdeham membuang rasa gugup seraya menatap ke arah lain menyembunyikan pipinya yang memanas.


"Apa kau bolos?"


Raffa kedengaran tertawa mendengar pertanyaan gadis itu. Rea mengernyit, apa ada yang salah dengan pertanyaannya?


"Kau tidur sangat nyenyak rupanya," ujar lelaki itu seraya terkekeh geli.


Rea mendelik menatap pria itu seraya mengerucutkan bibirnya. Kenapa juga dia jadi sok imut begini di depan lelaki itu?


Tak disangka, Raffa justru mengulurkan tangan mengacak gemas pucuk kepala sahabat dari masa kecilnya itu. Sialan! Rea benci jadi seperti orang dungu seperti saat ini. Tapi, perasaan hangat yang muncul karenanya justru membuat Rea ingin tinggal lebih lama bersama lelaki itu.


"Ayo pulang," ajak Raffa bangkit berdiri dengan senyuman manis yang senantiasa lekat di wajah tampannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2