
Rea tersenyum-senyum mengingat momen kebersamaannya dengan Jordan di pesta besar yang sekarang sudah berakhir. Kini, tubuh gadis itu sudah berada di dalam mobil bersama Raffa. Mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Re, kamu jangan gila dulu, deh. Dari tadi senyum-senyum aja. Dasar." Ucap Raffa memutar bola matanya tapi kembali fokus menyetir.
Gadis itu menoleh dengan senyum lebar yang tidak berkurang sedikitpun. "Gimana enggak kalau..." Ujar gadis itu menggantung ucapannya lalu tertawa cekikikan.
Tiba-tiba Raffa menge-rem mobil secara mendadak hingga tubuh keduanya terlempar. Rea terkejut tentu saja. Gadis itu sempat terpaku namun kemudian menatap Raffa nyalang, sarat akan ketidaksukaan.
"Kamu gila ya, Raff?! Gimana kalau terjadi apa-apa karena ulah kamu yang sembrono!"
"Kamu yang gila!" Bentak Raffa tak kalah kencang membuat Rea terdiam.
Mata sahabatnya itu tampak lain dan tak lagi bisa Rea baca. Bahu cowok itu bergerak naik-turun karena nafasnya yang memburu.
"Raff-"
"Aku minta kamu berubah bukan kayak gini. Kamu kenapa jadi kecentilan dan murahan, sih?!" Bentak Raffa lagi membungkam Rea. Gadis itu menatap nanar lelaki di hadapannya. Ia benci dengan sifat yang Raffa ucapkan tadi.
Murahan? Memang apa yang sudah dia lakukan?
"Raff-"
"Itu cuma pesta selamatan untuk keberhasilan Jordan, Re. Bukan ajang cari cowok. Apa mesti kamu dandan menor dan pakai baju kurang bahan kayak gitu?" Todong lelaki itu lagi membuat Rea tak tahan.
Gadis itu langsung melepas seatbelt-nya dan mencoba membuka pintu mobil yang ternyata masih terkunci.
"Buka pintunya."
"Re."
"Buka pintunya, aku bilang." Tandas Rea menatap sahabatnya itu tak kalah tajam.
Raffa mengalah dan menekan tombol otomatis pembuka kunci. Segera setelahnya Rea bergerak keluar. Ia sangat benci dengan apa yang dikatakan Raffa. Ia benci jika ia harus teringat dengan seseorang yang memberikan kenangan buruk di masa lalu. Rea memeluk tubuh. Sejujurnya ia pun bingung dengan apa yang dia lakukan. Ia tak membawa tas atau uang apapun. Semuanya tertinggal di rumah Leni. Tadi sore mereka sengaja meninggalkannya, karena mereka bilang itu buruk dan sangat tidak cocok dengan penampilannya.
__ADS_1
Mobil sedan yang dikendarai Raffa bergerak pelan mengiring langkah gadis itu. Rea tak peduli. Sekarang, emosinya lebih mendominasi perasaan dan pikirannya.
"Re, maaf kalau aku salah ngomong. Aku nggak maksud jelekin kamu. Re." Bujuk Raffa berkali-kali yang sama sekali tak digubris oleh gadis itu.
"Re, kalau gini aku bakal ninggalin kamu kayak gini di jalanan. Ngomong dong, Re." Lelah Raffa karena gadis itu tak kunjung meresponnya.
Dan ya, lelaki itu akhirnya menginjak gas dan melajukan mobil meninggalkan Rea yang seketika bergeming.
Cowok sialan.
Rea mengusap air mata yang seketika menetes dan memeluk tubuhnya seraya melanjutkan perjalanan. Entahlah, apa ia akan sanggup berjalan begitu jauh dengan sepatu hak tinggi yang melilit kaki jenjangnya.
Kesal, gadis itu menendang aspal jalanan yang berakhir membuatnya sial. Gadis itu malah terjatuh dengan bokong yang mendarat manis pada jalanan aspal yang keras.
"Sialan." Rutuk gadis itu dengan air mata yang mulai meleleh dan membasahi pipinya.
Rea dengan kekesalan yang tak terkatakan lagi membuka kedua sepatunya dan bangkit berdiri. Terserah kalau orang-orang menganggapnya aneh ataupun sinting. Yang penting, kakinya tidak akan terlalu tersiksa nanti setelahnya.
Pria-pria menyeramkan itu menatapnya seakan ia adalah seonggok makanan lezat yang siap untuk mereka santap. Rea merasa jijik sekaligus takut karenanya. Kaki gadis itu bergerak mundur, namun sial punggungnya malah menabrak seorang pria lain yang sontak menyeringai dan menggertaknya.
'Seseorang tolong aku! Tuhan, tolong aku.' Rea berdoa dalam hati. Rasanya ia ingin mati saja sekarang. Andai saja ia tak pergi ke pesta, tidak. Andai saja dia tak semarah itu dan membiarkan Raffa pergi meninggalkannya sendiri.
"To-tolong..."Cicit Rea memeluk tubuh berharap ia dapat menghilang ataupun berharap bahwa kejadian menakutkan ini hanyalah mimpi.
Mendengar cicitan Rea, para pria menyeramkan yang terdiri dari lima orang itu justru tertawa dan makin gencar mengerumuninya.
"To-tolong jangan sakiti saya."
'Bukkk!' Tiba-tiba sebuah pukulan dari balok kayu mengenai seorang dari antara pria-pria itu. Mata Rea membuka ketika sebuah tangan hangat yang lebih besar dari tangannya menarik dan menggenggamnya erat sambil berlari dari kerumunan para pria penjahat yang sontak mengejar mereka. Rea hampir menangis.
"Raff."
"Ayo, lari cepat!" Tukas cowok itu mempercepat larinya semakin menarik tangan Rea. Adrenalin Rea ikut terpacu bersama perasaan senang yang sulit untuk Rea gambarkan. Seakan, kejadian tadi memberi dampak positif yang membuatnya senang.
__ADS_1
Nafas Rea hampir habis setelah berlari cukup jauh. Untung Raffa dapat menyadarinya. Alhasil, cowok yang masih mengenakan jeans biru dengan kemeja putih yang tadi ia pakai ke pesta menuntunnya ke sebuah gang sempit yang nampak tersembunyi.
Rea menaruh tangan di dada berdiri di hadapan Raffa yang mengungkungnya. Nafas cowok itu berderu di samping kepalanya. Raffa menjulurkan kepala beberapa kali melihat keadaan. Tubuh cowok itu terlalu dekat dengannya.
"Raff-"
"Ssst." Desis Raffa memegang kedua bahu kecil Rea dengan dahi yang hampir menyatu dengan dahi gadis itu.
"Sial. Mereka lolos." Ucap suara seorang pria yang tadi ikut mengganggu Rea. Suara grasak-grusuk pun terdengar sebentar sebelum para pria menyeramkan itu beranjak pergi.
Raffa menghela nafas lega yang diikuti oleh gadis di pelukannya. Rea mengangkat wajah menatap Raffa yang lebih tinggi darinya.
Cowok itu tersenyum kikuk. "Aku nggak sejago itu, jadi kita harus sembunyi kayak gini." ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang Rea yakin tidak gatal.
Alih-alih menjawab sesuatu, Rea justru ingin menangis. Bagaimana tadi kalau Raffa tidak datang menolongnya? Tapi, Raffa juga yang membuatnya harus menghadapi hal menakutkan tadi karena tega meninggalkannya sendirian.
Tangan mungil Rea mengepal dan memukul dada cowok itu sedikit keras.
"Aku nggak mau sahabatan lagi sama kamu." Ucapnya seraya mendorong tubuh cowok itu menjauh. Gadis itu berjalan keluar dari persembunyian masih dengan kaki telanjang dan tangan yang menenteng sepasang sepatu cantiknya.
Raffa berkacak pinggang seraya menggeleng dramatis. Bisa-bisanya gadis itu berlagak ngambek dengan penampilannya yang sudah kacau tanpanya.
"Nggak usah banyak tingkah, ayo pulang." Ujar Raffa melangkah pergi ke arah dimana ia memarkirkan mobilnya. Sejujurnya, ia pun merasa bersalah pada sahabat gadisnya itu. Dan kenapa juga tadi dia begitu marah melihat penampilan Rea yang feminin. Kenapa juga ia terganggu dengan keakraban gadis itu dengan makhluk adam lainnya.
Raffa menghela nafas. Mungkin ini efek karena gadis itu biasanya bergantung dan seakan tak bisa jika tanpanya.
"Re, cepetan jalannya." Ucap Raffa melihat langkah Rea yang lamban.
Sementara gadis itu malah menatapnya nyalang seakan mereka sedang bermusuhan.
"Bodo." Semburnya dan berjalan cepat mendahului Raffa yang kembali menghela nafas kasar.
...****************...
__ADS_1