
Tidak seperti pagi pada umumnya, pagi ini Rea merasa tak bersemangat untuk pergi sekolah. Gadis itu bahkan butuh banyak waktu untuk bersiap dan berangkat ke sekolahnya.
Gadis itu mengernyit ketika sampai di kelas ia melihat ketiga teman perempuannya sedang berkumpul dan tampak antusias membuka sebuah buku majalah. Ia memutuskan menghampiri ketiga temannya yang bahkan tak menyadari kehadirannya.
"Kalian lagi apa? Fokus banget." Kepalanya menjulur mencoba melihat apa yang teman-temannya lihat.
Cici menutup buku majalah tersebut dan memeluknya di dada seakan Rea akan merampasnya, "Ye... kepo, ya?" ucapnya dengan nada yang menyebalkan untuk Rea.
Alih-alih meneruskan, gadis itu justru menuju ke kursinya, meletakkan tas lalu duduk bersandar pada meja dengan wajah lesu.
"Ih, Rea ngambek, tuh." Itu suara Leni.
Ketiga murid perempuan itu pun berbarengan menghampiri Rea dengan sedikit khawatir.
"Kamu marah, Re?" Cici mulai merasa bersalah.
Rea menghembuskan nafas berat, "enggak."
Ketiga murid perempuan itu masih tak percaya.
"Iss, Rea nggak asyik."
"Ini, deh. Tadi aku cuma becanda." Cici meletakkan majalah di pelukannya ke hadapan gadis itu.
Rea menyentuh majalah itu.
"Itu majalah fashion, Re. Buka, deh. Pasti suka."
Sesuai ucapan Sheila, gadis itu mendudukkan diri dan mengambil majalah tersebut. Menyentuh cover dan sejenak memandangnya lama dalam diam. Pelan, ia pun membukanya.
Seketika mata sipit gadis itu berbinar.
...****************...
Impian. Kau harus punya impian untuk membuat masa depanmu jadi indah. Namun, beberapa dari kita tidak secepat yang kita duga untuk menemukan hal yang ingin kita lakukan sampai seterusnya. Itulah yang dinamakan passion.
Berhari-hari, sudah lewat seminggu Rea mengurung diri di dalam kamarnya sejak insiden melihat majalah fashion temannya. Siapapun tidak ada yang tahu apa yang dilakukan gadis itu, termasuk ayahnya sendiri.
Berhari-hari juga hingga kini Raffa tak pernah punya kesempatan menemui sahabat gadisnya itu. Di sekolah, gadis itu entah mengapa jadi jarang kelihatan di kantin bahkan kelas. Di rumah, gadis itu selalu mengurung diri di dalam kamarnya dan menyahut seadanya lalu menyuruh Raffa pergi.
Apa gadis itu segitu marah padanya karena ia pernah tak sengaja menciumnya? Padahal 'kan cuma ciuman sekilas.
"Arggh, bodoh!" Raffa mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa lagi yang harus ia lakukan?
__ADS_1
Anak lelaki itu menangkup kedua pipinya lesu. Sekarang ia sedang duduk di teras rumahnya sambil menatap kosong ke arah jalanan komplek perumahan.
Tiba-tiba matanya teralihkan pada sesosok gadis yang baru keluar dari rumah di samping. Gadis itu mengenakan hoodie putih dan celana jeans hitam selutut. Gadis itu mengikat rambutnya tinggi, tak seperti biasanya. Raffa terpana, gadis itu terlihat berbeda dan... cantik?
Gadis itu menoleh. Seketika membuat Raffa mematung dengan detak jantung yang aneh di dalam sana. Manik hitam bersih milik gadis itu tepat bertaut dengan miliknya.
Gadis itu tersenyum. Senyuman yang manis.
Apa?
Dan Raffa terlambat menyadari sepenuhnya saat gadis itu datang menghampirinya ke teras rumahnya dengan memeluk sebuah buku di dada. Gadis itu duduk di sebelahnya dengan tenangnya. Padahal, Raffa. Ah, entah mengapa kehilangan semua kata-katanya. Seakan kata-kata yang selama ini ia ingin ucapkan atau sudah biasa ucapkan ketika bersama gadis itu menguap begitu saja di udara. Yang tersisa hanya degupan yang membuat Raffa seakan sedang tidak sehat.
Raffa bahkan tak tahu harus bagaimana bersikap.
"Masih belum tidur?" ucap gadis itu berbasa-basi dan tepat menatap ke arahnya.
"Eh?" Raffa sedikit tersentak, "I-iya, belum ngantuk." ucapnya gagap dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Gadis itu menganggukkan kepala sekali tanda mengerti lalu kembali diam tapi sambil tersenyum. Sedang senang, ya?
"Ada apa? Kamu punya kabar baik, Re?"
Tak diduga gadis itu makin tersenyum lebar dan mengeser duduknya makin dekat pada Raffa. Raffa hampir saja merasa jantungnya akan lepas.
Gadis itu masih tersenyum dan mendekatkan wajahnya perlahan ke wajah Raffa. Raffa membulatkan mata dengan rasa panas yang mulai merayap di kedua sisi wajahnya.
...****************...
Umpatan itu secara tidak sadar ternyata terdengar oleh seluruh kelas. Pak Indra, guru matematika yang sedang menjelaskan pelajaran pun ikut terdiam. Seisi kelas XII MIPA-1 itu pun kompak menatap pada sesosok anak lelaki yang duduk di bagian paling belakang dekat jendela.
Raffa menyentuh kedua pipinya yang bahkan sekarangpun masih memanas walau hanya membayangkan kejadian tadi malam. Lelaki itu bingung ketika menyadari bahwa sekarang semua mata di kelasnya mengarah padanya, bahkan guru ter-killer abad ini.
Raffa mendadak kaku, "Ada apa?"
"Ekhmm!" Pak Indra berdehem mengalihkan perhatian seluruh kelas. "Kalau begitu, tugas kalian mencatat halaman 71-75 mengenai topik hari ini. Dan Raffa-" Perhatian pria berumur pertengahan abad itu kini sepenuhnya pada Raffa, "Kalau tidak suka pelajaran saya, tidak usah mengumpat sembarangan." tutupnya dan pergi keluar meninggalkan kelas XI unggulan SMA Bakti Nusantara yang seketika bersorak riuh, kecuali Raffa.
...****************...
Flashback
Rea makin mendekatkan wajahnya yang entah bagaimana terlihat bersinar di penglihatan Raffa.
"Rea." Walau terasa aneh, Raffa menutup matanya.
__ADS_1
Tidak terjadi apa-apa. Raffa langsung saja kembali membuka mata dan mendapati wajah gadis itu hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"Aku udah ketemu, Raff."
"Hah?"
"Udah ketemu." Rea berbinar-binar. Gadis itu membuka buku yang ia bawa. Ternyata buku sketsa.
"Tadaa!" Gadis itu membuka sebuah halaman dan memampangkannya di hadapan Raffa sambil tersenyum bangga.
"Pufft! Buahahahaha" Tawa Raffa meledak seketika.
"Raff."
"Itu gambar apa, Re? Jelek amat. Buahahaha" Raffa masih saja tertawa sampai air matanya keluar. "Mirip kecoa. Hahaha"
Plak!
Anak lelaki itu seketika terdiam sambil memegang kepalanya. Rea menoyor kepalanya yang berharga.
"Re-" Raffa tak menyelesaikan ucapannya melihat gadis itu menatapnya dengan tatapan yang hampir menangis. Padahal, tadinya dia yang ingin menangis menggurutu pada gadis itu.
Sesenggukan Rea menghapus air matanya.
"Ini desain lho, Raff. Desain baju. Jadi, yang perlu kamu lihat gaya bajunya bukan orangnya. Iya, gambarku memang jelek. Tapi kamu jahat banget." ucap gadis itu memalingkan wajah ke arah lain dengan tubuh bergetar.
Raffa menggaruk lehernya yang tak gatal. Ia jadi merasa bersalah.
"Maaf, aku nggak tahu, Re."
Gadis itu masih tak bergeming.
"Coba sini, aku lihat." Raffa mengambil buku sketsa yang ada di pangkuan gadis itu dan kembali melihat gambar desain sahabat gadisnya itu.
"Ah, aku nggak perhatiin dengan baik tadi. Bagus, kok. Kamu punya bakat deh di bidang kayak gini."
"Serius?"
Raffa hampir saja untuk kedua kalinya merasa jantungnya akan copot karena Rea tiba-tiba kembali berbalik padanya dan menatapnya berbinar dalam jarak yang terlalu dekat.
"Iya, serius. Tapi, nggak perlu sedekat ini juga ngomongnya." Lelaki itu mendorong dahi Rea menjauh dengan jari telunjuknya.
Rea nyengir kuda.
__ADS_1
"Iya, kan. Akhirnya, aku punya mimpi."
...****************...