
"Bu saya mau mengantar Karmila ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan nya dan juga keadaan bayi dalam kandungannya. Ibu mau ikut?" tanya Faiz saat sore menjelang.
[Tidak ibu menunggu di rumah saja]
"Baiklah kalau begitu. Kami berdua pergi dulu ya. Ibu baik-baik di rumah."
Bu Lela mengangguk.
"Kalau sampai malam kami belum pulang ibu kunci saja rumahnya dulu. Kami bawa kunci serepnya."
Bu Lela melihat ke arah pintu dimana kuncinya terlihat menggantung di bawah handle pintu.
Faiz menggandeng tangan Karmila dan berjalan menuju mobil. Mereka berdua langsung berkendara menuju rumah sakit sedangkan Bu Lela masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dari dalam. Dia ingin masuk ke dalam ruangan kosong yang tadi sempat di buka oleh Faiz, tapi tidak ingin ada orang yang melihatnya makanya terpaksa harus mengkunci pintu walaupun rasa takut yang dia rasakan masih menderanya.
Rasa penasaran mengalahkan rasa rakut begitu yang dia rasakan saat ini.
Setelah mengunci pintu Bu Lela mengintip keluar dari jendela untuk memastikan Faiz tidak kembali ke rumah.
Dengan langkah yang cepat segera Bu Lela berjalan ke dapur. Dia berdiri mematung saat sampai di depan rumah kosong itu.
Oh ya darimana saya bisa mendapatkan kuncinya?
Bu Lela menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Saya harus mencarinya di kamar Faiz.
Segera Bu Lela berlari ke kamar Faiz dan Karmila lalu menggeledah apa saja yang ada di sana.
Kok tidak ada ya? Apa kunci kamar itu dibawa?
Bu Lela tampak termenung kemudian membereskan barang-barang yang ada di dalam kamar itu ke tempat semula.
Selesai membereskan kamar, Bu Lela kembali ke depan pintu kamar kosong itu lagi.
"Darimana saya bisa mendapatkan kuncinya kalau begini? Ah sudahlah Lela, hilangkan saja rasa penasaranmu itu. Anggap tidak ada apa-apa di dalam kamar ini dan kamu tidak melihat Faiz ada di dalam sana." Suara hati Bu Lela seakan menyuruhnya untuk pergi dari tempatnya berdiri sekarang.
Bu Lela menghela nafas berat, memandang lekat pada pintu lalu berbalik pergi.
__ADS_1
Dia hendak keluar rumah, meninggalkan kamar kosong yang tidak mungkin bisa dia jamah.
Namun, saat pada langkah ketiga Bu Lela menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang seolah ada yang menahan dirinya.
Apakah aku akan menyerah hanya dengan seperti ini?
Bu Lela berbalik dan mengintip ke dalam melalui lubang kunci. Namun, di dalam kamar gelap dan tidak terlihat apa-apa.
Ada apa sih sebenarnya di dalam? Mengapa aku begitu penasaran?
Prang.
Lukisan dinding yang berada di samping dirinya terjatuh ke lantai dan bingkainya pecah berkeping-keping.
Ya ampun mengapa aku ceroboh sekali, bagaimana kalau Faiz mengetahui aku sudah merusak Lukisan ini?
Bu Lela segera memungut lukisan abstrak itu dan memandangnya dengan lekat.
Ini sebenarnya lukisan apa sih? Pemandangan alam ataukah gambar perempuan?
Ah sudahlah aku tidak punya waktu untuk memikirkan ini semua. Lebih baik aku menyembunyikan lukisan ini di dalam lemari itu.
Setelahnya dia beranjak kembali ke arah kamar. Namun, suara benda yang bergerak menghentikan langkahnya lagi.
Suara apa itu?
Bu Lela mengintip ke arah dapur, tetapi tidak melihat apapun di sana yang bergerak.
Tunggu! Kenapa suaranya seolah berasal dari sini?
Bu Lela menempelkan telinganya pada daun pintu dan ternyata tebakannya benar. Suara berisik itu memang benar-benar berasal dari sana.
Kira-kira apa ya yang bergerak di dalam sana? Apa Faiz memelihara binatang buas dan menyembunyikan dalam kamar ini? Tapi kenapa dia seolah menangis tadi di depan peti itu?
Berbagai asumsi yang memenuhi kepala Bu Lela membuat kepalanya berdenyut kencang.
Kletek.
__ADS_1
Terdengar suara benda kecil yang terjatuh di belakangnya. Saat menoleh ternyata sebuah kunci tergeletak di atas lantai.
Bu Lela meraih kunci tersebut dan terbelalak.
Kunci? Ini pasti kunci kamar ini. Darimana datangnya kunci ini? Ya sudahlah berarti Tuhan merestui keinginanku untuk mengetahui rahasia apa yang ada dalam kamar ini.
Segera Bu Lela berdiri dengan tegak dan langsung membuka pintu kamar.
Ceklek.
Pintu mana terbuka dan ruangan nampak gelap. Bu Lela meraba dinding untuk mencari saklar lampu.
Dapat!
Wanita itu tersenyum senang lalu memencet tombol on.
Lampu menyala dan ruangan terlihat terang. Namun Bu Lela harus ekstra hati-hati saat melangkah sebab ruangan itu sudah dipenuhi sarang laba-laba. Hanya lurus dari pintu saja menuju ke peti di sudut ruangan sajalah yang tidak ada sarang laba-labanya. Mungkin saja karena merupakan jejak langkah yang dilewati Faiz tadi pagi.
Peti itu apa sih isinya?
Bu Lela berjalan ke arah peti itu dengan langkah yang sangat pelan sekali. Jantungnya terdengar berdegup kencang saat mendekati peti itu. Tangannya malah terlihat gemetar saat menyentuh peti tersebut.
Drrt, drrt, drtt.
Peti terlihat bergetar dan tangan Bu Lela yang menyentuh peti tersebut teresa sangat berat, kram dan seperti tersengat aliran listrik. Segera Bu Lela menarik kuat hingga tubuhnya terjatuh dan hampir terhempas ke lantai saat dirinya berusaha menarik kuat tangannya itu.
Auw, apa ini? Mengapa peti ini seolah mempunyai daya tarik yang tinggi?
Bu Lela bangkit dari lantai dan berjalan kembali menuju peti. Kali ini dia tidak berani memegangnya lagi. Dia hanya ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri benda apa yang ada di dalam peti itu.
Bu Faiz melongo saat sampai di tepi peti sebab peti itu sedikit tinggi untuk ukuran tinggi tubuhnya yang hanya 155 meter saja.
Bu Lela sedikit melompat untuk mengetahui isi dalam peti.
Ya Tuhan!
Bu Lela syok saat dirinya berhasil melihat apa yang ada dalam peti tersebut. Wanita itu menganga lalu menutup mulut dengan mata terbelalak.
__ADS_1
Itu kan?