Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 28. Faiz Vs Radit


__ADS_3

Ayu datang dengan obat merah dan plester di tangannya.


"Ini Mas," ucapnya sambil menyodorkan benda di tangannya itu kepada Radit.


Radit pun menerima obat merah dan plester dari Ayu.


"Sorry aku buka lagi ya bebatan kainnya, saya oleskan obat merah dulu." Radit meraih tangan Karmila dan membuka ikatan kain secara perlahan. Karmila melirik ke arah wajah Radit, entah mengapa dia merasakan saat ini seperti duduk bersama Faiz, tentu saja Faiz versi zaman mereka belum menikah. Faiz sekarang tidak seperhatian itu.


Setelah kain terlepas Radit lalu membersihkan luka Karmila. Setelah itu baru dioleskan obat merah dan ditempelkan plester.


"Sudah." Radit melepaskan tangan Karmila. Namun, Karmila sendiri yang masih melamun tidak sadar jika tangannya sudah selesai diobati.


"Sudah selesai Karmila," ujar Ayu.


"Ah iya, sorry dan terima kasih," ucap Karmila gugup dan langsung menunduk. Dia merasa malu kedapatan menatap wajah Radit begitu intens.


"Tidak apa-apa, tidak ada yang harus dimaafkan. Saya permisi ke dalam dulu ya?" Radit bangkit dari duduknya setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari Karmila dan Ayu.


"Biar aku yang mengupas buahnya saja." Ayu yang melakukan tugas Karmila.


"Selesai, ayo silahkan dimakan," ujar Ayu dan Karmila mengangguk. Keduanya pun mulai rujakan.


"Kau ada masalah Karmila?" tanya Ayu pada gadis yang kini duduk bersila di hadapannya.


Karmila menatap wajah Ayu lalu menggeleng.


"Hmm, aku salah tebak ternyata. Kupikir kamu bengong tadi karena banyak yang dipikirkan. Kalau ada sesuatu kau bisa curhat padaku."


Karmila mengangguk walaupun dalam hati berkata tidak akan pernah mau curhat dengan orang asing. Bukannya menyelesaikan masalah, bisa-bisa malah menambah masalah.


"Ya sudah kamu lanjutkan makan rujaknya dan saya akan memanggil Mas Radit dulu. Bisa-bisa dia nggak kebagian karena aku tuh kalau nggak habis nggak bakal berhenti rujakan."


Karmila hanya menjawab dengan anggukan dan beberapa saat Ayu kembali dengan Radit di sampingnya.


Selesai rujakan Karmila pamit pulang.


"Terima kasih ya tumpangan rujaknya," ujar Karmila sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu pagar.


"Karmila!" panggil Radit.


Karmila menoleh. "Ya?"


"Kalau ada apa-apa, kalau perlu bantuan panggil aku saja!"


Karmila mengangguk, Radit pun ikut mengangguk sambil tersenyum. Karmila pun berlalu dari hadapan Radit.


"Aku tidak ingin mendengar kabar kalau Abangku suatu saat nanti menjadi pebinor," ujar Ayu lalu terkekeh. Setelahnya wanita itu meninggalkan Radit dengan membawa baskom dan ulekan ke dalam dapur.


Radit termangu, dia masih tidak ingin beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Aku harus mengambil kembali sesuatu yang seharusnya menjadi milikku," tekad Radit dalam hati.


***


"Auw ada ular!" teriak Karmila pada sore hari. Dia tidak tahu ular itu datang dari mana sementara pintu dan jendela tertutup rapat.


Karmila panik, ular itu naik ke atas ranjang dan Faiz sang suami belum pulang juga. Karmila berlari keluar dan mencoba mencari pertolongan.


Kebetulan Ayu melintas, Karmila memutuskan untuk meminta bantuannya.


"Ular? Duh aku takut mending aku panggil Mas Radit saja," ujar Ayu lalu berlari menuju rumahnya sendiri.


"Mas Radit!" teriak Ayu dari luar pagar. Tak ada yang mendengar.


"Mas Radit!" teriak Ayu lebih kencang sebab tidak ada jawaban dari dari dalam.


"Ada apa sih Ayu, kenapa sore-sore begini malah bikin kehebohan?" protes sang ibu yang baru pulang dari sawah.


"Mas Radit mana Bu?" tanya Ayu tidak sabaran.


"Mana ibu tahu, lihat sendiri baju ibu berlumpur begini, tahu kan ibu baru darimana?"


"Iya Bu, kalau begitu saya cari Mas Radit di dalam saja." Ayu menerobos kamar Radit, pria itu baru menyelesaikan shalat ashar.


"Ada apa teriak-teriak? Kamu memburut shalatku tidak khusuk saja," protes Radit.


"Di kamar Karmila ada ularnya dan Faiz suaminya masih belum datang."


"Mana ularnya?" tanya Radit saat sudah sampai di pintu rumah Karmila.


"Tadi ada di kamar, sekarang sudah merayap ke dapur." Karmila menunjuk ke arah bagian belakang rumahnya.


Dengan menjinjing sarung ke atas Radit pun segera berlari ke arah yang ditunjuk oleh Karmila.


"Itu dia, Ayu tolong Ambilkan kayu sebagai pentungan kalau ada ambil yang dari bambu. Kata orang-orang, ular akan apes dengan bambu!" perintah Radit.


"Di samping rumah ada batang bambu yang tidak begitu besar Yu, kau bisa ambil itu," ujar Karmila yang masih terlihat gemetar sambil memegang perutnya.


Ayu berlari keluar dan mengambil kayu lalu berlari lagi ke arah Radit.


Tidak menunggu lama ular tersebut sudah mati di tangan Radit. Radit pun membawa ular tersebut dan membuangnya keluar rumah diikuti Ayu di belakangnya.


"Ayu, Radit jangan pulang dulu ya aku buatkan teh dulu."


"Oke siap Karmila," sahut Ayu diikuti anggukan dari Radit.


Radit dan Ayu kembali ke dalam rumah sedangkan Karmila meninggalkan keduanya untuk membuatkan teh.


"Silahkan diminum dulu."

__ADS_1


"Terimakasih Karmila."


Bersamaan dengan itu ada bunyi mobil yang masuk pekarangan. Beberapa saat kemudian pintu pun terdengar diketuk.


"Sepertinya Bang Faiz sudah pulang, saya tinggal buka pintu dulu ya!"


Keduanya mengangguk dan Karmila melangkah ke arah pintu.


"Ada tamu?" tanya Faiz tatkala pintu rumah sudah terbuka.


"Kok Bang Faiz tahu?"


"Tuh banyak sandal di luar."


"Oh, iya sih tadi ada ular yang masuk kamar, jadi saya minta tetangga untuk mengusirnya."


Faiz mengangguk dan berjalan menuju kamar.


"Kalian ...?" Faiz hendak menyapa dan berbasa-basi. Namun, dia kaget melihat siapa pria yang duduk dan menoleh ke arahnya saat ini.


"Ka–u ...."


"Hai apa kabar?" Radit menjawab sapaan Faiz dengan tersenyum manis.


"Kalian saling kenal ya?" tanya Karmila menebak-nebak.


"Ya Faiz ini dulunya satu sekolah denganku," ujar Radit lalu bangkit dari duduknya dan merangkul bahu Faiz.


"Jangan pernah macam-macam dengan istriku atau kau akan mengalami hal yang lebih buruk dari hal yang pernah kamu alami," bisik Faiz di telinga Radit.


"Kau mengancamku?" Sayangnya aku tidak takut. Mulai saat ini aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku."


"Hmm." Faiz hanya tersenyum sinis.


"Dan sekarang saatnya kebusukanmu harus terbongkar," ujar Radit sambil tersenyum smirk.


"Silahkan saja jika kamu punya bukti." Faiz terlihat begitu tenang.


"Apa yang kalian bisikkan?" Karmila menatap keduanya penuh curiga.


"Kalian sebenarnya sahabat apa musuh sih?" Karmila merasakan ekspresi keduanya tidak seperti seorang sahabat.


"Kami sahabat kok, hanya saja begitu canggung karena sudah lama tidak bertemu," terang Radit.


"Dan kamu Karmila? Sahabat itu bisa kapan saja menjadi musuh, jadi kumohon kamu tidak perlu menemui pria ini lagi di belakangku," timpal Faiz.


Karmila semakin bingung dibuatnya.


"Sepertinya kepalaku tambah sakit." Karmila memijit keningnya yang seolah berdenyut kencang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2