Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 26. Faiz


__ADS_3

"Ya aku mengenalmu. Kau Karmila Dewi Fransiska, bukan?"


Sontak saja Karmila tertegun mendengarnya. "Kau bahkan tahu nama panjang diriku?"


"Tentu saja tahu kau adalah tunanganku," ujar pria itu dengan suara datar.


"Kau pandai menebak nama, tapi sayang kau gila." Karmila melanjutkan langkahnya. Dia yang sempat tertarik tadi karena pria itu mengetahui namanya kini tidak tertarik lagi mendengar pria itu mengaku-ngaku sebagai tunangannya.


Gila, bagaimana mungkin aku punya tunangan sementara aku sudah bersuami. Benar-benar laki-laki yang stres.


"Karmila tunggu!" teriak pria itu di tengah kegelapan malam. Karmila memperbesar langkah sebab tidak mungkin berlari sementara di dalam perutnya ada janin yang lemah. Bisa-bisa dia keguguran jika berlari dan jatuh.


"Karmila tunggu!" Pria itu masih berusaha mengejar Karmila.


"Berhenti mengejarku! Kalau tidak aku akan berteriak," ancam Karmila. Wanita itu sudah mengambil ancang-ancang untuk berteriak meminta pertolongan.


"Kalau begini kau bisa menggugurkan kandunganku," lanjut Karmila.


"Kau hamil? Oke-oke, aku tidak ingin mengejar dirimu lagi. Pergilah dan kalau boleh aku sarankan kau berjalan ke arah sana karena di sanalah letak rumahmu berada."


"Sok tahu!" Karmila tetap berjalan lurus ke depan. Wanita itu sama sekali tidak mengindahkan perkataan pria itu.


"Kenal saja nggak, masa saya harus nurut? Bisa-bisa dia membohongiku," gumam Karmila. Dia tidak bisa percaya begitu saja pada pria asing.


Pria yang memberikan saran itu hanya menggeleng melihat Karmila tetap kokoh dengan pemikirannya yang menganggap langkahnya yang terus maju ke depan itu adalah suatu kebenaran.


Karmila terus melangkah dan melangkah. Sepanjang perjalanan dia sama sekali tidak menemukan rumah. Bahkan, pemandangan di depannya kini terlihat lebih gelap dan pekat dari sebelumnya.


"Ini bukan menuju hutan, kan? Kenapa pagi masih lama sekali?" lirih Karmila.

__ADS_1


"Bagaimana, apa kau masih tidak percaya dengan omonganku?"


"Kau–"


Karmila memang tidak melihat wajah pria di sampingnya kini sebab daerah ini benar-benar gelap berbeda dengan tempat pertama bertemu dengan pria itu. Tempat yang sebelumnya masih ada bias cahaya lampu dari kejauhan meskipun hanya sedikit saja. Namun meskipun demikian, Karmila bisa mengenali pria itu dari suaranya.


"Izinkan aku mengantarkan dirimu. Jika aku berbohong maka kamu boleh tidak percaya lagi padaku. Tenanglah aku tidak ada maksud jahat padamu. Aku hanya tidak ingin melihat wanita tersesat di malam gelap gulita seorang diri seperti saat ini. Kemana suamimu? Kalau dia orang baik kenapa tidak mencarimu?"


Lagi-lagi Karmila dibuat heran dengan pria ini. Bagaimana mungkin dia tahu bahwa dirinya sudah bersuami.


"Ya Tuhan bukankah aku memang mengatakan takut keguguran tadi. Kenapa aku jadi tulalit? Pantas saja dia tahu kalau aku sudah punya suami," batin Karmila.


"Baiklah kau boleh mengantarku, tapi tidak usah sampai rumah karena aku tidak ingin warga berpikiran macam-macam padaku." Karmila mengajukan syarat padahal dia sendiri yang membutuhkan pertolongan.


"Itu sudah jadi pemikiranku. Ayo ikuti aku!"


Karmila mengangguk dan mengikuti langkah pria itu dari belakang. Awalnya Karmila takut sebab bisa saja pria yang menawarkan kebaikan ini adalah orang jahat berkedok ingin membantu orang lain. Karmila sudah mengambil ancang-ancang, mengambil jarak jauh agar nanti bisa kabur jika ada tanda-tanda mencurigakan.


"Iya." Karmila menjadi yakin kalau pria yang ada di hadapannya itu adalah orang baik.


Karmila mulai mendekatkan jarak sebab sedikit takut saat melewati pemakaman.


"Aku antar sampai di sini saja, ini sudah dekat dengan rumahmu."


"Terima kasih atas bantuannya, maafkan jika sebelumnya saya mencurigai mu."


"Tidak masalah. Waspada itu penting, termasuk waspada pada suami sendiri."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


Pria itu lebih memilih membalikkan badannya daripada menjawab pertanyaan dari Karmila. Pria itu mulai melangkah menjauh.


"Hei!" Karmila geram, mengejar dan mencekal kedua bahu pria itu.


"Kenapa kau menahanku? Apa kau mau tinggal serumah denganku?"


"Hei ngaco saja. Aku hanya ingin kau menjelaskan apa maksudmu tadi!"


"Pengertiannya simpel saja, hati-hati pada siapapun termasuk keluargamu juga. Bisa saja sikap yang selama ini ditunjukkan hanyalah kepalsuan semata atau kalau tidak dia yang akan menyeretmu pada masalah."


"Mengapa aku berpikir seolah orang ini benar?" Karmila bertanya-tanya dalam hati.


"Sudah tidak ada yang ingin ditanyakan?"


"Ada, siapa namamu?"


"Namaku Faiz dan katakan pada Faiz suamimu, pada saatnya kebenaran akan terungkap juga dan siapa yang salah dan melakukan kejahatan akan menerima konsekuensinya sendiri."


Pria itu segera pergi, meninggalkan Karmila yang termangu seorang diri.


"Namanya juga Faiz? Mengapa kebetulan ini terjadi? Dan mengapa pria itu seolah memperingatkan agar aku berhati-hati pada suami sendiri?" Karmila menghela nafas.


"Ah entahlah biar ku ikuti saja alur kehidupan yang sudah disiapkan oleh Tuhan. Bagaimana akhirnya, masih menjadi misteri dan nanti semua akan menjadi qadarullah. Semoga saja Allah SWT memberikan ketetapan yang baik bagi kehidupanku kelak."


"Tapi, tunggu! Tunggu dulu!" Mengapa suara pria tadi sama persis dengan suara bang Faiz ketika masih bujang?"


Karmila mulai merasakan sudah tidak ada yang beres di sekitarnya.


"Sepertinya benar kata orang tadi, aku harus waspada di mana pun berada karena kejahatan selalu mengintai manusia."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2