
"Hingga siang hari saat melihat Karmila sudah lebih tenang barulah Radit dan Ayu masuk kembali ke dalam kamar rawat Karmila dengan membawa satu kotak makanan.
"Karmila kau makan dulu ya," ucap Ayu sambil duduk di samping tempat tidur Karmila.
Karmila menoleh dan menatap keduanya dengan heran.
"Mengapa mereka belum pergi juga ya? Apakah hantu memang tidak takut sinar matahari?" batin Karmila.
"Aku tahu kau pasti berpikiran macam-macam pada kami. Sekali lagi aku tegaskan, aku dan Ayu bukanlah hantu," jelas Radit agar Karmila tidak mengada-ada lagi.
"Ta–pi semalam aku melihatmu dengan wajah pucat pasi dan lidah panjang hingga hampir melilit tubuhku. Ayu juga ususnya keluar dari perut dan menjuntai ke tanah serta mengeluarkan bau busuk."
"Mungkin kau hanya berhalusinasi."
"Tidak, aku yakin dengan apa yang aku lihat semalam."
Ayu tampak kaget sedangkan Radit tampak berpikir.
"Jangan-jangan dia itu memang Radit."
Perkataan Radit sontak membuat Karmila dan Ayu syok.
"Maksud Mas Radit apa?" tanya Ayu tidak mengerti.
"Dan kamu siapa?" sambung Karmila akan pertanyaan dari Ayu.
"Baiklah mungkin sekarang saatnya aku jujur pada kalian." Radit menjeda ucapannya sebentar untuk menarik nafas panjang lalu menghempaskan dengan kasar.
Radit tahu penjelasannya nanti akan susah dipahami oleh kedua wanita yang berada di sisinya itu dan bisa saja mereka berdua berspekulasi macam-macam terhadap Radit setelah mendengar keterangan darinya.
"Katakan yang sebenarnya!" Ayu begitu penasaran.
Radit mengangguk dan berkata, "Sebenarnya aku bukanlah Radit, tetapi Faiz."
"Apa maksudmu?" Karmila terbelalak tidak percaya.
"Bukankah sudah kujelaskan saat pertemuan kita malam itu, tapi kau masih tidak percaya."
__ADS_1
"Jadi kau pria di malam gelap itu?" Karmila langsung teringat dengan kejadian saat dia tersesat di malam hari ketika mengejar seseorang yang ternyata membawanya ke tempat sepi. Untunglah ada Radit yang mengantarkannya pulang.
"Tidak, tidak! Itu hanya cerita karanganmu semata, kan? Atau namamu memang sama dengan nama suamiku?"
"Aku adalah Faiz tunanganmu, itu mengapa aku bisa tahu apa makanan kesukaanmu dan aku tidak akan pernah memaksamu untuk memakan makanan yang tidak kamu sukai seperti Faiz palsu yang membersamaimu sekarang."
Ayu dan Karmila hanya menganga mendengar penjelasan Radit.
"Faiz yang bersamamu itu sebenarnya adalah Gugun dan aku dioperasi plastik olehnya menjadi sosok Radit yang sebenarnya aku tidak tahu siapa pria itu sebenarnya."
"Kau mengarang cerpen?" tanya Ayu yang masih tidak percaya dengan cerita Radit yang baginya hanya omong kosong belaka sedangkan Karmila sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kalau kau memang bukan Mas Radit ku, mengapa kau bisa mengenalku dan tahu alamat rumahku?" Ayu menuntut penjelasan.
"Ceritanya panjang Ayu. Aku tidak mungkin menceritakan hingga sampai ke tahap ini. Yang pasti aku dipaksa untuk menjadi anak Pak Johan dan ibu Tidi padahal aku sudah menjelaskan bahwa aku bukanlah anak mereka melainkan Faiz, tetapi karena wajahku sama dengan Radit mereka tetap menganggapku adalah Radit putranya, dan tentangmu mereka menceritakan banyak dan memberikan alamatmu padaku sehingga aku bisa sampai ke tempat ini."
Ayu mematung mendengar penjelasan Radit, dia tidak tahu apakah harus percaya ataukah tidak dengan cerita yang baru didengarnya itu.
"Kalau kalian tidak percaya maka aku akan membawa bukti untuk kalian."
"Iya, sebentar." Faiz melangkah keluar dari ruangan sedangkan kedua wanita yang masih bertahan di dalam hanya bisa saling pandang.
Lima belas menit kemudian akhirnya Radit kembali dengan menggandeng seorang wanita di tangannya.
"Ibu?" Karmila kaget melihat Bu Lela berdiri di pintu dengan tangan yang menggenggam tangan Radit.
Bu Lela hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia melangkah mendekat ke arah Karmila.
"Tunggu, bukankah itu mertuamu?" tanya Ayu penasaran dan Karmila mengangguk.
"Bukankah Ibu sudah hangus terbakar di rumah sakit?" Karmila mulai ketakutan lagi.
"Benar kamu itu hantu, kan? Buktinya kau bisa menyentuh tangan mertuaku yang sudah meninggal."
"Karmila, kumohon tidak usah parno! Bukankah sudah kujelaskan kalau aku masih hidup?"
"Tapi, Ibu–" tunjuk Karmila ke arah Bu Lela dengan tangan yang mulai bergetar karena rasa takut yang kembali menyergap.
__ADS_1
"Aku membawa kabur Ibu sebelum insiden kebakaran itu terjadi. Kebetulan saat itu aku membawa Bu Tidi untuk kontrol rutin dan saat melihat di dalam kamar ada seorang ibu yang mirip dengan ibuku aku langsung masuk dan mengeceknya. Ternyata benar, di dalam ruangan itu adalah ibu kandungku sendiri," jelas Radit panjang lebar.
"Iya Karmila, awalnya ibu juga tidak percaya bahwa Nak Radit ini adalah Faiz, bahkan dulu saat dia pulang ke rumah saya malah mengusirnya karena menganggap dia maling yang tiba-tiba masuk nyelonong ke dalam rumah orang begitu saja tanpa pamit apalagi setelah dia mengaku-ngaku sebagai Faiz padahal Faiz ada di dalam kamar, ibu langsung mendorong dengan kasar keluar."
"Bu, ibu tidak bercanda, kan?" Karmila terlihat bingung.
"Tidak Karmila. Maafkan ibu yang sudah salah mengambil langkah dengan menikahkan dirimu dengan Faiz palsu sehingga hidupmu dipenuhi ketakutan seperti ini. Sejak kejadian mengerikan di rumah itu dan ibu hampir dicekik oleh makhluk tak kasat mata akhirnya ibu sadar bahwa Faiz itu bukanlah putra Ibu yang sebenarnya. Tidak mungkin para hantu itu mengganggu kita apabila di antara kita tidak ada yang berbuat jahat kepadanya dan tidak mungkin pula Fais putra ibu membawa kita ke rumah yang sangat berbahaya bagi kesehatan mental kita."
"Maksud ibu apa?"
"Maksudku adalah, Faiz yang bersama kita selama ini adalah seorang pembunuh dan mereka yang menghantui kita selama ini adalah korban dari kejahatannya."
"Bagaimana mungkin Ibu? Bagaimana mungkin kita tidak mengenal Bang Faiz? kalau memang dia bukan Bang Faiz mengapa kita tidak bisa mengenalinya?"
"Bukan kita tidak mengenalnya, tapi selama ini kita tidak mengindahkan sikapnya yang aneh."
"Dan kalau kamu memang benar-benar Faiz, kemana Mas Radit sepupuku?" Ayu yang tadinya hanya diam akhirnya membuka suara kembali.
"Aku tidak tahu Pak Johan dan Bu Tidi sudah mencari kemana-mana sebelum akhirnya dia menemukanku tergeletak di belakang rumah kosong yang tidak jauh dari pekarangan rumahnya dan beliau menganggapku adalah putra mereka."
"Apa mungkin Radit itu sudah tiada dan yang semalam adalah arwahnya?" tebak Karmila.
"Bisa saja, sepertinya kita harus menggeledah rumah itu untuk melihat isi di dalam yang tidak kita ketahui selama ini," usul Radit.
"Tidak, aku tidak berani. Aku tidak ingin makhluk-makhluk yang selama ini mengangguku bertambah murka," tolak Karmila. Lebih baik dia tidak kembali lagi ke rumah itu.
"Aku juga tidak mau, cukup satu kali wanita bergaun pengantin itu mencekik leherku," timpal Bu Lela.
"Jadi yang mencekik Ibu bukan nenek tua itu?" tanya Karmila penasaran dan Bu Lela menggeleng dengan mantap.
"Jadi semua orang salah paham?" gumam Karmila.
"Kemana nenek tua itu? Aku ingin mengucapkan terima kasih sebab kalau bukan karena dirinya ibu sudah mati di tangan hantu perempuan itu."
"Saya juga tidak tahu Bu, kabar terakhir yang saya dengar rumahnya kebakaran, mayatnya tidak ditemukan. Orang-orang menebak beliau sudah hangus terbakar seperti orang-orang menganggap tubuh ibu juga terbakar."
Bersambung.
__ADS_1