Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 24. Bayangan Masa Silam


__ADS_3

Faiz ragu-ragu berjalan kembali ke rumahnya.


"Mau kemana kamu? Hantu tadi berjalan menuju rumahmu." Seseorang menarik tangan Faiz agar tidak jadi melanjutkan langkahnya pulang.


Faiz lalu mengikuti langkah orang yang menariknya itu. Untuk sejenak dia melupakan bahwa Karmila berada di rumah tanpa ada yang menemani.


"Minum kopi dulu!" Seseorang menghidangkan ceret berisi kopi ke hadapan beberapa orang yang sedang berkumpul di rumah tetangga itu.


"Tidak saya pulang saja, ngantuk," tolak Faiz.


"Ayolah ini sudah jam berapa, tanggung juga kalau mau tidur. Lebih baik ngopi-ngopi saja."


"Iya juga ya." Akhirnya Faiz menurut. Aroma kopi tubruk yang dituang ke dalam gelas begitu menggoda selera. Hatinya tertahan pergi oleh minuman si hitam manis itu.


Faiz kembali duduk di samping orang-orang sambil mengobrol hal-hal yang seru.


Di rumah, Karmila ketakutan mendengar tangisan di dalam rumah. Wanita itu sudah mencari asal suara itu darimana, tetapi tidak ketemu juga.


"Hentikan!" teriak Karmila sebab suara tangisan itu seolah membuat gendang telinganya hampir pecah.


Tubuh Karmila sudah bermandikan keringat, sedari tadi berteriak memanggil nama suaminya tak kunjung ada yang mendengar, bahkan pintu rumahnya tertutup sendiri.


"Mengapa rumah ini tiba-tiba menjadi aneh?" gumam Karmila.


"Mas Faiz!" teriaknya sekali lagi. Namun, tetap saja tidak ada yang mendengar teriakannya.


"Kenapa sih tidak ada orang yang kembali ke rumah ini? Ibu maafkan aku, jangan hantui Karmila Bu," rengek Karmila saat aroma bunga dan kemenyan menyeruap ke seluruh ruangan.


"Mas Faiz kenapa nggak kembali-kembali ya?" Wanita itu menyeka keringat di dahinya. Susana rumah terasa panas tiga kali lipat dari biasanya.


Seperti biasa sebelum ada sosok yang muncul di rumah itu terdengar suara seorang wanita yang sedang melantunkan tembang jawa.


Karmila tertegun, tidak pernah dia mengalami hal aneh di dalam rumah ini kecuali saat pertama kali masuk ke rumah itu dan Karmila meyakini itu hanyalah sebuah mimpi.


Sekelebat bayangan terlintas di depannya.


Seorang laki-laki menyeret seorang perempuan menjauh dari kamar rias. Wanita cantik bergaun pengantin putih yang sedang duduk sendiri di dalam sebuah kamar menolak dan tidak mau menuruti keinginan pria itu untuk pergi dari acara pernikahan. Saat pria itu memaksa, wanita tersebut berteriak meminta tolong.


Tidak ingin suara wanita itu di dengar oleh orang-orang di luar sana, pria itu langsung membekap mulut pengantin wanita dengan tisu yang terlebih dahulu dibubuhkan obat bius.

__ADS_1


Semua keluarga yang begitu sibuk di luar tidak menyadari jika pengantin wanita ada yang menculik. Pria itu membawa wanita cantik dalam gendongannya melalui pintu belakang rumah yang sepi dan tidak terjangkau oleh orang-orang karena jalan itu sudah tidak dipakai lagi.


Pengantin pria yang syok mendengar pengantin wanita tidak ada di tempat menjadi berpikiran macam-macam. Dia menyangka calon istrinya kabur darinya dengan mantan pacar. Saking syok nya pria itu merasakan sesak yang sangat di dadanya dan akhirnya terkena serangan jantung mendadak.


Para keluarga langsung sigap membawa pengantin pria itu ke rumah sakit. Sialnya, di tengah perjalanan menuju rumah sakit terjadi kecelakaan sehingga mempelai pria dan dua keluarga itu meninggal di tempat.


"Siapa mereka? Kenapa kejadian itu malah terlintas di benakku?"


Karmila bingung sekaligus panik. Dia tidak mengerti apa maksud kejadian itu diperlihatkan kepadanya.


"Tidak ada satupun dari mereka yang aku kenal," lirihnya.


"Kau tahu bagaimana sakitnya kehilangan kekasih dan orang tua?" Terdengar suara seorang wanita dari langit-langit rumah kemudian diiringi tangis yang memilukan hati.


Segera Karmila menatap ke atas mencari asal suara itu, tetapi tetap saja yang dilihat hanyalah plafon kamar yang dipenuhi oleh cicak-cicak putih.


"Aku tidak salah lihat, kan? Suara tadi bukan dari cicak, kan?" Karmila tambah bingung. Pikirannya kacau.


"Hei siapa dirimu? Tunjukkanlah padaku! Katakan apa mau mu padaku!" teriak Karmila, dia mencoba menetralisir rasa ketakutannya.


Tidak ada jawaban. Namun, adegan selanjutnya terpampang di depan mata.


"Aldia tunggu aku!"


"Aldia?" Dalam otak Karmila penuh tanda tanya.


"Siapa Aldia?" gumam Karmila.


"Lepaskan aku! Kau puas sekarang, kan? Apa maksudmu menculik diriku di hari pernikahan?"


"Aku hanya ingin satu, kau tidak boleh menikah dengan siapapun. Kau selamanya hanya bisa menjadi milikku."


"Tapi aku tidak bisa mencintaimu lagi, pria pembunuh!" Aldia berteriak sambil menuding wajah pria itu.


"Lebih baik kau mati saja jika harus menjadi istri orang lain."


Pria yang tidak begitu jelas itu menatap Aldia dengan penuh rasa ketakutan. Takut wanita itu jatuh ke tangan pria lain.


"Oh kau ingin aku mati? Maka lihatnya ini! Kau akan melihat kematianku."

__ADS_1


Wanita yang bernama Aldia itu langsung mengambil batu dan memukul kepalanya sendiri hingga mengalirkan darah segar.


"Aldia jangan!"


"Siapa pria itu, mengapa aku seolah mengenal suaranya? Akhh! Kenapa wajahnya malah tidak jelas seperti yang lainnya?"


Karmila mengacak rambutnya sendiri. Wanita itu terlihat stres.


Wanita yang bernama Aldia itu pun tidak mau menghentikan aksinya. Dia memukul kepalanya sendiri sehingga cairan darah semakin banyak keluar dan membasahi baju pengantinnya.


"Aldia jangan lakukan ini! Kumohon!" pekik pria yang wajahnya seolah di blur itu.


"Kau pembunuh dan sekarang kamu juga membunuh calon suami dan kedua orang tuaku. Kau pembunuh!" Wajah Aldia terlihat bergetar menahan emosi yang sudah tak tertahan ditambah lagi sakit dari kepalanya yang seolah akan pecah.


Tubuh Aldia tumbang dan pria itu segera menangkap tubuh wanita tersebut agar tidak sampai menyentuh jalan beraspal.


"Aldia bangun!" Pria itu menepuk pipi Aldia dan perempuan itu tidak bergeming. Wajah wanita cantik itu kini berubah menjadi pucat pasi dan bibirnya membiru. Sedetik kemudian Aldia menghembuskan nafas terakhir.


"Aldia!" Pria itu panik lalu memeriksa denyut nadi gadis tersebut.


"Aldia!" teriak pria itu histeris.


Orang-orang berlarian ke arah pria itu bermaksud menolong, tapi pria itu mengusir orang-orang dan mengatakan bisa mengurus mayat calon istrinya sendiri.


Pria itu membawa mayat Aldia ke suatu tempat dan mengawetkan lalu memasukkan mayat itu ke dalam sebuah peti.


Astaghfirullah al adzim!" seru Karmila sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.


"Ngeri sekali laki-laki itu," ujar Karmila.


"Semoga Engkau menjauhkan diriku dari laki-laki semacam itu ya Tuhan." Doa Karmila dalam hati.


Wanita yang sedari tadi menyanyikan tembang, menangis dan berseru kepadanya kini malah terdengar tertawa lalu berangsur-angsur menghilang bersama dengan deru angin malam yang berhembus kencang di luar.


Sebentar kemudian pintu rumah tampak diketuk dari luar.


"Siapa lagi itu? Semoga bukan hal aneh lagi yang menghampiriku."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2