Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 33. Keguguran


__ADS_3

Karmila langsung berlari saat ada dua orang pria yang mengejarnya.


"Itu 'kan Karmila!" seru Radit dan langsung dijawab anggukan oleh Ayu.


"Ayo kita kejar!"


"Loh dua pria itu siapa, Mas?" tanya Ayu sambil terus berlari menyamai langkah Radit.


Sementara Karmila di tengah jalan kepalanya mendadak pusing.


"Aduh kenapa kepalaku rasanya kembali ingin pecah," ucap Karmila sambil memijit pelipisnya. Wanita itu tampak meringis kesakitan.


Bug.


Tubuh Karmila terjatuh ke lantai dan kembali pingsan. Dua orang pria yang mengejarnya bingung akan melakukan apa terhadap Karmila.


"Dia pingsan, lebih baik kita pergi agar tidak menambah masalah baru!"


Rekannya mengangguk dan kedua orang itu langsung kabur.


"Hei mau kemana kalian? Kalian harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada teman saya!" teriak Radit sambil mengejar kedua orang yang kabur itu.


"Mas Radit, abaikan mereka, kita harus membawa Karmila ke rumah sakit secepatnya!" teriak Ayu dan Radit langsung menghentikan langkahnya lalu menyetop mobil yang melintas.


"Bang mau kemana ini?" tanya sopir angkot saat Radit memasukkan tubuh Karmila ke dalam mobil.


"Rumah sakit terdekat!"


"Oke siap." Sopir angkot pun segera melakukan mobilnya setelah Ayu juga sudah masuk dan duduk.


Sampai di rumah salit Radit langsung membawa tubuh Karmila ke ruang periksa.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Radit gelisah, begitupun dengan ekspresi Ayu yang tidak jauh berbeda. Walaupun Karmila hanya tetangga, tetapi keduanya sangat perduli terhadap Karmila.


"Anda suaminya?" Bukannya menjawab dokter malah bertanya.


"Bukan Dok." Radit menggeleng.

__ADS_1


"Suaminya ada di luar kota," sambung Ayu.


"Oh begitu ya? Sayang sekali Ibu Karmila keguguran," ucap dokter dengan ekspresi sedih.


"Keguguran?" tanya keduanya serempak.


"Ya, sayang sekali, tapi mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan calon bayinya," ucap dokter lagi.


"Tidak apa-apa dokter asal tolong selamatkan nyawa ibunya," mohon Radit.


"Kami akan berusaha, pasien sedang mengalami kekurangan darah dan saat ini perawat sedang menyiapkan kantong darah dan pasien akan segera di pindahkan ke ruang perawatan."


"Baik Dok lakukan apapun yang terbaik untuk Karmila dan masalah biaya biar saya yang menanggungnya."


"Baik Mas."


Terlihat beberapa perawat mendorong brankar tempat Karmila berbaring keluar ruangan.


Ayu dan Radit menyingkir untuk memberikan jalan kemudian mengikuti mereka dari belakang.


"Silahkan tunggu di luar dulu!" perintah perawat saat Ayu dan Radit ikut masuk ke dalam ruangan.


Beberapa saat kemudian perawat dan dokter keluar dari dalam ruangan.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Ayu masih dengan raut wajah khawatir.


"Pasien sudah sadar, tetapi sepertinya mengalami semacam gangguan pikiran. Tadi pasien melihat kami dengan raut wajah ketakutan. Apakah pasien dalam keadaan tertekan?"


"Entahlah Dok kami juga tidak tahu. Kami jarang bertemu dengan teman kami itu dan sekalinya bertemu kami melihat dia pingsan," jelas Radit.


"Kalian harus mencari tahu penyebabnya, sebab penyakit pikiran tidak bisa dihilangkan dengan obat kecuali hanya ini bertahan sementara saja," saran dokter.


"Sebab semakin tahu penyebabnya akan lebih cepat menanganinya," lanjut dokter.


"Baik Dok."


"Oh ya satu lagi, jangan dulu beri tahu pasien tentang keadaan kandungannya yang sudah keguguran sampai keadaannya pulih dan pikiran pasien benar-benar tenang."

__ADS_1


"Baik Dok."


"Kalau begitu saya pamit dulu." Dokter menepuk pundak Radit lalu melangkah pergi dari ruangan tersebut.


"Kita masuk Mas," ajak Ayu dan Radit langsung mengangguk. Saat mereka masuk para perawat yang ada di dalam pamit keluar.


"Bagaimana keadaanmu Karmila?" tanya Radit sambil duduk di tepian ranjang Karmila.


"Sudah baikan, kan?" Ayu menimpali.


Karmila menoleh. Saat melihat keduanya tubuh wanita itu bergetar.


"Kalian? Mau apa mengangguku? Pergi!" teriak Karmila.


Ayu semakin mendekat membuat Karmila mengambil bantal di bawah kepalanya lalu menutup wajah.


"Hei kau sebenarnya kenapa?" tanya Ayu mencoba untuk berbicara lembut.


"Pergi kalian!" teriak Karmila dari bawah bantal dengan mata yang terpejam.


"Karmila, kami ke sini hanya ingin menjaga, kami tidak ada maksud jahat terhadapmu," terang Ayu.


"Tidak kau ingin membunuhku, kan? Bunuh sekarang juga kalau kalian mau! Bunuh! Bunuh! Bunuh!" Suara Karmila menggema dalam ruangan.


"Karmila sadarlah, aku Radit dan dia Ayu, bukan hantu seperti yang kau pikirkan." Radit mencoba menjelaskan.


"Tidak kalian berbohong. Kalian adalah hantu penunggu rumahku, kan? Pergi! Pergi! Pergi!" teriak Karmila dengan suara lantang dan gusar.


Radit dan Ayu hanya saling pandang dengan bingung.


"Kita pergi saja Mas, lebih baik tunggu dia tenang dulu," bisik Ayu di telinga Radit.


Radit mengangguk dan akhirnya bangkit dan melangkah keluar disusul Ayu di belakangnya. Mereka lalu menutup pintu ruang rawat dan memilih menunggui Karmila di luar.


Setelah keduanya sudah tidak ada di dalam ruangan, Karmila membuka bantal yang menutup wajahnya.


"Tuh kan mereka bisa menghilang," ucap Karmila. Wanita itu semakin ketakutan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2