Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 37. Tertangkap


__ADS_3

"Cepat jangan sampai lolos!"


"Bu, saya ingin mengejar juga," pamit Radit lalu bergegas menyusul para polisi yang mengejar Faiz sebelum mendapat jawaban dari Bu Lela.


Polisi lainnya segera menangani mayat-mayat yang ditemukan dan dibawanya ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.


"Bu Lela dan, Mbak Ayu, juga Mbak Karmila ikut dengan kami dulu!"


Ketiganya mengangguk dan semua warga hanya memandang ketiganya dengan tatapan yang entah, mereka menduga-duga bahkan curiga terhadap ketiga orang itu bahwa salah satu dari ketiganya adalah pelaku yang sebenarnya.


Sementara mayat-mayat dan tiga orang yang berstatus saksi itu dibawa pergi dengan mobil yang berbeda polisi dan Radit masih saja melakukan aksi pengejaran terhadap Faiz yang begitu gesit.


Faiz segera menodong seorang pengendara motor lalu merampas motornya dan mengebut di jalanan.


"Waspada-waspada target sekarang lari dengan motor dan mengambil lajur kanan," ucap seorang polisi mengunakan mikrofon.


"Siap kami akan segera menyusul."


Beberapa polisi ada yang mengejar dengan motor dan ada yang berlari.


"Naik!" perintah polisi yang lain, setelahnya mereka mengebut di jalanan karena tidak ingin kehilangan jejak.


"Pak, ojek Pak!" Radit yang berlari sendirian kini kelabakan akhirnya menyetop tukang ojek.


"Kemana Mas?"


"Kejar polisi itu!" perintah Radit sambil memasang helm.


"Loh mengejar polisi?" Tukang ojek tidak habis pikir, bukankah seharusnya polisi yang mengejar?


"Sudah lakukan saja! Polisi itu mengejar penjahat dan saya juga mau mengejarnya," jelas Radit sambil naik ke atas motor.


"Oh." Tanpa banyak tanya lagi, tukang ojek langsung melajukan motornya dengan kencang.


Aksi kejar-kejaran berlangsung lama dan Faiz yang gesit selalu mampu membuat polisi kehilangan jejak. Namun, polisi tidak menyerah mereka mengepung dari segala arah bahkan menghubungi polisi yang lain sehingga pasukannya bertambah banyak.


"Pak dia masuk ke sebuah gang!" teriak Radit saat melihat motor Faiz melintas di depannya. Namun, motor yang ditumpangi sendiri malah mogok.


"Sial!" Tukang ojek memukul setir motornya karena kesal tidak bisa diandalkan.


"Sudah kalau begitu saya turun di sini saja Pak," ucap Radit sambil menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.


"Segini cukup ya Pak untuk membayar ongkos ojek sekaligus memperbaiki motor Bapak?"


"Semoga saja cukup Mas, sepertinya ini hanya businya saja yang bermasalah."


"Maaf saya tidak bisa membantu karena harus melakukan pengejaran lagi. Sepertinya gang di depan buntu, kan?"


"Iya tidak apa-apa Mas, saya bisa menangani sendiri. Benar kata Mas nya, penjahat tadi pasti tidak bisa kabur jika masuk gang ini kecuali hanya mengandalkan kecepatan kakinya saja."

__ADS_1


Benar saja Faiz terlihat melompat dari pagar rumah orang dan kini dirinya sudah berada di samping rumah yang merupakan pesawahan.


"Ayo kejar dia jangan sampai hilang lagi!" teriak seorang polisi.


"Sudah Pak saya pergi dulu." Faiz pun melompat dari pagar rumahnya orang yang satu ke rumah orang yang lain sebelum sampai ke sawah.


"Ada apa ini?" Orang-orang yang melihatnya hanya bisa bertanya-tanya dengan gumaman sebab aksi gerakan mereka begitu gesit dan cepat.


"Dia masuk ke dalam rumah besar itu!" teriak salah satu anggota polisi.


"Kita kepung rumah itu dari berbagai arah!"


Semua pun berpencar dan mengambil arah masing-masing. Satu orang polisi dan rekannya mengetuk pintu pagar dan ingin meminta izin secara sopan untuk memeriksa ke dalam rumah tersebut.


"Ngapain Bapak memeriksa rumah saya? Saya bukan penjahat dan tidak pernah melakukan aksi kejahatan. Pergi sana!"


Ternyata kehadiran polisi itu tidak disambut baik melainkan mendapatkan pengusiran.


"Maaf tadi kami melihat ada seorang penjahat masuk pekarangan ini. Kalau Ibu tidak mengizinkan kami masuk dan memeriksa berarti kami bisa mengambil kesimpulan anda bekerja sama dengan penjahat itu."


"Menuduh orang seenak jidat. Sana pergi, bukan saya ingin bekerjasama dengan siapapun, tetapi kedatangan kalian akan menganggu ketentraman kami."


"Kami janji tidak akan menganggu, kami ingin memeriksa sebentar saja," mohon seorang polisi.


"Sekali tidak tetap tidak!" Wanita itu semakin terlihat galak.


"Saya bisa melaporkan Anda berdua kalau masuk rumah orang tanpa izin. Berikan dulu surat pengantarnya jika kalian akan menggeledah rumah kami!"


"Yasudah kalau begitu kalian pergi saja!" Wanita setengah baya itu mendorong kedua polisi keluar pagar depan kedua tangannya.


"Pak saya melihat salah satu penghuni rumah memasukkan Faiz ke dalam rumah!" teriak Radit yang kini berdiri di atas pagar rumah dan memandang ke dalam pekarangan.


Wajah wanita itu tiba-tiba menjadi garang.


"Hei kamu jangan fitnah ya, kenapa mengatakan Faiz masuk ke dalam rumah. Bukankah Faiz itu kamu sendiri?"


Semua polisi langsung menatap wanita itu dengan curiga dan wajah wanita itu mendadak pucat. Sepertinya wanita itu keceplosan.


"Wah hebat, ternyata kau mengenalku. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Ti–dak," jawab wanita itu gugup.


"Apa Pak polisi tidak curiga?"


Sepertinya Radit mengenal wajah wanita itu, tetapi tidak tahu entah dimana. Apakah hanya di alam mimpi? Entahlah dia pun tidak paham.


"Kita periksa saja ke dalam," ucap seorang polisi. Namun, wanita itu menahan mereka.


"Kau kekang dia agar tidak menghalangi jalannya penyelidikan!"

__ADS_1


"Akan ku laporkan kalian semua agar dipecat dari kepolisian!" ancam wanita itu dengan suara yang menggelar sambil memandang ke arah nama-nama polisi di baju seragam mereka. Wanita itu mengingat agar muda saat menuntut nantinya.


"Sudah jangan dengarkan! Ini demi suksesnya penangkapan kita. Saya yakin wanita ini menyembunyikan sesuatu, kalau tidak mungkin benar dugaan Radit bahwa orang itu bekerja sama dengan Faiz palsu."


Mendengar kata Faiz palsu, wanita itu terlihat getir.


"Apakah mereka sudah tahu yang sebenarnya?" tanyanya dalam hati.


"Ayo semua periksa ke dalam!"


Bertambah syok lagi saat melihat bukan hanya dua polisi yang standby di sana melainkan dengan jumlah banyak.


"Jangan lupa sisakan di luar siapa tahu Faiz palsu itu berhasil melarikan diri dari rumah ini!"


"Siap."


Beberapa polisi pun masuk ke dalam rumah dan memeriksa. Awalnya mereka tidak menemukan apa-apa. Namun, setelah lama memeriksa satu demi satu kamar. Mereka menemukan satu kamar yang mencurigakan.


Satu kamar bernuansa putih itu seolah seperti ruangan operasi di rumah sakit.


Mereka langsung membagi tugas, ada yang ditugaskan menyelidiki kamar tersebut dan ada yang mencari Faiz di ruangan lainnya.


"Tunggu! Ini gambar apa?"


Seorang polisi menarik gambar dari tangan polisi lainnya. Radit seperti dejavu pernah berada di kamar itu.


"Bukankah ini adalah gambar wajah orang-orang sebelum di operasi dan sesudah di operasi?" Mereka terlihat syok.


"Coba lihat Pak," pinta Radit penasaran.


"Sebentar." Polisi masih tampak mengamati.


"Bukankah ini adalah wajahmu?" tanya polisi sambil menatap gambar dan wajah Radit secara bergantian.


Radit mengernyit.


"Wajahmu dulu seperti Faiz yang kita kejar tadi dan setelah dioperasi menjadi seperti sekarang ini, dan Faiz yang kabur tadi wajah sebelumnya seperti ini dan sekarang malah seperti Faiz."


"Jadi tempat ini adalah tempat operasi plastik yang ilegal?"


"Sepertinya iya. Oleh karena itu ibu yang ada di luar jangan sampai dilepas. Dia harus kita bawa ke kantor polisi!"


"Pak Faiz tertangkap oleh anggota kita," lapor salah seorang polisi.


"Bagus. Awas jangan sampai lepas lagi!"


"Baik Pak."


"Kalian cari bukti lain di kamar ini dan saya akan melihat anggota kita yang bertugas menjaga ibu pemilik rumah."

__ADS_1


"Baik Pak."


Bersambung.


__ADS_2