Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 38. Akhir Kisah


__ADS_3

"Coba lihat sepertinya itu bukanlah dinding, tetapi sekat yang menyerupai dinding!" Seorang polisi menunjuk ke arah depan.


"Sepertinya memang iya, biar saya coba cek." Seorang polisi melangkah ke depan dengan pelan. Setelah sampai kepada tempat yang dicurigai merupakan sebuah dinding, pria itu meraba-raba.


"Kain seperti kelambu ini!" serunya membuat semua teman-temannya termasuk Radit berlari ke depan.


Mereka menyingkap kelambu tersebut. Ternyata ada seorang wanita yang terbaring di atas ranjang seperti brankar rumah sakit.


"Sepertinya wanita ini juga akan dioperasi plastik!" seru salah satu anggota polisi.


"Benar, dan melihat situasi di sini sepertinya baru saja ada kegiatan di tempat ini," timpal yang lain.


"Kalau begitu kesimpulannya tadi di ruangan ini ada orang yang bertugas. Namun, karena mendengar suara kita dia atau mereka langsung kabur," sambung Radit.


"Sepertinya apa yang dikatakan Mas Radit benar. Ayo periksa jangan sampai ada yang ketinggalan di tempat ini!"


"Siap, kita ungkap semuanya biar tidak tanggung!"


"Jangan lupa selalu waspada karena hal apapun bisa terjadi pada kita semua."


"Perintahkan pada yang lain, tutup semua akses keluar atau jaga di tempat-tempat yang sekiranya bisa menjadi peluang bagi mereka untuk kabur!"


"Siap laksanakan."


Mereka membagi tugas dan selalu siaga.


"Tidak ada apa-apa di ruangan ini. Sepertinya mereka sudah kabur."


"Bapak benar, mereka kabur dari pintu ini." Sepertinya Radit menemukan pintu rahasia.


"Coba cek di sana!"


"Tidak ada Pak, kosong."


"Aduh badanku sakit." Ternyata obat bius yang diberikan kepada korban yang terbaring di atas ranjang tidak sepenuhnya bereaksi.


"Nona kenapa bisa ada di sini?"


"Pak polisi?" Gadis itu kaget dan langsung duduk.


"Sebaiknya kalau mau operasi plastik di rumah-rumahan sakit yang sudah direkomendasikan. Jangan di tempat ilegal seperti ini."


Tiba-tiba gadis itu memeluk betis pak polisi sambil menangis.


"Tolong saya Pak, tolong saya! Hiks hiks hiks. Saya tidak ingin mengubah wajah saya, tetapi


mereka yang ingin mengubah wajah saya menjadi jelek."


"Apa?!" Para polisi kaget. Namun, tidak dengan Radit yang sudah tahu tempat ini akan mengubah wajah seseorang karena ada sesuatu yang sudah direncanakan sebelumnya.


"Ada yang membenciku dan menjebakku hingga sampai ke tempat ini. Dia tidak suka dengan wajahku sehingga meminta pemilik rumah ini mengubah wajahku menjadi buruk. Syukurlah pak polisi datang."


Radit menghela nafas panjang. Ternyata dugaannya adalah kebenaran yang tidak terbantahkan. Dalam hati dia masih bisa bersyukur, Gugun dan pemilik rumah ini mengubah wajahnya menjadi Radit yang tidak kalah tampan dengan wajahnya sendiri.


Entah bagaimana kalau Gugun mengubah tampilan wajahnya jelek seperti yang akan dilakukan pada gadis ini, mengingat sejak dari dulu pria itu memang iri pada dirinya. Baik dalam bidang pelajaran maupun dalam kehidupan nyata.


Dulu semua wanita yang ditaksir oleh Gugun selalu menyukai Faiz atau Radit sekarang, bahkan Karmila adalah salah satunya. Yang membuat Gugun semakin benci pada Faiz karena semua orang seolah-olah


membandingkan dirinya dengan Faiz dan akhirnya kalimat hinaan keluar dari mulut mereka.


"Ada berapa orang yang ingin mengekskusimu tadi?"


"Dari suaranya seperti 4 orang, tapi saya tidak terlalu yakin sih pak sebab saya hanya menebak dari pendengaranku saja. Matamu tidak bisa dibuka walaupun saya sudah memaksakan diri dan tubuhku juga tidak bisa bergerak."


"Yasudah kamu ikut saja bersama kami. Kau akan menjadi saksi di kantor polisi nanti. Bersedia, kan?"


"Bersedia Pak asal bapak membawa saya keluar dari rumah ini."


"Baiklah kalau begitu ayo ikut dengan saya. Bisa berjalan, kan?"


Gadis itu terdiam lalu mencoba menggerakkan kakinya yang masih kaku.

__ADS_1


"Sepertinya saya akan kesulitan berjalan Pak."


"Radit, bisa minta tolong?"


"Bisa Pak."


"Gendong wanita ini keluar!"


"Baik Pak."


"Ayo Mbak."


"Maaf ya Mas merepotkan."


"Tidak apa-apa, sebagai manusia kita juga harus tolong-menolong." Radit pun melangkah keluar diikuti para polisi yang tadi bertugas menyelidiki kamar bernuansa putih itu.


"Pak kami juga menangkap ke 4 orang lainnya dan sekarang sudah ada di mobil polisi."


"Baik."


"Pak sudah tidak ada orang lagi di rumah ini."


"Baiklah kalau begitu kita ke kantor polisi."


Mereka semua pun menuju kantor polisi. Sampai di sana ke 6 nya tidak mengakui hingga polisi mengancam dan menyiksa mereka agar mengaku.


Awalnya mereka masih tahan dengan siksaan yang diberikan. Namun, akhirnya Gugun yang tidak tahan mengakui semua kejahatan yang dilakukannya.


"Dasar pria licik, jadi selama ini saya menikah dan hidup dengan orang yang salah?!" kesal Karmila sambil menatap tajam ke arah Gugun atau Faiz palsu.


"Itu karena aku mencintaimu Dek, aku tidak ingin Faiz yang memilikimu," jelas Gugun.


"Itu namanya bukan cinta, tetapi hanya obsesi semata. Kau hanya ingin mengalahkan Bang Faiz!" teriak Karmila.


"Tidak itu tidak benar."


"Ceraikan aku! Aku tidak ingin masih berstatus istrimu."


"Kenapa Ibu mencegahku? Saya benci dia Bu, benci! Dia telah menghancurkan masa depanku." Air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"Masa depanmu tidak akan hancur Dek Mila, aku akan menemanimu sepanjang waktu," ucap Faiz sambil mengelap air mata dengan jari telunjuknya.


"Jangan sentuh istriku!" teriak Gugun tidak terima Faiz menyentuh pipi Karmila.


"Dia dulu adalah milikku dan akan kembali menjadi milikku!" Radit atau Faiz asli tersenyum sinis.


"Kurang ajar!" Gugun hendak memukul Faiz. Namun dicegah oleh polisi.


"Sebaiknya anda semua pergi sekarang agar tidak terjadi keributan dan hal-hal yang tidak diinginkan."


"Baik Pak kalau begitu kami permisi dulu," ucap Faiz sambil melirik ke arah Karmila, Bu Lela dan juga Ayu.


"Ayo Bang."


"Kau tenang saja Mila, Gugun mendapatkan hukuman seumur hidup sehingga dia tidak akan bisa mengganggu hidupmu lagi."


"Tapi Bu, dia tidak mau menceraikannya Mila."


"Kalau itu tenang saja, itu ada aturannya, kau tidak akan terbelenggu dengan statusmu sebagai istrinya. Lagipula saat menikah dulu dia menggunakan nama Faiz saat menikahimu."


"Jadi, pernikahan kami tidak sah Bu?"


"Entahlah, yang ibu tahu kau tetap akan bisa menikah dengan Faiz putraku yang sesungguhnya. Hanya saja masih butuh waktu."


"Apakah Bang Faiz masih bisa menerimaku setelah aku tidur dengan orang lain?" Karmila terlihat ragu.


"Itu bukan salahmu Mila, salah Gugun yang menipumu dan salahku yang tidak bisa cepat mengatasi masalah. Sudahlah! Dari sini kemana kita sekarang?"


"Mas Radit, eh Faiz bisakah kita mampir dulu ke rumah sakit? Om dan Tante pasti akan sangat sedih melihat Radit yang sebenarnya sudah tiada. Pak polisi tadi sudah mengabarinya."


"Baiklah Ayu, kita ke rumah sakit dulu."

__ADS_1


Mereka pun ke rumah sakit menaiki taksi. Benar saja sampai di sana kedua orang tua Radit menangis histeris dan saat melihat Faiz melangkah ke arahnya Bu Tidi langsung berlari ke arah Faiz dan memeluk dengan erat.


"Putraku benar-benar sudah tiada, kumohon jangan kembalikan wajahmu seperti semula agar jika aku kangen pada putraku, aku masih bisa memandang wajahnya di wajahmu," mohon Bu Tidi.


Faiz tidak menjawab melainkan melirik ke arah Bu Lela dan Karmila. Untungnya keduanya sama-sama mengangguk setuju.


"Aku juga tidak ingin kau merubah wajahmu ke wajah semula Bang karena aku akan menganggapmu Gugun kalau begitu," sambung Karmila.


"Baiklah, bagaimana nyamannya saja menurut kalian," ucap Faiz pasrah. Toh wajah aslinya sudah digunakan orang lain untuk melakukan aksi kejahatan.


"Boleh aku minta satu hal Nak?" tanya Pak Johan sambil melangkah ke arah mereka semua.


"Apa Pak?"


"Bisakah kau tetap tinggal bersama kami?"


"Bu?" Faiz meminta pendapat Bu Lela.


"Terserah kamu Radit, ibu tidak apa-apa."


"Boleh asal setelah daya menikah dengan Karmila."


"Baiklah aku akan menunggu masa itu. Sekarang saya akan mengurus pemakaman putra saya dulu."


"Iya Bu."


"Sabar ya Tante," ucap Ayu sambil mengelus punggung Bu Tidi. Ayu tahu berat menjadi Bu Tidi saat ini."


"Kita ke rumah dulu ya Bang," ajak Karmila.


"Ke rumah mana?"


"Ke rumah yang berada di lahan pekuburan itu."


"Bukankah kau sangat tidak ingin ke sana Dek Mila?" Faiz terlihat heran.


"Aku ingin membakar rumah itu agar makhluk halus yang ada di sana tidak mengganggu warga sekitar. Lagipula itu tanah pekuburan, kan? Jadi aku akan mengembalikan pada asalnya."


"Baiklah kalau itu keputusannmu. Kita harus menemui kepala desa dan berembuk dengan warga sekitar terlebih dulu."


"Iya Bang."


"Ayu kamu mau ikut?"


"Tidak saya mau menemani Tante saja."


"Baiklah kalau begitu kami bertiga pamit."


"Baiklah hati-hati!"


Setelah berembuk dengan semua orang akhirnya mereka setuju dengan Karmila untuk membakar rumah itu. Setelah mengamankan kabel-kabel yang bisa membahayakan keselamatan dan juga bisa menjadi perantara api ke rumah-rumah penduduk yang lainnya mereka bergotong royong membakar rumah itu.


"Akhirnya hilang sudah kenangan buruk dalam hidupku," ucap Karmila sambil memandangi kobaran api yang merah menyala. Warga masih waspada, takut-takut api menjalar ke tempat yang tidak diinginkan.


"Sudah jadi abu, kita pergi sekarang!" ajak Faiz melihat rumah sudah rata dengan tanah.


Karmila mengangguk dan berbalik. Faiz menggenggam tangan Karmila untuk pergi dari tempat itu.


"Hei tunggu!" Suara tua mengangetkan Karmila sehingga langsung berbalik.


"Selamat Karmila kau bisa lepas dari segalanya yang bisa menghancurkan dirimu."


"Nenek? Nenek masih hidup?" tanya Karmila dengan antusias dan tersenyum senang.


"Dia masih hidup atau sudah menjadi hantu?" Orang-orang yang terlibat dalam pembakaran rumah nenek tua itu menjadi ketakutan sendiri melihat wanita tua renta dengan tubuh ringkih itu ada di hadapan mereka semua.


Nenek tua itu beralih menatap para warga dengan tatapan tajam.


"Ampuni kami Nek, kami melakukan itu semua gara-gara termakan fitnah," ucap mereka serempak dengan tubuh yang bergetar takut dan nenek itu langsung tertawa renyah membuat semua orang bertambah takut kecuali Karmila, Faiz dan Bu Lela yang masih yakin kalau nenek itu masih hidup.


.............TAMAT................

__ADS_1


__ADS_2