
Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Faiz saat dokter kandungan menyudahi pemeriksaan.
"Ibu Karmila tidak apa-apa, mungkin tadi hanya kram perut saja," jelas dokter dan disambut helaan nafas lega dari Faiz.
"Tuh kan tidak masalah," protes Karmila.
"Apa itu tidak bahaya dokter?" tanya Faiz tanpa menghiraukan protes dari Karmila.
"Tidak masalah asalkan tidak terlalu sering. Saya sarankan kalau bergerak jangan sembarangan bergerak dan pola makannya pun harus dijaga."
"Baik Dok."
Setelah mendapatkan vitamin dan nasehat dari dokter keduanya pun pulang ke rumah.
Esok Hari Faiz terlihat termenung di kursi.
"Ada apa?" tanya Karmila melihat Faiz seolah memikirkan sesuatu yang berat. Terlihat dari garis wajahnya yang berkerut.
Karmila meletakkan kopi di atas meja kemudian duduk di kursi menghadap Faiz.
"Kalau ada masalah Abang bisa berbagi denganku."
Faiz menggeleng. "Tidak ada masalah, hanya saja aku mendapatkan tugas keluar kota untuk satu minggu ini sedangkan keadaan kamu tidak mungkin aku tinggalkan. Membawamu juga tidak mungkin. Perjalanan jauh bisa membuatmu kecapekan dan keguguran," jelas Faiz panjang lebar.
"Aku tidak apa-apa ditinggal sendiri," ucap Karmila dengan begitu tenang.
"Benarkah? Kalau ada apa-apa bagaimana?"
"Bang Faiz tenanglah, kalau aku merasa tidak enak badan aku akan langsung menelpon bibi ataupun Qori."
"Bagaimana kalau darurat?"
"Kan banyak tetangga di sekitar sini, meskipun rumah ini agak jauh dari rumah mereka, kan Karmila bisa berteriak meminta tolong."
"Baiklah kalau kau berani tinggal sendirian. Nanti sore Abang berangkat."
Karmila hanya mengangguk. Dia berusaha bersikap tenang-tenang saja padahal dalam hati ada rasa takut yang mendera jika harus tinggal sendirian.
"Tidak, aku tidak boleh takut. Ketidakhadiran Bang Faiz di rumah ini justru menguntungkan bagiku," batin Karmila.
"Tapi aku ada permintaan selama tidak ada di rumah, kau jangan kemana-mana dan jangan mau menerima tamu kecuali keluarga terdekat."
"Kenapa Bang?"
"Demi keselamatanmu. Kamu tidak tahu, 'kan hati setiap orang? Zaman sekarang hati manusia tidak mudah ditebak, yang baik belum tentu tulus dan yang terlihat jahat belum tentu menyengsarakanmu. Semua itu semu, jadi berhati-hatilah pada setiap orang yang kamu temui."
Karmila tertegun, setiap orang yang berbicara padanya seolah-olah ingin mengatakan bahwa dunianya tidak baik-baik saja.
"Ya Bang." Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir Karmila sebab saat ini tidak tahu lagi harus berbicara apa.
__ADS_1
"Terutama si Radit itu, jauhi dia!"
"Ya Bang." Karmila tidak tahu kenapa keduanya seolah bermusuhan, tetapi dia tidak ingin memperpanjang urusan kalau harus bertanya lebih jauh pada Faiz. Karmila yakin, baik Faiz atau Radit tidak akan ada yang mau menjelaskan.
"Minum kopinya Bang!" pinta Karmila melihat Faiz begitu serius bicara tanpa mengindahkan minuman yang dibuatnya.
"Oh iya." Akhirnya Faiz menyeruput kopinya.
"Sarapannya sudah aku siapkan di dapur, apa perlu dibawa kemari?"
"Tidak perlu, kita makan di dapur saja." Faiz bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. Karmila pun mengikuti dari belakang.
Mereka berdua pun sarapan bersama di dapur.
"Setelah makan kita istirahat sebentar setelah itu kita akan ke mall," ucap Faiz disela makannya. Pria itu tampak minum sebelum melanjutkan makannya kembali.
"Ke mall? Memang Abang punya banyak uang?" tanya Karmila tak percaya. Sebelumnya Faiz tidak pernah mengajaknya ke tempat itu.
"Iya Abang dapat bonus banyak karena penjualan produk jauh melampaui target. Jadi sebelum Abang tinggal kamu ke luar kota maka kita harus membeli kebutuhan kamu selama satu minggu ini."
"Haruskah ke mall? Bagaimana kalau ke pasar saja agar bisa mendapatkan harga yang lebih hemat? Kita harus banyak menabung Bang, untuk biaya lahiran anak kita nantinya."
"Kau hamil muda, tidak baik jika berdesakan di pasar. Lagipula soal biaya persalinan nanti, saya sudah menyiapkan."
"Oh ya?" tanya Karmila dengan ekspresi sumringah. Namun, dalam hati dia bertanya-tanya dari manakah Faiz mendapatkan uang sebanyak itu.
"Terima kasih," ucap Karmila dengan senyuman manis.
"Sama-sama istriku sayang," jawab Faiz sambil mengecup kening Karmila.
"Sudah lanjutkan makanmu!"
Karmila mengangguk kemudian menyuapkan nasi kembali ke mulutnya sendiri.
Selesai makan sepasang suami istri itu pun pergi ke mall. Berbelanja banyak kebutuhan hidup untuk Karmila selama satu minggu ini.
"Semuanya sudah ada, saya pikir kamu tidak akan perlu keluar rumah lagi selama aku tidak ada di rumah."
Faiz menata belanjaan ke dalam kulkas dan tempat-tempat lainnya.
"Iya saya janji kalau tidak ada yang penting tidak akan keluar," ucap Karmila.
"Kau memang istri yang baik," ucap Faiz sambil memegang dagu Karmila. "Jangan pernah berpikir untuk mengkhianatiku."
Deg.
Mengapa Karmila merasa aneh dengan pernyataan Faiz. "Apa maksud Abang? Apa selama ini aku pernah tidak setia?"
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya takut kadang hubungan LDR bisa membuat salah satu pasangan tersesat," ujar Faiz lalu terkekeh.
__ADS_1
"Kalaupun itu terjadi bukan aku pelakunya mungkin Abang sendiri," ujar Karmila dengan wajah yang ditekuk. Dia tidak mau dianggap macam-macam. Dia bukanlah wanita murahan yang gampang mengkhianati pasangan.
"Lagipula kita hanya berpisah satu minggu saja, bukan dalam kurun waktu yang lama."
"Iya, maaf. Aku tahu kau tidak seperti istri teman-temanku. Jangan ngambek dong!" bujuk Faiz.
Karmila mengangguk, tapi dalam hati masih merasa dongkol.
"Sudahlah kita istirahat saja sekarang, bukankah jam 5 sore nanti Abang akan berangkat?"
"Ya sudah ayo!"
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kini tibalah waktunya Faiz pergi keluar kota. Pria itu langsung berpamitan dan mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Abang berangkat, ingat pesan-pesanku!" ucap Faiz sambil melambaikan tangan ke arah istrinya sebelum Karmila menutup pagar.
Karmila mengangguk sambil tersenyum lalu membalas lambaian tangan sang suami.
"Abang juga hati-hati!" seru Karmila.
Karmila masuk ke dalam rumah. Mengunci pintu dari dalam lalu beranjak ke dapur untuk membersihkan piring-piring dan alat-alat memasak yang belum sempat dicuci.
Setelah selesai berkutat di dapur dia langsung mandi sebab sebentar lagi masuk waktu Maghrib.
Selesai shalat Magrib, Karmila duduk di atas ranjang sambil melihat-lihat kalung yang ditemukannya kemarin sore.
Tok tok tok.
Terdengar pintu diketuk dari luar.
"Siapa sih yang bertamu di waktu Maghrib seperti ini?" Karmila turun dari ranjang dan berjalan keluar.
"Jangan menerima tamu!"
Kata-kata Faiz sebelum pergi terngiang di telinganya. Oleh karena itu Karmila sedikit ragu untuk meneruskan langkahnya.
"Tapi bagaimana kalau ada yang penting? Kalau tetangga perlu padaku tidak digubris apakah mereka akan perduli jika aku butuh bantuan?"
Akhirnya Karmila memutuskan untuk membuka pintu.
Namun, wanita itu kaget karena saat pintu dibuka terlihat gadis cantik dengan wajah pucat memandang lekat wajahnya.
"Kembalikan kalungku!" Gadis itu mengulurkan tangannya yang penuh darah ke depan dada Karmila.
"Ka–kamu sia–pa?" tanya Karmila ketakutan.
"Kembalikan kalungku!" pinta gadis itu dengan suara lirih.
Bersambung.
__ADS_1