
"Darimana saja?" Pertanyaan Faiz mengangetkan Karmila.
"Mas Faiz sudah pulang?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Bukannya menjawab malah protes.
"Saya mencari Bang Faiz di sekitaran makam, tapi tidak menemukanmu malah saat akan kembali tersesat, sebab pemadaman listrik secara mendadak itu membuatku hilang arah. Bang Faiz sendiri kemana saja, kenapa tidak cepat kembali?"
"Oh saya kebetulan diajak tetangga ke rumahnya. Di sana ramai sekali. Berhubung hari sudah akan pagi saya pikir tidak ada salahnya bergabung dengan mereka."
"Baiklah kita masuk saja sekarang. Sebentar lagi waktu subuh akan tiba."
Faiz mengangguk dan keduanya pun masuk ke dalam rumah.
Pagi menjelang, matahari mulai keluar dari peraduannya. Sinar terang mulai menerobos ke sela-sela jendela. Karmila menarik gorden kemudian membuka jendela lebar-lebar. Dia berharap dengan begitu aura negatif yang ada di dalam rumah bisa keluar dan berganti dengan udara yang baru dan fresh yang mungkin saja bisa membawa aura positif di dalamnya.
Selesai mandi dan makan Faiz pamit pada Karmila untuk bekerja.
"Hati-hati di jalan Bang."
"Oke siap, kamu jangan lupa hati-hati juga ya. Jangan lupa jaga kandungan dalam perutmu."
"Iya Bang."
Faiz masuk ke dalam mobil dan langsung mengendarai kendaraannya itu keluar dari pekarangan rumah.
"Huh akhirnya aku sendiri lagi." Karmila menghembuskan nafas berat.
"Karmila sini!" Seorang tetangga seumuran Karmila terlihat melambaikan tangan.
"Kamu siapa?" tanya Karmila dan langsung menghampiri wanita yang berdiri di luar pagar.
"Bukan siapa-siapa, hanya tetangga saja. Main dong ke rumah biar kenal. Masa kamu di rumah doang," protes wanita itu.
Karmila diam, dia tampak berpikir sejenak.
"Daripada di rumah sendirian yang bisa-bisa hal aneh terjadi mending aku ikut dia saja," gumam Karmila.
"Bagaimana mau nggak? Aku baru saja ambil buah pepaya nih. Kita rujakan yuk!" Wanita itu memperlihatkan satu buah pepaya di tangan kanannya dan satu bungkus petis juga satu botol kecil berisi cuka di tangan kirinya.
Mendengar kata rujak saja membuat lidah Karmila menetes apalagi saat melihat buah pepaya.
"Baiklah, kalau begitu saya kunci rumah dulu."
Wanita itu mengangguk dan menatap Karmila tidak berkedip. Beberapa saat kemudian mereka pun pergi bersama.
"Oh ya perkenalkan namaku Ayu," ujar wanita itu memperkenalkan diri sambil terus melangkah.
__ADS_1
"Bagaimana sudah dapat buah pepayanya?" tanya Seorang pria pada Ayu saat mereka baru sampai di depan pagar rumah Ayu.
Deg.
Jantung Karmila seakan berhenti mendadak.
"Mengapa suaranya seperti pria semalam?" gumam Karmila.
"Dia kakak sepupuku, tadi pagi baru sampai ke sini. Rencananya dia akan menginap di sini untuk satu bulan karena sedang liburan," jelas Ayu.
"Sekarang masih pagi," protes Karmila.
"Maksudku pagi-pagi buta dia sampainya ke rumah," terang Ayu.
Sontak saja Karmila langsung menatap wajah pria itu begitupun sebaliknya. Pandangan mereka bertemu. Pria itu tersenyum manis pada Karmila.
"Mengapa aku seperti mengenalnya?" Senyuman pria itu seolah menusuk ke dalam hati Karmila.
"Hai Namaku Radit, siapa namamu?" Pria itu menyapa Karmila dengan ramah.
"Oh Radit, kupikir Faiz yang semalam. Apa ada masalah ya dengan pendengaranku, sehingga semua pria suaranya akan terdengar sama?" Karmila mengucek-ngucek kedua telinganya.
"Tapi kenapa Bang Faiz suamiku suaranya malah berbeda?"
"Ayo bawa dia masuk Yu, kenapa kamu malah ikut berdiri di luar pagar," protes pria yang bernama Radit itu.
"Oh sudah menikah ya?"
Kali ini Karmila dan Ayu mengangguk bersamaan.
"Tidak masalah, kita bisa menjadi teman. Tidak apa-apa, bukan?"
Karmila mengangguk. Wanita itu duduk di atas teras rumah Ayu. Radit menghampar tikar dari dari daun pandan dan mempersilahkan Karmila untuk pindah ke atas alas itu.
"Tidak apa-apa saya duduk di sini saja," tolak Karmila.
"Ini masih pagi dan hawanya masih dingin. Tidak baik kalau orang hamil duduk di atas keramik tanpa alas, kau bisa kekurangan darah."
"Dia tahu aku hamil?" Karmila terbelalak.
"Siapa sebenarnya dia?" batin Karmila. Sejak semalam Karmila selalu merasakan keanehan di sekitarnya. Kepalanya hampir pecah memikirkan semua. Semoga suatu saat dirinya menemukan titik temu atas semua yang menjadi rasa penasarannya.
"Maaf kalau saya salah prediksi, saya pikir dirimu hamil karena wajahmu terlihat pucat."
"Tidak apa-apa."
Ayu datang dari dapur dengan membawa ulekan, air, baskom, pisau dan garam Wanita itu langsung duduk di samping Radit.
__ADS_1
"Mana pisau dan baskom nya, biar saya yang mengupas dan memotong-motong buah pepayanya," pinta Karmila.
Setelah memberikan pisau dan baskom kepada Karmila, Ayu langsung menuangkan petis ke atas ulekan.
"Jangan pakai petis, tanyakan sama Karmila dulu mungkin dia lebih menyukai terasi yang dicampur dengan cuka dan air untuk merujak buah pepaya."
Untuk sekali lagi Karmila terkejut.
Mengapa Radit ini seolah tahu tentang diriku? Ingatan Karmila melayang ke satu tahun silam.
"Emang Bang Faiz kira aku hamil apa bawain mangga muda begini?" protes Karmila sambil merangkul bahu Faiz.
"Emang orang hamil aja yang boleh rujakan mangga muda? Jangan begini Dek malu dilihat orang, meskipun kita sudah bertunangan, tetapi tetap saja kita berdua bukan muhrim. Kalau mau pegang-pegangan apalagi pelukan nanti saja ya sesudah kita menikah," ujar Faiz dan tentu saja Karmila melepas rangkulannya dengan bibir yang mencebik kesal sebab dirinya disoraki oleh teman-temannya.
"Jangan cemberut begitu, nih aku juga bawa buah-buahan yang lainnya." Faiz mengeluarkan buah apel, pir, nanas, dan kedondong, juga belimbing dari dalam kantong plastik dan itu tidak membuat Karmila sedikitpun senang.
"Nggak senang ya? Tenang aku juga bawa buah kesukaanmu." Faiz mengeluarkan kotak dari dalam plastik yang lain dimana kotak itu berisi buah pepaya setengah muda yang sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil dan tipis.
"Ini ada sambal terasi plus cuka kesukaanmu. Buah yang lainnya untuk teman-temanmu saja.
"Mas Faiz ternyata tidak lupa ya dengan buah favoritku," ujar Karmila dengan senyum yang mengembang.
"Karmila, Karmila! Buah pepaya saja bikin kamu senang. Tuh di ladang tetangga banyak noh," ledek seorang teman Karmila.
"Biarkan saja, ini rasanya pasti beda sebab oleh-oleh dari Bang Faiz."
"Hmm, tunangan datang dari kota masa oleh-olehnya itu sih, tapi nggak apa-apa yang penting kami dapat buah-buahan ini lumayan untuk rujakan." Mereka semua terbahak-bahak. Senang meledek Karmila.
"Sudah, sudah! Kalau tertawa terus saya ambil loh buahnya," ancam Karmila dan akhirnya teman-temannya langsung diam.
"Tenang saja saya membawakan oleh-oleh khusus untuk dirimu. Nanti saja saya memberikannya dan saya mohon simpan dengan baik-baik ya Dek Karmila?"
"Pasti Bang."
"So sweet, jadi penasaran nih apa oleh-olehnya?" tanya teman-teman Karmila serentak.
"Rahasia kami berdua dong," ujar Karmila.
"Bang Faiz?" Auw!" Tidak sengaja tangan Karmila teriris pisau sebab memotong buah pepaya sambil melamun.
Karmila langsung menghisap darah di tangannya agar tidak bertambah banyak yang keluar.
"Jangan dihisap Dek Karmila nanti ada yang termakan darahnya. Saya ambilkan kain dulu." Radit memotong ujung kemejanya dengan pisau kemudian dibebatkan ke jari tangan Karmila untuk menghentikan pendarahan sementara.
"Ayu ambilkan obat merah!"
"Bang Faiz?" Karmila menatap Radit tidak percaya. Apa yang dilakukannya persis dengan yang dilakukan Faiz dulu. Pria itu tidak akan pernah mengizinkan Karmila menghentikan pendarahan dengan cara mengisap jari seperti layaknya orang lain. Namun, pria itu akan mengambil kain yang ada di sekitarnya termasuk bajunya sendiri yang masih dipakai.
__ADS_1
Bersambung.