Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 32. Pencarian


__ADS_3

Kamila mengerjakan mata tatkala sinar matahari menyilaukan mata.


"Syukurlah kau sudah sadar," ucap Radit melihat Karmila membuka mata.


"Aku ada dimana?" tanya Karmila bingung sambil menatap ke atas, ke langit-langit kamar Ayu.


"Kamu semalam ditemukan pingsan di sebuah tanah kosong di pinggir makam," jawab Radit dan Karmila langsung menatap wajah Radit sambil mengingat-ingat.


"Kau minum dulu ya, aku bawakan air untukmu. Setelah ini kita makan bareng," ujar Ayu sambil terus berjalan mendekat.


"Kau–" Tiba-tiba Karmila terdiam. Kejadian tadi malam berputar di ingatannya.


Wajah Ayu terlihat seperti wanita cantik dengan usus keluar dari perut dan menjuntai ke bawah.


Ayu mengernyitkan dahi melihat raut wajah Karmila nampak seperti orang yang ketakutan.


"Ada apa? Kalau ada sesuatu bisa kau ceritakan pada kami," ucap Radit membuat Karmila menoleh ke arah Radit dan bertambah rasa takutnya.


"Kalian ... kalian ... kalian adalah hantu," ucap Karmila gugup dengan suara yang bergetar.


"Apa yang kau katakan?" tanya Ayu tidak paham. Namun, tanpa pikir panjang Karmila langsung bangkit berdiri dengan gusar dan kabur keluar rumah.


"Hei Karmila tunggu!" teriak Ayu dan tidak digubris sama sekali oleh Karmila.


"Kita kejar!" seru Radit sambil berlari mengejar Karmila.

__ADS_1


Ayu pun ikut mengejar Karmila.


Awalnya keduanya hampir sampai di sisi Karmila, tetapi ada kecelakaan motor yang membuat keduanya berhenti sebentar dan menolong orang yang jatuh dari motornya itu sehingga mereka kehilangan jejak.


"Mas Radit, Karmila sudah menghilang!" seru Ayu saat sudah memastikan orang yang ditolongnya itu tidak apa-apa.


"Iya, ya kita teledor. Seharusnya Yang menolong wanita tadi hanya satu diantara kita dan salah satunya tetap mengejar Karmila."


"Mas Radit benar, tetapi ini sudah kadung terjadi. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Kejar dia sampai dapat sebab aku sangat khawatir dengan keadaannya. Aku tidak mau terjadi hal fatal yang bisa membuat dia dalam keadaan bahaya."


"Kalau begitu Mas Radit ambil jalur yang kanan dan aku yang kiri," saran Ayu saat melihat ada persimpangan jalan di depannya.


"Baik," sahut Radit dan langsung berlari mengejar Karmila begitupun dengan Ayu walaupun mereka sudah mengambil arah yang berbeda.


"Tahan nafas, kalau tidak kamu akan ketahuan Karmila," batin Karmila. Wanita itu mencoba menahan nafas di tengah-tengah rerumputan plus pepohonan yang rindang. Karmila mengingat cerita teman-temannya semasa sekolah yang mengatakan jangan sampai bernafas jikalau bertemu hantu agar keberadaannya tidak terdeteksi.


"Selalu baca lafadz Allah dan jangan sampai ada jeda nafas karena saat itu setan bisa merasuki tubuhmu!" Itulah nasehat salah satu temannya dulu. Meskipun perkataan itu belum tentu benar, nyatanya sudah menjadi darah daging dalam tubuh Karmila.


"Kemana larinya Karmila?" tanya Radit sambil menggaruk kepala.


Mungkin aku salah arah dan yang benar adalah jalur yang diambil oleh Ayu," tandas Radit sebab sejauh mata memandang tidak ada seorangpun yang melintas di jalan raya itu.


"Lebih baik aku berbalik dan menemui Ayu." Radit memutar langkah dan berlari menyusul sepupunya itu.

__ADS_1


"Bagaimana Yu?" tanya Radit sambil terus melangkah ke arah Ayu.


"Tidak ketemu Mas, Mas Radit juga begitu?"


"Iya Ayu. Kalau tidak, mana mungkin aku kembali seorang diri."


Ayu mengangguk dan berkata, " Ada apa ya dengan Karmila, tidak biasanya dia seperti itu."


Radit hanya menggendikkan bahu pertanda dia juga tidak paham. Namun, menangkap dari perkataan Karmila sebelum pergi Karmila menganggap bahwa Ayu dan Radit adalah seorang hantu.


"Kenapa dia ya, Mas? Mengapa jadi aneh begitu?" tanya Ayu, masih tidak mengerti.


"Sepertinya dia mengalami tekanan batin dan saat ini sedang syok sehingga membuatnya berhalusinasi. Kamu dengar sendiri 'kan apa yang dia katakan tadi? Dia mengatakan kita ini hantu."


"Iya Mas aku dengar. Benar-benar aneh itu Karmila. Bagaimana sekarang? Apakah kita akan terus melakukan pencarian ataukah akan kembali ke rumah saja?"


"Tetap lanjutkan Ayu! Kan saya sudah bilang Karmila dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Kalau kau mau pulang silahkan, tapi aku akan tetap melakukan pencarian."


"Kalau begitu aku ikut dengan Mas Radit."


Sementara mereka berdua mengobrol, Karmila keluar dari persembunyiannya.


"Hei siapa itu!" Terdengar suara seorang pria yang berteriak membuat Karmila bertambah syok.


"Tangkap dia! Wanita itu sepertinya mata-mata!"

__ADS_1


"Aduh bagaimana ini?" Karmila bingung seorang diri.


Bersambung.


__ADS_2