Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 31. Dikejar Setan


__ADS_3

"Se–bentar," ucap Karmila gugup bercampur takut. Lalu dengan cepat melangkah ke dalam kamar dan kembali membawa kalung yang diletakkan di atas kasur tadi.


"Ini kalungmu?" tanya Karmila memberanikan diri sambil menunjukkan kalung di tangannya kepada gadis yang berwajah pucat itu.


Gadis itu mengangguk lemah.


Karmila menyodorkan kalung tersebut. "Ambillah!"


Wanita itu mengambil kalung tersebut dari tangan Karmila dan Karmila kaget saat menyentuh tangan gadis itu dingin seperti es.


"Terima kasih," ucap gadis itu dengan ekspresi datar lalu berbalik.


"Hei tunggu dulu! Kau siapa?" teriak Karmila. Namun, wanita itu langsung menghilang.


"Astaghfirullah, berarti memang benar aku tadi berbicara dengan hantu." Darah di tubuh Karmila berdesir hebat.


Karmila kemudian berlari ke arah kamar lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tanpa memperdulikan lagi akan bayinya di dalam perut.


"Ya Allah mengapa semenjak pindah ke rumah ini saya begitu banyak mengalami keanehan. Ada apa sebenarnya ini?" Karmila sama sekali tidak paham dengan keadaan ini.


"Ah rasanya aku tidak kuat jika harus diganggu terus begini." Karmila menutup wajah dengan kedua tangannya.


Tiba-tiba ada suara benda yang bergetar hebat hingga membuat Karmila kaget.


"Suara apa itu?" Karmila memiringkan telinganya untuk memastikan suara itu berasal dari arah mana.


"Apa dari kamar yang ada di dekat kamar mandi lagi?" Rasa takut dan penasaran untuk kesekian kalinya datang secara bersamaan.


"Aku harus melihatnya." Dengan mengendap-endap Karmila berjalan ke arah dapur.


Brak.


Pintu kamar yang ada di dekat dapur terbuka sendiri. Suara-suara lantunan tembang jawa kuno tiba-tiba terdengar pilu seakan mengiris hati.


"Bodoh mengapa aku ke sini lagi!" Karmila merutuki dirinya sendiri.


Di depannya nyata keranda mayat bergetar hebat kemudian seperti biasa keluar seorang gadis yang memakai baju pengantin.


"Dia lagi, mau apa dia sebenarnya?" tanya Karmila heran, bukannya kabur wanita itu malah tertegun.


"Tinggalkan Faiz jika kau ingin selamat!" terdengar suara seorang pria yang menggema di udara.


"Siapa kamu? Tunjukkan wujudmu!" teriak Karmila seolah mengindahkan rasa takutnya. Matanya tetap fokus pada wanita memakai gaun pengantin dimana melayang ke arah Olivia. Namun, entah mengapa tidak sampai-sampai.


"Tinggalkan Faiz!" Suara seorang wanita menggema di langit-langit kamar.


Ini adalah momen kedua Karmila mengalami kejadian yang sama.

__ADS_1


"Katakan mengapa aku harus meninggalkannya!" teriak Karmila dengan suara bergetar.


"Karena dia jahat, perampok, pembunuh!" Kali ini yang menjawab bukan hanya suara satu orang melainkan banyak.


"Tidak kalian pasti berbohong!" teriak Karmila lagi. Dia sudah lama mengenal Faiz dan yakin suara-suara gaib itu hanya ingin menyesatkan dirinya. Dia memang mencurigai suaminya sendiri, tetapi bukan sebagai pembunuh melainkan sebagai pencuri saja dan itu hanya praduga saja yang Karmila harapkan hanyalah salah sangka semata.


"Kau tidak percaya?"


"Tidak!" teriak Karmila.


"Kalau begitu kau juga harus kami bunuh, siapapun yang dekat dengannya harus kita bunuh!" Suara itu seolah memprovokasi makhluk yang lain.


"Tidak." Karmila menggeleng sambil terus mundur.


"Kau benar wanita ini seharusnya kita bunuh karena tengah mengandung anak dari penjahat itu."


"Tidak!" Tubuh Karmila semakin bergetar.


Wanita berbaju pengantin pun turun dari udara tepat di hadapan Karmila, membuat wanita itu sok saja.


"Sebenarnya aku membiarkan dirimu agar bisa membalaskan dendam kami pada Faiz, tapi ternyata kau wanita tidak berguna." Wanita berpakaian pengantin itu mengulurkan tangannya untuk mencekik leher Karmila, tetapi Karmila langsung menghindar kemudian kabur dari rumah.


"Hosh, hos, hos, untung saja pintunya tidak terkunci secara mendadak." Karmila terus saja berlari meninggalkan rumah itu tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.


"Auw!" Karmila berteriak kencang sambil menutup mata saat di depannya terlihat seekor kelelawar hitam berwajahkan seorang pria dengan hampir separuh wajah tertutup borok.


"Tidak, apapun yang menghadang perjalananku aku harus meninggalkan rumah itu." Tekad Karmila sudah bulat. Lebih baik tinggal menumpang pada bibi dan pamannya daripada harus tinggal di rumah sendiri, tetapi hidupnya tidak tenang.


Karmila membuka mata saat merasa tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Ternyata benar manusia kelelawar itu sudah lenyap entah kemana.


"Huufff." Karmila menarik nafas panjang.


"Dimana rumah Ayu mengapa di setiap perjalanan aku tidak melihatnya?" tanya Karmila dalam hati.


"Mengapa juga tidak ada satupun rumah tetangga yang terlihat? Apa aku mengambil arah yang salah. Ah sudahlah tidak ada waktu untuk berpikir."


Karmila terus saja melangkah dan langkahnya terhenti tatkala kini di hadapannya berdiri beberapa pria dengan wajah polos tanpa mulut, tanpa hidung dan hanya terlihat bola matanya yang berwarna merah menyala.


Ada juga dua wanita cantik dengan aroma darah bau busuk dan salah satunya terlihat ususnya menjuntai ke luar.


Mereka semua memandang Karmila dengan ekspresi penuh kebencian.


"Ya Allah, makhluk apa ini?" Tubuh Karmila bergidik ngeri dan perutnya langsung mual.


"Hoek, hoek." Sambil memuntahkan isi perutnya Karmila terus saja berlari dan makhluk-makhluk tadi terus saja mengikutinya.


"Tolong! Adakah orang di sini?" Meskipun logikanya berkata tidak mungkin ada orang dalam tempat gelap dan sepi seperti sekarang, Karmila tetap berusaha berteriak sekuat tenaga untuk meminta pertolongan.

__ADS_1


Dia berharap penghuni rumah yang berada di sekitar akan keluar dan mencari keberadaan dirinya. Faktanya tidak ada rumah yang terlihat sejauh mata memandang.


Karmila melihat ke belakang, makhluk-makhluk yang mengejar dirinya hampir sampai.


"Kali ini akan tamat riwayatku." Karmila mulai putus asa. Namun tidak menghentikan larinya.


"Auw!" Wanita itu meringis kesakitan saat kakinya tersandung batu. Dia memegang perutnya sambil berjalan tertatih-tatih. Darah merembes dari dari dalam daster yang dikenakannya dan mengalir ke bawah berisik yang mulus.


Tar


Kilat menyambar di udara membuat cahaya menerangi tubuh Karmila. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.


Melihat aliran darah di betis Karmila para makhluk aneh itu semakin terlihat beringas dan seakan berlomba-lomba untuk sampai di sisi Karmila.


Sepertinya darah yang keluar dari tubuh Karmila membuat mereka tertarik.


"Ah jangan kumohon!" Kini Karmila sudah dikerubungi oleh makhluk itu dan salah satu ada yang menjilat darah di betisnya dan yang lain ada yang mengekang kedua tangan Karmila.


"Jangan! Sakit!" teriak Karmila saat wanita dengan usus menjuntai keluar itu memijit perut Karmila dengan keras sehingga darah yang mengalir keluar dari tubuhnya semakin banyak.


"Radit tolong!" teriak Karmila saat melihat Radit melintas di hadapannya.


Anehnya semua makhluk yang tadi mengekang Karmila melepaskan wanita itu begitu saja.


Dengan langkah tertatih Karnila mengejar dirinya yang seolah tidak mendengarkan teriakannya.


"Radit tunggu!"


Semakin Karmila berteriak semakin Radit mempercepat langkahnya.


"Kenapa dia aneh? Itu bukannya rumah Ayu, ya?" Karmila tiba-tiba melihat rumah Ayu di depan sana.


Wanita itu tersenyum dan terus melangkah pelan.


Radit berhenti di depan rumah Ayu tanpa menoleh.


"Radit tolong aku!" Inginnya berteriak, tetapi suara yang keluar hanya lirih saja. Karmila benar-benar sudah kehilangan tenaga.


Radit menoleh dan Karmila tersenyum padanya.


"Mengapa wajahmu pucat?" lirih Karmila di tengah kilat yang masih terus menyambar.


Radit menatap Karmila dengan tatapan kosong kemudian lidahnya menjuntai keluar dan panjang sekali seakan melilit tubuh Karmila.


"Radit! Ternyata kau hantu juga," lirih Karmila lalu wanita itu pingsan seketika.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2