
Sementara Radit mengikuti jejak para polisi turun ke bawah. Ada 3 mayat yang tergeletak di sana. Namun, yang mencuri perhatian adalah mayat lelaki yang persis Radit.
"Ini–" Polisi sedikit ragu untuk berasumsi.
"Ini pasti Radit yang asli, Faiz palsu mengubah wajahku menjadi wajah pria ini untuk menghilangkan jejak bahwa sebenarnya pria ini sudah dibunuhnya," jelas Radit. Dia sudah tidak kaget lagi karena sudah mendengar cerita Karmila yang dikejar hantu yang mirip dengannya.
"Ini apa maksudnya?" tanya seorang polisi yang masih belum paham duduk persoalan yang sebenarnya.
"Mas Radit ini sebenarnya adalah Faiz dan Faiz yang menjadi suami Mbak Karmila selama ini adalah Faiz palsu, bukan begitu Mas Radit?"
"Iya Pak, itu benar."
"Apa alasan dia melakukan semua ini?" tanya polisi yang tidak tahu-menahu itu tadi.
"Ini untuk mengelabuhi orang tua Radit agar mereka menganggap bahwa putranya masih hidup sehingga tidak perlu melakukan pencarian," tutur Radit.
"Dan itu terbukti setelah menemukan tubuhku kedua orang tua Radit langsung menganggap saya putranya, meskipun sudah berulang kali saya menjelaskan bahwa saya adalah Faiz bukanlah Radit putra mereka," lanjut Radit.
"Oh begitu ya? Rumit sepertinya," ujar polisi yang meminta penjelasan tadi.
"Begitulah Pak liciknya dia. Ini juga sekaligus ingin mendapatkan Karmila menjadi istrinya karena dia selama ini memang iri padaku dan ingin mendapatkan apa yang saya miliki, begitu kalau menurut pemahamanku. Namun, lebih tepatnya Pak Polisi bisa menanyakan sendiri kepada Faiz palsu itu apabila tertangkap nanti," jelas Radit panjang lebar. Dia hanya bisa berasumsi sebab dia bukan cenayang yang bisa membaca pikiran seseorang.
"Sudahlah kita evakuasi ini dulu, baru pikirkan langkah selanjutnya untuk menangkap Faiz palsu!"
"Baik komandan."
Mereka pun secara bergotong-royong menaikkan mayat-mayat itu ke atas.
__ADS_1
"Awas hati-hati! Mas Radit sepertinya harus memakai pengamanan dulu!" Seorang polisi menyodorkan kaos tangan dari karet sebelum Faiz menyentuh mayat tersebut.
Setelah mengeluarkan semua mayat dalam rumah, semua warga yang berkumpul dan menyaksikan terlihat tegang bahkan ada sebagian dari mereka yang menjerit histeris karena selama ini ternyata mereka hidup berdampingan dengan mayat-mayat.
"Kami dari pihak kepolisian akan membawa mayat-mayat ini ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi. Hal itu dilakukan untuk mengetahui keluarga dari masing-masing korban, dan mohon maaf pula untuk Mas Radit, Mbak Karmila, Mbak Ayu, serta Ibu Karmila ... dengan terpaksa kami menyampaikan harus ikut ke rumah sakit untuk dites sebab pembunuh dari para korban ini belum jelas. Jadi, setiap orang yang ada hubungannya dengan rumah ini patut dicurigai."
"Loh pak kenapa kami yang melapor malah harus dicurigai? Kalau kami yang melakukan kejahatan itu mana mungkin kami melaporkan ke pihak yang berwajib?" Karmila tidak terima sebab polisi seolah menuduh dirinya, Radit, Bu Lela dan juga Ayu.
"Tenang dulu Dek Mila, bukan itu maksud pak polisi. Mereka hanyalah–"
"Hanya apa Radit? Sudah jelas-jelas mereka mencurigai kita semua," potong Karmila akan pembicaraan Radit.
"Curiga atau tidak, mereka harus melakukan sesuai tugasnya. Jadi, kalau kita tidak bersalah untuk apa kita takut hanya untuk sekedar dites?"
"Mas Radit benar Mila, kau tenang saja karena kita akan terbukti tidak bersalah," sambung Ayu.
Karmila mengangguk walaupun dalam hati masih risau.
Dia memang tidak tahu menahu tentang pembunuhan ini, tetapi bisa saja Faiz merekayasa semuanya sehingga dirinya bisa terlibat. Kalau Faiz bisa menyimpan rahasia besar selama ini bukan tidak mungkin dia juga melakukan hal yang lebih dari yang dilakukan seperti yang mereka ketahui sekarang. Apalagi makhluk wanita berbaju pengantin itu sering menyentuh tubuh Karmila. Karmila takut meninggalkan jejak di tubuh wanita itu."
"Kenapa kau gelisah? Apa yang kau takutkan? Tenanglah semua akan baik-baik saja," ujar Radit menenangkan Karmila.
"Bagaimana aku bisa tenang Radit, makhluk wanita itu selalu menyentuhku. Bagaimana mungkin tidak ada jejakku di tubuh dia?"
"Yang menyentuhmu hanya rohnya saja Karmila jadi kamu tenang saja jasadnya tidak pernah kau sentuh," jelas Bu Lela.
"Apa yang dikatakan ibu benar?" tanya Karmila masih ragu.
__ADS_1
Semua orang mengangguk membuat Karmila sedikit bisa bernafas lega.
"Ah semoga saja anggapan kalian benar. Kalau tidak aku akan terdeteksi sebagai pembunuh. Entah bagaimana hidupku nanti jika seperti itu?" Antara pasrah dan menyerah Karmila mengucapkan kalimat itu.
"Tenanglah, yakinlah Allah Maha Adil. Dia tidak akan membebankan hukuman yang memang tidak pantas kau terima."
Perkataan Radit itu langsung membuat Karmila tenang. Bukankah ini semua sudah kehendak Tuhan? Karmila yakin Tuhan tidak pernah tidur dan tidak akan membuat polisi salah mengambil keputusan.
"Semoga saja ya Allah. Lindungiku dari marabahaya dan fitnah dunia." Doa Karmila dalam hati.
Saat mereka semua fokus pada Karmila dan mayat-mayat yang terbaring di depannya, muncul sosok pria yang ingin masuk ke dalam pekarangan rumah.
"Ada polisi? Gawat aku harus segera kabur dari tempat yang sudah terdeteksi ini." Pria itu berbalik dan hendak kabur.
"Hei siapa itu?!" teriak polisi sambil menunjuk ke arah pria yang hendak kabur itu.
Semua orang menoleh.
"Bang Faiz?" Karmila terpaku di tempat karena syok melihat Faiz kembali lebih awal.
"Faiz?"
"Tangkap dia jangan sampai lolos!" perintah seorang polisi dan anak buahnya langsung mengejar Faiz.
"****! Kenapa harus ada yang kelupaan sih sehingga aku harus kembali ke tempat ini? Kenapa ada banyak polisi di rumahku? ini pasti gara-gara Radit. Awas kamu ya!" geram Faiz sambil terus berlari menghindar dari kejaran polisi.
Bersambung.
__ADS_1