Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 21. Provokasi


__ADS_3

Faiz dan Karmila terganga mendengar penjelasan dokter.


"Apa penyakitnya itu bisa sembuh nantinya Dok?" tanya Karmila lagi. Dia sangat berharap agar mertuanya itu bisa melewati masa-masa yang sangat buruk itu.


"Saya, kan mengatakan bisa tadi, tapi ya kemungkinannya kecil. Tergantung respon tubuh dan juga keluarga yang merawatnya. Hibur dia dan ceritakan hal-hal yang lucu dan yang pasti jangan buat dia stres atau mengingat kejadian yang pernah membuat pasien menjadi seperti ini," jelas dokter panjang lebar.


"Baik Dok."


"Beri ruang untuk petugas medis lewat. Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan!"


Karmila dan Faiz pun menyingkir dari pintu ruangan, beberapa saat kemudian tampak para perawat yang mendorong brankar Bu Lela keluar dari ruangan UGD.


Faiz dan Karmila mengikuti perawat itu ke ruang di mana Bu Lela akan dipindahkan.


Setelah semua perawat keluar dari ruangan Faiz dan Karmila pun masuk ke dalam ruangan.


Bu Lela sudah sadar, tetapi setelah diajak bicara tidak ada reflek sama sekali. Bu Lela menatap dengan pandangan mata yang kosong.


"Ibu mengapa bisa seperti ini sih?"


"Andai kita tidak meninggalkan ibu sendirian di rumah, ibu tidak akan jadi seperti ini," sesal Karmila sambil menangis sebab tidak tega melihat keadaan Bu Lela yang begitu mengenaskan.


"Ini ulah nenek tua itu, gara-gara dia ibuku menjadi seperti ini," Geram Faiz.


"Dek Karmila, kamu jaga ibu ya saya akan menuntut wanita tua itu!"perintah Faiz lalu keluar dari ruang rawat Bu Lela tanpa menunggu persetujuan dari Karmila terlebih dahulu.


"Bang! Bang!" panggil Karmila. Namun, Faiz tidak menggubris panggilan istrinya itu.


"Bang! Bang!" teriak Karmila sambil berlari mengejar Faiz keluar ruangan.


"Bang! Abang jangan sampai main hakim sendiri!" teriak Karmila lagi memperingatkan sang suami agar tidak bertindak gegabah.

__ADS_1


Tetap saja Faiz tidak menggubris peringatan dari Karmila, dia tetap berjalan lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun.


"Ya Tuhan jangan sampai semuanya bertambah kacau," mohon Karmilah pada Tuhan Yang Maha Esa. Setelahnya Karmila kembali ke dalam kamar rawat dan duduk di samping ranjang Bu Lela.


Karmila meratapi tubuh Bu Lela dengan penuh rasa sesal dan bersalah. Kalau bukan karena dia yang harus pergi ke dokter, Bu Lela tidak mungkin keadaannya akan kacau seperti sekarang ini.


Sementara Karmila yang berkutat dengan pikiran bersalahnya, Faiz langsung mengemudikan mobilnya dengan kencang kembali ke rumah.


Sampai di sana ternyata para warga mengikat tubuh nenek tua pada sebuah batang pohon yang besar.


"Bagus ternyata kalian semua amanah, kalian benar-benar tidak melepaskan nenek tua yang jahat ini," ucap Faiz pada orang-orang yang menyambut kedatangannya.


"Kalau menurut Dek Faiz, lebih baik kita apakah nenek tua ini?" tanya seorang warga.


"Lapor polisi lah memang mau apa lagi," ujar seorang warga.


"Saya pikir hukuman penjara tidak sebanding dengan apa yang sudah diperbuatnya selama ini," timpal warga yang lainnya.


"Benar sekali, jadi bagaimana? Kalau menurutku kita siksa dulu baru laporkan ke polisi biar saat sudah masuk ke dalam penjara nenek ini sudah tidak bisa berbuat apa-apa."


"Saya tidak setuju. Kalau dia masih hidup berarti dia akan tetap ada kemungkinan untuk berbuat jahat lagi," timpal Faiz.


"Terus menurut Dek Faiz kita harus apakan nenek tua ini?" tanya warga kemudian.


"Kalian tahu? karena nenek tua ini ibu saya terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Dokter memvonis beliau lumpuh dan depresi seumur hidup akibat penyiksaan yang terlalu keras padanya sehingga menyisakan trauma yang begitu mendalam. Menurut saya tidak ada hukuman yang lebih pantas pada nenek ini selain ... bakar dia hidup-hidup!" teriak Faiz dengan lantang.


"Bakar?" Orang-orang terkejut dengan keputusan Faiz.


"Ya, apa kalian tidak setuju?"


Para warga tampak berbisik satu sama lain.

__ADS_1


"Kenapa kalian hanya diam saja? Apa kalian tidak setuju dengan usulku? Baiklah terserah kalian semua kalau kalian tidak setuju, tapi selama nenek ini masih hidup semua warga yang ada di sini akan terancam nyawanya," ujar Faiz begitu meyakinkan.


"Orang yang memiliki ilmu hitam tidak akan tenang jika tidak menghabisi nyawa manusia. Jika dia tidak bisa menghabisi manusia dengan ilmunya maka dia akan melakukan dengan tangannya sendiri seperti saat ini yang terjadi pada ibu saya. Kalian semua akan hidup dengan bayang-bayang ketakutan." Faiz semakin menakut-nakuti warga.


"Faiz benar, daripada menyerahkan perempuan tua ini ke tangan polisi mendingan kita habisi sendiri! Bagaimana setuju?"


"Setuju!" teriak warga serentak.


Nenek itu terlihat panik. Dia ingin membantah tuduhan orang-orang mulutnya disumpal. Ingin mengerahkan tenaga dalamnya dia takut orang-orang akan semakin menganggapnya nenek tukang sihir.


"Ayo kumpulkan kayu dan buat api unggun. Setelah itu kita lempar bersama-sama nenek ini ke dalam api yang sudah kita buat!"


"Siap."


"Oh ya biar lebih cepat bagaimana kalau bakar di rumahnya saja agar polisi menyangka ini adalah kebakaran yang tidak disengaja. Bukankah itu lebih baik untuk menghilangkan jejak?" saran Faiz.


Nenek itu geram pada Faiz. "Benar-benar pria yang licik."


"Bagaimana kalau sampai ada yang melapor?" tanya seorang warga ragu.


"Tidak akan ada, sebab jika satu diantara kita di tangkap polisi maka semuanya akan ditangkap. Bukankah ini adalah sebuah konspirasi bersama demi keamanan daerah kita?"


"Ya Faiz benar. Ayo giring nenek tua itu ke rumahnya untuk mempertanggung jawabkan kejahatannya selama ini!"


Nenek itu memberontak saat ikatan pada batang pohon dibuka dan dirinya diseret keluar dari pekarangan rumah Faiz.


Sampai di rumah nenek itupun orang-orang langsung berusaha menyalakan api.


"Cepatlah! Lihat! Awan hitam menggantung di langit. Jangan sampai turun hujan sebelum nenek ini berubah menjadi abu!" perintah Faiz dan anehnya semua orang menurut saja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2