Rumah Di Lahan Pekuburan

Rumah Di Lahan Pekuburan
Bab 22. Hukuman Dalam Waktu Singkat


__ADS_3

"Solar-solar mana?!" teriak orang-orang. Ada seseorang yang langsung berlari mencari bahan bakar itu.


Setelah orang itu kembali salah seorang warga langsung menuangkan ke semua bagian rumah panggung tersebut.


"Sudah langsung bakar saja rumahnya tidak perlu pakai kayu segala!


"Oke, kita langsung ikat nenek ini di dalam rumah."


Semua orang mengangguk dan langsung sigap menyeret nenek itu dan membawanya ke dalam rumah. Mereka mengingat nenek tersebut pada tiang kayu.


"Ayo cepat keluar rumah ini harus segera dibakar!"


Semua orang pun berlari keluar rumah dan setelah memastikan semua warga tidak ada satupun yang tertinggal dalam rumah tersebut, Faiz langsung menghidupkan korek api dan membakar rumah nenek tua itu.


Blush.


Api langsung melahap rumah panggung dari kayu itu. Kobaran api memenuhi udara. Asap hitam pun menghalangi pandangan mata. Beberapa orang terlihat mengucek kedua mata.


"Ayo kalian pergi sebelum ada orang di luar warga ini yang memergoki aksi kita!" teriak Faiz.


Semua orang pun mengangguk.


"Tapi saya minta sepuluh orang yang bertahan di sini!"


"Untuk apa Faiz?"


"Nanti saya jelaskan, sisakan saja sepuluh orang!"


Setelah dipilih sepuluh orang, yang lainnnya langsung pulang ke rumah masing-masing dengan tubuh yang gemetar.


Sebenarnya mereka sadar apa yang dilakukannya salah dan melanggar hukum. Namun, mereka semua meyakinkan dirinya sendiri bahwa jalan yang mereka tempuh adalah cara terbaik untuk menghentikan semua kejahatan yang dituding ulah nenek itu.


"Bagaimana kalau keadaan ini diusut polisi? Bukannya zaman sekarang berita apapun akan cepat beredar?" tanya seorang warga dengan perasaan takut saat dalam perjalanan pulang.


"Tenanglah! Yang bisa kita lakukan saat ini adalah hanya tutup mulut saja maka semuanya akan aman."


Mereka semua mengangguk dan melanjutkan perjalanan pulang meskipun di hati mereka sedang berkecamuk.


Beberapa warga yang masih bertahan di sana, berpura-pura memadamkan api agar peristiwa itu memang terkesan adalah kecelakaan biasa.


Benar saja tidak lama kemudian datang mobil pemadam kebakaran diikuti mobil polisi di belakangnya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya seorang polisi sambil mendekat ke sepuluh warga yang masih bertahan dengan memegang ember berisi air dan gayung di tangan yang satunya. Sementara pemadam kebakaran sudah beraksi memadamkan api.


"Kebakaran Pak," jawab salah seorang warga dari kesepuluh itu.


"Maksud kami penyebabnya apa?"


"Kami tidak tahu Pak, tadi ada warga yang mengatakan pemilik rumah ini membawa kayu bakar ke dalam rumah. Kemungkinan kebakaran ini diakibatkan dari tungku kayu bakar nenek pemilik rumah.


"Pemilik rumah memasak di dalam rumah yang terbuat 100 persen dari kayu ini mengunakan kayu bakar?" Polisi merasa ada yang janggal.


"Ya bagaimana lagi Pak, penghuni rumah ini adalah nenek tua yang sudah pikun," jelas seorang warga.


"Oh begitu ya?" Polisi itu tampak manggut-manggut, sedangkan polisi yang lainnya terlihat berkeliling memeriksa di sekitar rumah.


"Sepertinya ada bau solar," tebak seorang polisi.


"Mungkin saja Pak sebab nenek itu memang biasa menggunakan bahan bakar untuk menghidupkan kayu bakar saat akan memasak.


Polisi mengangguk lagi.


Tiba-tiba Faiz mendapatkan telepon dari Karmila.


"Maaf ya Pak saya terima telepon dulu," pamit Faiz setelah melihat istrinya yang menelpon.


Faiz menyingkir dari hadapan para polisi dan langsung menerima telepon.


"Halo Bang." Terdengar suara Karmila yang bergetar dari balik telepon.


"Ada apa Dek kenapa kau seperti ketakutan?"


"Bang rumah sakit tempat ibu dirawat kebakaran dan api itu tepat melahap di sekitar kamar rawat ibu. Ibu ditemukan dalam keadaan sudah gosong Bang," ujar Karmila sambil berlinang air mata.


"Apa?! Kenapa itu sampai terjadi?" Raut wajah Faiz tampak sendu.


"Saya juga tidak tahu Bang, kata pihak rumah sakit ada korsleting listrik. Saya tinggal ibu pada suster sebentar karena mencari makan di luar. Kalau tahu akan terjadi seperti ini saya tidak mungkin meninggalkan ibu pada suster. Suster yang menjaga ibu pun ikut hangus terbakar. Sekarang seperempat bangunan sudah hangus sedangkan api belum padam juga," ucap Karmila dengan penuh sesal.


"Baiklah aku akan segera ke sana. Kamu menyingkirlah dari tempat itu dan cari tempat yang aman!"


"Iya Bang."


Faiz pun langsung terburu-buru pamit pada semua orang.

__ADS_1


"Ada apa Faiz, kenapa terlihat sedih dan panik seperti itu?" tanya seorang warga.


"Ibu, i–bu meninggal dalam kebakaran. Jasadnya ditemukan sudah dalam keadaan hangus."


"Apa?!" Semua orang kaget dan berkata serentak.


"Kebakaran?" tanya seorang polisi.


"Iya Pak rumah sakit Harahap mengalami kebakaran. Seperempat gedungnya hangus terbakar dan ibu saya adalah salah satu korbannya. Kalau api tidak segera dipadamkan mungkin semua pasien akan mengalami nasib sama seperti ibu saya," terang Faiz.


Polisi pun sigap mengarahkan pemadam kebakaran agar langsung menuju ke rumah sakit Harahap. Mungkin sudah ada petugas damkar yang lain di sana. Akan tetapi, lebih baik apabila petugas pemadam kebakaran lebih banyak yang memadamkan api. Lagipula rumah nenek tua ini apinya sudah padam semua.


Pemadam kebakaran langsung bersiap dan sigap mengarahkan mobilnya ke jalan raya untuk menuju ke rumah sakit Harahap untuk melaksanakan tugas selanjutnya di tempat lain, sedangkan polisi masih berusaha mencari jasad nenek tua itu di dalam rumah yang sudah hampir 100% hangus itu.


Faiz pun sudah terlebih dahulu pergi ke rumah sakit.


Sembilan warga yang masih ada di sana pun ikut masuk dan melakukan pencarian terhadap nenek tua itu. Dalam hati mereka berharap agar nenek itu sudah tiada agar tidak memberikan kesaksian kepada para polisi bahwa kebakaran itu adalah ulah dari mereka semua.


"Kenapa tidak ada jasadnya?" tanya polisi bingung.


Mungkin sudah menjadi abu atau arang Pak," jawab salah seorang warga.


"Seharusnya ada jejaknya? atau mungkin pemilik rumah ini sudah keluar terlebih dulu dari rumah ini sebelum kebakaran ini terjadi?" tanya polisi kemudian.


"Kami tidak tahu Pak, mungkin saja memang benar apa yang Pak polisi duga, bisa saja nenek tua itu meninggalkan rumahnya dalam keadaan kayu bakar yang masih menyala. Jadi saat kebakaran tadi terjadi ternyata di dalam rumah sudah tidak ada pemilik rumahnya." Warga mencoba mengarahkan pikiran polisi agar tidak curiga pada mereka jika ngotot memastikan nenek tua itu tadi memang benar ada di dalam rumah. Keterangan seperti itu akan membuat mereka dicurigai.


"Tapi kalian mengatakan tadi ada warga yang melihat pemilik rumah masuk ke dalam rumah dengan memangku kayu bakar?"


"Iya Pak, tapi itu beberapa menit sebelum kebakaran ini terjadi."


"Hmm?" Polisi tampak berpikir.


"Baiklah kami akan melanjutkan penyelidikan besok. Sekarang kita ke rumah sakit Harahap dulu untuk melihat keadaan di sana!"


"Baik Pak."


Polisi pun meninggalkan tempat kejadian perkara sedangkan sembilan orang yang masih tinggal di tempat itu berbisik.


"Bagaimana ini? Kenapa Faiz seperti kena karma nenek itu? Apa kita akan merasakannya?"


Mereka semua sudah mulai merasakan kegelisahan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2