
Faiz langsung merangkul dan membantu memijit Karmila.
"Pergi-pergi sana!" Pria itu mendorong Radit dengan satu tangannya.
"Ayo Ayu kita pergi saja. Orang kalau songong di tolongin bukannya terima kasih tapi malah mengusir kita. Dia tidak tahu akan jadi apa kalau kita tidak datang tepat waktu, bisa-bisa dia syok melihat istrinya pingsan digigit ular," ujar Radit sambil menarik tangan Ayu keluar dari rumah tersebut.
"Terima kasih ya buat kalian berdua!" seru Karmila saat semuanya sudah membuka pintu.
"Sama-sama Karmila," ucap Ayu sambil menutup pintunya kembali.
"Ayo ke kamar!" Faiz menuntun Karmila hingga wanita itu sampai di ranjang.
"Istirahatlah, tidak usah banyak bergerak dulu!" perintah Faiz lalu berbalik.
"Tunggu! Bang Faiz mau kemana?"
Faiz menatap Karmila lagi. "Ke mobil, saya tadi belikan makanan untukmu."
Karmila tersenyum sambil mengangguk dan Faiz melanjutkan langkahnya keluar. Beberapa saat Kemudian Faiz kembali dengan kantong plastik di tangannya.
"Apa itu Bang kok baunya wangi banget?" tanya Karmila penasaran.
"Tara...." Faiz mengeluarkan makanan dari dalam kantong plastik itu.
"Oh jengkol."
"Iya makanan kesukaan kamu, kan?"
Karmila mengangguk meskipun dia tidak terlalu suka pada masakan itu, tetapi wanita itu tahu Faiz menyukainya. Entahlah apa yang diinginkan Faiz sebenarnya padahal Karmila sudah beberapa kali mengatakan dia tidak bisa mengkonsumsi makanan itu. Faiz terlihat begitu aneh, pria itu terkadang memaksakan Karmila untuk menyukai apapun yang dirinya suka.
"Bawa apa lagi?" tanya Karmila berharap Faiz membawakan sayuran selain itu.
"Ayam bakar," sahut Faiz.
"Ah syukurlah, Walaupun tidak ada sayurannya yang penting ada ikannya," batin Karmila.
"Kalau begitu saya ambilkan piring dulu Bang." Karmila hendak bangkit, tetapi langsung dicegah oleh Faiz.
"Biar aku yang ambil saja kamu tidak perlu kemana-mana dulu," ujar Faiz lalu melangkah keluar kamar.
Tidak menunggu lama akhirnya Faiz kembali dengan peralatan makan di tangannya. Setelah menuangkan semua makanan, Faiz langsung mengajak Karmila makan.
Mereka pun makan bersama.
"Jengkolnya!" Faiz menawarkan jengkol sebab melihat Karmila tidak meraih satu sendok pun.
__ADS_1
"Untuk Bang Faiz saja, kan itu makanan favorit Bang Faiz."
"Makanan favorit kita, jadi kamu juga harus makan." Faiz mengambilnya beberapa sendok dan ditaruh di piring Karmila.
"Makanlah!"
Karmila mengangguk. Sebelum memakan dia menciumi dulu makanan itu.
"Tidak baik mencium makanan, lebih baik langsung makan saja."
Karmila mengangguk dan langsung mencicipi masakan itu.
"Rasanya tidak terlalu buruk, apa karena aku hamil anak Bang Faiz sehingga anak dalam perutku menyukai makanan ini?" gumam Karmila.
"Kau berkata apa?" tanya Faiz mendengar Karmila berdengung kecil.
"Ah nggak, jengkol ini enak hanya saja kalau orang hamil tidak bisa banyak-banyak makan ini."
"Oh ya, memangnya kenapa?"
"Kata orang tua dulu bisa menyebabkan perut bagian bawah sakit, jadi orang hamil makan jengkol tuh ada aturannya. Katanya sih tidak boleh lebih dari 100 gram."
"Kalau begitu makan sedikit saja," saran Faiz. Dia harus menjaga kemungkinan bayinya akan keguguran jika Karmila merasakan sakit perut.
Mereka pun melanjutkan makannya tanpa ada yang berbicara lagi. Selesai makan Faiz segera membawa peralatan makan mereka ke dapur.
"Bang! Boleh aku tanya sesuatu?"
Faiz berbalik. "Apa?"
"Nanti saja deh, Abang sepertinya kerepotan membawa peralatan itu."
"Hmm, baiklah. Tunggu aku keluar dari dapur."
Karmila mengangguk dan Faiz melanjutkan langkahnya.
Setelah kembali dari dapur Faiz duduk di depan Karmila.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Itu dibelakang baju Bang Faiz kok ada bekas darahnya?"
Pertanyaan Karmila langsung membuat wajah Faiz pucat. "Itu ... it–u karena tadi aku sempat menolong orang. Ya, menolong orang di jalan," jawab Faiz gugup.
"Menolong orang?"
__ADS_1
"Iya tadi ada kecelakaan dan saya membantu menggotong orang yang terluka ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit," terang Faiz.
"Abang tidak berbohong, kan?" tanya Karmila sedikit curiga. Dalam logikanya jika Faiz menggendong korban kecelakaan yang berlumuran darah pasti bukan hanya bagian belakang bajunya yang kena tetesan darah, melainkan bagian depannya pun pasti ada darahnya.
"Kenapa Dek Karmila seolah mencurigaiku macam-macam?" tanya Faiz tak percaya dengan sikap Karmila.
"Siapa yang curiga Bang, Karmila kan hanya bertanya."
"Sudahlah Dek, aku capek, aku mau mandi dan istirahat saja," ujar. Faiz lalu keluar kembali dari kamar
"Sensi amat sih, tumben Bang Faiz begitu, tapi ... aku juga sensi sih telah berpikiran macam-macam tentangnya." Karmila menggeleng-gelengkan kepala untuk menyingkirkan pikiran buruknya.
"Lebih baik aku tiduran saja." Baru saja hendak merebahkan tubuhnya Karmila melihat benda yang berkilau di sampingnya.
"Kalung siapa ini?" Karmila meraih benda itu dan memeriksanya. Karmila dapat menebak bahwa benda itu terjatuh dari saku celana Faiz tadi saat duduk di sana.
Lama Karmila mengamati benda itu, tapi dia tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Karmila pun tidak pernah berpikiran bahwa kalung itu adalah kalung yang dibelikan Faiz untuknya sebab kalung itu tidak terlihat baru.
Terdengar derap langkah menuju kamar.
"Bang Faiz!" Karmila yang kaget langsung menyembunyikan kalung tersebut di bawah kasur.
"Kamu kenapa?"
Pertanyaan Faiz sontak membuat Karmila syok sebab dirinya kedapatan seperti orang merosot di sisi ranjang.
Bagaimana kalau Bang Faiz curiga?
"Perutku sakit Bang, mungkin karena makan jengkol terlalu banyak tadi." Karmila beralasan.
"Benarkah? Bukankah kamu hanya makan sedikit tadi?" Faiz mempercepat langkahnya dan langsung menggotong tubuh Karmila ke atas kasur.
"Apa yang harus aku lakukan?" Faiz terlihat panik.
"Tenanglah Bang, aku tidak apa-apa kok, hanya sakit perut biasa saja."
"Kita ke dokter saja." Faiz mengambil keputusan.
"Tidak Bang, itu tidak perlu. Mungkin nanti sembuh sendiri kok."
"Hanya mungkin, kan? Belum pasti, bukan?" Tanpa menunggu persetujuan dari Karmila, Faiz langsung menggendong tubuh Karmila menuju mobil.
"Gawat, bagaimana kalau aku ketahuan berbohong?" batin Karmila.
"Tenanglah Karmila, aku kan bisa menggunakan kehamilan ini sebagai alasan. Orang hamil terkadang aneh, bukan? Apalagi rasa sakit perut yang datang pergi mungkin saja menjadi hal yang lumrah." Karmila nampak tersenyum dalam gendongan Faiz.
__ADS_1
"Masalah rumah sakit tidak penting, yang penting adalah siapa pemilik kalung itu," ujar Karmila dalam hati. Sejak saat ini dia bertekad untuk menyelidiki suaminya sendiri.
Bersambung.