
"Sayang sekali, padahal ibu juga yakin dia akan mengetahui tentang Faiz palsu itu," sesal Bu Karmila.
"Bagaimanapun kalau aku meminta bantuan polisi saja?" saran Ayu.
"Apakah kamu pikir polisi akan bertindak kalau tidak ada bukti Nak?" cegah Bu Lela.
"Ibu tentang saja, aku ada paman seorang polisi dan akan meminta bantuannya dengan menceritakan apa yang sudah terjadi pada kalian semua," ucap Ayu dengan begitu tenang.
"Aku setuju denganmu, sebelum kita menangkap Faiz palsu sepertinya polisi harus mengeledah dulu rumah itu," ujar Radit.
"Baiklah aku telepon paman dulu," ujar Ayu lalu merogoh ponsel dari dalam tas kecilnya dan menelpon pamannya.
"Bagaimana?" tanya Radit setelah Ayu menutup panggilan telepon.
"Bisa, tapi besok pagi saja kata paman."
"Oke siap."
"Dan aku tidak ikut," ucap Karmila.
"Ibu juga," sambung Bu Lela.
"Baiklah kalian berdua akan tinggal di rumah Ayu saja untuk sementara, tidak apa-apa kan, Yu?"
"Iya tidak apa-apa Mas."
"Yasudah kalau begitu kamu makan dulu Dek Mila. Aku sama ibu mau ambil hasil tes DNA dulu."
"Hasil tes DNA?" tanya Ayu dan Karmila serempak.
"Iya untuk membuktikan sekaligus sebagai pertanggung jawaban bahwa aku dan Bu Lela memang benar-benar anak dan ibu kandung."
Karmila dan Ayu pun mengangguk dan membiarkan Faiz beserta Bu Lela keluar dari ruang rawat Karmila.
"Makan Mil!" Ayu menyodorkan nasi kotak ke hadapan Karmila dan Karmila segera membuka dan melahapnya.
***
Esok hari beberapa polisi sudah berada di rumah Karmila dan menggeledah rumah itu.
"Kenapa kami tidak menemukan apa-apa di rumah ini?" tanya polisi pada Radit.
"Apa Pak polisi yakin semua kamar sudah digeledah? Menurut Karmila kamar yang paling mencurigakan adalah kamar yang berhadapan dengan dapur."
__ADS_1
"Ya hanya kamar itu yang belum kami periksa dan para anggota kami sedang berusaha mencongkel karena kamar itu tertutup rapat dan terkunci."
"Lanjutkan Pak! Jangan sampai melewatkan kamar itu karena saya yakin kamar itu adalah kunci rahasia dari semua kejadian aneh yang terjadi pada Karmila dan ibu saya selama berada di rumah itu."
"Pasti. Mas Radit tidak perlu khawatir kami sebagai polisi selalu melakukan tugas dengan hati-hati waspada dan teliti."
"Mantap Pak, semoga menemukan hasil."
Sudah setengah hari polisi menggeledah rumah Faiz dan Karmila dan sampai adzan dhuhur berkumandang, satu kamar itu belum berhasil terbuka sebab saat polisi berhasil mencongkel dan membukanya pintu itu tertutup sendiri dan terkunci lagi.
"Benar kamar ini memang aneh," gumam seorang polisi.
Panggil Mbak Karmila nya!" perintah polisi dan karena perintah polisi akhirnya Karmila mendatangai rumah itu, tetapi tidak masuk ke dalam rumah.
"Ada apa Pak? Ada temuan?"
"Belum Mbak, kami ingin meminta izin untuk membongkar kamar itu dari dindingnya sebab pintunya tidak biasa kami buka. Pintu itu seakan memiliki magnet sehingga saat kami berhasil membuka pintu itu tertarik dengan kuat ke dalam lagi."
"Baik Pak lakukan apa yang sekiranya Bapak Polisi perlu lakukan!"
"Baik kami hanya perlu persetujuan dari Mbak Karmila karena takut akan ada tuntutan nanti jika melakukan tanpa izin."
"Baik Pak."
Polisi mengangguk dan masuk ke dalam kembali sedangkan Karmila, Bu Lela dan Ayu hanya berani menyaksikan dari luar. Masyarakat sekitar juga memadati pekarangan dan bertanya-tanya apa gerangan yang dilakukan oleh polisi di rumah itu."
"Ada yang tidak beres di rumah ini Pak, tetapi belum jelas apa. Kita tunggu saja dari hasil pemeriksaan polisi."
"Oh begitu ya?"
Karmila hanya mengangguk.
Sementara para warga hanya menyaksikan dari luar karena dilarang masuk oleh polisi terkecuali Radit yang diminta untuk membantu. Para polisi membongkar salah satu dinding kamar.
"Pak sepertinya peti itu yang diceritakan oleh Karmila!" seru Radit sambil menunjuk peti yang memanjang itu.
"Kita periksa." Dengan memasang kaos tangan plastik Pak Polisi membuka peti itu.
Alangkah terkejutnya mereka saat melihat sosok yang Karmila ceritakan. Mayat seorang wanita berambut panjang dengan baju pengantin masih utuh dalam peti.
"Bukankah wanita ini yang selama ini kita cari?" tanya salah satu polisi.
"Iya Pak berita kehilangan itu bukankah sudah tahun lalu. Bagaimana mungkin mayat yang telah berumur satu tahunan masih utuh?"
__ADS_1
"Sepertinya wanita ini dibalsem."
"Ya benar diawetkan, tetapi sayang mungkin pengawetnya tidak sempurna sehingga masih terdengar bau busuk yang menyengat."
Radit hanya menyaksikan tindakan polisi yang mengeluarkan mayat itu dalam peti dengan memencet hidung. Pria itu tidak berani menyentuh sebab mungkin saja sidik jarinya nanti akan berpengaruh terhadap hasil penyelidikan.
"Bawa mayat itu keluar!" perintah seorang polisi dan rekannya langsung sigap melaksanakan apa yang diperintahkan.
Masyarakat yang menyaksikan di luar menjerit melihat polisi menggotong mayat dari dalam rumah tersebut.
Setelah mayat disingkirkan dalam peti, isi peti selanjutnya adalah perhiasan yang begitu banyak.
"Waw." Radit menganga melihat sesuatu yang berkilauan itu.
"Amankah perhiasan ini!"
"Baik komandan."
Itulah alasan para polisi melarang masyarakat sekitar untuk masuk. Selain takut sidik jari mereka mengacaukan penyelidikan, polisi juga mengantisipasi takut ada barang berharga yang mungkin saja akan jadi rebutan tanpa para polisi ketahui dari mereka langsung mengambil begitu saja.
"Nanti kita klarifikasi apakah perhiasan ini milik Mbak Karmila atau bukan. Namun, mengingat posisinya yang berada di bawah mayat saya pikir Mbak Karmila tidak tahu menahu perkara keberadaan perhiasan ini."
"Tanyakan saja nanti Pak," ujar Radit.
"Baik kita bongkar isi peti selanjutnya." Pak polisi mengangkat besi yang berisi mayat dan perhiasan itu ke samping lalu memeriksa peti selanjutnya.
"Astaghfirullah haladzim." Radit terbelalak tidak percaya melihat mayat yang tinggal kepala saja.
"Mungkin mayat ini tidak diawetkan seperti wanita tadi," jelas polisi membuat Radit dan para anggota polisi mengangguk-angguk setuju dengan pernyataan salah satu rekannya itu.
Polisi terus melakukan pencarian hingga kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu dan kemudian lantai yang diinjaknya itu berlubang.
"Wah ada ruangan bawah tanah sepertinya," ujar polisi itu sambil mengintip ke bawah dan semakin memperbesar lubang itu.
"Tolong ambilkan tangga! Saya akan turun dan melihat-lihat di bawah sana!"
"Baik Pak." Radit berlari keluar dan mencari pinjaman tangga pada tetangga.
"Kenapa ngeri seperti ini? Pantas saja saya selalu dihantui. Ternyata rumah ini banyak jenazah yang tidak dimakamkan secara layak padahal dekat dengan pekuburan," ucap Karmila sambil memeluk Bu Lela.
"Karena mayat itu sengaja dibunuh dan disembunyikan dari orang-orang," jawab Bu Lela yang kini bisa lebih tenang dari biasanya.
"Padahal tanah ini sebenarnya juga merupakan satu pekarangan dengan lahan pekuburan, entah siapa yang telah berani membangun rumah di tempat ini dan menjualnya," sambung Ayu.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu Yu, Mas Faiz beli sama siapa katanya kemarin," ucap Karmila.
Bersambung.