
Sampai di depan rumah sakit keadaan terlihat panik dan suana begitu riuh. Banyak petugas medis dan juga keluarga pasien yang berlari-lari keluar dari rumah sakit sambil mendorong brankar berisi pasien di atasnya.
Banyak pula orang berteriak dan berlari-lari ke dalam di tengah kobaran api yang mengancam untuk mencari keluarga yang belum ditentukan bagaimana nasibnya walaupun teriakan dari tim pemadam kebakaran yang tidak memperbolehkan mereka masuk terngiang di telinga. Ada pula yang menangis sesenggukan karena sudah tahu keluarga atau kerabatnya sudah menjadi korban.
Faiz menolah-noleh mencari keberadaan Karmila.
Ternyata wanita itu melambaikan tangannya di bawah tenda pengungsian pasien untuk sementara.
"Bang aku di sini!" teriak Karmila.
Faiz menoleh dan berlari ke arah tenda yang berada di samping rumah sakit. Namun, jaraknya masih jauh dari bangunan rumah sakit. Rencananya pemilik rumah sakit akan menambah bangunan dengan cara memperluas lahan terlebih dahulu.
Sialnya bukannya menambah bangunan ternyata bangunan yang ada sudah anda beberapa yang rata dengan tanah.
"Dimana jasad ibu?" tanya Faiz saat dirinya sudah tepat berdiri di hadapan Karmila.
"Mayat ibu sudah diamankan oleh petugas medis ke tempat tertentu."
"Saya ingin mengurusnya dan langsung membawa ibu ke rumah untuk memakamkannya secara layak."
"Tunggu dulu Bang sampai keadaan stabil. Bang Faiz tidak mau, kan mereka salah data dengan memberikan jasad orang lain kepada bang Faiz sebab keadaan sekarang benar-benar masih riuh dan genting. Semua orang yang berada di tempat ini hampir kehilangan kemampuannya untuk berpikir menghadapi sesuatu yang datang begitu mendadak seperti ini."
"Baiklah." Akhirnya Faiz hanya bisa terduduk di samping Karmila sambil meratapi nasib Bu Lela.
__ADS_1
"Maafkan aku Bu, ini semua gara-gara Faiz. Kalau saja tadi siang Faiz tidak menunda kepulangan ibu ke kampung, ini tidak ada pernah terjadi dan ibu pasti masih hidup sampai saat ini." Faiz tergugu.
"Anak muda jangan pernah menyalahkan keadaan sebab semua yang terjadi sudah atas kehendak Tuhan. Apapun yang saudara lakukan kalau sudah Tuhan menginginkan nyawa seseorang maka tidak ada alasan untuk Nya seseorang masih bisa bertahan hidup." Seorang pria paruh baya menepuk pundak Faiz.
Faiz menoleh kemudian mengangguk.
"Tidak perlu meratapi apa yang sudah terjadi, cukup doakan saja agar almarhumah ibu Anda bisa diterima di sisi-Nya."
"Aamiin," ujar Karmila dan Faiz secara bersamaan.
Selang satu jam setelah kedatangan Faiz barulah api padam sempurna. Satu jam pula setelah itu barulah keluarga Bu Lela dipanggil untuk menerima jasad Bu Lela. Sebelumnya dokter meminta Faiz mengenali ciri-ciri fisiknya, tapi kalau tidak bisa mengenal barulah tim medis akan melakukan langkah primer.
"Kamu yakin dia jasad ibu Bang?"
"Tapi Bang apa tidak sebaiknya kita tunggu hasil identifikasi dulu. Biar dokter melakukan pemeriksaan. Nanti dokter akan memeriksa gigi dan DNA ibu. Kalau main bawa begini saja kan nggak baik kalau kita sampai salah orang," saran Karmila.
"Bukankah ketika dokter membawa mayat ibu tadi kamu ikut?"
Karmila mengangguk.
"Petugas menanyakan data diri ibu?"
Karmila mengangguk lagi.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu apa yang harus diragukan lagi. Lagipula kalung yang dipakai oleh mayat ini persis dengan kalung yang dipakai ibuku dan kalau berliontin seperti ini sangat susah ditemukan."
Akhirnya Karmila memutuskan menurut saja dengan Faiz. Toh Bu Lela adalah ibu dari Faiz bukan ibu Karmila sendiri. Sebenarnya Karmila sangat menyayangi Bu Lela. Namun, apa boleh buat kalau suaminya sudah keras kepala seperti itu.
"Ya sudah terserah Abang saya ikut saja."
Malam itu juga jasad Bu Lela dibawa pulang dengan mobil Faiz. Sampai di rumah, saat mendengar bunyi mobil masuk pekarangan rumah Faiz, warga segera berlari dan menyambut kedatangan keluar Faiz dengan rasa penasaran yang begitu besar. mereka semua ingin melihat seperti apa jasad Bu Lela saat ini.
Sebab warga di daerah tempat tinggal Faiz itu kompak, malam itu juga jasad Bu Lela segera dikebumikan. Jam 2 dini hari mayat Bu Lela sudah selesai dikubur dan para warga bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tidak disangka, dalam perjalanan pulang mereka dihadang oleh seseorang yang tubuhnya serba hitam. Mata makhluk itu tampak memerah dan suara rintihan yang begitu pilu dan menyayat hati mengiringi langkah makhluk itu.
"Lihatlah kakinya tidak menapak tanah. Apa itu artinya–?"
Segerombolan manusia itu tertegun.
"Hantu!" teriak mereka serentak dan langsung berlarian tunggang langgang tidak karuan.
"Ada apa?" tanya Faiz melihat seseorang kembali ke sisinya.
"Di depan sana ada hantu hitam," jelas seorang warga dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Hantu? Hantu ibu? Bagaimana kalau hantu ini adalah jelmaan nenek Tua yang ingin membalaskan dendam terhadap kami semua yang terlibat dalam pembakaran rumah panggung itu.
__ADS_1
Bersambung.