
2.4 Bentrokan.
"Sring sring sring," suara senjata terdengar semakin dekat.
Aku, Nadha dan Robin terus mendekati suara itu. Sesampainnya di sebuah ruangan kami melihat Zaryusu sedang bertarung melawan tiga orang yang menggunakan seragam Tower Akademi. Aku tanpa sadar berlari lalu menangkis serangan yang mengarah pada Zaryusu. Robin dan Nadha kaget karena tidak sadar aku pergi tanpa rencana.
Akhirnya Robin bergabung denganku dan Zaryusu. Sementara Nadha dan Amstrong mengevakuasi para lizardman yang terluka. Lawan kami tiba-tiba memanggil partnernya. Muncul monster mitos fenrir, werewolf dan unicorn.
Fenrir langsung menyemburkan api hitam dari mulutnya. Kami dapat menghindar dan melompat ke arah yang berbeda. Tetapi Zaryusu diserang lagi oleh seorang peserta turnamen. Aku menebak bahwa dia adalah seorang warior. Warior itu bekerja sama dengan werewolf menyerang Zaryusu.
Salah satu dari mereka adalah seorang mage. Mage itu bekerja sama dengan unicorn menyerang Robin. Sedangkan satu orang lagi adalah seorang thief. Thief itu menyerangku bersama fenrir.
Tapi aku tidak kesulitan melawan thief ini. Aku lebih kesulitan mengatasi fenrir. Beberapa kali tendangan dan pukulan lawan dapat kuhindari. Setelah terlihat celah sedikit aku langsung memukul thief itu hingga terlempar. Tetapi aku terus diserang oleh partnernya. Pergerakan fenrir ini sangat cepat.
Memang sesuai dengan predikatnya sebagai monster mitos tinggkat tinggi kataku dalam hati sambil menghindari beberapa serangan.
"Datanglah Escanor," kataku sambil terus mencoba menghindari serangan fenrir tadi.
Muncul Escanor dengan wujud seorang pria. Escanor langsung memukul fenrir itu dengan tangan kanannya. Fenrir itu terlempar sangat jauh sehingga dia tidak bisa bergerak. Sementara itu thief tadi langsung terbelalak. Dia sepertinya kaget karena sekali pukulan Escanor dapat mengalahkan fenrirnya.
Sementara Robin telah memanggil Bunglon. pertarungan mereka telah berakhir sebelum aku menyelesaikan pertarungan. Kerja sama Robin dan Bunglon memang sangat baik. Itu terlihat ketika kami masih berlatih bersama untuk turnamen ini.
Zaryusu juga sepertinya dapat memenangkan pertempuran. Mungkin karena dia telah menggunakan kemampuan pedang snowman. Tubuhnya yang telah di lengkapi armor tidak dapat di tembus oleh serangan warior dan werewolf. Ketika werewolf mencakar, Zaryusu menangkis dan langsung menusukkan cakarnya tepat pada tubuh werewolf itu. Sementara warior mencoba menebas dari sebelah kiri Zaryusu tetapi dapat di tendang dengan kaki kanan hingga terlempar.
Zaryusu mendekati warior tadi dan ingin menusuk dengan cakarnya. Tetapi aku menahannya.
"Sudah cukup tuan Zaryusu, aku akan ambil alih dari sini," kataku sambil menenangkan Zaryusu.
Diketahui tiga orang yang menyerang tadi bernama Ruby (mage), Estal (warior), dan Doggal (thief). Kami memenjarakan mereka di ruang bawah tanah dan mengambil kristal mereka. Tetapi kristal mereka hanya tersisa satu. Mereka telah dikalahkan oleh peserta lain lalu melampiaskan amarahnya dengan menyerang monster mitos di dekatnya.
Aku meminta maaf kepada Zaryusu karena perbuatan para peserta tadi. Zaryusupun menerimanya meskipun masih terlihat kesal. Jelas dia kesal karena teman-temannya disakiti. Untungnya para lizardman hanya terluka walaupun beberapa ada yang sangat parah.
Tetapi setelah itu para lizardman benar-benar ceria seperti biasa. Tidak terlihat bahwa mereka marah karena diserang tanpa alasan. Meskipun begitu terlihat Zaryusu tidak dapat menutupi perasaannya.
***
Hari pertama kami telah mengumpulkan empat bola kristal. Jadi total bola kristal kami adalah tujuh. Kami telah mengintrogasi kelompok yang menyerang lizardman dan bertanya tentang siapa yang mengalahkan mereka sebelumnya. Mereka hanya mendengar salah satu dari musuh saat itu memanggil temannya dengan nama Sirius dan menggunakan seragam Float Akademi.
"Hei kesatria kecil, apakah kamu ada waktu untuk berbicara denganku?" tanya Zaryusu saat aku sedang berkumpul bersama Nadha, Robin dan para lizardman.
"Oh tuan Zaryusu, iya aku bisa," kataku sambil meninggalkan Nadha, Robin dan para lizardman.
Aku masuk ke dalam ruangan Zaryusu dan duduk di kursi. Kursi itu tepat di depan Zaryusu yang sedang duduk.
"Mungkin terlambat menanyakan tentang ini, sebenarnya apa misi kalian?" tanya Zaryusu penasaran.
"Maafkan kami tuan, kami lupa untuk menjelaskan tujuan kami ada di hutan mitos ini kepada kalian," kataku kepada Zaryusu.
Setelah itu aku menjelaskan panjang lebar mengenai tujuan kami ada di hutan mitos. Begitu juga para penyerang lizardman tadi. Awalnya Zaryusu mengira bahwa kami sedang melarikan diri dari musuh. Sehingga kami butuh reruntuhan ini untuk bersembunyi.
"Hahahaha, begitu rupanya. Aku benar-benar salah paham. Kami akan membantu kalian," celetuk Zaryusu tiba-tiba.
"Ehh, terima kasih tuan Zaryusu. Tapi kami tidak mau merepotkan dan membahayakan para lizardman," kataku dengan sedikit ragu-ragu.
"Tenang saja, prajuritku kuat. Mereka tidak semudah itu di kalahkan anak-anak nakal seperti kalian," kata Zaryusu yang menepuk punggungku sambil tertawa.
Apakah aku harus percaya kata-katanya jika kenyataannya mereka hampir saja tewas gara-gara peserta dari Tower Akademi kataku dalam hati ragu dan terpancar oleh raut mukaku yang terlihat ragu-ragu.
***
Para lizardman tiba-tiba melakukan patroli wilayah dengan sangat terorganisir. Mereka melaporkan setiap kejadian yang ada di sekitar reruntuhan kepada Zaryusu. Aku hanya bisa melihat saja dan menerima bantuan dari Zaryusu. Tatapan aneh Nadha mengarah kepadaku seakan dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Ehem, apa yang sebenarnya terjadi dengan para lizardman?" tiba-tiba Nadha mendekatiku dan bertanya.
"Tuan Zaryusu memaksa ingin membantu kita setelah aku menjelaskan tentang turnamen yang kita ikuti," kataku menjawab Nadha yang terlihat ingin tahu.
"Tapi mereka banyak yang masih terluka, apakah tak masalah?" tanya Nadha lagi kepadaku.
"Aku sudah sampaikan itu kepada tuan Zaryusu, tapi dia sangat percaya dengan kemampuan prajuritnya. Jadi aku tidak bisa berkata apa-apa," aku menjawab Nadha jujur.
"Sudah-sudah kalian berdua. Aku mengerti kekhawatiran Nadha soal luka yang diderita para lizardman, tapi raja Zaryusu lebih mengetahui kemampuan para lizardman," kata Robin yang awalnya hanya diam.
***
Cahaya mentari terbit menyinari hutan mitos yang masih dipenuhi kabut pagi. Aku membuka mataku dan keluar dari tenda. Terlihat para lizardman sangat sibuk ke sana kemari.
Apa yang terjadi pagi-pagi begini kataku dalam hati.
"Hei Kenang cepat kemari," kata Robin memanggilku terlihat serius.
"Ada apa?" tanyaku sambil mendekati Robin dan beberapa lizardman.
Robin dari dekat jendela reruntuhan menunjuk ke arah bawah. Terlihat samar-samar itu seperti bayangan anjing yang sedang berkumpul di sekitar reruntuhan.
Terlihat Zaryusu keluar dari ruangannya dan bergegas menuju ke lantai bawah. Aku dan Robin langsung mengikuti Zaryusu dari belakang.
Setelah sampai di pintu keluar reruntuhan, terlihat puluhan hell hound. Tiba-tiba bayangan hitam perlahan muncul dari kabut. Itu adalah monster mitos jenis fenryu di ikuti dengan satu fenrir di belakangnya.
"Apa yang kalian lakukan di wilayahku?" tanya Zaryusu kepada monster mitos fenryu.
"Aku hanya ingin mampir menyapamu," kata fenryu sambil terlihat tubuhnya gemetar.
Setelah menjawab pertanyaan Zaryusu monster mitos fenryu langsung jatuh dan tak sadarkan diri. Para hell hound langsung mendekatinya terlihat sangat khawatir.
Aku langsung bergegas mendekati fenryu tadi, begitupun Zaryusu. Aku melihat banyak sekali luka yang ada pada tubuhnya.
"Minggir," kata Zaryusu mendekati fenryu tadi setelah itu mengangkatnya.
Zaryusu membawa fenryu tadi masuk ke dalam reruntuhan. Sedangkan para hell hound mengikuti dari belakang.
Beberapa menit kemudian fenryu itu tersadar. Dia sadar ketika Nadha mencoba membalut perban pada tubuhnya.
"Siapa kamu?" tanya fenryu itu sambil melihat Nadha.
"Oh kamu sudah sadar," kata Nadha sembari memerban luka Solus.
Aku yang melihat dari jauh mengetahui fenryu sadar langsung melaporkan pada Zaryusu. Zaryusu yang sedang makanpun langsung meninggalkan makanannya dan bergegas menuju ruangan fenryu dirawat.
"Apa yang sebenarnya terjadi Solus?" tanya Zaryusu pada fenryu yang terbaring dengan tubuh menyerupai anjing putih.
"Ah ini bukan apa-apa," kata Solus tidak mau menjelaskan apa yang telah terjadi .
"Aku telah bertanya dengan anggotamu dan mereka sudah menjelaskan. Kamu keras kepala seperti biasanya karena tidak ingin orang lain khawatir," kata Zaryusu terlihat jengkel.
"Hahaha, padahal sebelum kemari aku sudah bilang pada mereka untuk tutup mulu," kata Solus sambil tertawa tetapi tawanya terasa hambar.
Akhrinya Solus menjelaskan pada Zaryusu meskipun ada aku, Nadha dan Robin di ruangan itu. Ternyata dia di serang oleh sembilan orang pemuda. Solus tidak tahu apa yang sebenarnya para pemuda itu incar.
Setelah itu kelompokku dan beberapa lizardman pergi untuk melakukan pengecekan pada wilayah solus. Ternyata fenrir yang menemani Solus mengikuti kami dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan?" aku bertanya pada fenrir yang ada di belakangku.
"Aku ingin melihat kondisi wilayah kami," kata fenrir itu menjawab sambil berlari di belakang kami.
__ADS_1
"Perkenalkan aku Kenang, siapa namamu?" aku bertanya pada fenrir yang terus mengikuti kami dari belakang.
"Razor," kata fenrir itu terlihat cuek.
Akhirnya setelah beberapa menit kami sampai di wilayah para hell hound. Wilayah itu dekat dengan air terjun yang sangat indah. Sebelah air terjun terdapat sebuah gua. Gua itu adalah tempat beristirahat para hell hound kata Razor.
Setelah beberapa saat aku, Nadha, Razor dan beberapa lizardman menyepakati sesuatu. Aku dan Robin akan menyusup ke dalam gua. Sementara yang lain mengawasi bagian luar. Selain itu menurut Razor masih tercium bau orang-orang yang menyerang hell hound dari dalam gua.
Aku dan Robin berlari melewati tanah lapang menuju ke dalam gua. Setelah sampai dalam gua Robin memanggil Bunglon. Bunglon ditugaskan untuk masuk bersama kami tetapi dalam mode skillnya.
Setelah beberapa langkah kami masuk, tiba-tiba ada bayangan manusia yang terlihat dari pantulan cahaya api di dinding gua. Kami berhenti dan menghilang di kegelapan.
Ternyata bayangan tadi adalah empat orang peserta turnamen sedang membawa tubuh hell hound. Sepertinya hell hound itu sudah tidak bernyawa. Empat orang itu menggunakan seragam Float Akademi.
Aku hanya berdiri di dalam kegelapan. Sembari aku memperhatikan empat orang tadi. Setelah empat orang tadi telah menjauh aku keluar dari kegelapan. Begitupula Robin yang secara bersamaan denganku keluar dari persembunyiannya.
Kami terus menelusuri gua tersebut hingga akhirnya sampai pada ujungnya. Ujung gua itu sangat terang. Terang dari api yang ada di sekitar yang dapat memperlihatkan puluhan hell hound tergeletak di tanah. Selain itu bercak darah ada di sekitar lantai gua itu.
Sekitar lima orang sedang melakukan sesuatu pada seekor hell hound. Hell hound itu sepertinya sudah tidak bernyawa.
Robin mengambil posisi untuk menyerang dari kejauhan. Sedangkan aku memanggil Escanor.
"Escanor tolong aku," kataku lirih sambil berbisik pada Escanor.
"Oh iya aku mengerti," kata Escanor lalu berjalan mendekati kelima orang tadi.
"Hei apa yang sedang kalian lakukan bocah, aku panitia pengawas ujian," kata Escanor mendekati lima orang yang terlihat menggunakan seragam Float Akademi.
"Kami sedang mengambil taring hell hound pak," kata salah satu orang yang memiliki rambut panjang berwarna kuning.
"Apakah itu akan kalian jadikan bahan?," tanya lagi Escanor kepada mereka.
"Iya pak, kami mau menjadikan bahan untuk senjata dan sebagian mungkin akan kami jual," jawab laki-laki berambut kuning tadi.
Aku yang terkejut dengan percakapan mereka serasa mendidih. Rasa marah bercampur benci dengan apa yang telah mereka lakukan. Tetapi aku tetap mencoba menenangkan diri.
Tetapi tidak dengan Escanor. Escanor yang merupakan nonster mitos juga memiliki rasa iba. Meskipun itu dari ras yang bebeda darinya.
"Pergilah dari sini sekarang, sebelum aku membantai kalian," kata Escanor yang terlihat sangat kesal.
"Maksud bapak?" tanya laki-laki tadi sambil menghentikan kegiatannya.
Aura yang sangat mengerikan keluar dari tubuh Escanor. Aku merasakan aura itu dari kejauhan benar-benar merinding.
Untung saja para peserta itu menurut dan pergi dari tempat itu.
"Maaf pak, aku tidak tahu bahwa ada aturan yang tidak memperbolehkan menyerang monster mitos," kata laki-laki itu sambil berdiri dan berjalan melewati Escanor.
"Mau kemana kamu Sirius," tanya temannya yang ada di belakangnya.
"Ayo kita keluar, sudah tidak ada apa-apa yang bisa kita ambil di sini," kata Sirius pada tiga temannya yang lain.
Akhirnya mereka berempat keluar tanpa perlawanan. Mungkin mereka percaya bahwa Escanor adalah petugas khusus yang mengawasi turnamen ini.
Aku mendekati Escanor dan melihatnya seperti sangat sedih. Matanya berkaca-kaca sambil melihat puluhan hell hound tergeletak tanpa taringnya.
-------------------****--------------------
Monster Pedia
â– Unicorn: Monster mitos yang memiliki tubuh seperti kuda dan memiliki tanduk. Memiliki tenaga yang kuat sehingga bisa berlari hingga satu minggu lamanya. Memiliki sihir cahaya dan skill horn attack. Monster mitos tinggkat menengah. Termasuk ras beast.
__ADS_1