
3.5 Kekuatan Sloth.
Aku berjalan menyusuri ruangan yang gelap ditemani suara langkah kaki yang menggema. Meskipun samar terlihat ada dua orang yang berada di depanku. Setelah beberapa lama aku berjalan, akhirnya cahayapun terlihat. Aku, Elric dan Escanor keluar dari gua.
Setelah itu Escanor langsung meninggalkan kami berdua. Lalu aku dan Elric langsung berlari dan melompat-lompat di atas pohon untuk kembali ke lapangan tempat anak-anak berkumpul.
"Elric, apakah Sincan sudah di temukan?" tanyaku ketika melompati beberapa pohon.
"Sudah, tadi ada seorang kakek berambut putih datang membawa anak itu. Kalau tidak salah namanya Al, Al, Albert," kata Elrick yang mencoba mengingat orang yang membawa Sincan kembali.
"Haaa, Albert," kataku terkaget mendengar nama itu.
"Brakkkkk," tiba-tiba aku kehilangan fokus dan menabrak pohon di depanku.
"Hei apakah kau tidak apa-apa?," kata Elric yang berdiri di sampingku sambil mengulurkan tangannya.
"Tidak apa-apa," jawabku sambil meraih tangan Elric dan mencoba berdiri lagi.
"Bagaimana ciri-ciri orang tua bernama Albert ini?" tanyaku penasaran kepada Elric.
"Rambutnya putih, tetapi putihnya tidak biasa. Ah iya mirip dengan warna rambutmu," kata Elric sambil mengingat orang yang membawa Sincan.
Ketika Elric memberikan informasi itu, aku berharap bahwa itu adalah kakekku. Aeku sangat senang dengan informasi itu. Meskipun ada sedikit keraguan.
"Terus?" tanya Kenang yang masih penasaran.
"Ada bekas luka di wajahnya, sepertinya luka permanen," kata Elric lagi sambil mencoba mengingat.
"Hah bekas luka?" kataku yang terkaget. Tapi kakek tidak memiliki bekas luka di bagian yang terlihat kecuali punggungnya kataku dalam hati. Setelah itu aku semakin ragu bahwa orang tersebut adalah kakekku. Tetapi di dalam hatiku aku berharap bahwa itu adalah kakek.
Sesampainya di lapangan tempat anak-anak berkumpul kami dikejutkan oleh keberadaan Raja Harlequin di tengah anak-anak itu.
"Baginda raja," kataku menyapa raja Harlequin sambil berlutut di depannya. Elricpun mengikutiku untuk berlutut di depannya.
"Berdirilah kalian. Tidak perlu seformal itu," kata raja Harlequin yang tengah asik bermain dengan anak-anak.
"Baginda raja dengan siapa kemari?" tanyaku penasaran karena entah kenapa berharap Nadha datang bersamanya.
"Kenapa bertanya begitu?, aku datang dengan pak Syahir. Kangen dengan Nadha kamu Kenang?" kata raja Harlequin yang sepertinya tahu maksudku bertanya kepadanya.
"Eh, bukan baginda raja. Aku hanya ingin tahu saja, karena tidak ada orang lain yang aku lihat di sekitar kita selain anak-anak ini," jelasku pada raja Harlequin.
"Hahahaha, sudah jangan berbohong Kenang," kata raja Harlequin yang mengetahui maksud pertanyaan Kenang tadi.
Aku hanya terdiam dan wajahku terasa panas. Sementara Elric kebingungan dengan kedekataanku dengan raja Harlequin. Sepertinya dia heran kenapa aku berani berbicara dengan raja seperti sudah saling mengenal.
Setelah beberapa saat datanglah seorang laki-laki berbaju hijau dan perempuan berbaju biru muda.
"Ayah," kata perempuan berbaju biru yang datang.
__ADS_1
"Oh, Nadha. Nih ada yang mencarimu," kata raja Harlequin sambil mendorongku ke arah Nadha.
Aku hanya menurut saja ketika didorong oleh raja. Sedangkan Elric masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Hei lama tak berjumpa," kata Nadha yang terlihat senang.
"Hei," kataku sambil garuk-garuk kepala karena malu dengan kata-kata raja Harlequin tadi.
"Ada urusan apa raja dan pak Syahir datang kemari?" tanyaku setelah menyapa Nadha.
"Oh, aku hanya mengantarkan anak yang sedang kangen dengan seseorang," kata raja Harlequin dengan tersenyum.
"Iihhh, ayah. Jangan begitu," kata Nadha sambil memukul-mukul raja Harlequin.
"Duaaaarrrr," suara ledakan terdengar sangat keras. Ledakan itu mengeluarkan asap hitam pekat. Sepertinya berasal dari gua dimana aku terperangkap tadi.
Aku, Nadha dan Elric langsung ditugaskan oleh raja Harlequin untuk mengevakuasi anak-anak. Sementara raja dan pak Syahir langsung pergi menuju arah ledakan tadi.
Setelah aku, Nadha dan Elric mengevakuasi seluruh anak-anak di pos penjagaan, kami langsung pergi ke arah ledakan bersama beberapa prajurit.
Aku terus melompat-lompat dibatas pohon dengan Elric dan beberapa prajurit yang memiliki job assasin dan artemis. Sementara Nadha sedang berlari di tanah diikuti beberapa prajurit yang memiliki job paladin, necromancer, dan Lector.
Setelah melewati hutan kami melihat pak Syahir sedang bertarung dengan orang yang aku kenal yaitu Andi. Sementara raja Harlequin disibukkan oleh monster mitos jenis satir yang pernah aku temui yaitu bernama Sloth.
Tiba-tiba getaran sangat kuat terasa ketika kami mengepung Andi dan Sloth. Sepertinya getaran itu berpusat dari gua samping pertarungan. Seketika tanah retak dan beberapa ambles. Sementara Sloth dan Andi langsung lompat dari tanah yang ambles.
"Hampir saja," kata Sloth sambil mengusap wajahnya dengan punggung tangannya.
"Mungkin sudah," jawab Sloth dengan entengnya.
Akibat getaran itu tercipta retakan tanah yang sangat panjang dari gua hingga masuk ke dalam hutan.
"Thunder Clap," teriak raja Harlequin dari sisi yang berseberangan karena terpisah oleh retakan tanah.
Keluar cahaya petir berwarna biru dari buku raja Harlequin mengarah ke langit biru. Setelah itu puluhan petir dari langit biru turun menghujam dimana Sloth dan Andi berdiri.
Tetapi Sloth dan Andi berhasil menghindarinya dengan mudah. Terlihat area tempat terjatuhnya sihir petir milik raja Harlequin hangus dan merusak permukaan tanahnya.
"Gluttony," kata Satir mengeluarkan skillnya yang membuat bayangannya menyebar ke berbagai arah. Ternyata bayangan itu mengarah ke para prajurit yang bersamaku dan Nadha.
Sekitar lima prajurit tidak bisa menghindari skill itu sehingga terbungkus oleh cairan hitam yang perlahan-lahan menjadi bayangan kembali. Sosok prajurit yang tertelan cairan tadi juga lenyap.
Ketika bayangan itu kembali kepada Sloth, tubuhnya mengalami perubahan. Dia bertambah tinggi dan tubuhnya terlihat proporsional.
Lalu dia berlari dengan sangat cepat hingga mataku tidak dapat mengikutinya. Satu persatu prajurit jatuh dan tubuh mereka lenyap begitu saja.
"Sial," kataku sambil terus memperhatikan pembantaian itu.
"Amstrong munculah," teriak Nadha dari kejauhan.
__ADS_1
Cahaya putih muncul membentuk tubuh manusia dan memiliki sayap. Amstrong muncul tepat di depan Nadha menahan serangan Sloth.
Seketika aku tersadar bahwa ini masih berada di pertarungan. Aku langgsung memanggil Escanor. "Turunlah Escanor."
Seketika Naga besar berwarna hijau kebiruan muncul dengan lesatan yang sangat dahsyat hingga menggetarkan bumi. Aku dan Escanor langsung menyerang Sloth yang di tahan oleh Amstrong.
Setelah Sloth berhasil di sembur oleh Escanor, dia mundur sedikit dari posisinya dengan tangan menyilang di depan dadanya. Dia telah berhasil menahan semburan Escanor meskipun terlihat terluka akibatnya. Tetapi setelah itu tubuhnya semakin membesar dan mengeluarkan aura yang mengerikan.
Sementara itu Andi yang berada jauh dariku hanya berdiam diri saja. Dia tidak melakukan apapun. Dia sepertinya mengacuhkanku dan pura-pura tak mengenalku.
Raja Harlequin mendekati Escanor bersama dengan pak Syahir, Yuan, dan Rize. Mereka berusaha menyerang Sloth berkali-kali tapi tak ada satupun serangan mereka mengenai Sloth.
Saat serangan bertubi-tubi itu berlangsung, aku mendekati Nadha dan Amstrong.
"Apakah kalian tidak apa-apa?" tanyaku pada Nadha dan Amstrong setelah dekat dengan mereka.
"Tak masalah," Jawab Nadha yang masih fokus terhadap serangan-serangan yang menuju ke arah Sloth. Sementara Amstrong hanya diam saja terlihat fokus terhadap sekitarnya.
Setelah serangan bertubi-tubi mengarah pada Sloth, tiba-tiba gua yang berada di samping pertarungan hancur. Muncul makhluk yang sangat besar berwarna hitam dan kekar. Itu adalah Wrath yang mengagetkan kami.
"Hei Wrath apakah sudah selesai?" tanya Sloth pada makhluk hitam tadi sambil melambaikan tangannnya.
"Oh sudah, ayo kita pergi," kata Wrath sambil menunjukkan benda kecil di tangannya. Benda itu berbentuk tombak yang sangat bagus.
"Pergilah duluan, Andi ikuti Wrath," kata Sloth yang tidak ingin melewatkan pertarungan melawan orang-orang di sekitarnya.
"Baiklah, ayo Andi," kata Wrath sambil berbalik badan. Setelah itu Andi berlari mendekati Wrath dan melompat di pundaknya.
Tiba-tiba lubang hitam besar muncul menelan Wrath dan Andi. Mereka berdua lenyap tak tersisa.
"Mari kita lanjutkan," kata Sloth yang langsung menyerang seluruh orang yang berada di dekatnya. Kecepatannya sangat mengerikan tetapi Escanor dapat mengikutinya dengan baik dan menahan serangan yang menuju beberapa orang.
Aku sempat seperti melihat tanyangan lambat pergerakan mereka berdua, tetapi aku yakin bahwa gerakanku tidak dapat mengikuti kecepatan mereka.
Serangan demi serangan saling bertukar antara mereka berdua. Setiap pukulan yang dapat di tangkis pasti mengeluarkan ledakan.
"Divine Ray," kata Yuan dan Amstrong secara bersama-sama.
Dua cahaya muncul dari atas Sloth bersamaan yang semakin menghilang dan kemudian meledak dengan dahsyat. Sementara Escanor yang mendengar suara Yuan dan Amstrong langsung mundur menghindari cahaya tadi.
Meskipun Sloth terkena serangan dadakan itu, dia tetap dapat berdiri tegap dengan luka di sekujur tubuhnya. Lalu aura di sekitar Sloth menjadi lebih berat. Perubahan aura ini seperti yang aku rasakan ketika Escanor melawan Pride dulu.
Tubuh Sloth kemudian berubah menjadi pebih besar. Wajahnya yang awalnya terlihat seperti manusia perlahan berubah seperti wajah kambing. Tumbuh dua tangan lagi di bawah tangan utamanya dan tubuhnya menjadi lebih besar.
"Mundur semuanya," kata Escanor yang mengetahui bahwa perubahan Sloth akan sangat berbahaya.
Lalu semua orang yang ada di sekitar pertarungan langsung berkumpul. Semua prajurit yang bersamaku dan Nadha di awal tadi sudah lenyap. Sehingga tinggal Aku, Nadha, Elric, raja Harlequin dan pak Syahir.
Sementara para monster mitos melindungi kami. Yuan, Amstrong, Rize, dan Alfonse berada tepat di depan kami. Sementara Escanor berada jauh dari kami dan paling dekat dengan Sloth.
__ADS_1
Tetapi ketika Sloth mulai melompat untuk menyerang Escanor, tiba-tiba tubuh kami serasa di pindahkan ke suatu tempat.