Rune Knight (Monster Tamer)

Rune Knight (Monster Tamer)
BAB III Legenda Yang Terhapus


__ADS_3

3.1 Tongkat.


Aku sedang melakukan perjalanan dengan satu orang dewasa dan satu orang yang seumuran denganku. Sekarang aku telah bertambah tinggi tidak seperti lima tahun yang lalu.


Ya, aku sekarang telah berumur lima belas tahun. Ini adalah tahun kelima setelah aku menyelesaikan pelatihanku di Distrik Akademi. Setelah menyelesaikan pelatihanku di Distrik Akademi, aku diajak oleh instruktur Jihan untuk belajar dan mendalami seni bertarung job assasin.


Lima tahun yang lalu aku berpisah dengan Robin dan Nadha. Mereka juga melakukan pendalaman job masing-masing. Nadha belajar dibawah naungan ibunya sendiri yaitu ratu kerajaan Carleon.


Aku baru mengetahui bahwa nama Ratu kerajaan Carleon adalah Matilda. Matilda adalah nama seseorang yang sangat terkenal dalam kemampuan sihir job mystic dua puluh lima tahun yang lalu. Oleh karena itu aku sangat kaget ketika Nadha memberitahu nama ibunya kepadaku.


Sementara itu Robin diangkat menjadi murid oleh seorang Artemis yang tidak di kenal banyak orang. Artemis itu bernama Liquel. Kabarnya Liquel adalah salah satu prajurit wanita yang pernah ikut berperang sepuluh tahun yang lalu di bawah bendera kerajaan Roman. Tetapi entah kenapa dia berhenti setelah dua tahun berperang meskipun memiliki banyak prestasi dalam peperangan.


Sedangkan aku sekarang diajak berkeliling melakukan perjalanan keseluruh penjuru kerajaan bersama instruktur Johan dan Elric. Instruktur Johan berhenti dari Distrik Akademi dengan alasan ada tugas khusus yang diberikan oleh kerajaan Carleon untuknya. Tetapi selama lima tahun ini aku tidak melihat instruktur Johan melakukan tugas khusus. Dia hanya bersantai-santai, menyuruh latihan, memberikan arahan kepadaku dan Elric, serta sisanya malas-malasan.


Seperti yang sedang kami lakukan sekarang yaitu bersantai di pantai kute. Pantai kute berada di wilayah kerajaan Carleon tepatnya di pulau yang berada di wilayah kerajaan Majapahit dulu. Kami telah mengeksplorasi selama lima tahun ini pulau-pulau yang berada di wilayah kerajaan Majapahit dulu. Mulai dari pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sekarang kami ada di pulau Bali.


Setelah beberapa menit menikmati suasana pantai malam hari, aku berdiri karena ingin berjalan-jalan meninggalkan instruktur Jihan dan Elric yang sedang berbaring di pasir.


"Mau kemana kamu Kenang?" tanya instruktur Johan yang sedang berbaring.


"Mau jalan-jalan sebentar pak," jawabku lalu pergi berjalan menyisiri tepi pantai.


Setelah cukup jauh berjalan menyisiri pantai, aku melihat seorang wanita sedang duduk di tepi pantai. Aku berjalan mendekati wanita itu. Wanita berambut panjang hitam kebiruan sedang melamun.


"Hei," kataku menyapa wanita itu.


Dia langsung menatapku. Terlihat tatapannya yang kosong membuatku kebingungan.


"Bolehkah aku duduk di sampingmu?" tanyaku dengan sopan kepada wanita yang menatapku.


Dia hanya mengangguk dan berpaling kembali memandangi laut.


"Ne, apakah kamu pernah berpikir kenapa terlahir di dunia ini?" tanya gadis di sampingku tiba-tiba tetapi dengan memandangi lautan yang diterangi bulan.


Aku kemudian menoleh melihat wajah wanita itu dari samping kirinya. Melihat wajah cantiknya yang terlihat sangat dingin.


"Ehm, menurutku kita terlahir dengan maksud dan tujuan tertentu," kataku menjawab pertanyaan wanita tadi.


Wanita itu hanya terdiam dan terus memandangi lautan. Suara ombak dan hembusan angin menemani kami berdua malam itu hingga akhirnya tanpa ku sadari mataku tertutup.


"Hei Kenang bangun, bangun," kata seseorang yang terdengar samar-samar.


Aku membuka mataku dan melihat Elric yang mencoba membangunkanku.


"Ah, aku ketiduran," kataku setelah membuka mata. Setelah itu melihat sekitar dan ternyata wanita tadi sudah tidak terlihat lagi.


"Cepat bangun, lihat ke arah sana!" kata Elric sambil menunjuk ke arah dimana terlihat cahaya berwarna merah kekuningan dan mengeluarkan banyak asap.


"Ehh, apa yang terjadi?" kataku menduga telah ada kebaran pada arah kota yang sempat kami kunjungi tadi siang.


"Cepat kita bergegas kesana, instruktur sudah duluan ke sana," kata Elric yang kemudian berlari.


Aku mengikutinya menuju pepohonan di samping pantai. Setelah melompat-lompat di pepohonan dalam hutan akhirnya kami berdua sampai dimana asal cahaya itu berada. Kami berdua menyadari bahwa ada yang aneh dengan kejadian di kota.


Kami berdua mengawasi dari atas pohon untuk memastikan situasi. Banyak orang berlarian ke sana kemari. Terlihat ketakutan dari wajah mereka.


"Duar, duar, duar," suara ledakan berkali-kali terdengar dan diikuti dengan getaran yang sangat kuat.


Aku dan Elric akhirnya memutuskan untuk berpencar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Elric pergi ke arah kanan sedangkan aku pergi ke arah kiri.


Setelah itu aku bertemu dengan walikota kota tersebut. Dia berada tepat di luar pintu gerbang sebelah timur. Aku mengetahui walikota itu karena sempat bertemu ketika mampir ke kota itu.


Walikota ini katanya dipilih bukan karena kemampuannya bertarung. Ini sangat berbeda dari walikota di kota-kota yang pernah aku datangi. Tetapi dia sangat bijak dalam mengambil keputusan untuk rakyatnya. Rambutnya berwarna putih bercampur hitam yang menandakan usianya sudah cukup tua. Badannya terlihat sangat kecil dan berjalan menggunakan tongkat unik di tangan kanannya kerika awal kita bertemu.


"Pak walikota apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku pada walikota yang sedang terengah-engah. Terlihat keringat berkucuran keluar dari tubuhnya.


"Ada beberapa monster mitos di dalam kota yang mengamuk. Untungnya sebagian besar warga telah di evakuasi oleh penjaga," kata walikota tadi sambil mencoba menyandarkan dirinya di dinding.


"Tuan Wayan apakah anda tidak apa-apa?" tanya seorang penjaga yang tiba-tiba datang dari dalam kota.


"Ah, aku tidak apa-apa. Hanya saja tongkatku tertinggal di dalam kantor," kata walikota yang ada di depanku.


"Biarkan saja, itu hanyalah sebuah tongkat," sautku kepada walikota sambil berkata dalam hati orang tua ini masih memikirkan tongkatnya di dalam keadaan seperti ini.


"Tapi itu adalah peninggalan kawan lamaku dan dia meminta tolong agar menjaga barang itu kepadaku," kata walikota itu dengan nada sangat marah tetapi terlihat sedih di wajahnya.


"Eh, iya-iya aku akan berusaha mencarinya. Tolong jaga walikota ini tuan penjaga," kataku yang merasa bersalah kepada walikota dan setelah itu langsung masuk ke dalam kota.

__ADS_1


Aku melompat-lompat di atas hunian penduduk. Tujuanku adalah tengah kota dimana kantor walikota berada. Selain itu asal suara beberapa ledakan berasal dari arah sana.


Ketika aku sudah berada sangat dekat dengan kantor walikota terlihat orang yang aku kenal ada di sana membawa tongkat walikota. Itu adalah Zeref dalam mode installnya.


Meskipun lima tahun telah berlalu tidak ada perubahan pada tubuh Zeref sama sekali. Perubahan yang aku rasakan adalah tekanan dari kekuatannya yang lebih kuat dari pada pertama kali kami bertemu.


Penjaga kota dan berbagai jenis monster mitos banyak yang tergeletak di tengah kota. Selain itu aku melihat instruktur Johan dikepung oleh goblin, ghoul dan ogre yang sangat banyak.


Tiba-tiba Elric muncul dari arah barat. Dia langsung menyerang beberapa monster mitos yang mengepung instruktur Johan. Sedangkan instruktur Johan hanya diam saja ketika Elric menghabisi seluruh monster yang mengepungnya.


Aku langsung melompat menyerang Zeref diam-diam. Tetapi seranganku gagal. Dia berhasil menghalau tebasan kedua pisauku dengan tongkat yang ia bawa. Aku terpental ke udara.


Saat masih di udara aku memanggil Escanor. Muncullah Escanor dari balik awan yang secara cepat meluncur ke belakangku. Kami langsung menggunakan hempasan naga. Tetapi dengan cepat Zeref menghindari serangan kami.


"Hei bocah ternyata kamu sudah berkembang," kata Zeref yang sebenarnya terlihat seumuran denganku.


"Elric dan Kenang jadilah supporter, aku yang akan bertarung dengannya," kata pak Johan yang berjalan mendekatiku. Terlihat monster mitos yang tadinya masih sangat banyak sekarang sudah tidak ada lagi yang hidup.


Di samping pak Johan terlihat ada Venom yang melayang mengikutinya. Sambil berjalan mendekatiku terlihat ekspresi wajahnya yang berubah menjadi sangat serius.


"Install," teriak pak jihan sehingga dia bergabung dengan Venom yang ada di sampingnya.


Setelah itu pak Johan langsung menyerang Zeref. Benturan senjata pak Johan dan tongkat Zeref terdengar sangat kencang. Pak Johan bergerak dari segala arah menyerang Zeref. Sedangkan Zeref bertahan dengan sangat tenang sambil menangkis serangan pak Johan.


Tiba-tiba Zeref kehilangan ketenangannya dan terlihat terengah-engah. Aku dan Elric yang tahu reaksi aneh Zeref langsung mengeluarkan sihir thunder dan flame dari jauh untuk membantu pak Johan.


Kami berdua dapat mengeluarkan sihir tingkat lanjut ini karena telah naik kelas job. Kami berdua sekarang berjob ninja. Selain skill thief yang telah kami kuasai, kami telah menguasai skill ninja selama dua tahun ini.


Ninja Skill.


-Water walking: kemampuan yang dapat digunakan untuk berjalan dan berlari di atas air.


-Shadow: kemampuan yang dapat membuat bayangan diri maksimal sebanyak lima bayangan.


-All weapon: kemampuan untuk menguasai seluruh jenis senjata.


-Taijutsu: kemampuan bertarung tangan kosong.


Ninja Magic.


-Thunder: mengeluarkan sihir sambaran petir dari langit.


-Blazing camp: sihir yang dapat dikuasai jika telah menguasai sihir thunder dan fire. Sihir ini keluar dari langit dapat mengeluarkan ledakan yang dahsyat.


Akhirnya muncul sihir blazing camp karena gabungan seranganku dan Elric. Setelah muncul seperti laser berwarna merah dari langit mengarah ke Zeref dengan sangat cepat. Cahaya laser tadi mengenai Zeref yang tak dapat menghindar.


Setelah terjadi ledakan cukup besar, terlihat Zeref menderita luka bakar serius. Lalu pak Johan langsung menangkap Zeref dan mengambil tongkat milik walikota.


Setelah mengikat Zeref, pak Johan langsung menginterogasinya.


"Siapa kamu?" tanya pak Johan serius.


"Tanya pada anak berambut putih itu," jawab Zeref dengan santai.


Akhirnya pak Johan menoleh ke arahku.


"Kenang kamu mengenali orang ini?" tanya pak Johan kepadaku.


"Dia adalah orang yang mengacaukan turnamen pada babak survival life pak," katakuku menjawab pertanyaan pak Johan dengan jujur.


"Apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya lagi pak Johan pada Zeref setelah aku menjelaskan secara detail peristiwa lima tahun yang lalu.


Zeref hanya tersenyum dan terlihat enggan menjawab pertanyaan pak Johan. Pak Johanpun kesal dengan sikap Zeref sehingga memukulinya.


Banyak darah terciprat karena pukulan pak Johan kepada Zeref. Tetapi dia tetap tidak berbicara sama sekali. Akhirnya ketika warga kota kembali, pak Johan berhenti memukuli Zeref.


"Hei anak muda," kata pak Wayan yang baru saja tiba.


"Oh, pak Wayan. Ini tongkat anda," kata pak Johan sambil mengembalikan tongkat berwana perak dengan motif burung dan naga di ujungnya.


"Oh iya terimakasih," kata pak Wayan sangat senang.


Setelah itu Zeref di serahkan kepada pasukan khusus kerajaan carleon yang bertugas di kota Kute ini. Rencananya Zeref akan di bawa ke kastil Carleon untuk ditindak lanjuti.


Kami bertiga diundang oleh walikota untuk bertemu di ruangannya. Di ruangan walikota terlihat banyak lukisan-lukisan yang sangat bagus.


"Maaf mengundang kalian kemari di waktu kalian sibuk," kata walikota yang duduk di depan kami.

__ADS_1


"Oh tidak masalah pak, kami juga ingin berpamitan karena harus melanjutkan perjalanan," kata pak Johan dengan sopan.


"Aku langsung saja pada intinya saja. Tongkat ini adalah miliki temanku dulu. Aku di berikan tongkat ini untuk menjaganya karena ini adalah peninggalan yang sangat penting dari kerajaan Majapahit. Sepertinya penjahat yang kalian lawan kemarin mengincar tongkat ini. Aku tidak mengerti kenapa, tapi benda ini sepertinya sangat pent.....," kata pak Wayan yang sedang menjelaskan tiba-tiba terpotong karena suara kagetku.


"Wahhhhhh," aku menjerit kaget ketika melihat salah satu lukisan yang berada tepat di belakangku duduk.


"Tenang Kenang, kita sedang membicarakan hal penting," kata pak Johan menegurku.


"Hahaha, tidak masalah tuan Johan. Itu hal biasa bagi anak-anak seumuran mereka. Jadi apa yang membuatmu terkejut anak muda?" kata pak Wayan yang sangat pengertian dan kemudian bertanya padaku.


"Apakah anda mengenal orang yang ada di lukisan itu pak?" tanyaku sangat antusias sambil menunjuk lukisan yang ada di belakangku.


Itu adalah lukisan sepuluh orang berambut putih dengan senjata di masing-masing tangannya. Salah satunya mirip dengan tongkat yang dibawa oleh pak Wayan. Sedangkan salah satu orang terlihat membawa pedang yang aku sepertinya pernah lihat.


Tetapi yang mengagetkan adalah ada foto seseorang yang sangat mirip kakekku meskipun terlihat masih muda.


"Oh orang yang membawa pisau itu adalah temanku. Dia menjabat sebagai putra mahkota majapahit waktu itu. Dan yang ada di sampingnya adalah orang yang memberikan tongkat ini. Lihat sama kan seperti yang ada di lukisan," jelas pak Wayan dengan sangat perhatian.


"Kalau boleh tahu namanya siapa ya?" tanyaku lagi penasaran.


"Namanya Albert," jawab pak Wayan singkat.


Seketika aku terkaget. Ternyata itu adalah kakekku.


"Kenapa kamu terlihat kaget begitu anak muda?" tanya pak Wayan kepadaku lagi.


"Oh tidak apa-apa pak, aku hanya seperti pernah bertemu dengannya," kataku yang sebernarnya tidak membohongi siapapun. Tetapi aku pikir lebih baik tidak ada yang tahu hubunganku dengan kakek untuk sementara ini.


-------------------****--------------------


Karakter Pedia.


● Kenang.


Lahir: Kerajaan Majapahit, 23 Eleven 994 Masehi.


Golongan darah: O.


Ras: Manusia (Snowman).


Job: Ninja.


Makanan kesukaan: Mie


● Elric.


Lahir: Kerajaan Imperial, 07 Ten 993 Masehi.


Golongan darah: AB.


Ras: Manusia.


Job: Ninja.


Makanan Kesukaan: Daging ayam.


● Johan.


Lahir: Kerajaan Carleon, 12 Twelve 960.


Golongan darah: O


Ras: Manusia.


Job: Assasin.


Makanan kesukaan: Daging sapi.


● Zeref.


Lahir:????????


Golongan darah:????????


Ras:????????


Job: Necromancer.

__ADS_1


Makanan kesukaan:????????


__ADS_2