
2.7 Nilai Sebuah Pengalaman.
Aku berada di tengah kerumunan Mustang yang berukuran seperti orang dewasa. Mereka mengepungku dan memukul secara brutal. Untungnya aku masih sempat melompat ke udara. Lalu Escanor melompat mendekatiku, aku berpijak pada tangan kanan Escanor yang berwujud manusia lalu dihempaskan. Escanor menghempaskanku dengan tangannya. Iya kami menggunakan skill kombinasi kami yaitu hempasan naga.
Dengan kecepatan ekstrem aku melaju cepat menuju langsung pada Razer. Aku melemparkan pisau yang ada di tangan sebelah kiriku. Ketika pisau itu mengenai bahu kanan Razer, aku melihat ekspresi kekagetannya. Razer sepertinya merasa kesakitan.
Aku semakin dekat dengan Razer dan dia mengacungkan pedangnya. Dengan tangan kanannya dia mengarahkan pedangnya ke arahku. Aku langsung menyerang pedang yang ada di hadapanku dengan pisau. Tebasan pisau dari tangan kananku berhasil mematahkan pedang Razer.
Potongan pedang tadi melayang dan menancap tepat di samping kedua teman Razer. Setelah itu aku berputar dan menendang pisau yang tertancap pada bahu Razer sehingga pisau itu menancap sangat dalam.
Akhirnya aku kembali memijakkan kakiku di tanah. Sedangkan Escanor aku perhatikan masih sibuk melawan Mustang. Escanor sepertinya kesulitan karena jumlah Mustang yang cukup banyak dan tubuhnya yang sangat keras.
"Jadi bagaimana Razer apakah masih ingin melanjutkan?" tanyaku pada Razer yang terlihat sangat kesakitan.
"Sudah cukup," tiba-tiba dua orang wanita berambut merah berada di depan Razer.
"Baiklah," kataku sambil duduk ke tanah dengan perasaan puas.
Razer yang ada di belakang dua wanita mencoba melepaskan pisau yang menancap pada bahu kanannya. Setelah dia berhasil melepasnya, dia langsung melemparkan pisau itu kembali kepadaku.
Aku menangkap pisau itu. Sementara Escanor dan Mustang sudah berhenti bertarung. Mustang menghilang dengan cara menyatu dengan tanah. Sementara Escanor menghilang dengan terbang ke langit.
"Ini sesuai janji Razer," kata wanita berambut merah yang lebih tinggi dari pada wanita di sampingnya.
Dia melempar kantong berwarna hitam kepadaku. Aku membuka kantong itu dan melihat enam bola kristal ada di dalamnya. Sementara wanita berambut merah yang satunya menyembuhkan Razer.
"Pertarungan yang luar biasa, aku akan lebih sungguh-sungguh lagi di pertarungan selanjutnya," kata Razer sambil mencoba berdiri walaupun masih dalam proses penyembuhan dari rekannya.
"Aku pasti akan mengalahkanmu lagi," balasku kepada Razer sangat percaya diri.
"Lisa, Misa ayo kita pergi," kata Razer yang telah sembuh dari luka yang ku berikan.
Setelah Razer, Lisa dan Misa pergi, aku langsung bergegas menuju reruntuhan. Hari benar-benar sudah gelap waktu aku kembali ke reruntuhan. Sesampainya di depan reruntuhan, aku keluar dari lebatnya pepohonan dan berjalan masuk ke dalam reruntuhan.
"Kenang dari mana saja kamu?" tanya seorang wanita yang sedang menunggu di depan tenda.
"Eh Nadha kenapa kamu tidak istirahat?" tanyaku kaget karena Nadha berdiri di depanku.
"Jawab dulu pertanyaanku bodoh," kata Nadha terlihat sangat kesal lalu memukul kepalaku.
"Waaa, iya iya. Aku dari mengintai beberapa wilayah sekitar sini," kataku yang merasa kesakitan pada bagian kepala setelah di pukul Nadha.
Setelah itu aku menunjukkan kantong yang ku dapat dari tim Razer kepada Nadha dan Robin. Kami bertiga mengeluarkan isi kantong tersebut. Robin dan Nadha terkejut melihat isi kantong tersebut. Mereka kaget karena aku mendapatkan enam bola kristal.
"Dapat dari mana kamu kristal ini Kenang?" tanya Robin sambil mengecek keaslian kristal tersebut.
"Yah keberuntungan," kataku tidak ingin mereka berdua tahu jika aku telah bertarung.
"Keberuntungan seperti apa?" tanya Nadha heran dengan jawabanku tadi.
"Ada seekor burung menjatuhkannya begitu saja di depanku," kataku berbohong sambil menahan tawa.
"Haaaaaa, mana mungkin aku percaya hal itu bodoh," kata Nadha dan memukulku kepalaku lagi.
"Maaf-maaf bercanda. Aku habis duel dengan seseorang jadi secara kebetulan menang dan mendapatkan hadiah darinya," kataku sambil merasa menyesal telah bercanda dengan Nadha.
"Eh Nadha apakah kamu sudah baikan?" sautku lagi bertanya kepada Nadha.
__ADS_1
"Lumayan sih, kenapa kamu khawatir?" tanya Nadha menggodaku.
"Ehm, iya aku sangat mengkhawatirkanmu tahu. Jadi sekarang kamu istirahat dulu sampai ada pengumuman penutupan tantangan ini," kataku sambil mengangkat paksa Nadha ke kamar.
Seperti biasa Robin hanya tertawa melihat tingkah laku kami berdua.
"Bentar ya Robin, aku mau menidurkan tuan putri," kataku sambil melihat ke arah Robin.
Tamparan sangat keras menghujam wajahku.
"Apa yang kamu lakukan Nadha?" kataku setelah kesakitan ditampar.
"Salah sendiri memanggilku putri," kata Nadha dengan wajah cemberut setelah itu meronta-ronta ingin di turunkan.
Akhirnya kami berdua sampai di ruangan yang Zaryusu dulu gunakan. Aku membuka pintu yang tidak tertutup rapat dengan kaki. Lalu aku meletakkan perlahan Nadha di atas kasur.
"Sudah kamu beristirahat dulu, nanti jika waktu pengumuman telah tiba aku akan memanggilmu," kataku setelah itu aku melangkah ingin meninggalkan Nadha.
"Sebentar, kemarilah," kata Nadha terlihat malu-malu.
Aku kembali mengikuti perintah Nadha. Setelah itu Nadha memegang wajahku dengan tangan kanannya yang sangat lembut. Wajahkupun berubah jadi merah dan sangat kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Deg deg deg deg," suara jantungku berdetak kencang dan aku sangat menyadari itu.
"Heal," kata Nadha mengeluarkan sihir penyembuhan kepadaku.
Aku langsung merasa lebih baik dari sebelumnya dan beberapa luka yang aku terima selama berduel dengan Razer menutup.
"Sudah pergilah," kata Nadha setelah menyembuhkanku.
***
Aku duduk di samping api yang membakar kayu dan terlihat tersusun sangat rapi. Sambil memandangi langit gelap yang diterangi sinar bulan dan bintang terdengar suara banyak orang berbicara.
Suara tadi berasal dari sekumpulan lizardman dan hell hound yang menemaniku di luar reruntuhan. Zaryusu juga terlihat sedang mengobrol dengan Robin sangat akrab. Nadha sedang mengelus-elus tubuh Solus yang tertidur di sampingnya.
Akhirnya tantangan ini telah berakhir kataku dalam hati yang terasa sangat lega.
Kami semua berkumpul di depan reruntuhan untuk merayakan pesta perpisahan kami. Beberapa menit yang lalu setelah kami mengecek total poin yang ada pada kristal aku, Nadha dan Robin ingin berpamitan kepada para monster mitos ini. Tetapi mereka memaksa kami untuk menunggu dan melakukan pesta perpisahan.
Mereka sangat sibuk menyiapkan pesta dadakan ini dan mengurung kami di penjara beberapa saat lalu. Mungkin mereka takut kami akan kabur sebelum mereka menyiapkan pesta ini.
Akhirnya kami di keluarkan dari penjara dan menikmati pesta yang di siapkan para lizardman dan hell hound ini.
"Hei bocah, aku ingin berterima kasih padamu," kata Razor yang tiba-tiba mendekatiku dan mengelus-ngeluskan kepalanya padaku.
"Tidak perlu tuan, aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan," kataku pada Razor yang sedang mengelus-ngelus kepalanya padaku.
"Terima ini, tidak boleh menolak," kata Razor yang mengeluarkan benda berbentuk seperti gigi dari mulutnya.
"Eh, apa ini.... taring?" kataku kaget dengan benda yang keluar dari mulut Razor.
"Iya itu taringku, taring fenrir sangat bagus digunakan untuk membuat senjata. Apalagi aku tahu bahwa kamu seorang snowman," kata Razor berbisik setelah itu dia meninggalkanku.
"Tuan, terimakasih," teriakku kepada Razor sambil membungkuk yang membuat suasana rame pesta tiba-tiba terdiam.
***
__ADS_1
Saat mentari pagi mulai menyinari hutan, kami berlari menuju gerbang dimana kami sebelumnya masuk ke hutan mitos. Nadha terlihat sedih di perjalanan sepertinya karena berpisah dengan para lizardman dan hell hound.
Sesampainya di gerbang kami disambut oleh para instruktur. Ketika kami keluar dari wilayah hutan mitos terlihat banyak orang berkumpul di luar pagar pembatas. Mereka adalah orang-orang yang ingin menyaksikan siapa saja peserta yang berhasil lolos.
Kami adalah tim terakhir yang datang dan berhasil bertahan hidup di hutan mitos. Setelah kami berjalan keluar, ada tempat pengecekan bola kristal tepat di tengah lapangan. Kami bertiga diarahkan untuk mendekati tempat tersebut.
Setelah kami menyerahkan bola kristal kami kepada laki-laki yang berjaga di tempat itu, dia langsung mengecek jumlah seluruh poin yang kami miliki.
"Dua ribu tiga ratus sebelas," teriak laki-laki tadi menandakan itu adalah jumlah poin kami.
Kami bertiga melihat papan skor yang tidak jauh dari situ. Di sana tertulis urutan tim dengan poin tertinggi hingga terendah.
Tim Razer : 2345 (Tower Akademi)
Tim Reza : 2317 (Waltz Akademi)
Tim Kenang : 2311 (Distrik Akademi)
Tim Elric : 2310 (Distrik Akademi)
Tim Asuna : 1750 (Distrik Akademi)
Tim Mire : 1200 (Waltz Akademi)
Tim Ades : 750 (Tower Akademi)
Tim Yuna : 200 (Tower Akademi)
Tim Doni : 195 (Waltz Akademi)
Tim Rena : 170 (Tower Akademi)
Walaupun dipapan pengumuman hanya tertera 10 tim tetapi yang berhasil bertahan selama seminggu sebanyak 11 tim. Sisanya hanya ada yang bertahan satu orang dan bahkan seperti tim Sirius tidak ada yang selamat.
Kami kembali berbaris di lapangan dan terlihat raja Rohan telah berdiri diatas podium.
"Kalian telah melewati ujian yang sangat mengerikan selama tujuh hari lalu. Berbanggalah kalian yang dapat selamat selama tujuh hari kemarin dan berhasil sampai di lapangan ini bersama kami. Kalian mungkin sudah tahu ada beberapa peserta tidak dapat hadir pada penutupan ujian survival ini. Berbagai macam kejadian tak terduga terjadi di hutan mitos. Hal-hal tak terduga seperti inilah yang akan menjadi pengalaman kalian untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Semoga kalian dapat belajar dari pengalaman ini. Salam hangat dariku," kata raja Roman memberikan pidato singkat.
Terlihat beberapa orang sangat sedih terutama para instruktur dan peserta dari Float akademi. Float Akademi memakan korban meninggal paling banyak dan tidak ada satupun dari mereka berhasil memasuki sepuluh besar di papan peringkat.
"Tim yang akan melanjutkan ke ujian selanjutnya adalah tim Razer, Reza, Kenang, dan Elric. Dimohon untuk kehadirannya setelah upacara ini beserta para instrukturnya," kata seseorang mengumumpkan dari podium tempat raja Rohan tadi berdiri.
"Hei bagaimana kabar kalian?," tanya instruktur Lina menyapa kami dari jauh sambil berjalan.
"Instruktur," teriak kami bertiga, sementara Nadha langsung memeluk instruktur.
"Syukurlah kalian selamat," kata instruktur Lina sambil mengelus kepala kami bertiga.
Setelah itu kami langsung berkumpul bersama 3 tim lain yang lolos di suatu ruangan.
"Perkenalkan namaku Makarov, aku yang akan menjelaskan peraturan dan sistem pertandingan final turnamen ini," kata orang yang ada didepan kami semua. Dia memiliki tubuh berotot tetapi sangat tua terlihat dari wajahnya.
Pertandingan final akan digelar 7 hari lagi agar peserta dapat beristirahat. Selain itu pertandingan ini bersistem poin kemenangan kelompok. Jika seluruh orang dalam tim kalah maka akan mendapatkan poin 0, tetapi jika menang salah satunya akan mendapat poin 3. Jadi jika ketiganya menang akan menjadi 9 poin. Oleh karena itu nanti poin tersebut akan di akumulasikan pada tabel pertandingan.
...Jadwal Pertandingan Tim...
__ADS_1