
3.6 Tujuan Tujuh Dosa Besar
"Huff, syukurlah tepat waktu," terdengar suara wanita dari jauh ketika aku mencoba membuka mata.
Aku mencoba membuka mataku berharap keluar dari kegelapan yang ada pada pandanganku. Sedikit demi sedikit kelopak mataku membuka. Cahaya sedikit demi sedikit mulai masuk ke dalam mataku sehingga aku dapat melihat orang-orang yang terduduk di tanah bersamaku.
Ketika pandanganku mulai pulih, aku mencoba berdiri dengan menopangkan kedua tanganku ke tanah. Perlahan aku bangkit sembari menoleh ke berbagai arah untuk melihat kondisi sekitar.
Ketika aku melihat sisi kiriku terlihat seorang wanita yang aku kenal. Wanita yang berpisah denganku ketika akan kembali ke Distrik Akademi lima tahun yang lalu.
"Hei Merlin, bagaimana kabarmu?" sapaku sambil melambaikan tangan kepada wanita yang berdiri di sebelah kiri agak jauh dariku.
"Hallo Kenang, aku baik-baik saja," kata Merlin membalas sapaanku sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Setelah itu orang-orang lain di sekitarku mulai bangkit dari posisinya dan membersihkan diri mereka dari debu yang tertempel di pakaiannya.
"Merliiiin," kata Nadha sambil berlari membentangkan tangannya ke arah Merlin.
"Iya tuan putri," kata Merlin menanggapi Nadha sambil mengelus-elus kepala Nadha yang memeluknya.
"Hei-hei dimana Escanor?" kataku ketika sadar bahwa Escanor tidak ada diantara kami.
"Oh, dia sengaja aku tinggal," kata Merlin dengan sangat santai.
"Haaaahhh?" kataku terkejut karena Merlin meninggalkan Escanor dengan sengaja.
"Tenang saja Kenang, Escanor itu kuat," kata Merlin dengan santai terlihat seperti meyakinkanku.
"Tapi Merlin....," kataku tetapi langsung di potong oleh Merlin.
"Sebentar lagi akan ku pindahkan kembali kalian. Jadi tenang saja. Dan juga Escanor pasti bisa menahan mereka atau bahkan mengalahkan mereka," jelas Merlin dengan sangat yakin, terlihat dari ekspresi wajahnya yang sangat optimis.
Aku hanya menunduk dan membayangkan apa yang akan terjadi dengan Escanor. Sehingga aku teringat kembali dengan peristiwa ketika aku meninggalkan kakek yang menahan tujuh dosa besar lima tahun lalu.
"Tenanglah Kenang, semua akan baik-baik saja," kata raja Harlequin yang telah menepuk pundakku terlebih dahulu.
__ADS_1
Setelah kata-kata raja Harlequin itu, perlahan aku mulai tenang. Aku kemudian melihat seseorang yang berdiri kebingungan dengan kejadian ini.
"Hei tak perlu bingung begitu Elric," bisikku kepada Elric setelah mendekatinya.
"Nanti jika ada waktu aku akan menjelaskan detailnya kepadamu," bisikku lagi kepada Elric yang masih terlihat kebingungan. Elricpun mengangguk dan mulai tenang kembali.
"Baiklah, untuk semua yang sedang berada di sini aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting," kata Merlin yang masih dalam dekapan Nadha.
"Boleh kita berdiskusi dulu tuan puteri?" kata Merlin lagi sambil menatap wajah Nadha.
"Baiklah," kata Nadha sembari melepaskan pelukannya kepada Merlin.
Setelah itu Merlin membeberkan informasi yang dia miliki kepada kami semua. Informasi itu sangat membuat kami semua terkejut. Selama lima tahun lebih ternyata Merlin mengumpulkan berbagai informasi. Salah satunya adalah informasi yang berhubungan dengan pertarungan kami sekarang.
"Oleh karena itu di sini sekarang ada Sloth dan Wrath yang sedang mencari senjata itu. Karena kabarnya senjata itu berada di dekat kota Palu," kata Merlin menjelaskan pada kami.
"Apa yang akan mereka lakukan dengan senjata itu?" tanya raja Harlequin kepada Merlin dengan serius.
"Senjata itu memiliki kemampuan yang sangat mengerikan jika orang yang salah menggunakannya. Jadi kita perlu mendapatkannya terlebih dahulu dari mereka," jawab Merlin yang terlihat khawatir dari raut wajahnya.
"Kenapa kalian muram?" tanya Merlin kebingungan melihat ekspresi kami.
"Yah, soalnya Warth telah pergi membawa sebuah senjata berbentuk tombak," kataku menjelaskan dengan lemas. Akhirnya Merlinpun terkaget dan ikut-ikutan berwajah muram.
"Baiklah, dari pada kita berdiam diri terus mari kita kembali ke tempat pertarungan Escanor," kata Merlin yang tidak mau tertelan oleh rasa penyesalan karena gagal mengamankan salah satu senjata snowman.
"Baiklah," kataku bersama-sama dengan yang lainnya seperti kembali bersemangat.
"Dimension," kata Merlin sehingga memindahkan kami ke tempat Escanor tertinggal.
Saat aku membuka mataku, terlihat kondisi sekitar pertarungan antara Escanor dan sloth rusak sangat parah. Banyak lubang dan banyak pepohonan di sekitar terpotong. Selain itu ada beberapa api berwarna kemerahan menyala di tanah sekitar Escanor dan Sloth.
Aku benar-benar kaget karena apa yang dikatakan oleh Merlin benar bahwa Escanor dapat menahan Sloth. Bahkan aku melihat Sloth seperti sedang kehabisan nafas. Berbanding terbalik dengan Escanor yang masih terlihat santai.
"Bagaimana?, apakah masih mau lanjut?" kata Escanor yang terlihat menyombongkan diri.
__ADS_1
"Sialan," teriak Sloth dan langsung bergerak mendekati Escanor untuk menyerang.
Escanor dengan mudah menahan tangan Sloth dan mematahkan tangan kanan Sloth. Kucuran cairan berwarna merah terciprat ke segala penjuru yang keluar dari lengan kanan Sloth. Seketika Sloth langsung melompat ke belakang.
Tiba-tiba muncul lubang hitam di belakang Sloth. Muncul dua tangan berwarna hitam yang sangat besar dari lubang hitam itu. Kemudian menarik tubuh Sloth ke dalam lubang hitam tadi.
"Escanor jangan sampai dia lolos," teriak Merlin yang berada tidak jauh dariku.
Setelah mendengar suara Merlin, Escanor bergegas untuk mencapai Sloth yang sedang di tarik oleh tangan dari lubang hitam.
"Hahahaha, aku pasti akan membalas ini Escanor," kata Sloth yang terlihat sangat marah. Setelah itu Sloth masuk ke dalam lubang hitam dan kemudian lubang hitam itu lenyap.
Ketika lubang hitam tadi lenyap, Escanor tepat berada di depan lubang hitam yang lenyap tadi.
"Sial," teriak Escanor sambil memukul tanah yang ada di bawah tubuhnya sehingga membuat retakan di tanah.
Kami yang awalnya hanya berdiri jauh dari Escanor langsung berlari mendekatinya. Escanor yang masih berwujud naga berubah wujud menjadi manusia.
"Apakah kamu baik-baik saja Escanor?" tanyaku ketika mendekati Escanor.
"Aku ini kuat tahu," kata Escanor tersenyum sambil menyombongkan diri.
"Dasar," kataku membalas kesombongan Escanor.
Setelah kami semua memadamkan api di sekitar hutan, kami duduk melingkar di atas tanah. Kami beristirahat sambil mendengar penjelasan lanjutan dari Merlin.
"Wah wah, lihat kenapa semua orang sedang berkumpul disini?" tanya seseorang yang tiba-tiba datang di dekat kami.
"Oh Johan, bagaimana misi mu?" tanya raja Harlequin setelah melihat ke arah suara tadi.
"Berjalan lancar raja, tenang saja hehehe," kata instruktur Johan yang terlihat tidak menghormati raja seperti orang-orang biasanya.
"Bagus-bagus, batu yang kau kumpulkan langsung serahkan padaku saja. Sisanya lanjutkan untuk mencarinya," kata raja Harlequin dengan nada santai berbicara kepada instruktur Johan.
"Siap laksanakan baginda raja. Jangan lupa bonus, hehehe," kata instruktur Johan sambil berbisik sedikit kepada raja Harlequin meskipun tetap terdengar oleh kami.
__ADS_1