
3.3 Bencana.
Aku melihat beberapa penduduk saling bahu membahu untuk memindahkan mayat yang berserakan. Beberapa petugas kerajaan juga sedang mencoba mengevakuasi beberapa korban yang kemungkinan masih selamat. Ada yang mencari di reruntuhan bangunan, Ada yang mencari di tepi laut, adapula yang memanfaatkan kemampuan monster mitos mereka untuk membantu.
Terdengar beberapa orang juga memanggil-manggil nama seseorang. Mereka berteriak memanggil nama yang berbeda-beda. Sementara aku membantu mengevakuasi mayat.
Aku ditugaskan oleh pak Johan untuk membantu warga mengevakuasi mayat. Sedangkan Elric diperintahkan untuk melihat kondisi sekitar. Sementara pak Johan menemui prajurit dan pemimpin kota yang berwenang.
"Jika ada yang masih bisa di selamatkan maka usahakan untuk menyelamatkannya," kata pak Johan sebelum kami berpisah tadi.
Terlihat jejeran manusia yang terbujur kaku dengan berbagai luka di sekujur tubuhnya. Warna kulit mereka telah membiru. Ada beberapa orang kulihat berdiri di samping beberapa mayat. Beberapa orang meneteskan air matanya dan beberapa lainnya mencoba terlihat tegar. Aku pikir mereka adalah keluarga dari orang-orang yang telah meninggal.
Meskipun aku tak tega melihat mereka, tetapi aku tidak akan dapat menghilangkan kesedihan mereka. Oleh karena itu aku berusaha lebih keras lagi untuk mengevakuasi mayat. Karena hanya itu yang dapat aku lakukan sekarang. Paling tidak korban yang aku evakuasi kondisinya dapat diketahui oleh keluarganya.
Beberapa kali bolak-balik mengevakuasi korban, aku melihat seorang kakek tua sedang berdiri di pinggir bangunan yang runtuh. Aku mendekati beliau dan menyapanya.
"Hai kek apa yang sedang anda lakukan?" tanyaku dengan sopan.
Kakek itu menoleh ke arahku dan terlihat raut wajahnya yang mencoba menahan kesedihan. Aku langsung berdiri di samping kakek itu menemaninya melihat bangunan yang runtuh di depanku.
"Bocah," panggil kakek itu kepadaku.
"Iya kek," jawabku santai kepadanya.
"Dunia ini memang tak dapat di prediksi ya," kata kakek itu sambil melangkah sedikit ke depan dengan tongkat kayu yang menopang tubuhnya.
"Maksudnya gimana kek?" tanyaku kepada kakek itu.
"Kamu tahu anak muda. Aku memiliki anak, menantu dan cucu. Mereka lebih muda dariku dan memiliki fisik yang sangat kuat. Cucuku sangat aktif dalam melakukan kegiatan yang di sukainya. Sementara anak dan menantuku sangat baik padaku dan orang-orang sekitarnya. Tapi entah mengapa nyawa mereka terenggut dalam musih ini. Padahal masih ada aku yang sudah tua dan sering sakit-sakitan. Kenapa tidak aku yang ada di dalam rumah ini waktu itu?, yah ini lah dunia. Tak ada yang bisa memprediksi apapun dengan tepat di masa depan," kata kakek itu dengan suaranya yang serak seperti menahan sesuatu dalam hatinya.
Aku tak bisa berkata apa-apa pada kakek itu. Aku hanya dapat mendekatinya dan mengelus-elus punggungnya. Seketika aku mengingat kakekku yang sampai sekarang belum ada sedikitpun kabar tentangnya. Entah apa yang sedang beliau lakukan. Tapi aku berharap dia baik-baik saja.
***
Terlihat awan yang sangat banyak silih berganti menutupi matahari. Hawa panas khas kerajaan bermusim tropis memanduku berjalan mengitari sebuah kota yang cukup ramai. Banyak orang mondar-mandir di kota ini.
__ADS_1
Sudah satu bulan aku berada di kota ini. Kota ini bernama kota Donggala. Kota ini adalah kota terdekat dari kota Palu yang mengalami bencana pada bulan lalu. Aku bersama dengan Elric sengaja di tinggal di kota ini oleh pak Johan.
Aku dan Elric ditugaskan untuk membantu prajurit kerajaan dalam menangani korban bencana alam. Sedangkan pak Johan pergi mencari zodiak stone sendiri.
"Hei Elric," kataku menyapa laki-laki yang ada tepat di depan sebuah tenda yang sangat besar.
"Oh hei Kenang," kata Elric setelah menoleh kepadaku.
Di dalam tenda besar berwarna putih itu banyak anak kecil berumur enam tahun ke bawah sedang bermain. Hari ini kami bertugas menjaga anak-anak itu dan mengajak mereka bermain. Ini adalah cara agar menghilangkan trauma mereka tentang bencana alam yang terjadi bulan lalu.
Diantara anak-anak itu, ada salah satu anak yang paling aku dan Elric ingat bernama Sincan. Dia anak yang sangat suka berbuat onar dan menjahili teman-temannya. Aku menganggap bahwa dia bersikap seperti itu karena ingin diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya. Sincan mungkin ingin mengisi kekosongan dirinya karena kedua orang tuanya meninggal pada insiden bulan lalu.
Getaran kecil terasa ketika aku dan Elric mulai bermain dengan anak-anak. Perlahan getaran itu semakin membesar. Aku dan Elric langsung bergegas mengkordinasi anak-anak untuk keluar perlahan dari tenda.
Getaran-getaran kecil ini memang sering terjadi setelah gempa. Tetapi getaran kali ini memang berbeda dari biasanya. Getarannya semakin lama semakin kencang.
Kami yang bergegas mengevakuasi anak-anak tidak sadar bahwa Sincan melarikan diri. Kami sadar setelah berkumpul di tanah lapang agak jauh dari tenda.
"Ada yang melihat Sincan?" kataku bertanya pada anak-anak yang berkumpul di tanah lapang.
"Apakah kamu mengetahuinya Himawari?" tanya Elric yang kebetulan berada di dekatnya.
"Iya kak, aku melihatnya pergi ke arah hutan sendirian," kata Himawari yang terlihat sangat polos.
Setelah itu aku pergi ke arah hutan. Sedangkan Robin menjaga anak-anak tadi menunggu prajurit datang. Getaran tanah tidak berhenti meskipun kadang melemah dan kadang menguat.
Aku sangat khawatir kepada Sincan. Aku terus menerus mencari di setiap sudut hutan tetapi tidak menemuinya. Akhirnya aku menemukan sebuah gua dekat tebing.
Perasaanku mengatakan bahwa Sincan berada dalam gua itu karena tidak mungkin anak berumur tujuh tahun melewati hutan sendirian dengan sangat cepat.
Aku mencoba memasuki gua tersebut perlahan-lahan. Semakin dalam aku masuk, semakin gelap hingga mata tak bisa melihat sekitar. Aku menggunakan skill insting agar dapat berjalan di gua yang sangat gelap itu. Apakah anak itu akan masuk ke dalam gua in**i? kataku dalam hati yang mulai ragu.
Ketika aku ingin memutuskan keluar dari gua tersebut, tiba-tiba guncangan yang sangat kuat terasa. Beberapa batu gua aku rasakan mulai runtuh. Aku melompat-lompat dalam kegelapan untuk menghindari batu-batu yang runtuh.
Setelah beberapa detik aku melompat-lompat di dalam gua akhirnya getaran tadi berhenti. Aku benar-benar terperangkap dalam gua itu. Aku dapat mengetahui itu karena menggunakan skill insting.
__ADS_1
Jadi aku memanggil Escanor agar datang dari luar gua. Aku menunggu beberapa menit dan akhirnya Escanor memanggilku dari sisi lain gua.
"Hei apakah kau tidak apa-apa di sisi sana bocah?" tanya Escanor dari sisi lain reruntuhan batu.
"Aku tak masalah, tolong beritahu Elric bahwa aku terjebak di sini. Karena sepertinya jika kita memaksa menghancurkan batuan inj akan membuatnya lebih parah," teriakku pada Escanor.
"Baiklah bocah. Aku pergi dulu," kata Escanor lalu terdengar langkah kakinya perlahan menghilang.
Aku yang bosan menunggu akhirnya berjalan memasuki gua lebih dalam lagi. Setelah ribuan langkah aku melihat cahaya di ujung gua. Aku pikir awalnya itu adalah jalan keluar lain, tetapi itu salah. Saat aku mendekati cahaya itu ternyata di dalam ada ruangan luas dipenuhi magma yang berwarna merah.
Gelembung-gelembung kecil bermunculan di permukaan magma tersebut. Tetapi meskipun aku sudah cukup dekat dengan magma itu, hawa panas tidak terasa sama sekali. Mungkin karena ada semacam penghalang tipis yang aku lihat di sekitar magma itu.
Setelah aku memperhatikan sekitar ternyata ada seseorang yang sedang mengendap-ngendap di depanku. Dia memakai baju hitam dan menutup wajahnya. Selain itu dia membawa pedang panjang yang masih berada dalam sarung pedang di punggungnya.
Aku yang bingung dengan perilaku orang tersebut mencoba mencari alasan dia mengendap-ngendap. Aku memperhatikan sisi lain dari ruangan tersebut. Ternyata ada sekelompok demon dan seorang manusia di sana.
Aku memperhatikan mereka terlalu serius, sehingga aku tidak menyadari orang di depanku sudah menghilang. Tiba-tiba mulutku di dekap oleh seseorang di belakangku.
"Ssssttt, diam jangan berisik," bisik orang itu padaku. Setelah aku tenang, dia membuka tangan yang menutup mulutku.
"Sebenarnya ada apa?" tanyaky lirih pada orang tersebut.
"Aku mengawasi mereka selama satu bulan ini. Aku curiga pada tingkah mereka," kata orang berbaju serba hitam.
"Mereka seperti ingin menghancurkan pelindung yang ada pada magma itu," sambungnya lagi.
Akhirnya kami berdua memperhatikan tingkah laku mereka dari jauh. Sesekali para demon menyerang lapisan pelindung secara bersama-sama. Sementara seorang wanita berdiri di samping para demon.
Setiap kali mereka menyerang lapisan itu, terjadi getaran-getaran yang membuat aku merasa bila itu berlanjut akan berbahaya.
"Sepertinya akan berbahaya jika berlanjut seperti ini," kataku pada orang berbaju hitam.
"Iya sepertinya begitu. Aku punya rencana, Apakah kamu mau membantuku?" tanya orang tadi padaku.
Tetapi ketika orang berbaju hitam itu berbicara padaku, guncangan yang sangat hebat tiba-tiba terjadi.
__ADS_1