Rune Knight (Monster Tamer)

Rune Knight (Monster Tamer)
BAB II Turnamen Antar Akademi


__ADS_3

2.10 Final Yang Menggemparkan.


Hatiku berdegub kencang sembari melihat pertandingan antara tim Razer dan Reza. Aku sepertinya tidak terlalu fokus saat menyaksikan pertandingan ini. Sementara Nadha, Robin dan instruktur Lina terlihat lebih santai menyaksikan pertandingan.


Berkali-kali penonton bertepuk tangan dan bersorak. Hal ini disebabkan karena pertarungan untuk memperebutkan peringkat tiga sedang berlangsung.


"Kenang, jangan terlihat gugup seperti itu. Pertandingan kalian kan belum dimulai," kata instruktur Lina yang melihat ekspresi wajahku terlihat sangat gugup.


"Ehm i...iya instruktur," jawabku terbata-bata.


Setelah itu penonton berteriak. Seketika aku menoleh untuk melihat apa yang terjadi di arena. Ternyata tanpa diduga Misa terpojok melawan Reza.


Menurutku tim Reza mengincar poin agar tidak malu dalam pertandingan ini. Mereka belum mendapatkan poin sama sekali. Oleh karena itu tanpa diduga banyak orang pertandingan pertama dimulai dengan pertandingan antara Misa dan Reza.


Walaupun kemampuan Misa yang cukup hebat tetapi tidak dapat menandingi Reza. Meskipun Reza juga terlihat babak belur tetapi Misa telah terlempar ke dinding hingga tak sadarkan diri. Pemenang pertandingan pertama adalah Reza. Sehingga mereka mendapatkan poin 3.


Lisa vs Dani.


Pertandingan berlangsung sangat sengit. Dani yang berpartner dengan demon menyerang Lisa secara terus menerus dari kejauhan. Sementara Lisa hanya dapat bertahan menggunakan perisai di tangan kirinya.


Dani menggunakan serang gabungan antara sihir venom milik demon dengan serangan panahnya. Sehingga racun sihir venom itu menempel pada panah yang menuju arah Lisa.


Serangan demi serangan di lancarkan oleh Dani. Sementara Lisa dan trent di sampingnya hanya bisa bertahan. Trent di samping Lisa akhirnya mengeluarkan skill grow up untuk menumbuhkan tumbuhan di sekitar Dani dan demonnya.


Dani dan demonnya terkena serangan itu dan tertangkap. Tetapi anehnya Lisa langsung tersungkur dan tidak dapat berdiri dan perlahan wujud trent di sampingnya lenyap. Dani hanya tersenyum ketika melihat Lisa yang tersungkur.


Aku, Nadha dan Robin sangat kaget dengan kejadian itu. Apa yang sebenarnya terjadi ? aku bertanya-tanya dalam hatiku.


"Instruktur sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nadha yang cukup kaget dengan kejadian itu.


"Kalian harus tahu bahwa sihir venom adalah sihir yang dapat meracuni seseorang dari kontak fisik dan udara yang dihirup di sekitarnya. Jadi kemungkinan panah yang di tembakkan Dani mungkin hanya mengenai perisai Lisa. Tetapi ketika panah itu berada di sekeliling Lisa, udara sekitar Lisa juga terinfeksi oleh racun tersebut," jelas instruktur Lina yang terkesan dengan kemampuan Dani.


Pertandingan babak keduapun dimenangkan oleh tim Reza. Sehingga poin mereka sama. Sementara pertandingan selanjutnya akan menentukan siapa peringkat ketiga pada turnamen ini.


Tapi aku tidak yakin bila tim Reza akan memenangkan pertandingan ini. Karena lawan terakhir mereka adalah Razer. Selain itu lawan Razer adalah Distya yang merupakan petarung jenis support. Ini tentu saja tidak menguntungkan bagi tim Reza.


Akhirnya mereka berdua muncul di tengah lapangan. Tetapi ada yang berbeda dari pakaian seragam yang digunakan Distya. Pakaiannya itu benar-benar membuatku terbelalak. Aku tidak bisa berkata-kata dengan tampilan seksinya itu. Bukan hanya diriku, aku melihat Robin dan beberapa penonton pria kaget.


"Nikahi aku Distya," kata penonton pria sambil menjerit-jerit karena keseksian dan kecantikan Distya.


Tetapi dari posisiku melihat Razer sepertinya dia tidak terpengaruh akan hal itu. Ketika pertandingan dimulai Razer langsung berisiatif menyerang Distya dengan pedangnya. Tetapi Distya berhasil menghindar dan menyerang pergelangan tangan Razer. Akibatnya pedang yang digenggam Razer terjatuh.


Setelah itu Distya langsung melompat ke arah Razer. Tanpa diduga niat Razer untuk menahan serangan menggunakan perisai berhasil tetapi tangan kanannya menyentuh bagian sensitif Distya.


"Iiiiaaaaaaa," teriak Distya kaget karena tersentuh muatannya.


Sementara Razer wajahnya langsung memerah dan mengeluarkan banyak darah dari hidungnya. Kepalanya mengeluarkan asap putih seperti sedang kepanasan dan akhirnya pingsan.


"Hahahaha, dia kalah dengan cara seperti itu," kata Nadha setelah tertawa.


"Hei kalian, kenapa bengong begitu?" tanya Nadha lagi karena tidak di respon olehku dan Robin.


Terasa pukulan mengenai kepalaku. Setelah itu tangan Nadha menuju kepala Robin.


"Kalian ini pria mesum semua," kata Nadha sekali lagi setelah puas memukuliku dan Robin.


"Maafkan kami," kataku bersamaan dengan Robin.


"Betul-betul strategi yang menarik, hahahaha," kata instruktur Lina secara tiba-tiba.


"Hei Nadha maukah kamu menggunakan pakaian seperti itu? hehehe," saut Instruktur Lina dengan kejahilannya.


"Tidak akan," jawab Nadha dengan suara keras.


Setelah itu kami berempat menuju ruang tunggu. Ini adalah waktunya kami menentukan urutan yang tampil untuk bertarung. Kami duduk di kursi dimana di tengah-tengahnya terdapat meja berbentuk bundar dan berwarna hitam.


Akhirnya kami memutuskan urutan siapa yang akan bertanding terlebih dahulu. Giliran pertama adalah Nadha setelah itu Robin dan yang terakhir adalah aku.


Aku sangat merasa gugup dengan pertandingan terakhir ini. Hingga berulang kali keluar masuk toilet. Sementara itu Nadha telah pergi menuju arena setelah aku keluar dari toilet yang pertama kali.

__ADS_1


***


Setelah menunggu sekitar 1 jam akhirnya Nadha kembali dengan beberapa luka pada tubuhnya.


"Aku menang," kata Nadha dengan ekspresi kegembiraannya dan melompat-lompat.


"Siapa lawanmu?" tanyaku penasaran.


"Oh lawanku Glen," jawab Nadha dengan ekspresi kegembiraannya.


"Ya sudah, cepat berbaring di kasur sana. Panggil Amstrong untuk merawatmu," kataku yang sedikit khawatir dengan luka-luka di tubuh Nadha.


"Hei aku pergi dulu ya," kata Robin berpamitan karena telah ada panitia yang menunggu di depan pintu.


"Ok, hati-hatilah," kataku kepada Robin yang sedang berjalan.


"Semangat Robin," kata Nadha yang sedang berbaring di kasur.


***


Satu jam telah berlalu tetapi pertandingan Robin belum selesai. Aku semakin gugup dan mondar-mandir di depan Nadha yang sedang dirawat oleh Amstrong.


"Hei, tak perlu gugup seperti itu," kata Nadha yang terus melihatku mondar-mandir.


Tetapi aku tidak menggubrisnya. Tiba-tiba saat aku berbalik Nadha sudah ada di depanku. Kedua tangannya menarik wajahku sehingga mendekati wajah Nadha.


"Hei, tak perlu segugup itu. Kamu pasti bisa," kata Nadha sambil terus menatap mataku.


Wajahku terasa panas karena malu yang disebabkan oleh jarak wajahku dan wajah Nadha begitu dekat. Karena kejadian itu akhirnya aku menjadi sedikit tenang.


"Terima kasih Nadha," kataku sambil mengelus-ngelus kepalanya.


Setelah itu Robin di tandu oleh beberapa panitia turnamen ke dalam ruangan. Robin terluka parah hingga terlihat tak sadarkan diri. Para panitia berusaha menyembuhkan Robin.


Nadha yang melibat hal itu langsung pergi ke arah Robin terbaring dan membantu panitia untuk menyembuhkan Robin.


***


Sesuai dugaan lawanku adalah Elric. Kami berdua sudah mengenal satu sama lain. Sebelum pertandingan dimulai kami sempat berjabat tangan di tengah-tengah keramaian suara penonton.


"Mohon bantuannya," kataku sambil bersalaman dengan Elric. Begitu juga dengan Elric.


"Mulai," kata wasit yang hari ini adalah instruktur kelas kami berdua yaitu pak Jihan.


"Alfonse muncullah," kata Elric dengan cepat memanggil monster mitosnya.


"Turunlah Escanor," kataku bersamaan dengan Elric yang sedang memanggil monster mitosnya juga.


Lubang hitam keluar dari sisi kanan Elric dan munculah serpihan-serpihan armor keluar. Serpihan armor itu keluar membentuk tubuh armor yang terlihat sangat kuat dan mengintimidasi.


Sementara dari atasku turun seekor naga berwarna hijau kebiruan dengan cepat dan menghancurkan tanah yang di pijaknya. Aku langsung melompat menuju tangan Escanor. Setelah itu aku dihempaskan menunju arah Elric.


Setelah berjarak beberapa centimeter Elric menggunakan perisai durahan yang biasa berada di punggung Alfonse. Perisai itu tiba-tiba muncul di tangan Elric setelah ada cahaya yang berkumpul di sekitar tangan kirinya.


Aku secara reflek berbalik dan kakiku menendang perisai tadi. Sementara Escanor langsung menyemburkan apinya ke arah Elric dan Alfonse setelah aku menendang perisai.


Alfonse langsung bereaksi dengan membentuk perisai besar dengan merubah bentuk tubuhnya.


Setelah Alfonse berhasil menahan api Escanor, Elric menggunakan skill Acceleration untuk menyerangku.


"Alfonse bagi," kata Elric yang tiba-tiba menggenggam pedang di tangan kanannya. Berkali-kali tebasan diarahkan kepadaku. Aku berusaha menangkis beberapa tebasan walaupun tetap terkena sayatannya.


"Seriusla Kenang," kata Elric yang terus membobardir serangan kepadaku.


Di belakangku dinding koloseum rusak berat akibat tebasan Elric.


Benar-benar level yang sangat berbeda kataku dalam hati yang sedang mencari cara keluar dari situasi ini.


Aku melompat cukup tinggi menghindari tebasan Elric dan Escanor bergerak cepat hingga berada di belakangku. Di sebelah kanan kami telah muncul Alfonse yang sudah siap mengayunkan kedua pedang di tangannya.

__ADS_1


"Sial," kataku benar-benar kesal.


Tetapi tiba-tiba sayap Escanor melindungi tubuhku. Setelah itu Escanor membuka sayapnya dan menghempaskanku mengarah kepada Elric. Aku melempar pisau yang berada di tangan kiriku kepada Elric. Tetapi Elric dapat menangkapnya dengan jari tangan kanannya. Elric langsung melemparkan kembali pisau itu ke arahku.


Aku yang terkejut langsung menerima pisauku itu dengan telapak tangan kiri. Untungnya tanganku tidak terluka karena aku menggunakan sihir water sehingga air di udara menjadi padat dan menahan pisauku.


Aku masih terhempas menuju Elric dan mencoba menyayat Elric, tetapi tidak berhasil. Seranganku berhasil dihindarinya.


Aku meluncur di tanah dengan kedua kakiku setelah mendarat. Elric dengan cepat menggunakan pedang di tangan kanannya untuk menebasku dari jauh. Tanpa berpikir panjang aku melompat-lompat menghindari serangan Elric.


Sementara dari jauh Escanor dengan mudah menginjak Alfonse di kakinya sehingga tidak dapat bergerak. Setelah itu Escanor membawa Alfonse terbang dicengkaraman kakinya.


Semburan api mengarah dari belakang Elric. Elric yang menyadari itu langsung melompat kesamping kiri.


"Menyerahlah bocah, monster tingkat tinggi tidak akan bisa mengalahkanku," kata Escanor dengan santai sambil menunjukkan durahan yang sudah tidak bisa bergerak di cengkraman Escanor.


"Alfonse, bertahanlah kita adalah tim bukan," kata Elric sambil berlari mendekati Alfonse. Tetapi aku dengan cepat menghadang tepat di depannya.


Tiba-tiba Alfonse mengeluarkan aura berwarna hitam yang sangat menakutkan.


"Duarrrr," ledakan terjadi di tempat Alfonse tadi, tetapi Escanor melepaskan cengkramannya dan terbang.


Dari ledakan tadi muncul makhluk berwarna hitam memegang pedang besar di tangan kananya.


"Sial dia berevolusi, menjauhlah Kenang," kata Escanor dari atas makhluk berwarna hitam tadi.


Ini adalah pertama kalinya aku melihat monster mitos berevolusi. Sosok yang sangat kuat seperti yang aku rasakan ketika pertama kali bertemu dengan Escanor. Escanor langsung menangkapku dan terbang melihat situasi dari langit.


"Makhluk apa itu Escanor?" tanyaku pada Escanor yang juga sedang memperhatikan arena di bawah.


"Itu adalah monster mitos berjenis phantom. Dia termasuk monster mitos yang sangat berbahaya," kata Escanor setelah mencoba menembakkan bola api.


Tetapi bola api itu berhasil di tangkis oleh monster mitos phantom itu.


"Alfonse," kata Elric yang sedang kebingunan.


"Ya Elric ini aku Alfonse," kata makhluk hitam yang berbentuk seperti armor.


"Kenang, ini kesempatan bagus kita untuk mengalahkan mereka. Tetapi kita tidak bisa menggunakan skill atau sihir biasa melawan mereka. Karena wujud baru Alfonse pasti butuh waktu mereka untuk menyesuaikan diri," kata Escanor menjelaskan keadaan.


"Baiklah, kita menggunakan dragon drive," kataku walaupun ragu-ragu karena memiliki janji dengan Merlin.


Cahaya hijau kebiruan memancar dari badanku. Sementara Escanor berubah wujud menjadi manusia. Kami turun perlahan hingga menginjakkan kaki ke tanah.


Setelah kakiku menyentuh tanah, aku langsung menyerang dengan kecepatan maksimal. Aku langsung memukul Elric dan terpental sangat jauh. Sementara Alfonse yang akan menahanku ditahan oleh Escanor.


Satu pukulanku langsung membuat Elric tidak sadarkan diri dan menghancurkan tembok koloseum. Elric menembus tembok koloseum hingga terbentuk lubang.


Seketika seleruh penonton terdiam. Aku langsung melepas mode dragon force dan penonton kembali berteriak sangat kencang.


***


"Selamat pada kalian yang telah memenangkan turnamen tahun ini," kata seluruh raja kepada aku, Nadha dan Robin secara bersamaan di depan kami.


Selain itu para penonton menyorakkan nama kami bertiga. Setelah itu pada malam harinya diadakan pesta dansa sebagai penutupan turnamen.


Ketika acara utama dansa akan di mulai, banyak wanita tak aku kenal mengajakku berdansa. Aku yang bingung langsung keluar dari ruangan. Tetapi sebelum keluar aku meminta maaf kepada mereka bahwa aku tidak bisa berdansa dengan mereka.


"Hei ayo berdansa denganku," kata Nadha yang tiba-tiba datang dan menarik tanganku.


"Ehhhh," kataku kaget dan hanya mengikuti tarikan tangan Nadha.


Sesampainya di aula lagi aku melihat Robin berdansa dengan Distya. Aku sangat kesal melihatnya. Meskipun aku sedang di temani berdansa dengan puteri yang sangat cantik juga.


-------------------****--------------------


Monster Pedia.


■ Phantom: Monter mitos yang memiliki tubuh mirip armor dan diselubungi oleh aura hitam pekat. Memiliki kemampuan sihir kegelapan dan kemampuan berpedang. Dapat mengubah bentuk menjadi berbagai macam armor, senjata dan perisai. Monster mitos tingkat god. Termasuk ras undead.

__ADS_1


__ADS_2