Rune Knight (Monster Tamer)

Rune Knight (Monster Tamer)
BAB II Turnamen Antar Akademi


__ADS_3

2.6 Resiko dan Usaha.


Aku berjalan perlahan memasuki reruntuhan tempat para lizardman. Cahaya api yang ada di setiap sisi tembok menemani setiap langkahku. Terkadang beberapa lizardman dan hell hound melewatiku berjalan menuju ke arah yang berlawanan.


"Hei kesatria kecil," kata seseorang yang terdengar sangat familiar dari jauh.


Aku menoleh ke sebelah kanan dimana ada lorong yang menuju ruangan baru ketua kelompok lizardman.


"Eh, tuan Zaryusu," kataku menjawab panggilan Zaryusu dari lorong tadi.


"Bagaimana keadaan Nadha?" tanya Zaryusu sambil terlihat khawatir.


"Dia masih belum sadar, tapi untung demamnya sudah turun," kataku sambil melanjutkan langkah kaki ditemani Zaryusu.


Setelah pertempuran tiga hari lalu, Nadha mendapatkan luka yang sangat banyak di tubuhnya. Ketika pak Rian datang, Nadha sepertinya memaksakan diri untuk bergerak. Saat pak Rian pulang aku, Nadha dan Robin bermaksud berjalan keluar dari ruangan Zaryusu. Belum lama kami berdiri tiba-tiba Nadha terjatuh dan kehilangan kesadaran.


Sekilas kami yang ada di ruangan tersebut langsung mendekati Nadha. Aku langsung mengangkatnya dan membawanya ke atas kasur yang ada di ruangan Zaryusu.


Berkat bantuan para lizardman dan hell hound mencarikan tanaman obat, kami dapat memberikan pertolongan pertama dengan baik. Memang ada sihir penyembuhan, tetapi diantara kami yang memiliki sihir penyembuhan hanya Nadha. Sementara itu untuk memanggil Amstrong butuh energi dari orang yang memiliki kontrak dengannya.


Aku berpisah dengan Zaryusu menuju ruangan dimana Nadha beristirahat. Di ruangan itu ada seorang wanita berbalut perban yang tebaring dan seorang laki-laki berdiri di samping jendela.


"Hei Robin bagaimana, apakah ada perkembangan?" tanyaku pada seorang laki-laki yang berada di dekat jendela.


"Belum ada, maafkan kami merepotkanmu Kenang," kata Robin sambil terlihat sedih.


"Tak masalah Robin, kita adalah tim," kataku pada Robin meyakinkannya.


"Tapi besok adalah hari terakhir misi kita, bagaimana jika kita gagal? aku terluka dan sulit bergerak bebas sementara Nadha bahkan masih belum sadarkan diri," kata Robin menjelaskan situasinya.


"Tenang, kita telah memiliki 16 bola kristal. Selain itu jika kita gagal, itu karena aku tidak dapat melindungi kalian sebagai pemimpin," kataku sambil menyalahkan diri sendiri untuk menenangkan Robin.


"Tapi....," kata Robin langsung aku potong sambil menepuk pundaknya.


"Tidak ada masalah Robin, yang terpenting kita semua selamat. Kamu tahu Robin kakekku pernah bilang begini, Hiduplah walaupun sering mengalami kegagalan, karena dengan hidup kamu dapat mencoba dan terus mencoba dibandingkan dengan kehilangan nyawa yang akan banyak meninggalkan kepedihan," kataku sambil mengingat pengalamanku ketika kakek memberikan kata-kata itu padaku.


Setelah itu Robin keluar berpamitan untuk istirahat di tenda. Aku mendekati Nadha yang sedang tidak sadar. Benar-benar pemimpin tak berguna kataku dalam hati menyalahkan diriku sendiri atas kejadian sebelumnya sembari aku mencoba duduk di samping kasur Nadha.


Aku memandangi wajah cantik Nadha hingga terkadang terkagum-kagum dengan kecantikannya. Tetapi dalam hatiku merasa bersalah karena tidak dapat melindunginya. Aku teringat kata-kata raja Harlequin ketika sebelum kembali ke Distrik Akademi.


Tiba-tiba tetesan air mata jatuh satu persatu mengenai wajah cantik Nadha. Tetesan itu berasal dari mataku. Sembari aku menggenggam tangan Nadha, aku menguatkan diriku.


Jika saja aku tak selemah ini mungkin kakek bahkan Nadha tidak akan seperti ini kataku dalam hati sambil menggengam tangan Nadha.


Mungkin karena beberapa bulan terakhir kami sering berdua sehingga aku jadi takut kehilangan Nadha. Aku akan merasa sendirian jika kehilangan Nadha juga. Karena sampai sekarang tidak ada infromasi tentang kakekku.


Aku menutup mataku karena terasa sakit mengingat kakek dan kondisi Nadha saat ini. Tiba-tiba belaian tangan kecil mengusap air mata yang ada pada mataku. Aku kaget tetapi aku mencoba memberanikan diri membuka mataku secara perlahan. Senyuman Nadha yang sangat tulus terlihat jelas di depan mataku. Mata Nadha telah terbuka lebar sembari tangan kanannya memegang wajahku.


"Apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Nadha kepadaku yang kaget karena dia telah sadar.


"Harusnya aku yang tanya begitu kepadamu bodoh," kataku sangat senang sambil mengusap air mata yang ada di wajahku.


"Apakah kamu mau makan?" tanyaku lagi kepada Nadha.


Kemudian Nadha hanya membalas dengan mengangguk. Mungkin disebabkan oleh kondisinya yang lemas dan belum makan selama tiga hari karena tak sadarkan diri.


"Tunggu sebentar ya, aku ambilkan makan," kataku bergegas pergi keluar dari ruangan.


Setelah itu aku pergi ke samping kanan ruangan Nadha beristirahat. Tempat itu adalah lokasi para lizardman biasa memasak makanan mereka. Aku dengan cepat memasak makanan dengan bahan yang telah tersedia. Memasak adalah salah satu teknik yang kakek ajarkan kepadaku. Kata kakek kita harus bisa segala bidang.


Aku memasakkan semangkuk bubur. Ketika aku akan memasuki kamar Nadha ada seseorang dari kejauhan memanggilku.


"Kenang," kata orang itu memanggilku dan semakin mendekat.


"Iya, kenapa Robin?" tanyaku kepada Robin.


"Wah makanan untuk siapa ini?" tanya Robin seperti ingin memakan bubur yang aku bawa dengan mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Eits ini bukan untukmu, tapi di tempat memasak ada sisanya," kataku sambil menyingkirkan bubur dari wajah Robin.


"Lah terus untuk...., ah Nadha sudah bangun?" tanya Robin sangat antusias.


"Iya, ambil bubur sisa tadi kita makan bersama," kataku kepada Robin.


"Ndak ah, aku makan sendiri saja. Setelah makan aku akan kembali melihat kondisi Nadha," kata Robin yang sebenarnya tidak ingin mengganggu momen Kenang dan Nadha.


"Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu," kataku sambil membuka pintu ruangan di sampingku.


Aku melihat Nadha telah duduk di tempat tidur dengan rambut lurus terurai. Dia menyambutku dengan senyuman.


Mending dia sakit begini aja. Jarang banget aku liat dia senyum begini kataku sambil berjalan mendekati Nadha. Setelah itu aku duduk di samping Nadha.


"Aaaaaaa," kataku sambil mencoba menyuapi Nadha.


"Eh, apa yang kamu lakukan. Aku bisa makan sendiri," kata Nadha terlihat wajahnya memerah.


"Tidak apa-apa, hari ini aku akan menjadi pelayanmu jadi jangan kamu tolak," kataku untuk meyakinkan Nadha.


"Ehmmm," suara Nadha terlihar ragu dan mukanya memerah.


"Aaaaa," kataku lagi mencoba menyuapkan sesendok bubur.


Akhirnya Nadha membuka mulutnya. Setelah beberapa sendok akhirnya bubur buatanku habis. Nadha juga kelihatannya tidak masalah dengan bubur buatanku.


"Bagaimana enak?" tanyaku walaupun terlambat.


"Enak, siapa yang buat?" tanya Nadha ingin tahu.


"Aku dong," kataku sangat bangga.


"Eh kamu, aku mah gak percaya," kata Nadha terkaget setelah itu meragukanku.


"Ya udah gak percaya," kataku sambil menaruh mangkok bubur yang telah kosong dan sedikit jengkel.


"Tok tok tok," tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


"Kenapa pake ketuk pintu segala Robin?" tanyaku ingin memastikan karena biasanya Robin tak pernah seperti itu saat kami latihan dulu.


"Oh itu, aku hanya ingin tidak terkaget ketika memasuki ruangan ini," jawab Robin sambil tersenyum.


"Maksudnya?" tanyaku lagi bingung.


"Yah kaliankan begitu dekat, jadi aku tidak ingin mengganggu kalian ketika sedang bermesraan. Makanya aku mengetuk pintu agar kalian bersiap-siap terlebih dahulu," kata Robin sambil tersenyum seperti membayangkan sesuatu.


"Siapa yang akan bermesraan dengan orang ini," kataku dan Nadha secara bersamaan sambil menunjuk ke arah masing-masing.


Robin hanya tersenyum melihatku dan Nadha. Dia terus berjalan hingga menggapai kursi di dekat meja berwarna hitam.


"Hei jadi apa yang akan kita lakukan?" celetuk Robin setelah dia duduk.


"Mungkin kita menunggu sampai hari esok hingga turnamen ini selesai," kataku sambil berdiri bersandar di tembok antara Nadha dan Robin.


Nadha hanya diam saja, begitu juga Robin. Tak ada sedikitpun dari kita bertiga bicara setelah membahas itu.


***


Hari ini adalah hari terakhir tantangan turnamen survival. Kondisi Nadha sudah semakin membaik meskipun belum dapat memanggil Amstrong. Dia kemarin seharian mencoba memanggil Amstrong sambil berbaring tetapi tidak berhasil. Sementara Robin sudah dapat bergerak cepat meskipun tidak seefektif biasanya.


Aku mengamati setiap sudut hutan dekat reruntuhan. Harusnya hari ini adalah hari dimana para peserta turnamen akan mati-matian mencari poin. Itu adalah pendapat dariku dan Robin juga. Oleh karena itu aku mengamati daerah dekat reruntuhan.


Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ketika matahari akan terbenam. Tak kusangka di tengah perjalanan aku mendengar suara pertempuran. Aku mencoba mendekati suara tersebut.


Aku menyaksikan ada sekitar sembilan orang yang sedang bertempur. Tiga orang terlihat menggunakan seragam Tower Akademi dan enam orang lainnya berasal dari Float Akademi.


Setelah aku memperhatikan lebih baik, ternyata itu adalah Razer dengan timnya. Mereka di keroyok tetapi sepertinya masih dapat mengatasi serangan-serangan dari para peserta Float Akademi.

__ADS_1


Enam orang penyerang Razer memanggil partner mereka. Aku lihat ada monster mitos berjenis dua troll, dua angel, satu vaporeon dan satu flameron.


Enam orang tadi menyerang bersamaan dengan para partnernya. Tetapi seketika mereka terkena pukulan dari talos yang keluar setelah dipanggil secara mendadak oleh Razer. Tangan besar talos langsung menghantam enam peserta beserta partner mereka. Tidak ada yang beregerak setelah serangan dari talos tadi.


Setelah itu dua rekan Razer melakukan pengecekan terhadap enam peserta dari Float Akademi.


"Keluarlah orang yang sedang mengawasi kami," kata Razer berteriak.


Aku tersentak kaget ketika pengawasanku sepertinya diketahui oleh Razer. Tetapi aku beranikan diri untuk keluar dari balik pohon.


"Tak kusangka kau bisa tahu bahwa aku sedang mengawasimu," kataku memuji Razer.


"Itulah aku," kata Razer dengan sombongnya seperti sedang ada bintang-bintang bercahaya di dekatnya.


Aku yang merasa silau dengan kesombongan Razer secara reflek menutup wajahku dengan sikuku.


"Apakah kau ingin bertarung denganku?" tanya Razer terlihat sangat bersemangat setelah menyelesaikan gaya kesombongannya.


Bagaimana aku bisa mengalahkan mereka bertiga dalam hatiku yang mempengaruhi wajahku sehingga terlihat ragu-ragu.


"Tak perlu takut begitu, aku hanya ingin menguji kemampuanku. Kita hanya cukup berduel berdua," kata Razer yang sepertinya tahu isi hatiku.


"Terima kasih. Tetapi aku harus pergi, tak ada untungnya bagiku mengikuti tantanganmu," kataku sambil memancing Razer agar menawarkan hadiah jika aku menang.


"Baiklah jika kamu dapat bertahan selama 10 menit aku akan memberikan kristal yang kami peroleh dari lawan kami sebelumnya. Jika kamu kalah tak ada yang perlu aku minta darimu," kata Razer yang sangat mudah ditebak.


Aku tersenyum karena pancinganku berhasil. Sementara rekan-rekan Razer berhenti mengecek tubuh dari peserta Float Akademi. Mereka langsung mendekati Razer dan menginjak-injak dia serta terkadang memukulnya.


"Kamu bodoh ya," kata rekan Razer yang seorang perempuan berambut merah sedang menginjak dan memukul Razer.


"Memang orang bodoh," kata rekan Razer yang satunya lagi seorang perempuan berambut merah tetapi lebih pendek. Dia juga memukuli dan menginjak Razer.


"Eh tenang, eh ampun-ampun. Tapi aku tak akan kalah kok," kata Razer yang babak belur karena serangan rekannya sendiri.


Aku yang melihat tingkah mereka sangat heran. Orang sekuat Razer diperlakukan seperti itu oleh rekan-rekannya.


"Awas jika sampe kalah," kata wanita tinggi rambutnya berwarna merah.


Razer betul-betul babak belur. Aku saja sampai mengkhawatirkannya. Tetapi ini adalah salah satu caraku untuk mendapatkan kristal, jadi aku tidak akan segan-segan melawannya.


Akhirnya kami berdua siap bertarung. Aku tanpa pikir panjang langsung memanggil Escanor. Sedangkan Razer mengetahui aku memanggil partnerku, dia juga memanggil partnernya.


Escanor langsung melawan monster mitos jenis talos itu dengan wujud naganya. Sedangkan aku menggunakan kecepatanku untuk menyerang. Sementara Razer menggunakan keahlian warior untuk bertahan dan menyerang.


Aku menggunakan skill acceleration untuk menyerang dari segala arah. Sedangkan Razer menggunakan wall defense untuk bertahan dari seranganku.


Ketika pertahanan Razer mulai goyah, aku berhasil melukai tangan Razer yang membawa perisai sehingga dia melepas perisainya.


"Bagaimana, masih lanjut?" kataku sambil tersenyum.


"Ini bukan luka yang sakit," kata Razer setelah itu dia lebih fokus sehingga aku merasakan bahaya.


Sementara itu Escanor juga berhasil membuat talos terjatuh dengan tembakan cahaya dari mulutnya.


"Mustang gunakan skill pemisah," kata Razer diikuti perubahan wujud talos. Nama partner Razer adalah Mustang.


Mustang membelah dirinya menjadi banyak bagian sehingga menjadi seukuran manusia dewasa. Escanorpun tanpa tinggal diam langsung menggunakan laser cahaya dari mulutnya dan dapat menghancurkan sebagian tubuh Mustang.


"Owh partnermu hebat juga dapat menghancurkan sebagian tubuh Mustang," kata Razer ketika para potongan Mustang berkumpul di sekelilingnya.


Aku benar-benar terdesak dengan skill Mustang ini. Kira-kira ada lima puluh lebih potongan Mustang ada di depanku. Jika sebagian tubuh Mustang tadi tidak di hancurkan Escanor, akan jadi berapa banyak? kataku dalam hati sambil mewaspadai sekitarku.


Escanor berubah bentuk ke wujud manusia membantuku melawan Razer. Aku menggunakan kecepatanku untuk fokus menyerang ke Razer. Dari yang aku lihat potongan Mustang lambat dalam bergerak. Jadi aku memanfaatkan itu untuk memasuki kerumunan Mustang. Tetapi tiba-tiba ketika aku sampai di tengah kerumunan, para Mustang mengurungku dan......


-------------------****--------------------


Monster Pedia.

__ADS_1


■Troll: Monster mitos yang memiliki tubuh berwarna hijau. Gigi taring atas dan bawah keluar dari mulutnya. Memiliki kekuatan yang besar sehingga dapat mengangkat benda yang 100x berat badannya. Monster mitos tingkat tinggi. Termasuk ras humanoid.


■Flameron: Monster mitos bertubuh seperti kucing. Memiliki bulu panjang di atas kepala hingga ekor berwarna kuning. Sedangkan di badannya bulu pendek berwarna merah. Memiliki kemampuan mengendalikan api dan mengeluarkan api dari tubuhnya. Monster mitos tingkat tinggi. Termasuk ras elemental.


__ADS_2