
3.2 Zodiak Stone.
Aku melihat instruktur Johan yang sedang berbicara dengan pak Wayan. Kami sekarang berada di depan gerbang timur. Terlihat warga yang ke sana kemari dan terkadang ada yang menyapa kami. Para warga sedang sangat sibuk karena bahu membahu memperbaiki infrastruktur kota yang hancur karena serangan Zeref sebelumnya.
Akhirnya kami berpamitan pada pak Wayan beserta warga kota yang berkumpul di depan gerbang untuk mengantarkan kami.
"Hati-hati di jalan ya," kata beberapa warga berteriak sangat antusias.
"Mampir lagi ya," kata beberapa warga lainnya yang juga berteriak.
Sambil melambaikan tangan kami berjalan meninggalkan kota tersebut. Aku, Elric dan pak Johan berjalan terus hingga kota itu tak terlihat dari pandangan mata.
"Hei Kenang, kita akan pergi ke pulau sulawesi. Jadi tolong panggilah Escanor untuk mengantar kita," kata pak Johan meminta tolong. Memang untuk menyeberangi lautan kami bertiga biasanya meminta tolong Escanor untuk mengantarkan kami.
Tak lama kemudian Escanor muncul dan dan kami bertiga naik di punggung Escanor. Setelah itu kami mengobrol di atas Escanor yang sedang terbang perlahan.
"Apa sih sebenarnya hebatnya tongkat ini?" tanya pak Johan untuk meminta pendapatku dan Elric.
Tongkat yang ditunjukan oleh pak Johan adalah tongkat miliki pak Wayan. Pak Wayan menitipkannya pada pak Johan karena takut akan terjadi hal yang sama di kota. Sehingga dia berinisiatif untuk memberikan tongkat itu kepada pak Johan yang mungkin di pikirannya dapat menjaga tongkat tersebut.
"Maaf instruktur aku tak tahu," jawab Elric yang juga bingung.
"Boleh aku memegangnya pak?" tanyaku meminta izin pada pak Johan.
Setelah itu aku menerima tongkat yang di bawa pak Johan dengan kedua tanganku. Aku melihat setiap sudut dan sisi tongkat itu. Benar-benar tongkat yang indah kataku dalam hati melihat tongkat dengan beberapa ukiran. Ketika aku memperhatikan secara teliti ternyata ada tulisan snowman di salah satu ukiran tongkat itu.
"Pak Johan," kataku memanggil pak Johan yang sedang memperhatikanku.
"Iya," kata pak Johan menjawab panggilanku.
"Apakah anda tahu tentang snowman?" tanyaku pada pak Johan yang penasaran tentang ras snowman.
__ADS_1
"Snowman ya. Aku pernah mendengarnya dari seseorang. Tetapi aku rasa itu hanyalah mitos karena tidak ada bukti bahwa mereka benar-benar ada," jawab pak Johan dengan santai.
"Ehm begitu ya. Tapi pak coba lihat tongkat ini," kataku sambil mengulurkan tongkat yang aku pegang dan menunjuk sisi bertuliskan snowman secara samar.
Ketika itu pak Johan baru menyadari ada tulisan snowman secara samar di tongkat itu. Kemudian Elric yang juga penasaran akhirnya mendekati kami mencoba melihat tulisan itu.
"Apa yang dimaksud dengan snowman pak?" tanya Elric yang belum pernah mendengar tentang snowman.
"Snowman merupakan mitos yang dimana mereka adalah ras manusia yang sangat ahli dalam membuat senjata dan armor. Tetapi tidak ada bukti bahwa mereka ada," kata pak Johan yang juga tidak paham akan hal itu.
Setelah hal itu kami bertiga diam sesaat. Aku jadi lebih penasaran dengan ras snowman ini. Sementara kata Merlin aku juga adalah seorang ras snowman. Itu benar-benar membuatku bingung. Sehingga aku mengacak-ngacak rambutku kesal karena tidak ada informasi pasti tentang ras snowman ini.
"Ehem ehem," tiba-tiba Escanor mengeluarkan suara batuk yang aneh.
"Kenapa Escanor?" tanyaku kepada Escanor penasaran.
"Menurut kalian senjata itu belum cukup untuk membuktikan bahwa keberadaan ras snowman dulunya ada?" tanya Escanor dengan nada yang serius.
"Kita butuh bukti lainnya agar memperkuat tentang keberadaan manusia snowman ini," kata pak Johan setelah merenung bebrapa saat.
"Kalau begitu jika kalian ada waktu mampirlah ke hutan mitos. Di sana banyak bukti-bukti kuat tentang keberadaan ras snowman di masa lalu," kata Escanor menyarankan kami bertiga untuk menguak misteri tentang ras snowman.
Ha......, kenapa baru bicara sekarang jika bukti kuat ada di hutan mitos? padahal lima tahun lalu aku bersamanya di hutan mitos dalam hatiku berkata sembari raut wajahku yang berubah kesal dan menginjak-nginjak punggung Escanor dengan kaki kanan.
"Mungkin setelah misi ini selesai," kata pak Johan yang keceplosan.
"Misi?" kataku dan Elrik kebingungan.
"Ehh, ehmmm. Ya sudah aku akan memberitahu misiku yang sebenarnya. Salahku juga keceplosan," kata pak Johan sambil memegang kepalanya.
"Misi seperti apa itu pak?" tanya Kenang yang penasaran.
__ADS_1
Kemudian pak Johan mengeluarkan beberapa batu berwarna merah, jingga, hijau muda, hijau tua, biru muda, putih dan cokelat. Batu itu memiliki ukiran-ukiran yang membentuk simbol zodiak di dalamnya.
"Ini adalah Zodiak stone. Batu-batu ini konon katanya merupakan kunci untuk memasuki kerajaan Atlantis. Kita memerlukan dua belas batu zodiak yang tersebar di wilayah kerajaan majapahit dulu. Ini adalah misi yang aku terima langsung dari raja Harlequin," kata pak Johan menjelasakan tentang misinya.
"Kerjaan Atlantis?" kataku bingung dengan penjelasan pak Johan karena baru pertama kali mendengar nama kerajaan itu.
"Oh iya. Aku jelaskan sedikit tentang kerajaan Atlantis," kata pak Johan sambil memasukkan tongkat yang ada di tangannya.
Akhirnya selama perjalanan ke pulau Sulawesi pak Johan menceritakan detail misi dan sejarah kerajaan Atlantis yang diketahuinya.
Ternyata kerajaan Atlantis merupakan kerajaan pertama yang ada di dunia ini. Tetapi karena perubahan sikap manusia yang terjadi pada peradaban saat itu, seluruh rakyat kerajaan Atlantis mengikuti instruksi rajanya untuk mengurung diri. Kabarnya mereka mengurung diri dengan menyegel wilayahnya sehingga hilang dari pandangan dan sentuhan manusia lain. Segel itu menghasilkan zodiak stone sebagai kunci masuk.
Tetapi pak Johan tidak tahu alasan pasti raja Harlequin ingin mengumpulkan batu itu. Selain itu pak Johan juga tidak tahu mengapa batu itu bisa berada di wilayah kerajaan majapahit dulu.
Hanya saja pak Johan Heran dengan raja Harlequin yang mengetahui seluruh tempat dimana penyimpanan zodiak stone tersebut. Oleh karena itu dengan mudah pak Johan mendapatkan 7 batu.
Setelah panjang lebar menceritakan tentang misi pak Johan, akhirnya kami sampai di pulau sulawesi tepatnya di kota Palu. Escanor turun perlahan dari langit menuju kota yang di tunjuk oleh pak Johan.
Setelah berhasil mendarat kami di kejutkan dengan keadaan kota yang sangat sepi dan berantakan. Terlihat banyak retakan pada bangunan dan tanah di sekitar kami mendarat. Tidak hanya itu, bangunanpun banyak yang hancur dan roboh.
Akhirnya kami memutuskan untuk berpencar mengecek kota. Aku berlari ke arah barat sedangkan Elric pergi ke arah timur. Sementara pak Johan berjalan dengan santai menuju pusat kota.
Ketika aku mengeksplorasi tempat ini ternyata banyak mayat manusia yang tergeletak. Bau tak sedap mulai tercium dari mayat-mayat itu. Menurutku mayat-mayat ini telah ada selama beberapa hari.
Mengapa tidak ada yang mengevakuasi mayat-mayat ini kataku dalam hati. Setelah sampai di ujung barat kota akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke pusat kota.
Ternyata setelah memasuki kota terdapat beberapa orang yang sedang mengevakuasi mayat. Di dalam kotapun banyak mayat yang tergeletak. Aku sungguh keheranan dengan situasi ini.
Tak lama kemudian aku melihat pak Johan dan Elric berjalan ke arahku. Mereka sempat bertanya kepada beberapa orang dan ternyata kota ini telah terkena bencana alam. Bencana alam itu adalah gempa dan tsunami. Jika kita melihat ke arah timur memang ada hamparan laut yang membentuk seperti sebuah teluk.
__ADS_1