Rune Knight (Monster Tamer)

Rune Knight (Monster Tamer)
BAB II Turnamen Antar Akademi


__ADS_3

2.9 Hari kedua.


Suara riyuh penonton menyorakiku saat sedang berjalan masuk ke arena di tengah-tengah koloseum. Aku melihat seseorang yang aku kenal sedang berdiri. Dia berdiri menggunakan seragam Tower Akademi. Rambut berwarna hitam dengan wajah yang menggambarkan orang yang sangat percaya diri. Itu adalah Razer yang merupakan lawanku pada pertandingan hari kedua ini.


"Hei aku akan serius padamu kali ini," kata Razer yang terlihat sangat antusias.


"Ya baiklah, aku juga akan berusaha sebaik mungkin," kataku membalas kepercayaan diri Razer.


"Apakah kalian sudah siap?" tanya wasit yang berada di tengah kami berdua menggunakan baju berwarna hijau.


"Siap," kataku bersamaan dengan Razer.


"Mulai," kata wasit tadi memulai pertandingan kami.


Berbeda dengan pertandingan saat di hutan mitos, pergerakan Razer dan Mustang sangat efektif. Serangan demi serangan mengarah kepadaku dan Escanor tanpa henti.


Tangan kiri Razer berhasil menangkis beberapa serangan yang aku coba arahkan padanya. Di tangan kiri Razer ada perisai berbentuk segi delapan berwarna perak terlihat cocok dengan armor yang digunakannya. Padahal ketika di hutan mitos dia tidak menggunakan armor dan perisai itu.


Selain itu aku melihat Escanor yang berada pada wujud naga manahan pukulan-pukulan Mustang yang menggetarkan seluruh arena koloseum. Aku mencoba keluar dari kesulitan ini dengan berlari ke arah Escanor. Sementara Razer mengikutiku dengan mencoba menebasku beberapa kali tetapi berhasil aku hindari. Akhirnya Razer tertinggal dengan kecepatan gerakanku yang merupakan seorang thief.


Setelah sampai di dekat kaki Escanor aku melompat. Aku melompat hingga bagian pundak Escanor yang sedang bertarung dengan Mustang.


"Hei bagaimana menurutmu?, kenapa kemampuan mereka sangat berbeda dari sebelumnya?" tanyaku pada Escanor yang sedang kerepotan melawan Mustang.


"Mungkin ini kemampuan asli mereka, coba kamu serang bocah di sana. Jangan menggangguku," kata Escanor yang terlihat sangat kesal.


Sementara itu akhirnya Razer sampai di kepala Mustang yang berbentuk seperti sebuah benteng kastil.


"Kenang, jangan kabur," kata Razer yang ada di kepala Mustang.


Aku memang merasa kesal dengan keadaan terdesak ini. Tetapi sebenarnya aku dan Escanor telah menyembunyikan beberapa kemampuan gabungan kami. Aku telah berjanji pada Merlin tidak akan menggunakan kemampuan-kemampuan itu jika tidak terdesak. Ketika aku ingin menggunakan salah satu kemampuan itu malah selalu teringat janjiku dengan Merlin.


Lalu aku dan Escanor saling memberikan kode. Aku melompat dan tangan kanan Escanor mulai menghempaskanku menuju arah Razer. Tetapi Razer telah siap dengan menaruh perisainya menghadap pada arahku. Aku menendang perisai itu dan dengan cepat Razer mencoba menebasku dengan pedang di tangan kananya. Tebasan tadi mengenai sedikit kakiku sehingga menggoresnya.


"Hei hei, trik yang sama tak akan berpengaruh padaku. Tunjukan kekuatan kita Mustang. Wall defense," kata Razer setelah itu menggunakan skill wall defense.


"Cih, serangannya semakin kuat karena skill wall defense," kata Escanor sangat kesal.


Kemanpuan wall defense Razer membuat tubuh Mustang semakin keras. Serangan Mustang itu membuat sebagian kulit Escanor mulai terkikis.


Sementara guncangan di arena semakin besar hingga mebuat beberapa retakan di tanah. Tetapi penonton malah bersorak kegirangan ketika melihat pertandingan kami.


"Fog," kataku mengeluarkan sihir kabut.


Escanor dan aku mencoba menjauh beberapa meter dari Razer dan Mustang. Sementara Mustang dan Razer terasa sedang mencari kami di sihir kabut yang aku ciptakan.


Setelah itu kami menggunakan skill fog insting sehingga Escanor menembakkan api kearah Mustang. Sedangkan aku melompat ke arah Razer sebelum menggunakan skill fog insting.


Serangan Escanor sepertinya berhasil mengenai Mustang sementara aku mencoba menyerang Razer. Aku menebas Razer dengan pisau yang menyala seperti api. Escanor sengaja mengarahkan serangannya tepat pada Mustang dan kedua pisau di tanganku. Sehingga kami menggunakan skill fog insting sekaligus fire knife.


Tebasanku menggunakan tangan kanan berhasil ditahan oleh perisai Razer. Tetapi itu hanya berhasil menahan tebasan yang seukuran dengan perisainya. Sedangkan bagian yang tak terlindungi oleh perisai itu tersayat sesuai dengan panjang tebasanku. Bagian yang tersayat adalah bagian pundak sebelah kiri dan kaki sebelah kanan Razer yang tidak tertutup armor.

__ADS_1


Aku melihat goresan kecil itu sangat dalam dan seperti melepuh karena efek api Escanor. Sementara Razer berteriak kesakitan dengan seranganku yang diduganya dapat ditahan. Tetapi seranganku malah menimbulkan luka pada bagian yang tidak tertutup armor.


Sementara itu aku melanjutkan dengan berputar menyerang menggunakan fire knife di tangan kiriku. Serangan keduaku berhasil mengenai luka sayatan tadi sehingga menjadi lebih dalam. Setelah itu aku menendang tameng Razer sehingga membuatnya terpental.


Akhirnya aku berdiri di atas kepala Mustang juga. Keringat terus menetes dari wajahku dan perlahan kabut yang aku ciptakan mulai menghilang. Aku merasakan panas yang luar biasa di sekitarku. Ternyata itu adalah efek semburan Escanor yang berulang kali mengenai Mustang.


Asap putih mulai keluar pada beberapa bagian Mustang. Sementara Razer berusaha untuk bangkit dari posisinya dengan menopang pada pedangnya.


"Wah wah, skill yang sangat menyeramkan," kata Razer yang telah bangkit serta mengeluarkan asap putih pada goresan yang kubuat.


Sebelum Razer bangkit sepenuhnya, aku langsung menerjangnya dengan skill acceleration dan pisau yang masih menyala seperti kobaran api di kedua tanganku. Razer hanya bertahan di balik perisai dengan skill wall defense tetapi tetap tersayat di beberapa bagian yang tidak terlindungi.


Sementara itu guncangan pada tubuh Mustang tiba-tiba terasa sangat kencang.


"Hei bocah cepat menyingkir dari sana," kata Escanor yang sedang mencakar Mustang dengan skill fire clawnya.


Aku yang sedang menyerang di sekitar Razerpun langsung melompat menjauh menuju pundak Escanor.


"Divine Breath," kata Escanor setelah itu mengeluarkan semburan cahaya dari mulutnya.


Aku menyaksikan Mustang menahan semburan Escanor sekuat tenaga. Sementara Razer terlihat kesulitan untuk bangkit karena guncangan di tubuh Mustang.


Para penonton semakin bersemangat berteriak. Sementara wasit yang memperhatikan pertandingan kami dari dekat terlihat sangat santai seperti sedang piknik. Dia duduk sambil makan di tengah arena yang sudah hancur.


"Akhirnya selesai juga," kata wasit terdengar lirih olehku yang berada di pundak Escanor. Wasit berkata seperti itu setelah Mustang terlempar ke dinding akibat semburan Escanor.


Tubuh Mustang akhirnya hilang perlahan seperti ditelan bumi. Sementara Razer terlihat bersandar pada dinding dan sudah tidak sadarkan diri dengan luka di bagian kaki serta pundak yang sangat banyak.


"Pemenang pertandingan ini adalah tim Kenang," kata wasit sambil mengangkat tanganku.


Timku menang dengan hasil enam poin karena pada pertandingan sebelumnya Nadha kalah dengan Misa. Sementara Robin berhasil menang melawan Lisa.


***


"Hei bagaimana keadaanmu?" tanyaku pada Nadha yang sedang ada di podium penonton khusus peserta.


"Aku baik-baik saja," kata Nadha cuek. Sepertinya dia masih kesal atas kekalahannya.


Kami sedang menyaksikan pertandingan antara tim Elric melawan tim Reza. Meskipun sepertinya dapat di tebak tim siapa yang akan memenangkan pertandingan.


Aku datang paling terakhir karena harus dirawat terlebih dahulu disebabkan oleh luka pada pertandingan melawan Razer.


"Wah aku ketinggalan pertandingan pertama," kataku setelah melihat papan pertandingan yang menunjukkan bahwa Glen telah menang melawan Distya.


"Iya seperti itulah, kenapa kamu lama sekali Kenang?" tanya instruktur Lina kepadaku sambil melihat pertandingan yang sedang berlangsung.


"Aku ke toilet sebentar tadi instruktur," jawabku sambil mencoba duduk di samping Nadha.


Sayang sekali aku tidak dapat menyaksikan Distya yang cantik itu kataku dalam hati yang tidak sadar merubah raut wajahku menjadi sangat kecewa.


"Kenapa wajahmu sangat kecewa begitu?" tanya Nadha yang melihat perubahan raut wajahku.

__ADS_1


"Eh, tidak, tidak ada apa-apa kok. Aku menyesal tertinggal pertandingan pertama," jawabku meyakinkan Nadha.


Zera vs Dani.


Zera menyerang Dani hingga terpojok di sisi arena sebelah timur. Sementara di kejauhan ada dua monster mitos sedang bertarung yaitu berjenis wyvern dan demon.


Dani sepertinya adalah seorang scout. Dia kesulitan mengimbangi serangan jarak dekat Zera. Akhirnya Dani mencoba menggunakan skill acceleration untuk menjaga jarak dan menembakkan beberapa panah. Tetapi Zera berhasil menahannya dengan perisai bulat di tangan kirinya.


"Venom," terdengar teriakan dari monster mitos demon. Seketika tanah yang berada di bawah wyvern dan Zera berubah warna menjadi gelap. Warna gelap yang berada di dalam tanah itu mengeluarkan gelembung-gelembung yang meletus setelah beberapa detik muncul.


Itu adalah sihir kegelapan yang dikuasai oleh ras demon. Serangannya tidak memiliki kekuatan serang yang kuat tetapi berbahaya jika sampai terkena efek racunnya. Racun itu perlahan akan merusak saraf tubuh yang terkena dan jika terlalu lama akan menyebabkan kematian.


Zera dan wyvern yang berbeda tempat tidak sempat menghindari sihir itu. Seketika tubuh mereka berubah menjadi kebiru-biruan karena terkena efek racun sihir venom.


Tetapi dengan sigap wyvern menggunakan skill roar sehingga Dani dan demon tidak dapat bergerak. Zera langsung menggunakan kesempatan ini untuk menahan Dani. Setelah itu Zera mengarahkan pedangnya pada leher Dani sehingga membuatnya menyerah.


"Sangat sayang sekali," kata instruktur Lina.


"Apa yang disayangkan instruktur?" tanya Robin yang ingin tahu.


"Dani sempat bingung akan melakukan apa ketika Zera dan wyvernya terkena racun jadi kesempatan itu langsung dimanfaatkan Zera menyerang balik," jelas instruktur Lina kepada kami yang sedang memperthatikannya.


"Jadi pengalaman bertarung juga sangat penting dalam pertandingan ya instruktur," kataku berpendapat kepada instruktur Lina.


"Yah seperti itulah. Oleh karena itu kalian perlu banyak pengalaman pada usia kalian sekarang," kata instruktur Lina.


Sementara kami mengobrol, terlihat dua orang anak pria sedang memasuki arena. Satunya menggunakan seragam Distrik Akademi. Sementara yang di seberangnya menggunakan seragam Waltz Akademi.


Akhirnya pertandingan mereka dimulai. Mereka langsung mengeluarkan monster mitos masing-masing. Elric dengan durahannya yang bernama Alfonse. Sedangkan Reza dengan electanya yang bernama Listrik.


Mereka berdua memiliki job yang sama yaitu seorang thief. Tetapi kecepatan mereka sangat berbeda. Kecepatan Reza sangat kencang. Aku berasumsi bahwa ini ada hubungannya dengan monster mitosnya.


Meskipun begitu Elric berhasil bertahan dan menyerang balik beberapa kali. Pertarungan super cepat itu tiba-tiba berhenti. Wajah Reza terkena sayatan dan mengeluarkan darah. Sementara Elric berhasil di tendang oleh kaki Reza.


Sorak penonton secara tiba-tiba mengiringi serangan selanjutnya. Sekarang giliran Elric yang mencoba mengambil inisiatif menyerang. Tetapi dengan kecepatan yang sangat berbeda Reza berada di belakang Elric dan mencoba menebas dengan pedang pendek di tangan kanannya. Tebasan itu berhasi di tahan oleh Elric menggunakan pisau di tangan kirinya tanpa berbalik.


Sementara itu Alfonse melawan Listrik di kejauhan. Alfonse hanya diam di tempat sementara Listrik mengitarinya. Listrik sepertinya mencari celah Alfonse tetapi tidak mendapatkan celah itu.


"Alfonse bagi," kata Elric menjerit sepertinya ini adalah skill gabungan mereka. Senjata Alfonse yang merupakan pendang besar dua tangan terbagi menjadi tiga. Dua di pegang Alfonse sementara satu tiba-tiba muncul di tangan kanan Elric.


Selanjutanya Alfonse menyerang Listrik yang mengitarinya dengan serangan pedang. Dia menebaskan pedangnya ke berbagai arah sehingga tebasannya berhasil mengenai Listrik dan langsung tersayat-sayat.


Sementara serangan Alfonse tadi juga ada yang mengarah kepada Reza. Sehingga Reza juga mencoba menghindari serangan Alfonse yang tak terduga. Tetapi Reza malah terkena serangan Elric yang menggunakan pedang Alfonse.


Reza terpental kearah Listrik yang juga terpental. Mereka berdua bertabarakan dan akhirnya tidak sadarkan diri. Listrik langsung menghilang seperti kilat yang menyambar.


Suara penonton berteriak dengan kencang menutup pertandingan di hari kedua ini. Poin tim kebanggaan Distrik Akademi yaitu tim Kenang dan Elric memiliki poin yang sama 15. Sementara tim Razer 6 dan tim Reza 0.


"Pertandingan penentuan akan terjadi pada hari ketiga yaitu besok. Jangan lupa saksikan pertandingan penentuan besok," kata pembawa acara yang menggunakan seragam panitia yang menunjukan empat Akademi terbaik.


-------------------****--------------------

__ADS_1


Monster Pedia.


■Demon: Monster mitos yang memiliki tubuh seperti manusia. Memiliki tanduk di kepalanya dan sayap seperti kelelawar di punggungnya. Menguasai sihir kegelapan, sihir api dan es. Monster mitos tinggkat tinggi. Termasuk ras demon.


__ADS_2